Dzikir pagi dan petang

Waktu pelaksanaan dzikir pagi (ash shabaah) dan petang (al masaa’)

Waktu pelaksanaan dzikir pagi

Ash Shabaah (pagi) adalah waktu dimana terbitnya fajar (masuk waktu shubuh), sebagai pertanda berakhirnya malam, hingga sebelum datangnya zawal [tergelincirnya matahari ke arah barat; yaitu waktu zhuhur].

Maka awal waktu pelaksanaan dzikir pagi adalah sejak terbitnya fajar (masuk shalat shubuh).

Kemudian para ulama berbeda pendapat, kapankah dzikir pagi tersebut berakhir? Selama tidak ada dalil yang membatasinya, maka selama itu pula terdapat keluasan dalam masalah ini; yaitu kita mengembalikannya kepada makna bahasa arabnya.

Maka akhir waktu pelaksanaan dzikir pagi adalah hingga tergelincirnya matahari ke arah barat (masuknya waktu zhuhur).

Dan Inilah pendapat Al Lajnah Ad Daimah dalam fatawanya dan menjadi pendapat Syaikh Muhammad bin Sholeh All ‘Utsaimin dalam kajian Liqo’ Al Bab Al Maftuh.

Hanya saja, WAKTU PALING AFDHAL untuk membaca dzikir pagi ini, adalah DI AWAL WAKTUnya. Yaitu setelah terbit fajar, sebelum terbitnya matahari.

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ

“Aku duduk dengan kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala mulai dari shalat Shubuh hingga matahari terbit lebih kusukai dari empat budak keturunan Isma’il yang dimerdekakan.”

(HR Abu Dawud, dishahiihkan al albaaniy)

Namun bukan berarti, setelah terbitnya matahari berakhirlah waktu dzikir pagi. Tidak demikian, hanya saja, kita telah terlewatkan untuk berdzikir di waktu-waktu yang lebih utama.

Juga hadits lainnya:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ . قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”

(Hasan li ghayrihi; terdapat Jami’ at-Tirmidzi no. 586)

Waktu pelaksanaan dzikir petang (al masaa’)

Para ulama berbeda pendapat, tentang awal waktu al masaa’. Adapun yang benar; waktu al masaa’ adalah ketika tergelincirnya matahari (waktu zawal) hingga pertengahan malam (akhir waktu shalat ‘isya). Inilah pendapat yang dikuatkan as suyuthiy. Dan hal ini dikuatkan dari definisinya secara bahasa, dan juga dikuatkan dari sisi dalil.

والمَساء بعذ الظهر إِلى صلاة المغرب وقال بعضهم إِلى نصف الليل

“Al-masaa’, adalah waktu setelah shalat Dhuhur hingga shalat maghrib. Dan sebagian mereka berkata : ‘Hingga pertengahan malam”

[Lisaanul-‘Arab, hal. 4206; kutip dari ustadz abul jauzaa].

( المساء ) ما يقابل الصباح وزمان يمتد من الظهر إلى المغرب أو إلى نصف الليل ( ج ) أمسية

“(Al-masaa’) adalah kebalikan dari ash-shabaah dan waktu yang terbentang dari dhuhur hingga maghrib atau hingga pertengahan malam. Jamaknya amsiyyah”

[Al-Mu’jamul-Wasiith, hal. 870; kutip dari ustadz abul jauzaa].

Adapun dalil-dalil yang mendasarinya adalah:

مَنْ قَالَ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، مِائَتَيْ مَرَّةٍ لَمْ يُدْرِكْهُ أَحَدٌ بَعْدَهُ، إِلا مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ أَفْضَلَ ”

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir’ sebanyak dua ratus kali, tidak akan disamai oleh seorang pun kecuali orang yang mengucapkan semisal dengannya atau lebih banyak”

[Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 10336; sanadnya shahih]

Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafazh:

مَنْ قَالَ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِائَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَصْبَحَ، وَمِائَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَمْسَى، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِنْهُ إِلا مَنْ قَالَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ ”

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir’ sebanyak seratus kali di pagi hari dan seratus kali di sore hari (amsaa), tidak akan disamai oleh seorang pun kecuali orang yang mengucapkan semisal dengannya atau lebih banyak”

[idem no. 10335; sanadnya shahih]

Juga hadits:

وَلأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Aku duduk dengan kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala mulai dari shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam lebih kusukai dari empat budak keturunan Isma’il yang dimerdekakan.”

