Hujjah dari Al-Qur’an dan Al-Hadits Mengenai As-Sunnah

Ummat Islam sepakat bahwa apa saja yang datang dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam baik ucapan, perbuatan, atau taqrir yang sampai kepada kita dengan jalan Mutawatir dan Ahad dengan sanad yang shahih, maka wajib bagi kita untuk menerimanya dan mengamalkannya. Pemberian istilah Mutawatir dan Ahad adalah untuk menunjukkan nilai sanadnya, bukan untuk membolehkan kita menimbang-nimbang dalam menerima dan menolak dalil-dalil tersebut.

As-Sunnah yang qath’iy dan zhani adalah sebagai hujjah bila sanadnya shahih, karena As-Sunnah sebagai sumber pembentukkan hukum Islam yang oleh para ulama dan mujtahidin dijadikan sebagai rujukan istimbath dan hukum syari’at. dengan kata lain, hukum-hukum yang ada pada As-Sunnah adalah merupakan hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, yang fungsinya sebagai hukum dan perundang-undangan yang harus ditaati.

A. DALIL-DALIL TENTANG HUJJAH AS-SUNNAH DARI AL-QUR’AN

Al-Qur’anul Karim menyuruh kita berhukum dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terbukti betapa banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita taat kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan berhukum kepadanya.

1). Al-Ahzab : 36

“Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.

2). Al-Hujuraat : 1

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

3). Ali ’Imran : 32

Artinya : Katakanlah : ’Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

4). An-Nisaa : 79

“Artinya : …. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi”.

5) An-Nisaa : 80

“Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.

6). An-Nisaa : 59

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

7). Al-Anfaal : 46

“Artinya : Dan Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

8). Al-Maa’idah : 92

“Artinya : Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.

9). An-Nuur : 63

“Artinya : Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”.

10). Al-Anfaal : 24

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”.

11). An-Nisaa : 13-14

“Artinya : .Barangsiapa ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya ; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya ; dan baginya siksa yang menghinakan”.

12). An-Nisaa : 60-61

“Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kapada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?. Mereka hendak berhakim kepada thagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka :”Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.

13). An-Nuur : 51-52

“Artinya : Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan : ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.

14). Al-Hasyr : 7

“Artinya : …Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah ; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.

15). Al-Ahzab : 21

“Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hati kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

16). An-Najm : 1 – 4

“Artinya : Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya)”.

17). An-Nahl : 44

“Artinya : .. Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”.

B. HADITS-HADITS YANG MEMERINTAHKAN KITA UNTUK MENGIKUTI NABI SHALALLAHU ’ALAIHI WA SALLAM DALAM SEGALA HAL

Begitu pula halnya dengan hadits-hadits Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, banyak kita temui perintah yang mewajibkan untuk mengikuti Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam segala perkara, diantaranya ialah :

1). Hadits Shahih Riwayat Bukhari (No. 7280) dan Ahmad (II/361)

“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : ’Setiap ummatku akan masuk syurga, kecuali yang enggan’. Mereka (para sahabat) bertanya : ’Siapa yang enggan itu ?. Jawab Beliau : ’Barangsiapa yang mentaatiku pasti masuk syurga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan”.

2). Hadits Shahih Riwayat Bukhari (No. 7281). Fathul Baari (XIII/249-250)

“Artinya : Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : ’Telah datang beberapa malaikat kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, ketika beliau sedang tidur. Sebagian dari mereka berkata : Dia sedang tidur, dan yang lainnya berkata : Sesungghnya matanya tidur tetapi hatinya sadar. Para malaikat berkata : Sesungghnya bagi orang ini ada perumpamaan, maka adakanlah perumpamaan baginya. Sebagian lagi berkata : Sesungguhnya dia sedang tidur. Yang lain berkata : Matanya tidur tetapi hatinya sadar. Para malaikat berkata : Perumpamaan beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah seperti seorang yang membangun rumah, lalu ia menyediakan hidangan dalam rumahnya itu, kemudian ia mengutus seorang pengundang, maka ada orang yang memenuhi undangannya, tidak masuk ke rumah dan tidak makan hidangannya. Mereka berkata : Terangkan tafsir dari perumpamaan itu agar orang dapat faham. Sebagian mereka berkata lagi : Ia sedang tidur. Yang lainnya berkata : Matanya tidur, tetapi hatinya sadar. Para malaikat berkata : Rumah yang dimaksud adalah syurga, sedang pengundang adalah Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam. Barangsiapa mentaati Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam berarti di taat kepada Allah, dan barangsiapa mendurhakai Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam berarti dia telah mendurhakai Allah ; dan Muhammad itu adalah pemisah diantara manusia” 1

3). Hadits Shahih Riwayat Bukhari (No. 6482, 7283) dan Muslim (No. 2283 (16))

