Tauhid: Definisi, Macam-macam, dan Keutamaannya

A. Definisi Tauhid

Kata “tauhid” di dalam bahasa Arab berasal dari kata (wahhada – yuwahhidu – tauhidan), dan makna (wahhadasy syai’a) yaitu menjadikan (sesuatu) satu-satunya, dan semuanya berasal dari kata (wahidun) yang berarti satu atau tunggal.

Adapun menurut arti dalam syari’at maka makna tauhid bila dimutlakkan maksudnya adalah menyendirikan/mengesakan Allah dalam beribadah kepadanya. Adapun pengertian secara lebih luas lagi adalah menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, baik dalam hal rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, maupun asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya, dan tidak ada sekutu bagi Allah dalam semua hal tersebut.

B. Macam-macam Tauhid

Dari definisi diatas kita dapatkan bahwa mentauhidkan Allah itu meliputi tiga hal yang merupakan kekhususan / keistimewaan bagi Allah, yaitu:

– Tauhid Rububiyyah

– Tauhid Uluhiyyah

– Tauhid Asma’ Wa Shifat

Ketiga macam tauhid ini terkumpul dalam firman Allah yang artinya

رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“(1) Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, (2) maka sembahlah dia dan teguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. (3) Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (Allah yang patut disembah)?”

[QS. Maryam: 65].

FirmanNya: رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا [Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya], menunjukkan akan keesanNya dalam RububiyyahNya, yang mana perbuatan-perbuatan tersebut hanya mampu dilakukanNya, tidak ada sesuatu apapun selainNya yang mampu berbuat demikian.

Adapun firmanNya: فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ [maka sembahlah dia dan teguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya], menunjukkan keesaanNya dalam peribadatan/penyembahan, yang mana tidak ada sesuatu apapun yang berhak untuk diibadahi, kecuali Dia.

Adapun firmanNya: هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا [Apakah kamu mengetahui ada seorang/sesuatu yang sama dengan Dia (Allah yang patut disembah)], menunjukkan keesaanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya yang tiada sesuatu apapun yang serupa, setara ataupun sama denganNya.

Adapun perincian ketiga macam tauhid tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tauhid Rububiyyah

Yaitu menyendirikan / mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya, seperti menciptakan, menguasai, mengatur, dan yang lainnya dari perbuatan-perbuatan Allah yang tidak ada sekutu dan tandingan bagi Allah dalam hal tersebut.

Allah berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah (hanya) bagiNyalah menciptakan dan memerintah, Maha Suci Allaah, Rabb semesta alam”

[QS. Al-A’raaf: 54].

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi?”

[QS. Faathir: 3].

Adapun firmanNya:

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (diantara para pencipta).”

[QS. Al-Mu`minuun: 14].

Maka itu bukanlah penciptaan yang hakiki, yakni bukan mengadakan sesuatu setelah tidak ada, tetapi penciptaan dalam bentuk merubah sesuatu dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dan itupun tidak sempurna mencakup segala sesuatu, tetapi terbatas pada apa yang dimampui oleh manusia, terbatas pada ruang lingkup yang sempit.

Adapun makna menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal penguasaan (pemilikan)-Nya, yaitu kita meyakini bahwa tidak ada yang menguasai (memiliki) seluruh makhluk kecuali penciptanya (yakni Allah).

Sebagaimana dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Dan hanya milik Allah-lah kerajaan (kekuasaan) langit dan bumi.”

[QS. Ali ‘Imran: 189].

Dan juga firman-Nya :

قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ

Katakanlah: “Siapakah yang di Tangan-Nya ada kekuasaan atas segala sesuatu?”

[QS. Al-Mu’minuun: 88]

Dua ayat diatas menegaskan kepada kita bahwa hanya Dialah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan, kerajaan yang mutlak atas segala sesuatu.

Adapun firman-Nya :

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

[QS. Al-Mu`minuun: 6].

Dan firman-Nya :

أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُ

“atau di rumah kalian yang kalian miliki kuncinya”

[QS. An-Nuur: 61].

