Ensiklopedi Adab Dalam Islam – Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (4/4)

11. Merasa Kuat Dengan Allah Ta’ala

Barang siapa beriman kepada Allah Ta’ala; meyakini keagungan kekuasaan, kekuatan, kesempurnaan ilmu, dan hikmah-Nya; menyaksikan dengan mata hatinya fakta-fakta yang menunjukkan kekuatan dan keagungan rabbaniyyah (Allah) pada segala sesuatu; membuktikan keimanan kepada Allah dan mengenal-Nya; kemudian tertanam dalam dirinya hakikat makna nama al-‘Aziz bagi Allah Ta’ala dengan seluruh bentuk kemuliaan yang ditetapkan bagi-Nya; lalu membaca firman Allah Ta’ala:

“…Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Munaafiquun: 8)

Maka, ketika itulah jiwa seorang Mukmin semakin tinggi. Hal itu mengalahkan seluruh sebab kelemahan dan kehinaan sehingga dirinya menjadi mulia dengan Allah Ta’ala. Tidak dapat dihinakan oleh siapa pun meskipun ia lemah dan fakir. Ia selalu mulia dengan Allah Ta’ala dan tidak menghinakan dirinya di hadapan selain-Nya.

12. Sibuk Mengerjakan Amal Ketaatan (Ibadah) dan Menjauhi Kemaksiatan

Barang siapa mengimani bahwasanya Allah Ta’ala adalah Rabb, satu-satunya dzat yang berhak disembah dan ditaati, dan ia melihat dengan mata hatinya fakta-fakta yang menunjukkan kekuasaan dan keperkasaan Allah; menyaksikan hikmah Allah dalam setiap perintah, larangan, syari’at serta kekuasaan-Nya; mengetahui apa yang telah ditimpakan kepada musuh-musuh Allah Ta’ala dari orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan di dunia serta apa yang Allah sediakan bagi mereka di akhirat, maka tidak diragukan lagi semua ini akan mendorongnya untuk melakukan ketaatan, menunaikan semua kewajiban, dan menjauhi maksiat baik besar maupun kecil. Semua itu ia tinggalkan karena takut kepada Allah, menghindarkan diri dari adzab-Nya, dan mengharapkan pahala-Nya.

Jika seseorang selalu sibuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, niscaya hal itu akan memberikan pengaruh yang sangat terpuji dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat, di antaranya:

a). Kebaikan dalam kehidupan dunia, yakni dengan berkah rizki dan makanan

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)

Selain itu, dengan membasmi sebab-sebab kerusakan dan kesengsaraan di dunia dari perkara-perkara yang merusak kehidupan manusia dan menyebabkan terjadinya berbagai macam keburukan dan kerusakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:’

“…Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaahaa: 123-124)

Semua yang kita saksikan di alam semesta dari berbagai macam kerusakan, merebaknya kemaksiatan, berpaling dari kebenaran, kerusakan pada makanan, serta tersebar luasnya malapetaka, bencana, dan lain sebagainya, sesungguhnya sebab yang pasti adalah karena meninggalkan ketaatan dan terjerumusnya ke dalam kemaksiatan. Dengan demikian, jaminan kebaikan dalam kehidupan manusia adalah menyibukkan diri dengan mengamalkan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan.

b). Keberuntungan dan keselamatan di akhirat.

Sebab, masuknya seseorang ke dalam Surga dan keselamatan dari Neraka tergantung pada ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjauhi kemaksiatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“…Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisaa’: 13-14)

Masih banyak pengaruh-pengaruh terpuji lainnya dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

13. Berhukum Kepada Syari’at`Allah Ta’ala

Maksud berhukum dengan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala yakni meminta (keputusan) hukum yang diturunkan oleh-Nya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Semangat ini bersumber dari keimanan kepada Allah Ta’ala, kepada rububiyyah-Nya atas segala sesuatu, kesendirian-Nya di dalam kerajaan dan pengaturan, iman kepada sifat-sifat-Nya, yang memiliki hikmah sangat tinggi dalam syari’at, perintah dan larangan-Nya, keyakinan kepada ilmu-Nya yang maha luas atas segala sesuatu, dan bahwasanya Allah lebih mengetahui tentang keadaan makhluk-Nya daripada diri mereka sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Keyakinan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penyayang kepada segenap makhluk, bahkan lebih sayang daripada mereka sendiri, sebagimana firman-Nya:

“…Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Keyakinan bahwasanya Allah adalah Raja Yang Maha Adil, yang tidak pernah berbuat zhalim kepada makhluk-Nya meski sebesar biji atom. Dia pun menghendaki kemudahan bagi mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Demikian juga ketika seorang Mukmin menyaksikan sifat-sifat Allah yang penuh kesempurnaan dan keindahan, sedangkan sifat makhluk berkebalikan dengan itu, dan dia mengetahui bahwasanya Allah menetapkan hukum atas para hamba-Nya berdasarkan tuntutan ilmu, hikmah, kekuasaan, dan lain sebagainya. Di samping itu seorang Muslim juga meyakini bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menetapkan hukum berdasarkan hawa napsu. Akan tetapi, beliau menetapkan hukum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu…” (QS. An-Nisaa’: 105)

Dengan demikian, tatkala seorang Mukmin telah meyakini perkara-perkara di atas, niscaya ia akan berhukum dalam semua urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dengan merujuk kepada hukum al-Qur’an dan as-Sunnah. Kondisi demikian juga memaksa dirinya untuk ridha terhadap hukum tersebut meskipun bertentangan dengan pemikiran dan hawa napsunya. Ia pun tunduk kepada-Nya dengan ketundukan yang sempuran serta menerima dengan sepenuhnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65)

Sudah selayaknya seorang Mukmin mengetahui bahwasanya menetapkan hukum di antara manusia adalah hak Allah semata, tidak boleh di sertakan di dalamnya seorang pun dari makhluk. ALlah Ta’ala berfirman:

“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah…” (QS. Yusuf: 40)

Jika manusia telah berhukum kepada kitab Allah Ta’ala dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam, niscaya hal itu akan memberikan pengaruh yang terpuji di dunia maupun akhirat. Di antara pengaruh tersebut adalah:

a). Kedamaian di antara mereka.

Sebab, jika manusia berhukum kepada Kitabullah dan ridha dengannya serta menerimanya, maka hal itu merupakan faktor terpenting untuk melenyapkan permusuhan dan perselisihan di antara mereka. Kebanyakan dari sebab-sebab perselisihan, pertengkaran, pemutusan hubungan, dan permusuhan di antara manusia pada hakikatnya adalah karena berpaling dari hukum Allah dan beralih kepada hukum-hukum selainnya yang diciptakan oleh manusia, yang tidak akan dapat memperbaiki keadaan mereka.

b). Berkah pada rizki dan tersebarnya keamanan.

Semua itu merupakan buah dari berhukum kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka…” (QS. Al-Maa-idah: 66)

Terhapusnya berkah pada rizki dan makanan, rusaknya keadaan manusia, dan tersebarnya kerusakan di antara mereka, semua itu merupakan akibat berpaling dari hukum Allah Ta’ala dan hukum Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam, serta akibat dari kemaksiatan dan kerusakan.

c). Mencegah terjadinya kezhaliman di antara sesama manusia.

Sesungguhnya jika manusia berhukum kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta berpaling dari berhukum kepada hukum ciptaan manusia, yang berasal dari pemikiran dan hawa napsu yang pasti cacat atau kurang, niscaya akan tercegahlah segala bentuk kezhaliman sebagian orang atas sebagian lainnya. Tidak ada lagi keharusan berhukum kepada hukum-hukum manusia dan merujuk kepadanya. Selain itu, lenyaplah kultus individu yang semu atas mereka.

d). Meninggalkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang bertentangan dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dibuat oleh manusia dan tidak mungkin disandingkan dengan hukum Allah Ta’ala.

