Diantara keutamaan majelis dzikir

Meluruskan makna “majelis”

Perhatian! Jika dikatakan MAJELIS, maka yang dimaksudkan adalah “tempat duduk”.

Karena majelis (مَجْلِسٌ) adalah bentuk kata tempat, dari fi’il (kata kerja) : jalasa (جَلَسَ) yang berarti duduk. Sehingga makna majelis ialah tempat duduk.

Makna lain dari kata ini adalah segolongan orang yang diberi kekhususan melakukan pertimbangan terhadap berbagai amal yang diserahkan kepada mereka, seperti istilah Majlis Asy-Sya’biy ‘majelis rakyat’.

[Al-Mu’jamul-Wasith hal. 130]

Maka SEORANG yang DUDUK dan ia berdzikir dalam duduknya tersebut. Maka orang ini disebut berada didalam majelis dzikir.

Adapun jika dikatakan “suatu kaum berada di majelis dzikir”. Maka maknanya adalah suatu kaum yang duduk, yang mereka berdzikir dalam duduknya tersebut. Seperti orang-orang yang duduk dimesjid. Yang MASING-MASING mereka berdzikir SENDIRI-SENDIRI. Maka yang seperti inilah, yang kita dianjurkan untuk duduk bersama mereka.

Hal ini TIDAK MENGHARUSKAN dan TIDAK MELAZIMKAN bahwa dalam majelis dzikir kaum tersebut ada pemimpinnya dan ada jama’ahnya. Justru orang-orang yang berkumpul kemudian duduk, kemudian mengangkat pemimpin, kemudian pemimpinnya MEMANDU mereka dalam berdzikir, atau mereka BERDZIKIR DENGAN SATU SUARA, maka inilah kesesatan yang nyata. Yang hal ini TELAH DIINGKARI oleh shahabat ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Adapun perkumpulan orang-orang duduk, dan dihadapan mereka ada seorang yang mengajarkan ilmu, seperti majelis ta’lim. Maka inipun disebut dengan majelis dzikir.

Atha’ rahimahullah, (beliau) mengatakan:

‘Majelis dzikir adalah majelis halal dan haram, yang membicarakan bagaimana menjual dan membeli, bagaimana shalat, menikah, thalaq, haji, … dan sebagainya’.”

(Shahih Al Adzkar, hal. 18)

Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah :

“(Majelis Dzikir yang sebenarnya adalah yang) mengajarkan Al-Qur’an, ilmu-ilmu syar’i (agama), dan perkara agama yang lain, menjelaskan umat tentang sunnah-sunnah Nabi mereka agar mereka mengamalkannya, menjelaskan tentang bid’ah-bid’ah agar umat berhati-hati terhadap bid’ah dan menjauhkannya. Ini adalah majelis dzikir yang sebenarnya”.

Bukankah kita pernah membaca firman Allåh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari jum’at, maka segeralah kamu pergi menuju DZIKRULLAH dan tinggalkanlah jual beli”.

(Al-Jum’ah:9).

Maksud dari DZIKRULLÅH di sini adalah KHUTBAH JUM’AT.

(Lihat Tafsir Thobari 22/642)

Jelas ini menunjukkan bahwa majlis ilmu juga dapat disebut sebagai majlis dzikir. Bahkan dalam ayat lain Alloh menyebut ahli ilmu dengan sebutan ahli dzikir, yakni dalam firman-Nya:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada AHLI DZIKIR, jika kamu tidak mengetahui”

(Al-Anbiya’:7 dan an-Nahl: 43)

Maksud dari ahli dzikir di ayat ini adalah ahli ilmu, yakni para ulama’.

(Lihat Tafsir Sa’di, hal: 519).

Walhasil, sebagaimana ahli ilmu bisa di sebut ahli dzikir, majlis ilmu juga bisa disebut majlis dzikir, wallohu a’lam…

Dzikir itu maknanya luas

Kita pun melihat bahwa seseorang telah salah paham dalam memahami DZIKIR, mereka mengira dzikir itu hanya sebatas “bertasbih, bertahmid, dan bertakbir…”. Memang DIANTARA dari jenis-jenis dzikir adalah demikian, namun jika seseorang MENYEMPITKAN makna dzikir hanya sebatas “bertasbih, bertahmid, dan bertakbir…” maka ini kekeliruan yang fatal.

Menurut Imam Al-Qurthubi, asal usul makna dzikir adalah adanya kesadaran bathin dan keinsyafan qalbu terhadap sesuatu yang menjadi objek kesadaran.

Sedangkan menurut Sa’id Ibn Jubair bahwa hakekat dari dzikir adalah Ketaatan seorang hamba kepada Allah , sehinga barang siapa yang taat kepada Allah, maka ia telah berdzikir, begitupun sebaliknya.