Maka itu semua adalah kekuasaan/kepemilikan yang terbatas, tidak meliputi kecuali sedikit dari makhluk-makhluk. Jadi seseorang hanya memiliki apa yang ada di tangannya dan tidak memiliki apa yang ada di tangan orang lain. Dan juga dari sisi sifatnya, kekuasaan/ kepemilikan tersebut bersifat terbatas, karena seseorang tidaklah memiliki apa yang ada padanya secara sempurna, sehingga dia tidaklah bebas mengaturnya kecuali atas dasar apa yang diijinkan oleh syari’at. Sebagai contoh misalnya: kalau seseorang hendak membakar hartanya, atau menyiksa hewan piaraannya, maka kita katakan kepadanya: tidak boleh. Sedangkan Allah, maka kekuasaan/kepemilikan-Nya meliputi segala sesuatu (yang Dia ciptakan) secara sempurna.

Adapun makna menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal pengaturan-Nya, yaitu seseorang meyakini bahwa tidak ada yang mengatur kecuali Allah saja, sebagaimana dalam firman-Nya :

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ ** فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

Katakanlah: “siapakah yang memberi rezki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dansiapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)? Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Robb kalian sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian dipalingkan (dari kebenaran)?”

[QS. Yunus: 31-32].

Sedangkan pengaturan manusia, maka hanya terbatas pada apa yang ada di tangannya, dan juga terbatas pada apa yang diijinkan oleh syari’at dari apa yang ada di tangannya.

Dan tauhid rububiyyah ini tidak disangkal dan ditentang oleh orang-orang musyrikin – terdahulu -yang mana Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah mereka, bahkan mereka mengakuinya,

Allah berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.

[QS. Az-Zukhruf:9].

Maka mereka mengakui bahwa Allah adalah yang mengatur segala urusan, dan bahwa Dia-lah yang ditangan-Nya ada kekuasaan langit dan bumi. Akan tetapi pengakuan mereka akan rububiyyah Allah tidak memasukkan mereka ke dalam Islam, kecuali bila mengakui dua macam tauhid yang lainnya. Karena ketiga macam tauhid tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan, siapa saja yang tidak mengakui salah satu diantaranya maka belumlah benar keislamannya.

2. Tauhid Uluhiyyah

Yaitu menyendirikan/mengesakan Allah dalam ibadah, dan disebut juga “tauhid ubudiyyah”. Maka yang berhak untuk diibadahi hanyalah Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (satu-satunya) yang (memiliki hak untuk disembah), dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil.”

[QS. Luqman: 30].

Adapun ibadah itu sendiri mengandung dua pengertian:

Pertama: Beribadah yang berarti menundukkan/menghinakan diri kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan penuh rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya.

Kedua: Jenis ibadah, yang maknanya adalah seperti yang dikatakan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu: “Semua apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, daripada perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin”.

Dan menyendirikan/mengesakan Allah dalam tauhid uluhiyyah ini mengharuskan seseorang menjadi hamba yang beribadah kepada Allah semata, yang tunduk hanya kepada-Nya, dengan rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya, serta beribadah menurut syari’at yang telah Allah gariskan.

Allah berfirman:

لَّا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولًا

“Janganlah kamu adakan sesembahan yang lain disamping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan terhina.”

[QS. Al-Israa’: 22].

Dan Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ

“Wahai manusia, sembahlah Allah yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian”.

[QS.Al-Baqarah: 21].

Maka yang bersendiri dalam hal penciptaan, dialah yang berhak untuk diibadahi dan disembah, yaitu Allah.

Dan tauhid uluhiyyah inilah yang diingkari dan ditentang oleh hampir kebanyakan manusia, diantaranya orang-orang musyrikin dahulu -, oleh karena itu Allah mengutus para rasul-Nya, dan menurunkan kitab-kitab-Nya kepada mereka.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak untuk disembah) melainkan Aku, maka hendaknya kalian (hanya) menyembahKu.”

[QS.Al-Anbiya’: 25].