(HR. Abu Dawud: 3182, dihasankan oleh Albani)

Diantara dzikir-dzikir yang dilakukan pada waktu ini adalah tasbih 100x, takbir 100x, dan dzikir yang telah disebutkkan diatas.1.

Akan tetapi, setelah matahari tenggelam pun, masih termasuk al masaa`, hingga pertengahan malam.

Allaah berfirman:

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

Maka bertasbihlah di waktu masaa` (hiina tumsuuna) dan di waktu shubuh/pagi

(QS. ar Ruum: 17)

Apa makna masaa` (petang) dalam ayat diatas?

Berkata Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa:

فسبحان الله حين تمسون – المغرب

Maka bertasbihlah di waktu masaa`, (maksudnya dengan menunaikan shalat) maghrib.

Dalam riwayat lain disebutkan:

المغرب والعشاء

(maksudnya yaitu dengan menunaikan shalat) maghrib dan ‘isyaa`

Dan ini juga merupakan pendapatnya Mujaahid, Qataadah, serta ibnu Zayd.

[Tafsiir ath thabariy, via islamweb]

Maka jelas, bahwa waktu maghrib sampai akhir waktu ‘isyaa` juga merupakan waktu masaa`.

Disebutkan as Suyuthiy bahwa ‘hingga pertengahan malam’, karena waktu ‘isyaa` berakhir hingga pertengahan malam.2

Dzikir pagi dan petang

Membaca diwaktu pagi3:

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ.

Allaahumma bika ash-bahna, wa bika amsaynaa, wa bika nahyaa, wabika namuut, wa ilaykann nusyuur

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan perto-longanMu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).”

Adapun ketika petang bacaannya:

‎اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ.

Allaahumma bika am-saynaa, wa bika ash-bahnaa, wa bika nahyaa, wabika namuut, wa ilaykal mashiir

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup, dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk)”

Membaca (di pagi Hari) 4:

أَصْبَحَنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ،

ash-bahnaa ‘ala fithratil islaam, wa ‘ala kalimatil ikhlaash

Di waktu pagi kami berada diatas fithrah agama Islam, dan diatas kalimat ikhlas

وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

wa ‘ala diiniy nabiina muhammadin shållallåhu ‘alayhi wa sallam

dan diatas agama Nabi kami, Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam

وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.

wa ‘ala millati ibraahiima haniifan muslimaa, wa maa kaana minal musyrikiin

dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik

Adapun diwaktu petang membaca:

أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ

amsaynaa ‘ala fithratil islaam, wa ‘ala kalimatil ikhlaash

Di waktu petang kami berada diatas fithrah agama Islam, dan diatas kalimat ikhlas

وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

wa ‘ala diiniy nabiina muhammadin shållallåhu ‘alayhi wa sallam

dan diatas agama Nabi kami, Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam

وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.

wa ‘ala millati ibraahiima haniifan muslimaa, wa maa kaana minal musyrikiin

dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik

Membaca (diwaktu pagi ) 5:

أَصْبَحَنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ،

ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lilaah, walhamdulilaah

Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, dan segala puji bagi Allah.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،

laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah

Tidak ada Sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syay-in qadiir

Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu.

رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ،

Rabbi as-aluka khayra maa fiy hadzal yaum, wa khayra maa ba’dah

Wahai Råbb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ،

wa a-‘uudzubika min syarri maa fiy hadzal yaum, wa syarri maa ba’dah

Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya.

رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ،

råbbi a-‘uudzubika minal kasal, wa suu-il kibar

Wahai Rabb, aku berlin-dung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua.

رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.

rabbi a’uudzubika min ‘adzaabin finn naar, wa ‘adzaabin fil qabr

Wahai Rabb, Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur

adapun pada petang, maka membaca:

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ،

amsaynaa wa amsal mulku lilaah, walhamdulilaah

Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،

laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syarikalah

Tidak ada Sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya.