Pengecualian dalam hal ini ialah peraturan-peraturan yang tidak bertentangan dengan hukum Allah Ta’ala, bahkan sesuai dengannya dan berasal darinya, dalam perkara-perkara yang tidak terdapat hukum Allah secara jelas. Adapun undang-undanga yang dibuat oleh manusia, dan bertentangan dengan hukum Allah pasti terhapus, jika hukum Allah diterapkan dan manusia berhukum kepadanya. Para hakim tidak akan berkesempatan berhukum kepada hukum buatan manusia. Demikian juga orang-orang yang bersengketa tidak akan bisa berhukum kepadanya. Sebaliknya, mereka akan mengembalikan seluruh perkara kepada hukum Allah.
Allah Ta’ala berfirman:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa napsu mereka…” (QS. Al-Maa-idah: 49)

Dan masih banyak pengaruh-pengaruh terpuji lainnya.

14. Berkeyakinan Bahwasanya Syari’at Allah Itu Mudah

Wajib atas setiap Muslim meyakini bahwasanya agama Allah itu mudah. Allah Ta’ala tidak mensyari’atkan kepada manusia sesuatu yang dipandang sulit, bahkan seluruh syari’at Islam itu mudah, walhamdulillah. Di dalamnya terdapat keringanan bagi manusia serta perhatian terhadap keadaan dan kelemahan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Tidak ada di dalam agama-Nya sesuatu yang menyebabkan kesulitan bagi manusia, sebagaimana firman-Nya:

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS. Al-Hajj: 78)

Kemudahan ini meliputi seluruh syari’at di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Demikian pula petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, seluruhnya mudah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

“Tidaklah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam diberikan dua pilihan kecuali beliau memilih yang mudah di antara keduanya, selama hal itu bukan dosa. Adapun jika hal itu dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya…” (HR. Bukhari no. 6786 dan Muslim no. 2327 dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha)

Maknanya, bahwasanya seluruh perkara di dalam syari’at mudah, sedangkan perkara yang menyelisihinya pasti sulit. Tidak mungkin syari’at dan lawannya mudah pada saat yang sama. Maka apabila sunnah itu mudah, berarti yang menyelisihinya pasti sulit. Sebab, sekiranya itu mudah, tentulah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah memilihnya, sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Barang siapa yang menyelisihi sunnah, sesungguhnya ia telah mempersempit dan mempersulit dirinya sendiri, meskipun beranggapan sebaliknya atau berkeyakinan telah memilih yang mudah. Pada hakikatnya, itu merupakan persangkaan yang keliru. Dengan demikian, agama ini berhak disifati dengan kemudahan seluruhnya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari no. 39, 5673, 6463, 7235, dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)

Adapun keyakinan bahwa sesuatu dari agama ini sulit, atau keyakinan bahwa Allah telah mempersulit para hamba-Nya, hal itu termasuk adab yang buruk kepada Allah Ta’ala dan prasangka kepada Allah dengan persangkaan Jahiliyah.

15.Berbaik Sangka Kepada Allah dan Rasul-Nya

Berbaik sangka merupakan salah satu adab kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya. Hendaknya seorang Muslim selalu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam, di antaranya:

a). Berbaik sangka kepada Allah dalam dzat-Nya.

Bahwasanya Dia Maha Tinggi, Maha Esa dan tidak berbilang, serta suci dari segala aib dan kekurangan.

b). Berbaik sangka kepada Allah dalam rububiyyah-Nya.

Bahwasanya Dialah yang mengatur semua urusan makhluk dan hanya Dialah yang mampu memperbaiki keadaan mereka. Dia bersendiri dalam penciptaan dan kerajaan, serta seluruh makna-makna rububiyyah yang sempurna dan agung.

c). Berbaik sangka kepada Allah dalam uluhiyyah-Nya.

Bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla adalah satu-satunya dzat yang berhak diibadahi, bukan selain-Nya. Dialah raja bagi semua urusan dan sebab-sebabnya. Tidak ada sesuatu pun selain Dia yang berhak untuk itu. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Allah…” (QS. Muhammad: 19)

“Kuasa Allah yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil…” (QS. Al-Hajj: 62)

d). Berbaik sangka kepada Allah dalam asma’ dan sifat-Nya.