3. Tauhid Asma’ Wa Sifat

Yaitu menyendirikan/mengesakan Allah dalam apa yang Allah miliki dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan dalam hal ini terkandung dua perkara:

Pertama: Al-Itsbat (penetapan), yakni kita menetapkan semua nama dan sifat bagi Allah, dari apa yang telah Allah tetapkan sendiri dalam kitab-Nya atau apa yang ditetapkan Rasul-Nya dalam sunnahnya.

Kedua: Nafyul Mumatsalah (meniadakan penyerupaan/penyamaan), yakni bahwa kita tidak menyamakan/menyerupakan Allah dengan selain-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya

Sebagaimana yang Allah firmankan:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

[QS. Asy-Syuura: 11].

Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa Dia memiliki sifat Mendengar dan Melihat, hanya saja sifat Mendengar dan Melihat yang dimilikiNya, tidak serupa dengan sifat mendengar dan melihat makhluqNya.

Kebanyakan kaum muslimiin telah tersesat dalam memahami tauhid asma’ wa sifat sehingga mereka tercerai berai menjadi banyak golongan.

Maka diantara mereka ada yang mengikuti jalur tamtsiil (menyamakan/menyerupakan), yakni menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, dan mereka mengira bahwa diri mereka mengetahui hakekat apa yang Allah tetapkan dari sifat-sifat-Nya.

[[Dan diantara mereka ada yang mengikuti jalur takyiif (membayangkan atau menanyakan ‘bagaimana’ sifat Allaah), sehingga mereka menolak menetapkan sifat-sifat yang telah ditetapkan Allaah dan RasulNya. Dengan tamtsiil dan takyiif inilah sumber kesesatan seluruh kelompok sesat dalam Islaam, yang telah salah dalam Tauhiid asma` wash shifat. Karena mereka menyerupakan sifat Allaah dengan makhluqNya, maka mereka menolak sifat tersebut dengan berbagai jalan (apakah itu dengan ta’thiil, atau dengan tahriif). Karena mereka membayangkan ‘bagaimana’ sifat Allaah tersebut, maka mereka menolak sifat tersebut dengan berbagai jalan (apakah itu dengan ta’thiil atau dengan tahriif), -tambahan abuzuhriy]].

Dan diantara mereka pula ada mereka ada yang mengikuti jalur ta’thiil, yakni meniadakan sifat-sifat Allah, baik sebagian maupun keseluruhan, yang mereka mengira bahwa mereka mensucikan Allah (dari kekurangan) dengan hal tersebut

Dan ada pula yang mengikuti jalur tahriif (menyimpangkan/mengalihkan), yakni
menyimpangkan/mengalihkan makna sifat-sifat Allah dari makna asalnya. “Istiwa’ itu sudah diketahui maknanya (dalam bahasa arab), adapun hakekat ‘bagaimana’nya (di sisi Allaah) maka tidak diketahui; mengimaninya wajib, dan bertanya tentang -ketentuan hakekat-nya adalah bid’ah.” (sebagaimana perkataan imam Maalik)

Adapun ahlus sunnah wal jama’ah, maka mereka mengimani dan menetapkan semua apa yang telah Allah tetapkan sendiri di dalam kitab-Nya daripada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya dalam sunnahnya, dengan tanpa tamtsiil, takyiif, tahriif maupun ta’thiil. Dan tidak ada tempat bagi akal untuk menetapkan suatu nama atau sifat sebagaimana yang dilakukan oleh banyak dari golongan-golongan sesat, yang karena penggunaan akal dalam hal ini itulah yang menyebabkan mereka tersesat.

C. Disyari’atkannya Tauhid

Tauhid yang bila dimutlakan berarti penyendirian/pengesaan Allah dalam beribadah kepada-Nya, adalah agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul, khususnya semenjak nabi Nuh yang awal kesyirikan muncul pada masanya sampai kepada nabi kita Muhammad, dimana tidak ada seorang rasul pun yang Allah utus kepada manusia kecuali mengajak umatnya untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam beribadah kepada-Nya dan meninggalkan peribadahan kepada selain-Nya.

