Ensiklopedi Adab Dalam Islam – Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (3/4)

5. Bertawakkal Hanya Kepada Allah Ta’ala Semata

Di samping bertawakkal kepada Allah semata, hendaknya pula menyerahkan seluruh perkara kepada Allah dan selalu bergantung kepada-Nya. Ini merupakan buah dari ma’rifah kepada Allah Ta’ala, iman kepada-Nya, kepada kekuasaan-Nya yang agung dan Mahaluas, kekuatan-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya yang meliputi setiap sesuatu. Tawakkal adalah buah dari pengetahuannya bahwa Allah Ta’ala senantiasa membela orang-orang yang beriman, serta keyakinan bahwasanya jika Allah Ta’ala menghendaki sesuatu, pasti akan terlaksana. Tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya. Bahwasanya Dia berkuasa menjaga hamba-Nya dari segala perkara yang ia benci serta makar para musuh Allah dari kalangan syaitan, manusia maupun jin.

Berangkat dari situlah seorang hamba Mukmin hanya bertawakkal kepada Allah Ta’ala, tidak bertawakkal kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“…Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. AL-Maa-idah: 23)

Tawakkal hanya kepada Allah ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang Mukmin, di antaranya:

a). Perlindungan Allah terhadap hamba-Nya yang Mukmin dengan menjaganya dari keburukan manusia maupun jin, serta dari seluruh keburukan.

Ssebagaimana firman Allah Ta’ala:

“…Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka dari itu, barang siapa yang membaguskan tawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan menjaganya dari setiap keburukan. ’Umar ibnul Khaththab pernah berkata: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjaganya. Barang siapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Dia akan mencukupinya. Barang siapa memberi pinjaman kepada-Nya, niscaya Dia akan membalasnya. Barang siapa bersyukur kepada-Nya, niscaya Dia akan menambahnya.”

b). Kekuatan hati seorang Mukmin

Yaitu ia berani menyampaikan kalimat yang haq, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, berdakwah kepada Allah, melaksanakan semua perintah Allah Ta’ala, dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Dia tidak takut kepada siapa pun dalam membela hak-hak Allah ’Azza wa Jalla. Sebab, ia mengetahui bahwasanya tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan manfaat ataupun mudharat kecuali atas izin Allah ’Azza wa Jalla. Ia pun mengimani bahwasanya ajal dan rizki hanya berada di tangan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril Alaihissalam) membisikkan ke dalam hati sanubariku bahwasanya tidak akan mati suatu jiwa hingga terpenuhi rizki dan ajalnya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, perbaguslah caramu dalam mencari rizki, dan janganlah rizki yang terlambat datangnya itu memaksamu untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.” (Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, X/27 dan yang lainnya dari Abu Umamah. Lihat kitab Shahiihul Jaami no. 2085)

c). Bershaja dalam mencari rizki.

Sebab seorang Mukmin mengetahui bahwasanya usaha dalam mencari kenikmatan dunia tidak akan menambah rizki yang telah Allah takdirkan, Allah tulis, dan Allah kehendaki. Demikianlah perintah Nabi, yakni bersahaja dalam kebutuhan hidup di dunia, sebagaimana hadits yang telah lalu.

d). Seorang Mukmin berusaha dengan cara-cara yang disyari’atkan.

Hal itu berlaku dalam seluruh urusan hidupnya. Dia berusaha dengan cara-cara yang disyari’atkan guna memenuhi hajat-hajatnya dan mengejar cita-citanya, dengan menyerahkan semua urusan kepada Allah. Dia menikah untuk mendapatkan keturunan yang shalih, namun dia menyerahkan urusan kepada Allah. Dia bertani dan mengairi sawahnya agar dapat memetik panen dan keuntungan. Meskipun demikian dia tahu bahwasanya segala sesuatu ada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Dia berobat karena mengharapkan kesembuhan. Dia tahu bahwasanya kesembuhan itu ada di tangan Allah. Tawakkal tidaklah menafikan usaha dengan cara-cara yang disyari’atkan. Sebab, meninggalkan usaha secara total adalah tawakkal semu, bukan tawakkal yang sesungguhnya.

6. Selalu Mengaitkan Diri Kepada Allah ’Azza wa Jalla

Hati seorang Mukmin selalu terikat kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala dengan cinta, pengagungan, tawakkal, inabah (taubat), pengharapan, serta rasa takut. Maka ia pergi, bergerak, dan beraktivitas, sementara hatinya terkait kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala dan aanggota badannya selalu bersama perintah Allah, mengharap rahmat-Nya, takut terhadap adzab-Nya, serta mengharapkan didatangkannya manfaat dan dijauhkannya dari mudharat. Sebab, dia telah mengetahui dan menyaksikan bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan, keagungan, dan hikmah rabbaniyyah yang sangat agung.