“Artinya : Dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : ’Perumpamaanku dan perumpamaan apa-apa yang Allah utus aku dengannya, adalah seperti seorang yang mendatangi suatu kaum, lalu ia berkata : Wahai kaumku sesungguhnya aku melihat pasukan musuh dengan mata kepalaku, dan sesungguhnya aku mengecam yang nyata, maka marilah menuju kepada keselamatan. Sebagian dari kaum itu mentaatinya, lalu mereka masuk pergi bersamanya, maka selamatlah mereka. Sebagian dari mereka mendustakannya, lalu mereka dihancurkan luluh lantakkan. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang taat kepadaku dan mengikuti apa yang aku bawa ; serta demikian pula perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa”

4). Hadits Shahih Riwayat Ahmad (VI/8), Abu Dawud (No. 4605) dan ini aadalah lafazh miliknya, At-Tirmidzi (No. 2663), Ibnu Majah (No. 13), Ibnu Hibban (No. 98-Mawarid) dan lainnya.

“Artinya : Dari Abi Rafi’i Radhiyallahu ’anhu : ’Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam : ’Nanti akan ada seorang di antara kalian yang duduk di sofanya, lalu datang kepadanya perintah dari apa-apa yang aku perintah dan aku larang. Ia berkata : Aku tidak tahu apa-apa, yang kami dapati dalam Kitabullah itu yang kami ikuti (dan yang tidak terdapat dalam Kitabullah kami tidak ikuti)”.

5). Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud (No. 4606) dan lafazh ini miliknya, Ahmad (IV/131), Ibnu Hibban (No. 12), Ath-Thahawi (Al-Mu’jamul Kabir XX/No. 669-570), Ath-Thahawy dalam Syarah Ma’anil Atsaar (IV/209) dan Al-Baihaqy (IX/332).

“Artinya : Dari Miqdam bin Ma’di Kariba, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan Al-Qur’an dan yang seperti Al-Qur’an bersamanya, ketahuilah nanti akan ada orang yang kenyang di atas sofanya seraya berkata : Cukuplah bagi kamu berpegang dengan Al-Qur’an (saja), apa-apa yang kalian dapati hukum halal di dalamnya maka halalkanlah, dan apa-apa yang kalian hukum haram di dalamnya maka haramkanlah. (Ketahuilah) sesungguhnya apa-apa yang diharamkan Rasulullah sama seperti yang diharamkan Allah, ketahuilah tidak halal bagi kalian keledai negeri dan tiap-tiap yang bertaring dari binatang buas, dan tidak halal pula pungutan mu’akad, terkecuali bila pemiliknya tidak memerlukannya. Barangsiapa yang singgah disatu kaum, maka wajib atas mereka menghormatinya, tetapi jika mereka tidak menghormatinya, maka wajib baginya menggantikan yang serupa dengan penghormatan itu”.

6). Hadits Shahih Riwayat Al-Hakim (1/93) dan Al-Baihaqy (X/114).

“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : ’Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ; Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan terpisah sampai keduanya mendatangiki di Telaga (syurga)”.

7). Hadits Riwayat Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (No. 4607), At-Tirmidzi (No. 2676), Ad-Darimy (I/44-45), Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (I/205), Al-Hakim (I/95-96), dishahihkan dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, Syaikh Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Irwaa-ul Ghalil (No. 2455).

“Artinya : Dari Abi Najih (Al-Irbadh) bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam memberi nasihat kepada kami dengan suatu nasihat yang sungguh-sungguh meresap (dalam hati), sehingga hati kami menjadi gemetar dan air mata kami bercucuran, lalu kami berkata : ’Ya Rasulullah, rasanya seperti nasihat orang yang mau meninggalkan kami (buat selama-lamanya), maka bepesan-pesanlah kepada kami!’ Kata beliau : Aku berpesan kepada kalian agar tetap taqwa kepada Allah, serta mendengar dan taat walaupun kamu diperintah (di pimpin) oleh seorang hamba dari negeri Habsyah. Sesungghnya orang yang berusai panjang di antara kalian akan melihat berbagai perselisihan yang banyak, maka pegangilah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang memperoleh hidayah! Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu! Waspadalah terhadap segala sesuatu yang baru, sebab tiap-tiap yang baru itu bid’ah. Dan setiap bid’ah sesat”.

Dalil-dalil dari Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ’alihi wa sallam yang tersebut diatas memberikan petunjuk yang sangat penting sekali kepada kita, secara umum sebagai berikut.

1). Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karenanya tidak boleh seorang mu’min memilih-milih dengan maksud menyalahi, dan yang demikian termasuk durhaka kepada Allah dan RasulNya Shallallahu ’alihi wa sallam, maka perbuatan tersebut sudah termasuk sesat.