Allaah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaaghuut (segala apa yang disembah selain Allah)”.

[QS.An-Nahl: 36][1. Catatan kaki Abu Zuhriy:

Simak penjelasannya disini: https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2013/07/26/penjelasan-qs-an-nahl-36/]

Dan juga sebagaimana dalam ayat terdahulu, Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.”

[QS.Al-Anbiya’: 25].

Maka tauhidullah merupakan syari’at Allah ysng paling agung yang diwajibkan atas semua umat dan setiap manusia sampai hari kiamat. Dan Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam shållallåhu ‘alaihi wa sallam memerangi orang-orang musyrikin karenanya agar mereka mau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, sebagaimana tersebut dalam salah satu hadits:

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

(HR. Bukhary dan Muslim).

Dan mentauhidkan Allah dalam beribadah kepadanya merupakan hikmah asal penciptaan jin dan manusia, sebagaimana Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (semata).”

[QS. Adz-Dzaariyaat: 56][1. Catatan kaki Abu Zuhriy:

Simak penjelasannya disini: https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2013/06/13/penjelasan-qs-adz-dzaariyaat-56/]

Dan Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ

“Hai manusia, sembahlah Raabb kalian (saja) yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian”

sampai firman-Nya:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

”maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah (dalam peribadatan), padahal kalian mengetahui.”

[QS. Al-Baqarah: 21-22].

Maka dengan demikian wajib atas setiap muslim untuk mempelajari tentang tauhid yang merupakan awal yang harus dia tuntut untuk kemudian dia realisasikan dalam pengamalan dan peribadahannya,

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ

“Maka ketahuilah/ilmuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu”

[Muhammad: 19]

Dan mempelajari pula tentang kesyirikan dan macam-macamnya untuk dia jauhi dan agar tidak terjatuh ke dalamnya. Maka tauhid adalah yang teragung diantara perintah-perintah Allah yang diwajibkan atas manusia.

D. Kewajiban Menyeru Kepada Tauhid

Tatkala seseorang telah mengetahui dan mengamalkan tauhid, maka wajib baginya untuk menyampaikan dan mengajarkannya kepada yang lain daripada manusia yang belum mengerti tentang tauhid tersebut, sehingga dia menempatkan dirinya dalam barisan para nabi dan rasul yang telah sama-sama mengemban risalah tauhid yang agung ini, dan khususnya adalah menjadi pengikut Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam shålallåhu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana dalam firman Allah :

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ

Katakanlah: “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru (kalian) (untuk beribadah) kepada Allah diats hujjah yang nyata.”

[QS.Yusuf: 108]

Dan manakala tauhid merupakan awal yang harus dipelajari oleh setiap manusia, maka berarti ia adalah awal yang harus didakwahkan kepada manusia sebagimana apa yang didakwahkan oleh para rasul, yaitu menyeru agar manusia beribadah kepada Allah saja:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Sembahlah (ibadahilah) Allah, sekali-kali tidak ada sembahan (yang berhak untuk diibadahi) bagimu selain Dia.”

[QS. Huud: 50]

Dan Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam tatkala mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman, beliau berkata kepada Muadz:

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ

“Sesungghunya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahlul kitab, maka hendaklah yang pertama kamu seru mereka (agar mereka) bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak untuk disembah) kecuali Allah, dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allaah.”

[HR. Bukhary dan Muslim]

dan dalam salah satu riwayat Bukhary (dengan lafazh):

فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى

“… Maka jadikanlah materi dakwah pertama kali yang engkau sampaikan kepada mereka agar mereka mentauhidkan Allah (dalam beribadah kepada-Nya)”

Demikianlah jalan yang ditempuh oleh para rasul dalam dakwah mereka, yaitu bahwa mereka mendahulukan dan memulai dakwahnya dengan tauhid. Dan adalah Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam selama kurang lebih tiga belas tahun berdakwah di Mekkah, menyeru orang-orang Quraisy untuk mentahidkan Allah dalam beribadah kepadanya dan melarang mereka dari penyembahan kepada berhala-berhala, patung-patung, dan semua apa yang selain Allah, beliau diperintahkan Allah untuk mengatakan:

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Rabb-ku dan aku tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.”

