Nasehat Bagi Penuntut Ilmu (1)

Segala puji bagi Allah Subhânahu wa Ta’âla, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahii dengan benar kecuali hanya Allah Subhânahu wa Ta’âla saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya yang tidak ada nabi sesudah beliau shallallahu ’alaihi wa sallam.

Kita mengetahui bahwa menuntut ilmu agama adalah salah satu perkara yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (Hadits shahih, Shahih al-Jami’ no. 3913, 3914). Dan dalam riwayat yang lain: “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Allah jadikan ia faham dalam masalah agama.” (Hadits shahih, Shahih al-Jami’ no. 6611, 6612).

Dan dalam riwayat yang lain: “Barangsiapa yang meniti suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, berarti dia sedang meniti suatu jalan dari jalan-jalan surga, dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan ahli ibadah ibarat keutamaan bulan di malam purnama dengan seluruh bintang, dan sesungguhnya bagi orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh seluruh penghuni yang ada di langit dan yang ada di bumi dan oleh segala sesuatu hingga ikan-ikan yang ada di dalam air. Para ulama adalah pewaris para Nabi, sedangkan Nabi tidaklah mewariskan dirham ataupun dinar, mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mendapatkannya berarti dia telah mendapatkan keuntungan yang berlimpah”. (Hadits shahih/ar-Rihlah fii Thalab al-Hadits, 1/91).

Pada tahun-tahun terakhir ini semangat sebagian pemuda Islam dalam menuntut ilmu agama tumbuh dan berkembang. Hal ini sangat menggembirakan dan patut disyukuri. Akan tetapi, patut disayangkan ada beberapa diantara penuntut ilmu yang mengalami patah semangat dalam memperlajari ilmu agama dan diantara mereka ada yang larut dengan kondisi masyarakat di lingkungan mereka. Oleh karena itu, berikut ini akan dikemukakan nasihat bagi para penuntut ilmu, agar tetap konsisten dalam menuntut ilmu agama dan mengetahui penyakit-penyakit yang sering menimpa, khususnya bagi para penuntut ilmu agama. Diantara penyakit tersebut adalah:

a. Salah niat

Sebagian penuntut ilmu memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, akan tetapi yang menjadi tujuannya bukan mencari keridhoan Allah Tabâraka wa Ta’âla, bukan untuk meluruskan kesalahan yang ada pada diri sendiri atau orang lain, dan bukan pula untuk membela tegaknya Tauhid (Syariat Islam). Padahal telah diketahui bahwa niat adalah salah satu faktor penentu diterimanya sebuah amalan. Ilmu yang kita pelajari adalah ibadah, amalan yang mulia, maka sudah barang tentu butuh niat yang ikhlas dalam menjalaninya. Belajar bukan karena ingin disebut pak Ustadz, orang ‘alim, ingin terkenal dan semisalnya.

Allah Tabâraka wa Ta’âla berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”. (QS. al-Bayyinah: 5). Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di hadapan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka”. (HR. Ibnu Mâjah 253, Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini hasan dalam al-Misykâh 225).

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Pertama kali yang wajib bagi seorang penuntut ilmu adalah meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang ia kehendaki adalah syariat Allah Subhânahu wa Ta’âla, yang dengannya diutus para Rasul dan diturunkan al-Kitab. Hendaklah penuntut ilmu membersihkan dirinya dari tujuan duniawi, atau karena ingin mencapai kemuliaan, kepemimpinan dan lain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya”. (Adabut Thalab wa Muntaha al- Arab, hal. 21).

Seorang yang hendak menuntut ilmu agama harus menanamkan pada dirinya bahwa tujuan dari menuntut ilmu tidak lain adalah melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, dengan mengamalkan ilmu yang didapatkan, meluruskan kesalahan yang ada pada dirinya kemudian orang lain, dan menghidupkan kembali apa yang telah terpendam dari warisan para Nabi ’alaihimus sâlâm, serta membela tegaknya Islam dengan pemahaman yang benar.

b. Tidak merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla

Segala gerak-gerik dan tingkah laku seorang hamba diawasi oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Oleh karena itu, termasuk hal yang tidak wajar apabila seorang penuntut ilmu tidak merasa diawasi oleh Dzat Yang Maha Kuasa, sehingga perkataan dan perbuatannya tidak terkontrol dan tidak takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Padahall seharusnya merekalah orang yang lebih takut kepada Allah Tabâraka wa Ta’âla daripada selain mereka.

Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: “…Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama…”. (QS. Fathir: 28)

Seorang hamba apabila mengetahui bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âla tidak akan lalai sesaatpun dari hamba-Nya, maka ia akan selalu taat kepada-Nya dalam zhohir dan bathin.

c. Senang berbantah-bantahan (Jidal)

Sebagian penuntut ilmu lebih suka berdebat daripada berdiskusi. Tidak melewatkan satu kesempatan bersama saudaranya kecuali diajak berdebat dalam suatu permasalahan, dia menghafalkan dalil-dalil yang disiapkan untuk menjawab lawan bicaranya bukan untuk memperbaiki diri dan umat, gemar mencari-cari permasalahan terutama masalah baru yang diperselisihkan oleh para ulama, merasa benar dengan apa yang ada pada dirinya, dan tidak mau menerima kebenaran dari orang lain. Penyakit ini menjurus kepada penyakit sombong yang diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”. (HR. Abu Dâud, 4092 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dho’if al-Jâmi’, 4608).

Seorang yang merasa di dalam hatinya ada penyakit seperti ini hendaklah ia mengingat kembali ayat-ayat Allah Subhânahu wa Ta’âla (seperti dalam Surat al-Hujurât: 11) dan mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu: “Cukup dikatakan seseorang itu (melakukan) kejelekan apabila meremehkan saudaranya yang muslim”. (HR. Muslim, 2564).

Jidal yang diperbolehkan adalah jidal yang baik dan haq sebagaiman firman Allah Tabâraka wa Ta’âla: “Serulah manusia kepada jalan Robbmu dengan cara hikmah dan nasehat yang bijak, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. an-Nahl: 125).

Inilah jidal yang baik dan dibolehkan, bukan sekedar berbantah-bantahan tanpa titik temu dan berujung saling benci dan permusuhan. Salah satu ciri yang dapat membedakan antara jidal yang haq dengan jidal yang bathil adalah seseorang yang berjidal secara haq apabila telah terang baginya al-Haq (kebenaran) maka ia akan segera meninggalkan pendapat bathilnya dan mengakui kesalahannya serta mengumumkan taubatnya dari kesalahan tersebut. Sedangkan tanda jidal yang bathil adalah sebaliknya, karena yang diinginkan adalah membela pendapatnya.

Jika terjadi perbedaan pendapat diantara penuntut ilmu hendaklah mereka mengembalikan hal tersebut kepada al-Qurân da as-Sunnah. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah (al-Qurân) dan Rasul-Nya (as-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dari hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. an-Nisaa’: 59).

d. Malas mengulang ilmu yang telah dipelajari

Ini adalah salah satu penyakit para penuntut ilmu yang tergolong dominan, hampir setiap mereka tertimpa oleh penyakit ini kecuali yang dirahmati oleh Allah Subhânahu wa Ta’âla. Mereka menulis ilmu yang mereka dapatkan, akan tetapi tidak menjadi berfaedah bahkan mereka selalu kesulitan ketika ingin merujuk kembali ilmu tersebut, karena terlalu lama ia tinggalkan dan tidak pernah diingat kembali.

Untuk menghindari penyakit ini, seorang penuntut ilmu harus mengingat kembali tujuan yang benar dalam menuntut ilmu, kemudian rajin mengulang kembali dan membuka lembaran catatannya yang telah berlalu, baik sendirian ataupun dengan belajar bersama saudaranya sesama penuntut ilmu dan satu sama lain saling mengingatkan karena tujuan mereka sama yaitu menuntut ilmu.

e. Banyak berbicara dan tertipu dengannya

Betapa banyak orang yang pandai berbicara tetapi tidak pandai mengamalkannya. Suatu saat mereka berdalih bahwa berbicara tentang ilmu lebih baik daripada diam, tetapi pada akhirnya mereka tertipu dengan banyak pembicaraannya sendiri. Padahal Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. [Imam at-Tirmidzi mengatakan; “Hadits Hasan Shahih” (Lihat Riyâdusshalihin, no. 530). Syaikh Salim al-Hilali mengatakan; “Shahih karena banyak jalannya” (Lihat Bahjatun Nâzhirîn, III/18].

Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan sesuatu yang ia tidak memikirkan (apakah baik atau buruk), lalu ia tergelincir ke dalam api neraka sejauh timur dan barat karenanya”. (Muttafaqun ‘alaihi, lihat Riyâdusshalihin, no. 1522)

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Kebanyakan orang sekarang mengira bahwa banyak berbicara, suka berjidal suka membantah dalam masalah agama adalah menandakan lebih tahu dari orang yang tidak demikian, inilah suatu kebodohan”. (Fadhlu Ilmi as-Salaf, hal 37).

f. Berlebihan dalam hal makanan

Seorang penuntut ilmu tidak selayaknya selalu memikirkan apa yang akan dimakan pagi hari ini, siang nanti, malam hari ini, besok pagi, lusa dan seterusnya, tetapi penuntut ilmu selayaknya sibuk dengan apa yang menjadi kewajibannya yaitu berusaha mendapatkan ilmu dengan berbagai cara yang dibenarkan. Tidak ditemukan dari kalangan ulama yang dikenal dengan sifat banyak makan dan tidak akan terpuji seseorang yang dijuluki dengan sifat itu.

Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. al-A’raf: 31).

Ketahuilah bahwasanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak pernah terdengar darinya bahwa ia minta didatangkan makanannya, baik makan siang atau makan malam, karena tersibukkan dengan ilmunya. Bahkan suatu saat didatangkan makanannya, sampai terkadang dia tidak memakannya sehingga makanan itu hanya ditoleh saja. Apabila dia makan, maka dia makan hanya sedikit saja. (Ghoyâtul Amani 2/173, dinukil dari Adab Tholib al-Ilmi, hal. 84-85).

g. Berlebihan dalam hal tidur

Penuntut ilmu hendaknya menyedikitkan tidurnya selama tidak membahayakan fisik dan jiwanya, karena waktu adalah umur dan kesempatan baginya yang tidak akan pernah terulang kembali.

Ketahuilah bahwasanya Muhammad ibnu al-Hasan asy-Syaibani rahimahullah sangat jarang tidur di malam hari, dia selalu meletakkan bukunya di sisinya. Apabila dia sedang bosan dengan suatu permasalahan, dia segera meneliti permasalahan yang lain. Dia meletakkan segelas air di sisinya untuk mengusir rasa kantuknya dan dia dia mengatakan; “Tidur (kantuk) itu sesuatu yang panas, maka harus diusir dengan (lawannya) yaitu air dingin”. (Ta’limul Muta’allim Turûqut Ta’allum , hal. 23, dinukil dari Adab Tholib al-Ilmi, hal. 86-87).

h. Menuruti hawa nafsu dalam perkara keji

Perbuatan dosa akibat hawa nafsu terutama bagi mereka yang mengetahui/memiliki ilmu adalah penyebab kerusakan hati. Akibat buruk menuruti hawa nafsu telah dijelaskan oleh Allah Subhânahu wa Ta’âla dalam firman-Nya: “Maka pernahkah kamu melihat seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya tersesat karena ilmunya, sehingga Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan memberi penututp diatasnya, maka siapakah yang dapat memberi petunjuk selain Allah? Mengapa kamu tidak mengambil (ini) sebagai pelajaran?”. (QS. al-Jâtsiyah: 23).

Perhatikanlah wahai penuntut ilmu!!! Memperturutkan hawa nafsu menjadi faktor utama matinya hati dan pendengaran. Apabila hati dan pendengaran telah mati, maka tiada yang dapat menghidupkannya kembali kecuali Allah Subhânahu wa Ta’âla. Oleh karena itu, segeralah kembali kepada Allah Tabâraka wa Ta’âla sebelum hati kita menjadi sakit atau bahkan mati. (Dinukil secara bebas dari Sholahul Qulub oleh Dr. Kholid al-Mushlih, hal. 22).

Jauhilah segala kemaksiatan walau sekecil apapun, sejauh jarak antara timur dan barat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata; ”Aku mengadukan jeleknya hafalanku kepada Waki’, lalu beliau menunjukiku supaya meninggalkan kemaksiatan. Dia berkata; “Ketahuilah bahwa ilmu adalah fadhilah (keutamaan) dan fadhilah Allah Tabâraka wa Ta’âla tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. (al-Jawabul Kafi, hal. 54).

