Ensiklopedi Adab Dalam Islam – Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (2/4)

PEMBAHASAN KETIGA

ADAB KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

Sesungguhnya adab yang paling agung, yang mencakup seluruh adab Islami, baik perkataan maupun perbuatan, yang menatanya, mendorong kepadanya, merumuskan langkah-langkah dan perinciannya adalah adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena pada hakikatnya, itulah agama secara menyeluruh. Oleh karena itu, saya menjadikannya sebagai pembuka pasal-pasal buku ini agar menjadi pedoman dan pendorong kepadanya.

Hal itu bagi mereka yang memahami, mengerti, dan mengamalkannya secara sempurna. Kemudian, saya menyebutkan pada akhir setiap adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beberapa buah hasil dan pengaruh yang terpuji yang mendorong untuk mengamalkan adab tersebut.

Di antara adab-adab kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

1. Menujukan Ibadah Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Semata

Tidak diragukan lagi bahwasanya menujukan ibadah hanya kepada-Nya merupakan adab teragung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ini juga merupakan buah teragung dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, ma’rifah kepada-Nya, iman kepada rububiyyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan pengkhususan ibadah hanya kepada-Nya karena Dia adalah pemilik, pengatur, dan penguasa. Dialah yang telah menciptakan segenap makhluk dan melimpahkan rizki kepada mereka, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Oleh karena itu hanya Dialah dzat yang berhak untuk disembah. Tidak boleh memalingkan satu bentuk ibadah pun kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, siapa pun dia, baik Malaikat yang didekatkan, seorang Nabi yang diutus, wali yang shalih, batu, pohon, bntang, atau yang selainnya.

Ini menjelaskan bathilnya perbuatan sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam dari para penyembah kubur, tempat-tempat keramat, dan kuburan orang-orang shalih. Orang-orang itu mengharapkan dari mereka untuk mendatangkan manfaat, menolak mudharat, serta mengabulkan berbagai macam hajat. Padahal orang mati yang berada di kubur tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudharat bagi diri mereka sendiri, apalagi bagi orang lain.

Ini merupakan kesyirikan yang sangat besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sangat disayangkan, musibah ini telah merata di seluruh negeri kaum Muslimin sehingga kedustaan dan khurafat merupakan perkara yang tidak dapat dipungkiri. Di balik kedok inilah, harta manusia dimakan secara bathil dan kemungkaran merajalela. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Celakalah orang yang telah dikotori oleh akalnya yang sakit hingga meyakini bahwasanya makhluk ini memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat dan mudharat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintalah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”

(QS Al-Ankabut: 17)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, yang artinya:

“…Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.”

(QS. Faathir: 13-14).

Ayat-ayat dalam hal ini sangat banyak.

Adab ini memiliki atsar yang agung dan terpuji, di antaranya:

a). Keikhlasan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala semata; Sedikit ataupun banyak, besar maupun kecil.

Oleh karena itu, seorang hamba yang taat beribadah dan ikhlas tidaklah melihat di hadapannya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia menghadapkan dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya. Dia menjauhi seluruh perkara yang bertentangan dengan keikhlasan, atau yang dapat mengurangi kesempurnaannya.

Keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja merupakan pokok agama ini dan rukun-rukun yang paling kuat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”

(QS. Az-Zumar: 11)

“Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

(QS. Al-Bayyinah: 5).

Ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.

b). Jauh dari riya’.

Di dalam perkataan maupun perbuatan. Ini merupakan kelanjutan dari pengaruh sebelumnya. Sesungguhnya seorang yang benar keikhlasan di dalam hatinya, maka seluruh perkataan dan perbuatannya akan bersumber dari keikhlasan ini. Yang ia lihat dengan mata hati dan bashirah (akal) hanyalah Rabb-nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka terhapuslah riya’ dalam ucapan dan perbuatannya.

Dia tidak lagi mencari keuntungan dunia atau keridhaan salah seorang dari makhluk di balik itu semua. Bahkan, ia semata-mata mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharap dapat melihat wajah-Nya yang mulia. Jika niat seorang hamba telah ikhlas, begitu juga amal dan kehendaknya bersih dari riya’ dan keinginan duniawi, maka yang demikian itu merupakan sebab terbesar untuk meraih kebaikan agama maupun dunia.

c). Memerangi segala bentuk syirik dan riya’.