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syay-in qadiir

Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu

رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هذه الليلة وخير ما بعدها،

rabbi as-aluka khayra maa fiy hadzihil laylah, wa khayra maa ba’dahaa

Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya.

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هذه الليلة وَشرِّما بعدها،

wa a-‘uudzubika min syarri maa fiy hadzihil laylah, wa syarri maa ba’dahaa

Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya.

رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ،

Rabbi a-‘uudzubika minal kasal, wa suu-il kibar

Wahai Rabb, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua

رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.

Rabbi a’uudzubika min ‘adzaabin finn naar, wa ‘adzaabin fil qabr

Wahai Rabb! Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.

Membaca Ayat Kursi [pada pagi dan petang]6

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia

لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi.

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

(Al-Baqarah: 255)

Membaca SAYYIDUL ISTIGHFAR (pagi dan petang) 7:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ،

Allaahumma anta rabbiy, laa ilaaha illa ant

Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Engkau

خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ،

khalaqtaniy wa ana ‘abduk

Engkau-lah yang mencip-takan aku dan aku adalah hambaMu

وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ،

wa ana ‘ala ‘ahdik, wa wa’dik, mas tatha’tu

Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku

أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ،

a’uudzubika min syarri maa shana’tu

Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat.

أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ،

abuu-u laka bi ni’matika ‘alayya

Aku mengakui nikmatMu kepadaku

وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

wa abuu-u bidzanbiy, faghfirliy, fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta

dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.

Membaca (dipagi dan petang 3x) 8:

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ،

Allaahumma ‘aafiniy fiy badaniy

Ya Allah! Selamatkan tubuhku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan).

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ،

Allaahumma ‘aafiniy fiy sam’iy

Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan)

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ،

Allaahumma ‘aafiniy fiy bashåriy

Ya Allah, selamatkan penglihatanku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

laa ilaaha illa ant

tiada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Engkau

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ،

Allaahumma inniy a’uudzubika minal kufri wal faqr

Ya Allah! Sesungguhnya aku berlin-dung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ،

wa a-‘uudzubika min ‘adzaabil qabr

Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.

laa ilaaha illaa ant

tiada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.

Membaca (pagi dan petang) 9:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ،

Allaahumma inni as-alukal ‘afwaa wal ‘aafiyah, fid-dunya wal aakhirah

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ.

allaahumma inniy as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah, fi diinii wa dunyaayaa wa ahliy wa maaliy

Ya Allah, sesung-guhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, ke-luarga dan hartaku

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ

Allahummastur ‘awraatiy, wa aamin råw-‘aatiy

Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut.

اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ وَمِنْ فَوْقِيْ

Allaahummah fazhniy min bayni yadayya, wa min khålfiy, wa ‘an yamiiniy wa ‘an syimaaliy wa min fawqiy

Ya Allah! Peli-haralah aku dari muka, belakang, ka-nan, kiri dan atasku

وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ.

wa a-‘uudzubika bi ‘azhåmatika an-ughtaala min tahtiy

Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ulat atau bumi pecah yang membuat aku jatuh dan lain-lain)

Membaca (pada pagi dan petang) 10:

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ،

Allaahumma ‘aalimal ghaybi wasy syahaadah, faathiris samaa waati wal ‘ardh

Ya Allah! Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Råbb pencipta langit dan bumi,

رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ،

Rabba kulla sya-in wa maliikah

Råbb segala sesuatu dan yang merajainya

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ،

asyhadu an-laa ilaaha illa ant

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak untuk diibadahi) kecuali Engkau

أَ عوذبكَ منْ شَرِّ نفسيْ

a-‘uudzubika min syarri nafsi

Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku

ومنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وشركِ هِ،

wa min syarrisy syaythååni wa syirkih

dan dari kejahatan setan dan balatentaranya

وَأنْ أقترِ فَعَلى نفسيْ سُوْءًا أوْ أجُرُّهُ إلى مُسْلِمٍ.

wa an-uq’tarifa ‘ala nafsiy suu-an aw ajurråhu ila muslim

dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat ke-jelekan terhadap diriku atau menyeret-nya kepada seorang muslim.