Bahwasanya Dialah dzat yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi, sama sekali tidak memiliki cacat maupun aib dari segi mana pun. Tidak mungkin hal itu ada pada Allah, bahkan seluruh sifat-sifat-Nya baik dan sempurna, agung dan indah. Demikianlah seluruh sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun sifat-sifat yang terkandung di dalamnya cacat maupun aib, sesungguhnya Allah Ta’ala bersih dari itu semua. Sekali-kali itu bukanlah termasuk sifat-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Hanya milik Allah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu…” (QS. Al-A’raaf: 180)

e). Berbaik sangka kepada Allah dalam qadar-Nya.

Bahwasanya Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum ia diciptakan. Dialah yang telah menulisnya, menghendakinya, dan mengadakannya. Segala sesuatu di alam ini ada atas`iradah (kehendak) Allah Ta’ala dan takdir-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“…Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqaan: 2)

“Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. An-Naml: 75)

“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya…” (QS. Al-Hadiid: 23)

f). Berbaik sangka kepada Allah dalam syari’at-Nya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan bagi kita syari’at dan agama yang paling sempurna. Tidak terkandung sedikit pun cacat atau aib pada syari’at-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu…” (QS. Al-Maa-idah: 3)

Demikian juga Allah Ta’ala tidak menetapkan syari’at bagi hamba-Nya kecuali yang terkandung di dalamnya kemaslahatan, keselamatan dan kemenangan bagi mereka di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menetapkan syari’at bagi hamba-Nya yang mempersulit mereka. Dia tidak akan membebani para hamba-Nya di luar kemampuan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah: 286)

“…Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya…” (QS. Ath-Thaalaq: 7)

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahasantun kepada segenap hamba-Nya. Dia menghendaki kemudahan bagi mereka dan tidak menghendaki kesulitan, sebagaimana firman-Nya:

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 185)

“…Sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS. Al-Hajj: 78)

g). Berbaik sangka kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Bahwasanya beliau benar-benar utusan Allah, benar dalam segala kabar yang beliau sampaikan, beliau telah menyampaikan syari’at Allah, dan tidak menyembunyikan sesuatu pun dari wahyu yang disampaikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling bertakwa dan paling taat kepada-Nya, serta paling sempurna dalam mengetahui hukum-hukum Allah ‘Azza wa Jalla, mengikuti segala perintah-Nya, dan hamba yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah. Beliau adalah manusia yang paling penyayang terhadap makhluk, paling bersemangat menyampaikan hidayah di alam ini, dan paling gigih berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga shalwat dan salam senantiasa tercurah atasnya.

16. Banyak Berdzikir Kepada Allah Ta’ala

Barang siapa yang beriman kepada Allah, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, dan selalu bergantung kepada-Nya, pasti dia akan banyak mengingat-Nya di dalam hati dengan penuh rasa cinta, pengharapan, kesadaran, dan ketergantungan kepada-Nya. Akibatnya, ia akan selalu berdzikir dengan lisannya, dengan mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, do’a, dan istighfar. Di samping itu, berdzikir dengan anggota badannya, yakni dengan mengerjakan amal-amal ketaatan. Itu semua merupakan konsekuensi iman, mahabbah (kecintaan), serta rasa bergantung dan takut kepada Allah. Sesungguhnya barang siapa mencintai sesuatu, niscaya ia akan banyak mengingatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai, orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42

Dzikir kepada Allah Ta’ala akan membawa pengaruh yang sangat baik di dunia maupun di akhirat, di antaranya:

a). Hati akan menjadi tenteram dan teguh dengan dzikrullah Ta’ala

Sebagaimana firman-Nya:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

b). Istiqamah dalam ketaatan.

Sebab, barang siapa yang lisannya selalu sibuk dengan dzikrullah, niscaya ia tidak akan mungkin berbicara maksiat. Barang siapa yang anggota badannya sibuk dengan amal ketaatan, niscaya ia tidak akan disibukkan dengan maksiat. Maka seorang yang senantiasa berdzikir akan selalu istiqamah di atas manhaj Allah Ta’ala dengan hati, lisan, dan anggota badannya.

c). Benteng dari Syaitan.