Karena seorang Mukmin melihat bahwasanya dia harus memerangi segala bentuk kesyirikan, kebohongan, dan khurafat dengan seluruh kemampuan yang dia miliki. Selain itu, menjelaskan kepada manusia tentang kesesatan dan kebathilannya, serta melawannya baik dengan lisan, tangan, maupun harta hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Mengagungkan dan Memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Seorang yang beriman mengagungkan dan memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyaksikan kekuasaan-Nya terhadap alam semesta, melihat keagungan rabbaniyyah di sekitarnya berupa segenap makhluk dan segala yang ada, yang menunjukkan keagungan al-Khaliq ‘Azza wa Jalla dan kekuasaan-Nya yang tiada batas.Tatkala seseorang mengimani bahwasanya Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna dan bersih dari segala kekurangan, serta bahwasanya makhluk tidak meliputi ilmu-Nya dan tidak juga mengetahui hakikatnya.

Ketika dia menyaksikan semua itu dan mengimaninya, niscaya hatinya akan dipenuhi rasa pengagungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pengagungan yang tiada bandingnya dan segenap makhluk terasa kecil dalam hatinya. Dia tidak melihat sesuatu yang memiliki keagungan dan kemuliaan yang hakiki kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengagungan ini akan membuahkan beberapa perkara:

a). Bersegera untuk melakukan ketaatan dan amal kebaikan.
b). Menjauhi segala bentuk maksiat, kejelekan, dan kerusakan.
c). Tidak merasa takut kepada makhluk dalam membela hak Allah dan menegakkan kalimat haq, baik kepada orang yang dia harapkan maupun yang dia takuti.

3. Takut Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Takut kepada Allah merupakan adab tertinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa takut ini muncul dari ma’rifah (mengenal) kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kekuasaan-Nya terhadap makhluk, keagungan kekuasaan-Nya, kerasnya siksaan, dan hukuman Allah terhadap musuh-musuh-Nya, musuh para Rasul, dan wali-wali-Nya serta adzab yang diturunkan kepada mereka di dunia.

Rasa takut juga muncul dengan memperhatikan ayat-ayat ancaman dan memikirkan apa yang telah disediakan oleh Allah bagi musuh-musuh-Nya berupa adzab di dalam kubur dan di Neraka Jahannam. Begitu pula ketika seorang Muslim meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa untuk mengadzab seluruh makhluk jika Dia menghendaki.

Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak dapat dibayangkan dahsyatnya. Jika seorang Muslim mengimani semua itu niscaya akan membuahkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala; hingga rasa takut ini akan mencegah seorang Muslim dari perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencegahnya untuk melakukan perkara yang Dia benci, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:

“…Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan adzab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku, hai hamba-hamba-Ku.”

(QS. Az-Zumar: 16)

“Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.”

(QS.Thaahaa: 113)

Rasa takut ini merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi seorang Muslim, terlebih lagi semasa dia muda dan kuat. Maka sudah selayaknya rasa takut ini senantiasa dimiliki dan tidak terlepas dari seorang Muslim di segala kondisi dan sepanjang umurnya.

Seorang Mukmin yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dapat memetik faidah yang sangat besar. Tidak adanya rasa takut kepada-Nya merupakan adab yang buruk dan dapat mendorong seseorang jatuh ke dalam maksiat kepada-Nya, melangar hokum-hukum-Nya, serta mengerjakan apa yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuahkan banyak hal, di antaranya:

a). Meninggalkan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhinya.
b). Menunaikan semua kewajiban dan amal ketaatan, serta bersegera melakukannya dan selalu menjaganya.
c). Selalu bergantung kepada Allah Ta’ala. Sebab, tidak ada tempat lari dari-Nya kecuali kepada-Nya dan tidak ada yang dapat menyelamatkan dari adzab-Nya kecuali Dia semata.
d). Ketetapan hati di hadapan para makhluk dan tidak merasa takut kepada mereka. Sebab, hati yang dipenuhi rasa takut kepada Allah Ta’ala tidak akan takut kepada selain-Nya. Bahkan, seluruh makhluk takut kepadanya. Sampai-sampai engkau mendapati para pendosa takut kepada seorang yang shalih. Sebaliknya, dia tidak takut kepada mereka.