Membaca (dipagi dan petang 3x) 11

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

bismilaahilladziy, laa yadhurru ma ‘asmihi syay’un fil ardhi wa laa fis samaa wahuwas samii’ul ‘aliim

“Dengan nama Allah yang bila dise-but, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Ma-ha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Membaca (dipagi) 12

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا،

radhitu bilaahi rabba

Aku rela Allah sebagai Rabb

وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا،

wa bil islaami diinaa

Islam sebagai agama

وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا.

wa bi muhammadin shallallaahu ‘alayhi wa sallama nabiyya

dan Muhammad sebagai nabi (yang diutus oleh Allah).”

Membaca (pada pagi dan petang) 13:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ،

yaa hayyu yaa qåyyuum, bi råhmatika astaghiits

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu)

أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

ash-lihliy sya’niy kullah, wa laa takilniy ila nafsiy thårfata ‘ayn

“,dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”

Membaca (pada pagi dan petang, 100x) 14.:

سُبْحَانَ اللهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

subhaanallaahil azhiim wa bihamdih

“Maha Suci Allah, aku memujiNya.”

Membaca (dipagi, 3x) 15.:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِه

subhanallaahi wa bihamdih

Maha Suci Allah, dan aku memujiNya

عَدَدَ خَلْقِهِ،

‘adada khalqih

aku memujiNya sebanyak makhlukNya,

وَرِضَا نَفْسِهِ،

wa ridhaa nafsih

sejauh keridhaanNya

وَزِنَةَ عَرْشِهِ

wa zinata ‘arsyih

seberat timbangan arasyNya

وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

wa midaada kalimaatih

“dan sebanyak tinta tulisan kalimatNya.”

Membaca (dipagi, 3x) 16.:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

a’uudzu bi kalimaatillaahit taaammaati min syarri maa khålaq

Aku berlindung dengan kalimat-kali-mat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya.

Membaca (pada pagi dan petang, 10x17 atau 1x18) :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،

laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah

Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qadiir

“BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”

Membaca (pada pagi dan petang 100x) 19:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،

laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah

Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qadiir

“BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”

Membaca (pada pagi ATAU petang, 100x [boleh juga dibaca di selain pagi dan petang]) 20:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

astaghfirullaaha wa atuubu ilayh

Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepadaNya. (Dibaca 100 kali dalam sehari, boleh dipagi hari atau sore hari).


Maraji’ (Sumber)

– Buku Doa dan Wirid, karya Ustadz Yazid bin ‘Abdil Qadir Jawwas hafizhahullahu ta’ala, hlm. 169-192

– Blog Abul-Jauzaa’


Catatan Kaki

  1. Karena pada awal haditsnya disebutkan:

    من قال سبحان الله مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من مائة بدنه

    “Barang siapa yang mengucapkan Subhanallah (100 X) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya… maka itu lebih utama dibanding seratus unta.

    – Tentang Tahmid 100x, Rasuulullaah bersabda:

    ومن قال الحمد لله مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من مائة فرس يحمل عليها

    Barang siapa yang mengucapkan Alhamdulillah (100X) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya… maka itu lebih utama dibanding kuda perang yang dia bawa.

    – Tentang Takbir 100x, Rasuulullaah bersabda:

    ومن قال الله أكبر مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من عتق مائة رقبة

    Barang siapa yang mengucapkan Allahu Akbar (100X) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya… maka itu lebih utama disbanding memerdekakan seratus budak

    (Hasan, HR. An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 10657; Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shahiih At Targhiib wat Tarhiib No. 658)

  2. Sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

    وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ

    “…Dan Waktu shalat Isya’ adalah hingga pertengahan malam.”