Syaitan akan bersembunyi dan lari jika seorang berdzikir kepada Allah Ta’ala. Maka dari itu, barang siapa banyak berdzikir kepada Allah, berarti ia telah membentengi dirinya dari syaitan. Keadaannya seperti orang yang berlindung di balik benteng yang kokoh dari serangan musuh.

d). Banyak melakukan amal kebaikan.

Sebab, dzikir merupakan amal shalih terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih berbagai kebaikan. Banyak sekali atsar (riwayat) yang menjelaskan tentang berbagai pahala bagi macam-macam dzikir, namun bukan di sini tempat untuk membahasnya secara rinci..

e). Dzikrullah dan kebersamaan Allah dengan hamba

Sesungguhnya barang siapa mengingat Allah niscaya Allah akan mengingatnya. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits qudsi:

“Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, niscaya Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di majelis, niscaya Aku mengingatnya di majelis yang lebih baik daripada majelis itu…” (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675, dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)

Jika Allah Ta’ala mengingat seorang hamba, maka hal itu merupakan sebab terbesar untuk meraih kebahagiaan, kemenangan, serta petunjuk dan bimbingan bagi hamba tersebut. Sebenarnya dzikir mempunyai banyak sekali faidah yang besar, namun bukan di sini tempat untuk membahasnya. Apa yang aku isyaratkan kiranya telah mencukupi.

17. Banyak Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam

Pada hakikatnya, wajibnya bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disebut nama beliau, akan muncul dai ma’rifah (kepahaman) seorang Mukmin. Firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai, orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

Orang bakhil adalah orang yang namaku disebut di sisinya, namun ia tidak bershalawat kepadaku.”

(HR. Ahmad no. 7405, at-Tirmidzi no. 2675 dan dia menshahihkannya, ath-Thabrani dalam al-Kabir, III/2885, dan lain-lain dari hadits al-Husain bin ‘Ali. Diriwayatkan juga al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab no. 1565 dari ABu Hurairah dan dari ‘Ali. Silakan lihat kitab Shahiihul Jaami’ no. 2878)

Disunnahkan memperbanyak shalawat Nabi di setiap waktu karena itu merupakan dzikir yang utama.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 308 dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)

Banyak bershalawat atas Nabi merupakan sebab terbesar untuk meraih kelapangan hati, kemudahan urusan, dan diterangi kuburnya. Bagaimana seorang Muslim tidak banyak bershalawat atas Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, sedangkan beliau adalah seorang yang paling ia cintai dan orang yang paling banyak berbuat kebaikan kepadanya. Seluruh kebaikan yang ada di sisinya merupakan berkah dari dakwah beliau shallallahu ’alaihi wa sallam. Dengan demikian, banyak bershalawat atas Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan bukti kecintaan kepada beliau dan tanda mengikuti sunnahnya. Ini merupakan adab yang sangat agung kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

18. Bertakwa Kepada Allah ’Azza wa Jalla

Bertakwa kepada ALlah ‘Azza wa Jalla merupakan faidah yang meliputi perkara-perkara yang telah disebutkan. Maksudnya adalah menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan, mengharapkan ketaatn kepada-Nya, dan takut terhadap siksa-Nya. Takwa merupakan buah keimanan kepada Allah Ta’ala yang paling agung. Takwa memiliki faidah yang sangat banyak, di antaranya:

a). Kebersamaan Allah dengan hamba-Nya

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa…” (QS. An-Nahl: 128)

Kebersamaan Allah dengan hamba membawa konsekuensi hidayah, bimbingan, pemeliharaan, taufik, penerimaan, rahmat, penjagaan, dan lain sebagainya.

b). Keselamatan dari makar musuh walau bagaimanapun besarnya makar mereka

Sebagimana firman Allah Ta’ala:

“…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak akan mendatangkan kemudharatan kepadamu…” (QS. Ali-’Imran: 120)

c). Dapat membedakan antara kebenaran dan kebathilan

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai, orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu…” (QS. Al-Anfaal: 29)

Allah akan memberikan kepada orang-orang yang bertakwa cahaya dan furqaan (petunjuk) sehingga dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, antara petunjuk dan kesesatan. Mereka tidak akan sesat, tidak akan menyimpang, dan tidak akan jatuh dalam lembah kesesatan yang mereka kira hidayah dan petunjuk.

d). Dihapuskan kesalahan dan diampuni dosa-dosa.