2). Tidak boleh seseorang mendahului Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam sebagiamana tidak boleh ia mendahului Allah, yakni tidak boleh menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alihi wa sallam.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “maksud dari ayat pertama dari surat Al-Hujurat adalah : “Janganlah kalian berkata hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, janganlah kalian memerintah hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah, jangan kalian berfatwa hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfatwa, dan jangan menetapkan satu urusan hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam yang meghukumi dan memutuskan”1

3). Taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah.

4). Orang yang berpaling taat dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berarti termasuk kelakuan orang-orang kafir.

5). Ketika terjadi terjadi perselisihan dalam urusan agama, maka wajib kita kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan (manusia) untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya, Allah mengulangi kalimat ’Wa’atiiur Rasuula’ sebagai pemberitahuan bahwa taat kepada Rasul hukumnya wajib, tanpa pamrih dan tanpa membandingkan lagi dengan Kitabullah. Bahkan perintah beliau wajib ditaati secara mutlak, baik perintah itu ada dalam Al-Qur’an maupun tidak, “Karena beliau telah diberi kitab dan yang seperti itu bersamanya’. Dan Allah tidak menggunakan kata taat untuk ulil amri, bahkan ia buang fi’il taat, karena kepada ulil amri sudah terkandung dalam taat kepada Rasul 2. Para ulama telah sepakat bahwa kembali kepada Allah berarti kembali kepada Kitab-Nya (Al-Qur’an) dan kembali kepada Rasul ketika beliau masih hidup, dan setelah beliau wafat kembali kepada Sunnahnya, yang demikian termasuk dari syarat-syarat keimanan”.

6). Jatuhnya kaum muslimin dan hilangnya kekuatan mereka disebabkan mereka terus berselisih dan tidak mau kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

7). Orang yang menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam akan mendapat fitnah di dunia dan azab yang pedih di akhirat.

8). Orang yang menyalahi perintah Rasulullah Shallalahu ’alaihi wa sallam akan mendapatkan akibat yang jelek di dunia dan akhirat.

9). Wajib memenuhi panggilan Rasulullah Shallallahu ’alihi wa sallam dan perintahnya, karena yang demikian akan membuat hidup jadi lebih baik dan memperoleh kebahagiaan di duni dan akhirat.

10). Taat kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam penyebab utama masuknya seseorang ke dalam Surga dan memperoleh sukses yang besar. Dan orang yang durhaka kepadanya akan masuk ke dalam neraka dengan mendapat azab yang hina

11). Di antara ciri-ciri orang-orang munafik, apabila mereka diajak untuk berhukum kepada hukum Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan Sunnahnya, mereka tidak mau menolak bahkan berusaha untuk menghalang-halangi orang yang ingin kembali kepadaNya.

12). Orang-orang mu’min berbeda dengan orang-orang munafik, karena orang-orang mu’min bila diseru untuk berhukum dengan Sunnah Rasullullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam mereka segera memenuhi seraya berkata “Sami’na wa atha’na” (Kami dengar dan kami ta’at)

13). Setiap yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, maka wajib kita mengikutinya dan setiap yang dilarangnya, wajib bagi kita menjauhinya.

14). Contoh teladan bagi umat Islam dalam segala urusan agama adalah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

15). Setiap kalimat yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang ada hubungannya dengan agama dan urusan ghaib yang tidak dapat diketahui akal, maka hal itu merupakan wahyu dari Allah kepada beliau yang tidak ada kebathilan di dalamnya.

16). As-Sunnah merupakan penjelasan Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

17). Al-Qur’an harus dijabarkan dengan As-Sunnah, bahkan As-Sunnah sama dengan Al-Qur’an dalam soal wajib taat mengikutinya.

18). Apa-apa yang diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan apa-apa yang diharamkan Allah, demikian pula segala sesuatu yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, maka dia sama dengan Al-Qur’an berdasarkan keumuman hadits No. 5.

19). Manusia bisa selamat dari kesesatan dan penyelewengan hanyalah dengan berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang demikian itu merupakan hukum yang tetap berlaku terus sampai hari kiamat, dan tidak boleh memisahkan antara Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

20). Kewajiban mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup masalah aqidah maupun ahkam, dan meliputi seluruh perkara agama, serta tertuju kepada siapa saja yang sudah sampai kepadanya risalah da’wah hingga hari kiamat3

[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam, Bab I : Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari’at Islam, Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO.Box 264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia, Cetakan Kedua Jumadil Akhir 1426H/Juli 2005]
_________
Foote Note
1. I’lamul Muwaqqi’iin (II/94) tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman
2. I’lamul Muwaqqi’iin (II/89) tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman
3. Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaa’id wal Ahkam (hal. 33-36) Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Cet. I/Darus Salafiyah, Th 1406H

[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam, Bab I : Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari’at Islam, Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO.Box 264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia, Cetakan Kedua Jumadil Akhir 1426H/Juli 2005]

Tinggalkan komentar

Filed under As-Sunnah, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Ushul Ahlus-sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s