    (HR. Muslim no. 612)

  3. Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy adalam Al-Adabul-Mufrad (no. 1199), Abu Dawud (no. 5068), At-Tirmidziy (no. 3391), Ibnu Majah (no. 3868), Ibnu Hibban (no. 2354), Ahmad (2/354), Al-Haitsamiy (10/114), dan Al-Baghawiy (1325/5/112); dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bahwasannya beliau apabila masuk waktu pagi berkata : “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi……..”
  4. Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 343), Ahmad dalam Al-Musnad (3/407), dan Ad-Daarimiy dalam As-Sunan (2/2688); dari ‘Abdurrahman bin Abzaa, ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk waktu pagi membaca : ……………”
  5. Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2723), Abu Dawud (no. 5071), At-Tirmidzi (no. 3390), dan Ahmad (no. 4192); dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu : “Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk waktu sore berkata : ……, dan apabila masuk waktu pagi beliau berkata seperti itu juga : ……”
  6. Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 960) dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (541); dari Ubay bin Ka’b : Bahwasannya seorang jin berkata padanya : ‘…. ; barangsiapa yang membacanya di waktu pagi ia akan dilindungi oleh Allah dari gangguan kami hingga sore hari’. Ketika tiba waktu pagi, ia mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kemudian ia ceritakan perihal tersebut, dan beliau kemudian bersabda : “Al-Khabiits (syaithan) itu telah benar”
  7. Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shaih-nya (no. 5947), An-Nasaiy (5963), dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir; dari Syaddaad bin Aus radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sayyidul-Istighfaar adalah : ……… Kemudian beliau bersabda : “Barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli surga”
  8. Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5090) dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwasannya ia berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengarmu berdoa setiap pagi hari : ………………, sebanyak tiga kali dan di waktu sore hari sebanyak tiga kali pula”. Maka Abu Bakrah berkata : “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengannya, dan aku senang untuk beramal dengan sunnah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Asy-Syaikh Naashir berkata dalam Shahih Sunan Abi Dawud (3/251): “Hasanul-isnaad”
  9. Shahih – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5074, Ahmad dalam Al-Musnad (2/25), Ibnu Maajah (no. 3871), Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya (no. 2356), Al-Haakim (1/517), dan An-Nasa’iy (8/282) secara ringkas; dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata :“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wwa sallam pernah meninggalakan kalimat-kalimat di sore dan pagi hari : …….”. Dishahihkan oleh Al-Haakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Al-Haafidh berkata dalam Al-Amaaliyul-Adzkaar : “Hadits hasan” – sebagaimana dalam Al-Futuuhaat Ar-Rabbaaniyyah oleh Ibnu ‘Allaan (3/108). Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahih Al-Mawaarid (2/424/2356) dan yang lainnya
  10. Shahiih, HR. Bukhåriy dalam al-Adabul Mufrad no. 1200; Abu Dawud no. 5074, an-Nasaa-i VIII/282; Ibnu Majah no. 3871; al-Hakim I/517-518 dan lainnya dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa. Lihat Shahiih al-Adabul Mufrad no. 912
  11. Shahih – Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3385), Abu dawud (no. 5088-5089), Ibnu Maajah (no. 3869), Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya (2352 – Al-Mawaarid) secara ringkas, dan Ahmad dalam Al-Musnad; yang seluruhnya dari jalan Abaan bin ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata : Aku mendengar ‘Utsman – yaitu Ibnu ‘Affan – berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca (di waktu sore) : …..; niscaya ia tidak akan ditimpa musibah hingga pagi hari. Barangsiapa yang membacanya di waktu pagi sebanyak tiga kali, niscaya ia tidak akan ditimpa musibah hingga sore hari”. Al-Albani berkata dalam Shahihul-Jaami’ (no. 5621) : “Hadits shahih”
  12. Tsabit (Hasan atau Shahiih)

    Rasuulullaah bersabda:

    من قال إذا أصبحَ : ” رَضِيتُ باللهِ رَبًّا ، و بِالإسلامِ دِينًا و بِمحمدٍ نبيًّا ” ، فَأنا الزَّعِيمُ ، لآخُذَنَّ بيدِهِ حتى أُدْخِلَهُ الجنةَ

    “Barangsiapa di waktu pagi membaca ‘radhiitu billaahi rabba, wa bil islaami diina, wa bi muhammadin nabiyya’ (aku ridhaa Allaah sebagai Tuhanku, aku ridhaa islaam sebagai agamaku, aku ridhaa Muhammad nabiku) maka akulah penjaminnya, aku akan menggandengnya hingga kumasukkan ke surga”.

