Dzikir adalah Tauqifiyyah

Maksudnya, dalam berdzikir; maka kita dituntut untuk dapat memberikan dalil dalam SEGALA HAL; baik itu JENIS DZIKIRnya, CARA BERDZIKIRnya, JUMLAH DZIKIRnya, dan lain-lain.

Suatu dzikir yang tidak dibatasi dengan jumlah atau cara tertentu maka TIDAK BOLEH bagi kita untuk menentukan jumlah atau cara berdzikirnya sekehendak kita. Misalnya: Tidak boleh kita menetapkan bahwa pada siang hari harus berdzikir laa ilaaha illallah 1000x MELAINKAN HARUS DENGAN HUJJAH.

Demikian halnya dengan dzikir yang telah diajarkan oleh Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam dengan lafazh tertentu, maka TIDAK BOLEH kita tambah atau kurang atau ganti; tapi kita MENCUKUPKAN diri kita dengan dzikir tersebut, TANPA MENAMBAH, TANPA MENGURANG, dan TANPA MENGUBAH LAFAZH.

Maka, Tidak ada alasan bagi siapapun untuk membuat-buat dzikir -sekehendak akal/perasaannya- yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Mari kita pelajari hadits berikut, dengan harapan agar kita mendapat pelajaran penting tentang tata cara berzikir:

“Dari sahabat al-Bara’ bin ‘Azib, bahawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ

“Bila engkau akan berbaring tidur, hendaklah engkau berwudhu’ seperti engkau berwudhu’ untuk solat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu, lalu ucapkanlah:

‎و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ إِدْرِيسَ قَالَ سَمِعْتُ حُصَيْنًا عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ غَيْرَ أَنَّ مَنْصُورًا أَتَمُّ حَدِيثًا وَزَادَ فِي حَدِيثِ حُصَيْنٍ

“Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, dan menyerahkan urusanku kepada-Mu. Dengan rasa mengharap (kerahmatan-Mu) dan takut (akan siksa-Mu) aku menyandarkan punggungku kepada-Mu. Tiada tempat perlindungan dan keselamatan (dari siksa-Mu) melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Dan jadikanlah bacaan (doa) ini sebagai akhir perkataanmu, kerana jika engkau mati pada malam itu, niscaya engkau mati dalam keadaan menetapi fitrah (agama Islam).”

Al-Bara’ bin ‘Azib berkata:

“Maka aku mengulang-ulang bacaan (doa) ini, untuk menghafalnya, dan mengatakan:

‎آمَنْتُ بِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus.”

Nabi pun bersabda:

‎قُلْ آمَنْتُ بِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Katakan: Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Dalam riwayat lain ditambahkan:

‎وَإِنْ أَصْبَحَ أَصَابَ خَيْرًا

“Dan apabila dia bangun kembali di pagi hari, maka dia telah memperoleh kebaikan.”

(Riwayat al-Bukhori, 5/2326, hadis no: 5952. Dan Muslim, 4/2081, hadis no: 2710)

Al-Bara’ bin ‘Azib salah mengucapkan doa ini di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang seharusnya ia mengucapkan:

‎آمَنْتُ بِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus”,

tapi ia ucapkan:

‎ آمَنْتُ بِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus”.

Perbedaannya hanya kata “Nabi” dan kata “Rasul”, padahal yang dimaksudkan dari keduanya sama, iaitu Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun demikian, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesalahan ini terjadi, sehingga beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegur sahabat al-Bara’ agar membenarkan ucapannya.

Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa berzikir kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah, dan setiap ibadah diatur oleh sebuah kaedah penting, yaitu:

“Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada petunjuk dan tuntunannya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam)”

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada petunjuk dan tuntunannya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam), sehingga tidak boleh dibuat ajaran melainkan yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala. Kalau tidak demikian niscaya kita akan termasuk ke dalam firman Allah:

‎أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?!”

(asy-Syura, 42: 21)

Sedangkan hukum asal setiap adat istiadat adalah diperbolehkan, sehingga tidak boleh ada yang dilarang melainkan suatu hal yang telah diharamkan oleh Allah. Kalau tidak demikian niscaya kita akan termasuk ke dalam firman Allah:

‎قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”

(Yunus, 12: 59)

(Lihat: Majmu’ Fatawa, oleh Ibnu Taimiyyah 29/17).

Apabila Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menegur kesalahan al-Bara’ bin ‘Azib mengucapkan satu kata dalam zikir yang beliau ajarkan, maka bagaimana halnya seandainya yang dilakukan oleh Bara’ bin ‘Azib ialah zikir hasil ciptaannya sendiri?

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani asy-Syafi’i, berkata:

“Pendapat yang paling tepat tentang hikmahnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan ucapan orang yang mengatakan “Rasul” sebagai ganti kata “Nabi” adalah: Bahawa bacaan-bacaan zikir adalah bersifat tauqifiyyah (harus ada tuntunannya), dan bacaan-bacaan dzikir itu memiliki keistimewaan dan rahsia-rahsia yang tidak dapat diketahui dengan cara qiyas, sehingga wajib kita memelihara lafazh (dzikir) sebagaimana diriwayatkan.”

(Lihat: Fathul Bari oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, 11/112)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir, Ibadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s