Barang siapa yang selalu mengaitkan hatinya kepada Allah, maka Allah pasti memenuhi semua hajatnya dan melindunginya dalam segala urusan.

7. Tunduk Kepada Allah dan Merasa Butuh Kepada-Nya

Tunduk dan merasa butuh kepada-Nya disebabkan seorang Mukmin menyaksikan hikmah Allah Ta’ala, kekuatan Allah ‘Azza wa Jalla yang tidak dapat dilawan, fenomena keagungan Allah Tabaaraka wa Ta’ala, tanda-tanda ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk-Nya, qayyumiyyah (berdiri sendiri)-Nya dalam kerajaan-Nya, dan keagungan-Nya yang Mahabesar. Kemudian, ia kembali dan memikirkan keadaan dirinya sendiri serta seluruh makhluk Allah ’Azza wa Jalla. Ia pun mendapati semua bertolak belakang dan berkebalikan dengan Allah. Mereka semua hina, lemah, fakir, banyak kekurangan, dan sangat membutuhkan Allah ’Azza wa Jalla dalam seluruh urusan kehidupan mereka. Mereka tidak dapat terlepas dari Allah sedikit pun. Telah ditetapkan pula atas mereka kefanaan.

Maka jika seorang Mukmin merasakan hal itu pada dirinya dan alam sekitanya, akan bertambahlah ketundukannya kepada Allah, kerendahan, ketawadhu’an, rasa butuh dan berlindung kepada-Nya, untuk menutupi segala kerendahan dan kekurangannya, mengampuni kesalahannya, dan memperbaiki cacatnya. Jika demikian, ketundukan dan rasa membutuhkan Allah ini akan membuahkan pengaruh yang sangat banyak, di antaranya:

a). Ketawadhu’an hamba di hadapan seluruh manusia: tidak sombong, takabur, dan membanggakan diri sendiri.

Sebaliknya, ia tawadhu’ di hadapan makhluk sebagi buah dari ketundukannya kepada Allah Ta’ala. Sikap tawadhu’ ini merupakan sebab terbesar untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan orang lain, sebagimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu’ sehingga seseorang tidak menyombongkan diri dan berbuat aniaya terhadap orang lain.” (HR. Mslim no. 2865 dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i)

b). Mengaitkan hati kepada Allah ’Azza wa Jalla dalam setiap urusan

Yaitu dengan menyerahkan setiap urusan kepada-Nya dan menggantungkan semua hajat kepada ALlah Subhanahu wa Ta’ala.

c). Bertambahnya keimanan seorang Mukmin, karena apa yang disebutkan di atas merupakan bentuk ibadah yang sangat agung.

Maka dari itu, tatkala seorang manusia telah menyempurnakan seluruh perkara ini, akan bertambahlah imannya dan semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.

8. Berlindung Kepada Allah ’Azza wa Jalla

Berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan buah dari apa yang disebutkan sebelumnya. Apabila telah tertanam dalam jiwa seorang hamba bahwasanya Allah Ta’ala adalah pemilik segalanya, di tangan-Nyalah kekuasaan langit dan bumi, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, maka sat itulah ia akan berlindung kepada Allah ’Azza wa Jalla, kepada Pemilik alam semesta, Pemilik kemuliaan dan kekuasaan.

Ia akan mendatangi pintu-Nya, mengakui semua nikmat yang trelah Allah karuniakan kepadanya, serta mengakui kelemahan dan kekurangan dirinya dengan penuh pengharapan dan rasa takut kepada-Nya. Ia mengetahui bahwasanya tidak ada tempat lari dari-Nya kecuali kepada-Nya. Tidak ada yang bisa terlepas dari perhitungan Allah kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. Ia mengharapkan pertolongan dan kekuatan dari-Nya, khususnya pada saat tertimpa musibah dan bencana. Selain itu, ia meninggalkan segala sesuatu selain Allah, baik manusia, batu, Malaikat, maupun wali yang shalih, dan menyandarkan seluruh hajatnya kepada Allah semata. Sebab, ia mengetahui bahwasanya tidak ada yang memiliki sesuatu pun di alam semesta ini kecuali Allah ’Azza wa Jalla. Sikap kembali dan bergantung kepada Allah ini initi dan hakikat ’ubudiyyah (peribadatan).

9. Malu Kepada Allah ’Azza wa Jalla

Malu kepada Allah Ta’ala merupakan adab yang sangat agung. Sesungguhnya seorang Mukmin jika telah tertanam dalam jiwanya bahwasanya Allah ’Azza wa Jalla mendengar setiap ucapan, melihat setiap amal, mengetahui seluruh perkara baik yang tersembunyi maupun yang nyata, selalu mengawasinya, mengetahui seluruh keadaannya, dan mengawasi setiap apa yang dilakukan masing-masing jiwa, maka ketika itu ia akan merasa malu sebab Allah melihatnya mengucapkan kata-kata yang buruk, melakukan perbuatan jelek, atau berusaha dalam berbuat kerusakan.