4. Mencintai Allah dan Rasul-Nya Lebih daripada yang Lainnya

Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi yang lainnya merupakan adab yang sangat agung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asal dari cinta ini adalah ketika seorang Mukmin menyaksikan dengan mata hati dan bashirah-nya keagungan kekuasaan Allah Ta’ala dan hikmah-Nya, juga ilmu dan keagungan-Nya; ketika dia mengimani sifat-sifat Allah Ta’ala yg indah dan sempurna, yang bersih dari segala aib dan cela; ketika dia melihat dengan mata bashirah-nya sifat-sifat Allah yang mulia dan sempurna; dan melihat kesantunan Allah Ta’ala yang tidak menyegerakan adzab dan hukuman kepada para pelaku maksiat, bahkan Dia menangguhkan dan sabar terhadapnya.Di samping itu, ketika ia menyaksikan rahmat Allah yang Maha Luas, yaitu Dia melimpahkan rizki kepada para hamba-Nya, baik yang Mukmin maupun yang kafir, dan tidak memutus limpahan rizki itu disebabkan dosa-dosa mereka. Sesungguhnya Allah adalah pemilik keutamaan yang agung atas manusia dan pemilik segala nikmat dalam kehidupan mereka, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…”

(QS. An-Nahl: 53)

Dialah yang telah menciptakan manusia dari ketiadaan sebagaimana Dialah yang mengatur segala urusan manusia serta menetapkan syari’at yang membawa kemaslahatan bagi agama dan dunia mereka. Ketika seorang Mukmin menyaksikan itu semua, niscaya hatinya akan dipenuhi oleh rasa cinta kepada Allah. Cinta yang tiada batasnya. Cinta yang membawa pemiliknya untuk mentaati Allah dengan ketaatan yang mutlak. Pemilik cinta itu akan selalu berusaha untuk meraih keridahaan-Nya dengan melakukan segala yang Allah ridhai dan meninggalkan segala perkara yang Dia benci.

Sudah seharusnya cinta ini mengalahkan seluruh cinta yang lain dan menjadi asal dari semua cinta sehingga seluruh cinta kepada selain Allah merupakan cabang datrinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“…Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”

(QS. Al-Baqarah: 165)

Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah manusia yang paling banyak kebaikannya. Beliau dating untuk menyampaikan syari’at dan agama Allah Ta’ala, serta mengajak kepada jalan yang lurus, yakni jalan menuju surga, dan kepada seluruh kebaikan. Di samping itu, beliau memperingatkan manusia dari jalan yang buruk, yakni Neraka. Beliau telah mengerahkan segala daya untuk itu dan upaya beliau tidak kurang dalam menyampaikan kebenaran. Setiap Muslim di alam ini merupakan hasil dakwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, sudah selayaknya bagi seorang Muslim untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada selainnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits, yang artinya:

“Tiga perkara yang dengannya seseorang dapat merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya…”

(HR. Bukhari no.16-21 dan Muslim no. 43 dari Anas radhiyallahu ‘anhu).

Hendaknya pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi makhluk yang paling dicintai oleh seorang Muslim, sebagaimana sabda beliau, yang artinya:

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.”

(HR. Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44 dari Anas radhiyallahu ‘anhu)

Maka jika seorang Mukmin menyaksikan itu semua, mengimaninya, dan mengakuinya dalam hati, niscaya hatinya akan dipenuhi rasa cinta kepada Allah Ta’ala dan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cinta yang tidak tertandingi dan tersaingi oleh cinta yang lain, sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang orang-orang yang beriman:

“…Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”

(QS. Al-Baqarah: 165)

Maka dari itu, rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada istri dan anaknya, bahkan melebihi cintanya kepada diri sendiri. Sampai-sampai, seluruh cintanya kepada yang lain merupakan cabang dari cinta kepada Allah. Tidaklah ia mencintainya kecuali “billah” (karena Allah), “lillah” (untuk Allah), dan “fillah” (di jalan Allah). Cinta inilah yang menjadikan ia mencintai orang-orang shalih karena mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah.