    (HR. Thobaroni dan Ibnu Mandah, Albani mengatakan dalam ash shahiihah : Hadits ini tsabit)

  13. Hasan – Diriwayatkan oleh Al-Haakim (1/545) dan Ibnus-Sunniy (no. 48); dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah : “Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang aku wasiatkan dengannya ? Hendaknya engkau membaca ketika memasuki waktu pagi dan sore hari : …………….”. Al-Haakim berkata : “Shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim”. Dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahih At-Targhiib wat-Tarhiib (1/417/661)
  14. Shahih – Diriwayatkan Abu Dawud (no. 5091) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi ‘subhaanallaahil-‘adhiimi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, dan jika sore hari membaca hal serupa, maka tidak ada seorang pun dari makhluk-makhluk yang datang kelak (pada hari kiamat) semisal (pahala) yang ia datang dengannya”

    Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2692), At-Tirmidziy (no. 3469), An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (380/568) dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang membaca pada waktu pagi dan sore hari : Subhaanallaahi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun yang akan datang di hari kiamat nanti (dengan satu amalan) melebihi apa-apa yang telah ia lakukan, kecuali seseorang yang membaca hal yang serupa atau melebihinya”.

    Abu ‘Isa (At-Tirmidziy) berkata : “Hadits ini adalah hasan shahih ghariib”.

    Dan yang semisal dengan itu dari Al-Bukhari dalam Kitaabud-Da’aawaat (no. 6042) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca ‘subhaanallaahi wabihamdihi’ setiap hari seratus kali, akan diampuni dosanya walaupun ia seperti buih lautan”

  15. Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2090), Abu Dawud (no. 1503), At-Tirmidziy (no. 3555), An-Naa’iy (no. 1351), dan Ibnu Maajah (no. 3808); dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah Juwairiyyah – dan dulu ia bernama Barrah, dan kemudian beliau mengganti namanya – yang pada waktu itu ia (Juwairiyyah) sedang beribadah di tempat shalatnya. Beliau kembali dan ia masih berada di tempat shalatnya. Maka beliau bersabda : “Apakah engkau senantiasa berada di tempat shalatmu seperti ini ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda : “Sungguh aku telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali setelah aku keluar tadi, yang jika ditimbang dengan apa yang engkau baca niscaya akan sebanding :…………..”
  16. Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih­-nya (no. 2709) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwasannya ia berkata : “Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : ‘Wahai Rasulullah, aku digigit kalajengking tadi malam’. Lalu beliau bersabda : ‘Jika engkau membaca di waktu sore : ………………; niscaya tidak akan ada yang membahayakanmu’
  17. Shahiih, HR. an-Nasaa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 24; Ahmad V/420, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 113 dan 114, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib I/416 no. 660
  18. Shahiih, HR. Abu Dawud no. 5077, Ibnu Majah no. 3867, Shahiih Jaami’ish shåghiir no. 6418, Misykaatul Mashaabiih no. 2395, Shahiih at-Targhiib I/414 no. 656
  19. Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhåriy (no. 3293 dan 6403), Muslim (IV/2071 no. 2691 (28)), at-Tirmidziy (no. 3468), Abu Dawud (no. 5077), Ibnu Maajah (2/1272/3798/3867), Ahmad dalam Al-Musnad (3/60), dan An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 27 dan 580);

    dari Abul-‘Abbas Az-Zuraqiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

    “Barangsiapa yang membaca seratus kali dalam sehari (dalam riwayat lain (Ibnus Sunni (no.75)): di waktu pagi dan diwaktu petang) :…………….; maka baginya pahala seperti membebaskan budak dari keturunan Isma’il, ditulis baginya sepuluh kebaikan, dihapus baginya sepuluh kejelekan, diangkat baginya sepuluh derajat, dan ia berada dalam penjagaan (Allah) dari gangguan syaithan hingga sore hari. Dan barangsiapa yang membacanya di waktu sore hari, maka baginya hal yang semisal hingga pagi hari”