Rasa malu ini akan selalu ada dalam setiap keadaannya. Tidak pernah terlepas Atau terpisah darinya selamanya, terlebih lagi saat ia bersendiri. Jika ia jauh dari pandangan manusia dan berdiam seorang diri, maka ia merasakan kebersamaan Allah Ta’ala dengannya. Dengan demikian, ia mali karena Allah melihatnya melakukan kemaksiatan. Rasa malu ini merupakan suatu hal yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba dan memiliki pengaruh yang sangat besar, di antaranya:

a). Bersegera melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Hal itu dilakukan karena malu jika Allah Ta’ala melihat hamba-Nya yang Mukmin meninggalkan suatu perintah atau melakukan suatu larangan. Sesungguhnya seorang Mukmin malu jika Allah melihatnya dalam keadaan seperti itu.

b). Malu Allah kepada hamba.

Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amal. Barang siapa malu kepada Allah untuk berbuat maksiat, niscaya Allah Ta’ala akan malu mengadzabnya pada hari kiamat. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi w a sallam bersabda tentang tiga orang yang berada dalam sebuah majelis ilmu:

“Adapun salah seorang dari mereka kembali kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka Allah pun menyambutnya. Seorang yang lain malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sementara yang lain lagi berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.” (HR. Bukhari no. 66 dan Muslim no. 2176 dari Abu Waqid al-Laitsi)

c). Menanamkan pada diri seorang Mukmin rasa malu kepada makhluk.

Sesungguhnya barang siapa yang membiasakan malu kepada Allah, maka rasa malu itu akan menghalanginya untuk melakukan keburukan. Rasa malu itu akan menjadi kebiasaan, tabiat, dan perangainya sehingga menjadikannya malu kepada manusia dan mencegahnya dari perbuatan buruk. Malu adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam:
“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, dan malu adalah cabang dari iman.” (HR. Muslim no. 35 dari Abu Hurairah. Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits yang serupa).

10. Mengamalkan Konsekuensi Makna Asma’ (Nama) dan Sifat Allah ’Azza wa Jalla

Mengamalkan konsekuensi makna Asma’ dan Sifat Allah ’Azza wa Jalla merupakan buah keimanan yang sangat agung. Sebab, seorang yang beriman kepada Allah ’Azza wa Jalla meyakini apa-apa yang ditetapkan bagi Dia dari nama-nama-Nya yang husna (indah) dan sifat-sifat-Nya yang ’ulya (tinggi), dan menetapkan bagi-Nya kesempurnaan maknanya yang hakiki, serta makna-makna ini tertanam dalam jiwanya serta meresap ke dalam hatinya, sehingga keimanan ini akan membuahkan hasil yang nyata dalam perilaku dan muamalahnya, tampak pada anggota badannya, dan tercermin dari perkataan maupun perbuatannya.

Maka barang siapa yang beriman bahwasanya Allah Ta’ala Maha Mendengar niscaya ia tidak akan berbicara dengan ucapan yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala, takut Allah akan mencatatnya dan mengadzabnya karena hal itu. Barang siapa mengimani bahwasanya Allah Maha Melihat, menyaksikan dan mengawasi, niscaya ia akan takut Allah melihatnya berbuat maksiat dan mengadzabnya dengan siksa yang pedih. Maka dari itu, ia pun tercegah dari perbuatan maksiat dan berhenti melakukannya. Barang siapa meyakini bahwasanya Allah Ta’ala Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan tunduk kepada selain Allah dan tidak merendahkan diri kecuali kepada-Nya. Barang siapa mengimani bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla berkuasa menahan dan membentangkan rizki, niscaya ia tidak akan meminta kelapangan rizki atau selainnya kecuali kepada-Nya. Barang siapa mengimani bahwasanya Allah Ta’ala Mahakuat lagi Mahaperkasa, niscaya akan semakin bertambah ketundukannya kepada-Nya dan kekuatan seluruh manusia terasa kecil dalam dirinya sehingga ia tidak merasa takut dan lemah di hadapan mereka.

Demikian halnya dengan semua nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lain. Kita harus merasakan hakikat maknanya secara sempurna dan mengamalkan seluruh konsekuensinya. Inilah hakikat menghitung nama-nama Allah Ta’ala yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.” (HR. Bukhari no. 6410, Muslim no. 2677 dan lafazh ini miliknya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu).

Menghadirkan makna nama-nama Allah yang husna (indah) dan sifat-sifat-Nya yang ’ulya (tinggi) merupakan suatu hal yang sangat bermanfaat bagi seorang Mukmin. Di samping itu, merupakan sebab terbesar yang meluruskan perilaku maupun anggota badannya sehingga menjadi sebab kebaikan hatinya, anggota badan, serta amal perbuatannya. Ini merupakan realisasi kebenaran tauhid.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s