Sebagaimana pula dikatakan al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’iy di dalam kitabnya al-Adzkar,

“Ketahuilah bahawa sesungguhnya dzikir tidak hanya tasbih, tahlil, dan takbir, bahkan dzikir ialah SETIAP AMALAN KETAAATAN yang dilakukan kerana Allah”.

(Lihat al-Adzkar)

Maka setiap orang yang melakukan AMALAN KETAATAN baik itu dengan hatinya atau lisannya atau lisan dan hatinya; dan ia melakukan hal tersebut DALAM MAJELISNYA atau DALAM DUDUKNYA. Maka ia berada dalam majelis dzikir… Yang ia diharapkan mendapatkan berbagai keutamaan dari majelis dzikir. Walaupun ia hanya duduk SEORANG DIRI.

Diantara Keutamaan Majelis Dzikir

Majelis dzikir merupakan taman-taman surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا

“Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.”

Maka para sahabat bertanya,

“Apa yang dimaksud taman-taman surga itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

حِلَقُ الذِّكْرِ

“Halaqah-halaqah dzikir”

(HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan dihasankan oleh Syaikh Salim dalam Shahih Al Adzkar, hal. 16)

Allah membanggakan orang yang berada dalam majelis dzikir dihadapan malaikatNya

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menjumpai sebuah halaqah yang terdiri dari para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya,

مَا أَجْلَسَكُمْ

“Apa yang membuat kalian duduk di sini?”

Mereka menjawab,

“Kami duduk untuk mengingat Allah ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk yang Allah berikan kepada kami sehingga kami bisa memeluk Islam dan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan,

وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ

“Demi Allah, apakah tidak ada alasan lain bagi kalian sehingga membuat kalian duduk di sini melaikan itu?”

Mereka menjawab,

“Demi Allah, tidak ada niat kami selain itu.”

Beliau pun bersabda,

أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

“Adapun aku, sesungguhnya aku sama sekali tidak memiliki persangkaan buruk kepada kalian dengan pertanyaanku. Akan tetapi, Jibril datang kepadaku kemudian dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah ‘azza wa jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.”

(HR. Muslim)

Diliputi Malaikat, serta diturunkan ketenangan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah ada suatu kaum yang duduk untuk berdzikir kepada Allah ta’ala melainkan malaikat akan meliputi mereka dan rahmat akan menyelimuti mereka, dan akan turun kepada mereka ketenangan, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.”

(HR. Muslim)

Diampunkannya dosa-dosa orang yang berada dalam majelis dzikir ketika ia berdiri atau beranjak dari majelisnya

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فَيَقُوْمُوْنَ حَتَّى يُقَالُ لَهُمْ: قُوْمُوْا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَبُـدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

“Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.”

(Tsabit; HR. ath-Thabrani; terdapat dalam Shahiihul Jami’)

Orang yang berada dalam majelis dzikir, maka malaikat pun akan ikut bermajelis dengannya dan dosa-dosanya diampuni Allah

dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ

“Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki para malaikat khusus yang senantiasa berkeliling mencari di mana adanya majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang padanya terdapat dzikir maka mereka pun duduk bersama orang-orang itu dan meliputi mereka satu sama lain dengan sayap-sayapnya sampai-sampai mereka memenuhi jarak antara orang-orang itu dengan langit terendah, kemudian apabila orang-orang itu telah bubar maka mereka pun naik menuju ke atas langit.”

Nabi berkata,

قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ

“Maka Allah ‘azza wa jalla pun bertanya kepada mereka padahal Dia adalah yang Maha Mengetahui keadaan mereka, ‘Dari mana kalian datang?’.

فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ

Para malaikat itu menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang ada di bumi. Mereka mensucikan-Mu (bertasbih), mengagungkan-Mu (bertakbir), mengucapkan tahlil, dan memuji-Mu (bertahmid), serta meminta (berdo’a) kepada-Mu.’

قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي

Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’.

قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ

Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’

قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي

Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’.

قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ

Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’

قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي

Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’.

قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ

Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’

قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي

Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’.

قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ

Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’.

قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي

Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’.

قَالُوا لَا

Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’

قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي

Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’

قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ

Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’

قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا

Maka Allah mengatakan, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.”

قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ

Nabi bersabda, “Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.”

قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.”

(HR. Muslim dalam Kitab ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar, hadits no. 2689, lihat Syarh Muslim [8/284-285] cetakan Dar Ibn al-Haitsam)

[sumber: http://abumushlih.com/keutamaan-majelis-dzikir.html/%5D

Semoga bermanfa’at.

Sumber:

Blog Abul Jauzaa’
Blog ad-Dariniy

2 Komentar

Filed under Dzikir, Ibadah

2 responses to “Diantara keutamaan majelis dzikir

  1. Ping-balik: Waspadalah Wahai Pelaku Bid’ah! « Salafi Pontianak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s