[QS. Al-Jin: 20]

Bahkan sampai hal itu terus dilanjutkan sampai setelah beliau berhijrah ke Madinah, beliau terus mengajarkan dan mengingatkan umatnya akan tauhid sampai akhir hayat beliau.

Beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian melebih-lebihkan (dalam mengagungkan) aku sebagaimana yang dilakukan kaum nasrani tarhadap ‘Isa putera Maryam, hanyasanya aku seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

[HR. al-Bukhaary dan Muslim].

Dan bahkan Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam mengajarkan tauhid ini kepada para pengikutnya semenjak mereka kecil, diantaranya beliau pernah berkata kepada Ibnu Abbas – yang waktu itu masih belia -:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ

“Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”

(HR. At-Tirmidzy, beliau berkata: Hasan shahih).

Maka wajib atas setiap da’i yang menyeru manusia untuk memulai dakwahnya dengan mengajarkan manusia tentang tauhid dan mengutamakannya diatas yang lainnya, apalagi di zaman sekarang yang mana kesyirikan dengan berbagai bentuknya telah merajalela dan menyebar di tengah-tengah kaum muslimin, yang sepertinya semua itu dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan dianggap remeh oleh mereka. Padahal kesyirikan tersebut akan menjerumuskan mereka dalam api neraka dan kekal di dalamnya karenanya,

Allah berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَار

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhalim.”

[QS. Al-Maidah: 72].

Dan kesyirikan adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah [1], sebagaimana dalam firman-Nya:

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa kesyirikan (mempersekutukan sesuatu) dengan-Nya, dan akan mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”

[QS. An-Nisaa’: 116][1. Catatan kaki Abu Zuhriy:

Simak penjelasannya disini: https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/03/23/penjelasan-qs-an-nisaa-116-allaah-tidak-mengampuni-orang-yang-mati-dalam-keadaan-menyekutukannya/]

E. Keutamaan Dan Buah Dari Tauhid

Adapun keutamaan dan buah dari tauhid, maka diantaranya adalah:

1. Mendatangkan keamanan di akhirat dan petunjuk di dunia.

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman an tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanandan petunjuk.”

[QS. Al-An’aam: 82][1. Catatan Kaki Abu Zuhriy:

Simak penjelasannya disini: https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/01/19/penjelasan-qs-al-anaam-82/]

Dalam ayat ini Allah memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang bertauhid bahwa mereka akan mendapat keamanan dari siksa Allah di akhirat dan mereka akan mendapat petunjuk di dunia. Semakin sempurna iman dan tauhid seseorang, maka akan semakin sempurna pula keamanan dan petunjuk yang akan dia peroleh.

2. Tauhid adalah yang paling utama diantara cabang-cabang keimanan.

Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam shållallåhu ‘alahi wa sallam bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman memiliki tujuh puluh cabang lebih. Yang paling utama ialah ucapan Laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu termasuk cabang dari iman

(HR al-Bukhaariy, Muslim, dll).

3. Tauhid memasukkan pelakunya ke dalam surga.

Nabi shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأن محمداً عبده ورسوله ، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه . والجنة حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah semata tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan bahwa ‘Isa adalah hamba dan rasul-Nya, dan kalimatnya yang Allah lemparkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya (diantara ruh-ruh yang Allah ciptakan), dan surga itu benar adanya, dan neraka itu benar adanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga, apapun yang dia amalkan.”