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Bisa jadi seseorang mengetahui dan memiliki ilmu yang sempurna, tetapi tidak cukup hanya ilmu saja untuk bisa mengikuti kebenaran. Ada syarat lain yaitu harus bersih atau siap untuk menerima kebenaran, siap untuk dibersihkan. Apabila dia belum dibersihkan maka kebenaran akan sulit untuk diterima, apalagi untuk diikuti. Apabila tempatnya tidak bersih dan tidak siap untuk dibersihkan, maka seumpama tanah yang gersang meskipun turun hujan tetapi tidak menumbuhkan tanaman disebabkan tanah itu tidak pantas untuk tumbuhnya tanaman. Apabila seseorang memiliki hati yang keras seperti batu, ia tidak akan menerima pembersihan hati. Nasehat-nasehat tidak akan berdampak kepadanya, maka tidak akan bermanfaat ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut. Sebagaimana tanah tandus meskipun hujan turun setiap hari, tetap tidak bisa menumbuhkan tanaman-tanaman”. (Buletin Istiqomah, volume 14/Th 4/1427 H).

i. Akrab dengan pelaku maksiat

Sebagian penuntut ilmu tidak membatasi diri ketika bergaul dengan pelaku maksiat. Tidak membedakan antara sekedar mengingatkan dengan menjadikan mereka sebagai sahabat, bahkan ketika diingatkan kadang-kadang beralasan: “Kalau kita tidak bersama mereka, lalu siapa yang mendakwahi mereka?”

Maka kita jawab: “Berapa banyak penuntut ilmu yang tadinya tidak mengenal perkara keji, lalu menjadi mengetahuinya, dan pada akhirnya terjatuh pada perbuatan keji itu, disebabkan karena bergaul dengan para pelaku maksiat. Awalnya ingin merubah mereka tetapi ternyata dialah yang berubah”. Bukankah kita telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dinilai menurut (kadar) agama teman karibnya. Maka hendaklah setiap kalian melihat siapa yang ia jadikan teman karibnya”. (HR. at-Tirmidzi, 2378 dan Abu Daud, 4833, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shohiihah, 927).

Janganlah hendaknya kita menjadi orang yang berkata pada hari kiamat kelak: “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku)”. (QS. al-Furqon: 28).

j. Jauh dari lingkungan yang baik agamanya

Sebagian penuntut ilmu ketika pulang ke tempat asalnya, yang jauh dari suasana agama, jauh dari ta’lim/pengajian, jauh dari suasana da’wah dan lebih sering menjumpai kemaksiatan daripada kebenaran, maka diantara mereka berubah seperti layaknya orang biasa yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren atau seperti orang awam yang tidak pernah mendengar pengajian sama sekali. Dan pada akhirnya, dia menjadi orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya.

Seharusnya yang dilakukan seorang penuntut ilmu adalah terus istiqomah diatas al-Qurân dan Sunnah Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam, tampil di hadapan manusia dengan sosok hamba Allah Subhânahu wa Ta’âla yang bertaqwa dan terus menambah ilmu.

Dan di akhir tulisan ini, kami katakan hendaknya bagi setiap penuntut ilmu agama berusaha untuk mengamalkan ilmunya, melaksanakan perintah Allah Subhânahu wa Ta’âla dan meninggalkan larangan-Nya dan berdo’a kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla agar diberi pertolongan dalam menghadapi penyakit-penyakit diatas dan agar Allah Subhânahu wa Ta’âla menjadikan kita temasuk penduduk surga sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: “…Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju surga…”. (Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 6299, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

Dalam suatu hadits dikabarkan kepada kita mengenai keadaan Jannah yaitu, dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Di dalam Jannah terdapat pasar yang akan dikunjungi setiap Jum’at. Lalu angin utara berhembus menerpa wajah dan pakaian mereka, sehingga mereka bertambah tampan dan baik. Mereka akan kembali kepada isteri mereka sedangkan rupa mereka bertambah tampan dan baik. Isteri-isteri mereka berkata: “Demi Allah, kamu semakin tambah tampan dan menawan”. Mereka menjawab: “Demi Allah, kamu juga semakin cantik dan menawan”.

Allah Tabâraka wa Ta’âla menyebutkan sifat-sifat wanita Jannah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (QS. al-Waaqi’ah: 35-37)

Wallahu A’lam.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Ya Allah, tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu.

Oleh:

Abu Aslam Benny al-Agami

Rujukan:
– Al-Qurân dan terjemahannya
– Majalah al-Furqon Edisi 6 Th ke-7
– Keagungan Generasi Salaf (disertai Kisah-Kisahnya), Jamal Abdurrahman
– Perang Melawan Syahwat, Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy
– Makalah Ilmiah Tabligh Akbar “Meraih Surga dengan Menuntut Ilmu”, Ust. Abu ‘Azzam Abdul Halim
– Buletin al-Istiqomah, Tim Buletin Istiqomah
http://kaummuslimin.blogspot.com/2008/09/nasihat-bagi-penuntut-ilmu.html

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s