Selain itu, menjadikan ia cinta kepada amal-amal shalih karena itu merupakan suatu yang dicintai Allah Ta’ala dan dapat menolongnya untuk mencintai-Nya. Dengan demikian, cinta kepada Allah Ta’ala merupakan tanggung jawab setiap hamba, yang mempengaruhi seluruh cintanya serta menjadi sumber semua ucapan dan perbuatannya.

Sudah selayaknya bagi seorang hamba mengetahui bahwasanya ia tidak akan dapat mencintai Allah kecuali jika didahului oleh cinta Allah kepada dirinya. Karena sesungguhnya jika Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan memberikan taufik kepadanya unuk mencintai-Nya dan membantu hamba tersebut untuk mendapatkannya. Jika seorang hamba bersungguh-sungguh untuk mendapatkan cinta ini, maka akan bertambahlah cinta Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:

“…Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…”

(QS. Al-Maa-idah: 54)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutan cinta-Nya kepada mereka sebelum cinta mereka kepada Allah. Meskipun huruf “wau” tidak selalu memberikan arti tertib, namun urutan yang disebutkan dalam ayat ini mengisyaratkan kepada apa yang kami sebutkan. Allahu a’lam.

Bagaimana tidak cinta kepada Allah Ta’ala dalam hati seorang Mukmin dapat mengalahkan cinta kepada selain-Nya? Bagaimana tidak hatinya dipenuhi dengan cinta itu hingga menyibukkannya dari mencintai selain-Nya? Allah Ta’ala adalah dzat yang paling banyak berbuat kebaikan dan memberikan nikmat kepada manusia, paling pemaaf terhadap kesalahan-kesalahan mereka, dan paling santun terhadap kejahilan mereka. Dia telah memuliakan manusia atas semua makhluk. Dialah yang menciptakan mereka dari ketiadaan dan melimpahkan kepada mereka berbagai macam kenikmatan. Bukankah semua itu akan menumbuhkan rasa cinta yang sempurna, yang khusus kepada Allah Ta’ala dalam hati seorang Mukmin?

Bagaimana pula tidak cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cintanya kepada semua makhluk, sedangkan seorang Muslim mengetahui keutamaan beliau, cinta Allah kepada beliau, dan kebaikan beliau kepada segenap makhluk, hingga menjadikan Rasulullah sebagai orang yang paling ia cintai?

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ini akan membuahkan hasil yang sangat banyak, di antaranya:

a) Seorang Mukmin hanya akan mencintai orang-orang shalih

Karena mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah Ta’ala.

b). Seorang Mukmin akan mencintai amal-amal shalih berupa amal kebaikan, kebajikan, dan ketaatan.

Sebab, semua itu dicintai oleh Allah dan dapat menolongnya untuk meraih cinta Allah Ta’ala.

c). Seorang Mukmin akan membenci segala yang dibenci oleh Allah Ta’ala

Yakni orang-orang kafir, munafik, para pelaku maksiat, dan amal-amal keburukan. Sebab, Allah membenci semua itu dan membenci penganutnya. Sesungguhnya seorang yang mencintai sesuatu tentu hasratnya akan mengikuti keridhaan yang dicintainya.

d). Bersegera melaksanakan segala kewajiban karena itu adalah perintah Allah Ta’ala, tidak bermalas-malasan mengerjakannya.

Kemudian, menambahnya dengan memperbanyak amalan-amalan nafilah (sunnah) karena semua itu akan menolongnya untuk meraih cinta Allah, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya:

“Barang siapa memerangi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada perkara-perkara yang telah Aku wajibkan atasnya. Hambaku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia bertindak, dan kaki yang dengannya ia melangkah.”

(HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

e). Menjauhi kemaksiatan dan segala perkara yang mendatangkan kemarahan Allah Ta’ala karena semua itu dibenci oleh-Nya.