[HR. Bukhary dan Muslim][1. Catatan kaki Abu Zuhriy:

Simak penjelasannya disini:

1. https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/01/22/penjelasan-hadits-ubaadah-1-barangsiapa-yang-bersaksi-tiada-sesembahan-yang-berhak-disembah-melainkan-allaah/

2. https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/01/26/penjelasan-hadits-ubaadah-2-bersaksi-bahwa-muhammad-adalah-hambanya-dan-utusannya/

3. https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/01/29/penjelasan-hadits-ubaadah-3-dan-juga-bersaksi-bahwasanyaiisa-adalah-hamba-allaah-dan-utusannya-kalimatnya-yang-dia-sampaikan-kepada-maryam-dan-ruh-darinya/

4. https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/02/09/penjelasan-hadits-ubaadah-4-dan-juga-bersaksi-bahwasanya-surga-adalah-haq-dan-neraka-adalah-haq/

5. https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/02/12/penjelasan-hadits-ubaadah-5-barangsiapa-yang-mempersaksikan-itu-semua-maka-allaah-masukkan-ia-ke-dalam-surga-dengan-amal-yang-ia-lakukan/]

Maka Allah telah menjamin seorang yang bertauhid dengan surga-Nya, sebagaimana juga dalam hadits yang lain Nabi shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang bertemu Allah (dalam keadaan) tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang bertemu Allah (dalam keadaan) mentekutukan-Nya dengan sesuatu maka dia akan masuk neraka.”

[HR.Muslim].

4. Tauhid dapat menghapuskan dosa-dosa dan mendatangkan ampunan dari Allah.

Yaitu sebagaimana datang dalam hadits Qudsi, bahwa Allah berkata:

قال الله تعالى يا بن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقرابها مغفرة

“Wahai anak adam, jikalau kamu datang kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu menjumpaiku (dalam keadaan) tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa seisi bumi ampunan.”

[HR. At-Tirmidzy][1. Catatan kaki Abu Zuhriy:

Simak penjelasannya disini: https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/02/24/penjelasan-hadiits-anas-ampunan-sepenuh-bumi-bagi-yang-menemui-allaah-dengan-membawa-tauhiid-yang-murni/]

(tambahan dari abu zuhriy) 5. Bahkan orang-orang yang wafat dalam keadaan menyempurnakan tauhidnya, maka ia tidak akan diadzab, tidak pula akan dihisab.

Dikatakan kelak pada hari kiamat kepada Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

فنظرت فإذا سواد عظيم ، فقيل لي : هذه أمتك ومعهم سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب

…Lalu aku kembali melihat sekelompok manusia dalam jumlah besar, maka dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah umatmu, dan di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab…

Dalam riwayat Ahmad (dengan sanad yang jayyid), ada tambahan:

فاستزدت ربى فزادنى مع كل ألف سبعين ألفاً

“Maka aku meminta tambahan kepada Rabbku, maka Dia menambahkan tujuh puluh ribu orang bersama setiap orang.”

Kemudian beliau mensifatkan mereka:

هم الذين لا يسترقون ، ولا يكتوون ، ولا يتطيرون ، وعلى ربهم يتوكلون

Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan besi panas, tidak bertathayyur (menganggap sial) dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.

(selesai tambahan abuzuhriy)[1. 1. Catatan kaki Abu Zuhriy:

Simak penjelasannya disini: https://syarahkitabtauhid.wordpress.com/2015/03/12/penjelasan-hadiits-ibnu-abbaas-orang-yang-menyempurnakan-tauhiid-tidak-dihisab-dan-tidak-diadzab/]

Demikianlah pembahasan ringkas tentang tauhid. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bertauhid sehingga memperoleh yang telah Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman dan bertauhid daripada petunjuk, dan surga-Nya, ampunan-Nya, serta keselamatan dari siksa api neraka.

Amiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Yogyakarta, 8 Safar 1423 H.

Dikutip dari tulisan artikel yang disusun oleh: Arif Syarifuddin (Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga dan menyayangi dirinya dan keluarganya .. amin) [dengan sedikit penambahan dan perubahan oleh Abu Zuhriy al-Gharantaliy]

Maraji’

1. Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, karya Syeikh Muhammad bin ‘Utsaimin.
2. Minhaj al-firqotun Najiyah, karya Syaikh Jamil zainu.

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Ushul Ahlus-sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s