Hal itu berdasarkan ayat di atas dan ayat-ayat yang semakna dengannya. Takwa merupakan sebab terbesar diampuninya dosa dan dihapusnya keburukan dan kesalahan.

e). Tercurahnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebagaimana firman-Nya:

“…Dan rahmat-Ku meliputi segalka sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa…” (QS. Al-A’raaf: 156)

Orang-orang yang bertakwa adalah makhluk yang paling layak mendapatkan curahan rahmat Allah Ta’ala.

f). Dimasukkan ke dalam Surga dan selamat dari adzab Neraka

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Itulah Jannah yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63)

“Kemudian, Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam Neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 72)

Ini merupakan konsekuensi dari rahmat Allah. Sebenarnya takwa memiliki buah yang sangat banyak selain yang telah disebutkan, namun bukan di sini tempat untuk membahasnbya secara rinci.

19. Memurnikan Ittiba’ (meneladani) Kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam

Maknanya ittiba’ adalah seorang Muslim menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagi panutan dan teladan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka dari itu, meneladani Nabi dan mengikuti beliau merupakan dalil benarnya keimanan kepada Allah Ta’ala dan hari akhir. Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan jalan untuk mendapatkan hidayah, sebagaiamana firman Allah Ta’ala:

“…Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raaf: 158)

Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan jalan untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-’Imran: 31)

Demikian juga, tidak akan mungkin baik keadaan manusia di dunia dan di akhirat tanpa mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, wajib bagi setiap Muslim berusaha untuk mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam setiap keadaannya, dalam aqidah, ibadah, perilaku, akhlak, muamalah, jihad, dan semua urusannya. Sebab, ini merupakan bukti keimanan yang paling kuat dan paling benar.

Adapun berpaling dari ittiba’ kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan menggantinya dengan yang lain merupakan sebab terbesar timbulnya kerusakan dan kekurangan dalam setiap perkara, kesesatan di dunia, serta kerugian dan adzab di akhirat.

Kerusakan yang terjadi di tengah kaum Muslimin; kekurangan dalam berbagai sisi kehidupan mereka; musush-musuh berkuasa, menimpakan adzab, serta mengambil apa yang ada di tangan mereka; harga-harga melambung tinggi, tersebarnya berbagai macam penyakit dan wabah; serta munculnya virus-virus penyakit yang tidak pernah dikenal sebelumnya, itu terjadi karena ummat telah berpaling dari petunjuk Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Padahal, petunjuk Nabi sudah cukup untuk memperbaiki keadaan mereka di dunia, mengangkat kedudukan mereka, mengalahkan musuh, dan meraih kemenangan di akhirat. Yaitu, dengan mengikuti petunjuk tersebut dan berpegang teguh dengannya.

Sesungguhnya hal itu merupakan kewajiban yang paling utama atas mereka setelah mengikhlaskan agama kepada Allah Ta’ala semata. Memurnikan ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan realisasi syahadat Muhammad Rasulullah dan bukti kejujuran syahadat tersebut. Tanpa ittiba’, orang yang mengucapkan syahadat dianggap telah berdusta karena apa yang ia lakukan bertentangan dengan ucapannya. Oleh sebab itu, wajib atas setiap Muslim untuk memperbaiki ittiba’ kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam setiap urusannya karena hal itu merupakan jalan untuk meraih kemenangan dan keselamatan.

Inilah yang dapat kami sajikan sebagian dari beberapa adab kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, yang sebenarnya masih banyak lagi. Namun, apa yang kami sebutkan kiranya telah mencukupi, yang jumlahnya ada sembilan belas adab.

Walhamdulillaahi Rabbil ’aalamiin.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam,

Subhanakallohuma wabihamdika, asyhadu al-laa ilaha illaa ant, asytagfiruka wa atubu ilaik

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s