Orang yang benar-benar mencintai Allah tidak mungkin mendurhakai-Nya atau berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan kemurkaan-Nya. Sebaliknya, ia akan selalu melakukan apa yang dicintai oleh Allah dan meninggalkan apa yang Dia benci. Sungguh bagus ucapan seseorang yang mengatakan:

“Engkau mendurhakai Allah, sementara engkau menampakkan kecintaan kepada-Nya.
Ini adalah suatu permisalan yang buruk.
Seandainya tulus cintamu, niscaya engkau akan mentaatinya.
Sesungguhnya orang yang mencintai pasti akan taat kepada yang dicintainya.”

f). Bersemangat untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Berpegang teguh dengannya dan tidak meninggalkan atau menjauhinya. Sebab, hal itu merupakan bukti ketulusan cinta kepada Allah Ta’ala dan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjadi penolong untuk mendapatkan cinta-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’…”

(QS. Ali ‘Imran: 31)

Selain itu, berusaha menghindari serta berhati-hati dari menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau terjatuh pada perkara yang menyelisihinya.

g). Banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala. Sebab, barang siapa yang mencintai sesuatu dan cintanya itu bertambah, niscaya dia akan banyak mengingatnya.

Tidak akan hilang dari ingatannya meskipun hanya sekejap. Maka jika telah sempurna rasa cinta kepada Allah dalam hati seorang Mukmin, niscaya ia akan terus-menerus berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan hati maupun lisannya. Dia akan memperbanyak dzikir kepada-Nya dan selalu melakukannya hingga tidak pernah terlepas darinya. Rasa cinta kepada Allah Ta’ala telah menguasai seluruh anggota badannya. Dzikir ini merupakan sebab terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, perkara yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba Mukmin, dan untuk keistiqamahan seluruh anggota badannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)

h). Memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itu merupakan buah dari cinta yang dalam kepada Nabi dalam hati seorang Mukmin dan buah dari ma’rifah seorang Mukmin terhadap keutamaan bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan dating penjelasan tentang hal ini pada adab ketujuh belas, insya Allah.

i). Penjagaan seorang Mukmin terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala pada anggota badannya.

Yaitu dengan selalu bersemangat melakukan ketaatan dan menjauhi segala bentuk maksiat, hingga seluruh gerak ataupun diamnya senantiasa disertai rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Tidaklah bergerak anggota badannya kecuali untuk sesuatu yang diridhai Allah. Hal ini dibenarkan oleh firman Allah Ta’ala dalam sebuah hadits qudsi, yang artinya:

“Maka jika Aku telah mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia bertindak, dan kaki yang dengannya ia melangkah. Jika ia meminta, niscaya akan Aku kabulkan dan jika ia meminta perlindungan, niscaya akan Aku lindungi.”

(HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dan dengan-Ku ia bertindak…”

Maksudnya bahwa seluruh anggota badan tidak bergerak kecuali atas dasar cinta kepada Allah Ta’ala. Tidaklah ia berusaha kecuali dalam perkara yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa amal-amal kebaikan, kebajikan, dan ketaatan.

j). Penjagaan Allah terhadap hamba yang Mukmin. Sebab, seseorang yang mencintai-Nya dengan sebenar-benar cinta, niscaya Allah akan mencintainya.

Barang siapa yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya Dia akan menjaganya dari segala keburukan. Barang siapa yang menjaga perintah dan larangan Allah, niscaya Allah akan menjaganya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu.”

(HR. Ahmad, I/306; at-Tirmidzi no. 2516 dan dia berkata: “Hasan shahih”; al-Hakim, III/541 dan lain-lain dengan lafazh yang hamper sama dari Ibnu ‘Abbas. Lihat kitab Shahiihul Jaami’ no. 7957).

Dalam riwayat lain: “Di depanmu…”

k). Allah akan mengabulkan permohonan hamba-Nya yang Mukmin dan memberikan apa yang ia minta.

Ini merupakan buah dari cinta Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, yang merupakan konsekuensi dari cinta hamba kepada Rabbnya. Yakni, Dia akan mengabulkan apa yang ia minta, melindunginya dari apa yang ia minta perlindungan darinya, dan menjauhkannya dari perkara yang ia benci – kecuali yang memang telah Allah takdirkan menimpanya. Hal ini dibenarkan oleh firman Allah Ta’ala dalam sebuah hadits qudsi, yang artinya:

“Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku lindungi.”

(Telah berlalu takhrij-nya).

Semua itu tidak akan diperoleh kecuali setelah seorang hamba mencintai Allah Ta’ala..

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s