  20. Shahih – Diriwayatkan oleh Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ (hal. 411), dan Abu Nu’aim dalam Akhbaar Ashbahaan (1/60), dari jalan Ath-Thabaraniy dengan sanad shahih; dari Abu Burdah bin Abi Musa, dari ayahnya, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan kami waktu itu sedang duduk. Beliau bersabda : ‘Tidaklah aku berada di waktu pagi kecuali aku telah meminta ampun kepada Allah sebanyak seratus kali”. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Silsilah Ash-Shahiihah (no. 1600) dan Shahiihul-Jaami’ (no. 5410)

19 Komentar

Filed under Dzikir

19 responses to “Dzikir pagi dan petang

  1. Ping-balik: Dzikir pagi dan petang « Learn something by Tomy gnt

  2. Ping-balik: Berbagai keutamaan dari shubuh hingga syuruq « Learn something by Tomy gnt

  3. Ping-balik: Kisah Nyata Penculikan Gadis SMP Di Riyadh, Saudi Arabia | .::Taman Hidayah::.

  4. Ana izin share di blog ana ya akh.. jazakallahu khairan

  5. Ping-balik: Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam | benikhlas

  6. Ping-balik: DZIKIR PAGI DAN SORE |

  7. Ping-balik: sholat syuruq | Muhlis3's Weblog

  8. Sugito

    Bismillahirrohmanirrohim
    Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

    Tuan Admin yang terhormat, saya izin share ke FB saya ya………

    Terima kasih
    Wassalam

  9. Tulisan arabnya tidak dibuat rata kanan, Ustadz?

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      Bukan ustadz, akhi.. Hiks.. Belom dibuat rata kanan akhii.. hehe

  10. rizki

    izin share ya akhi :) , afwan berarti kalau dzikir sore itu waktu yaNG PALING UTAMA SETELAH SHALAT ASHAR ya akhi ? syukron jawabannya ^^

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      Ia, itu waktu paling utama. Tapi kalau misalkan terluput, maka boleh membacanya setelah maghrib (sampai pertengahan malam, habisnya waktu ‘isyaa`).

  11. rizki

    syukron akhi ilmunya , jazakallah khairan katsir..

  12. rizki

    assalamualaikum akhi,afwan ana mau tanya.
    ada perintah dari sunnah yang menganjurkan untuk memperbanyak istighfar dan shalawat. boleh tidak kalau cara mengamalkannya seperti ini :
    berhubung waktu yang senggang itu adalah waktu malam sebelum tidur,lalu ana mengamalkan ini sebelum ana tidur :
    shalat sunnah mutlak 2 rakaat lalu beristighfar (dg lafadzh astaghfirulloh) tanpa bilangan tertentu/tanpa dihitung.
    lalu shalat sunnah mutlak 2 rakaat lalu bershalawat (dg lafadzh allahumma shalli ala muhammad wa ‘ala ali muhammad) tanpa bilangan tertentu/tanpa dihitung.
    boleh tidak ana mengamalkan ini semua akh? termasuk muhdats kah ?
    syukron akh ilmu dan jawabannya , jazakallah khairon katsiron ^^

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaahi wa barakaatuh, wa jazaakallaahu khayran.

      Memperbanyak istighfar dan shalawat, tidak harus didahului shalat sunnah. Tapi jika mau shalat sunnah kemudian istighfar; dan/atau shalat sunnah kemudian shalawat, maka ini boleh; selama tidak meyakini bahwa shalat sunnah itu ‘bukan syarat’ dari istighfar dan shalawat.

      Ketika ditanya oleh orang lain, atau menjelaskan pada orang lain pun kita mengatakan bahwa amalan kita tersebut bukan amalan ‘pakem’, sebagaimananya ‘dzikir setelah shalat wajib’ (yang ia didahului shalat, dan ada dzikir tertentu).

  13. rizki

    alhamdulillah ..
    iya akh syukron jawabannya,
    afwan akh antum punya medsos lainnya seperti fb atau bbm ? kalau boleh ana mau berteman dg antum siapa tau bisa dapat ilmu yang lebih lagi dari antum :)

  14. rizki

    ni akh : qiqi septiadi (qiqi_boy@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s