Amanah para pemilik ‘ilmu

Beberapa amanah diemban oleh orang yang telah sampai sebuah ‘ilmu kepadanya, diantaranya yaitu,

1. memahaminya dengan pemahaman yang benar,
2. mengamalkannya,
3. menyampaikan ‘ilmu yang dimilikinya tersebut pada keluarga dan orang terdekatnya*

Selasa, 18 Råmadhån 1430 H


[*]Dalam hal menyampaikan ‘ilmu, diperlukan adab-adab, yang kurang lebihnya, sebagai berikut:

1. Hendaknya sebelum menyampaikan, kita mempersiapkan diri kita terlebih dahulu dengan ‘ilmu yang cukup.

Sehingga kita dapat menyampaikan dengan jelas dan terang, sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh orang yang kita sampaikan.

Sesuai apa yang telah dipraktekkan oleh para Råsul ‘alaihimus shålatu wa sallam, sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya:

“Maka tidak ada kewajiban atas para råsul, selain menyampaikan (amanat Allåh) dengan terang” (An-Nahl: 35)

“Dan kewajiban Råsul tidak lain adalah menyampaikan dengan terang” (An-Nahl: 54)

“Dan kewajiban Råsul tidak lain adalah menyampaikan (agama Allåh) dengan seterang-terangnya” (Al-Ankabuut: 18)

2. Hendaknya mengetahui apa yang harus didahulukan dalam menyampaikan.

Yaitu: dimulai dari masalah yang paling penting, kemudian penting, dan begitu seterusnya. Sebagai contoh, jika kita mendapati peminum khåmr, maka yang kita dahulukan kepadanya yaitu memahamkan tauhid dengan benar, baru kemudian, memberi peringatan akan haramnya khåmr dan konsekuensi-konsekuensinya seiring dengan memberitahukan keutamaan orang taubat dan keluasan råhmat Allåh yang Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat.

3. Hendaknya memahami kondisi orang yang disampaikan.

Hal ini yang terkadang sering kita lalaikan, ketika kita melihat orang yang melakukan kemungkaran, kita tidak memberikannya udzur dan langsung saja mentahdzirnya (langsung memberikan celaan dan peringatan keras) ini dan itu, atau bahkan langsung melakukan boikot atau hajr kepadanya, padahal belum sampai ‘ilmu kepadanya atau ia tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah kemungkaran atau ada syubhat yang hinggap padanya.

4. Hendaknya memahami tingkat keimanan dan ke’ilmuan orang yang disampaikan.

Hampir mirip dengan point sebelumnya, kita, yang telah memiliki ‘ilmu, hendaknya paham bahwa orang-orang disekitar kita, tidak sama dengan kita dalam hal kualitas iimaan dan ‘ilmu.

Terkadang kita salah dalam menerapkan hal ini, dengan menyamaratakan orang-orang disekitar kita, bahwa mereka harus siap untuk disampaikan ‘ilmu ini, dan mereka harus siao menerimanya dan mengamalkannya.

Ini tentunya sudah keluar dari ‘manhaj dakwah’ itu sendiri, karena manhaj dakwah adalah ‘mempermudah, bukan mempersulit, memberi kabar gembira, dan bukan membuat orang lari’

Sehingga akhirnya, kita membebankan mereka suatu beban yang belum mampu mereka emban [dalam hal ini, tidak termasuk hal-hal yang bersifat kewajiban, seperti jilbab syar’i, yang memang dibebankan atas seluruh muslimah yang telah ada nash jelas terhadapnya, sehingga tidak ada sifat tolerir bagi yang menyelisihi atau yang meninggalkannya -wallåhu a’lam].

5. Hendaknya kita menyampaikan ‘ilmu dengan tahapan-tahapan dan berdasarkan kapasitas ‘ilmu orang yang kita sampaikan, sehingga dapat mereka pahami dan mengerti.

Telah berkata Amirul Mukminin, ‘Ali rådhiyallåhu ‘anhu mengenai hal ini:

“Berbicaralah kepada manusia dengan ucapan yang mereka fahami. Apakah kalian ingin Allah dan RasulNya di dustakan?”

Telah berkata juga abu huråiråh rådhiyallåhu ‘anhu, yang maknanya (kurang lebih):

“Aku memiliki dua hadits, satu hadits aku beritahukan, satu lagi aku simpan, seandainya aku beritahukan hadits tersebut, maka manusia akan memenggal kepalaku” (wallåhu a’lam)

Hal ini sangat jelas dan sangat patut untuk kita perhatikan dan amalkan, Sehingga orang-orang yang kita sampaikan tidak menolak perintah dan larangan Allåh dan Råsul-Nya, disebabkan ulah kita sendiri, yang menyampaikan suatu ‘ilmu yang belum layak diterimanya karena keterbatasan pemahaman dan ‘ilmunya yang masih dangkal, atau kesalahan kita dalam menentukan waktu penyampaian, yakni kita menyampaikannya tidak pada waktu dan situasi yang cocok. Ini semua biasanya terjadi aakibat semangat buta yang menyelimuti diri kita, sehingga kita terburu-buru dan gegabah dalam menyampaikan ‘ilmu.

6. Hendaknya kita memahami posisi dan kedudukan kita terhadap orang-orang yang kita sampaikan.

Ini biasanya terjadi dalam keluarga kita, yang mana kita sangat sulit untuk menasehati ibu atau bapak kita, atau bahkan saudara/saudari yang lebih tua dari kita.

Hal ini memang dapat dipahami, karena terkadang kharisma seseorang juga dapat mempengaruhi dakwah seseorang.

Contohnya, seorang anak yang hendak memperingati saudaranya [yang lebih tua darinya], jika hal ini tidak kita laksanakan dengan benar, maka kata-kata yang keji akan menimpa kita, seperti:

“Baru belajar ngaji kemarin sudah main vonis-vonisan!” dll.

Atau misalnya kita mencoba meluruskan orang-orang yang lebih tinggi ‘ilmunya dari kita. sehingga kata-kata yang keluar darinya seperti:

“Sudah berapa lama ngaji? baru ngaji kemarin sore sudah belagu..” dll.

Maka sudah semestinya, kita, sebagai pihak yang lemah, bersikap mudârah, yakni bersikap lemah-lembut dengan menampakkan akhlak yang mulia dalam menyampaikannya, tak lupa juga dengan tidak menampakkan sikap ‘menggurui’ yang mungkin menjadi penyebab terhalangnya penyampaian ‘ilmu kepada orang yang kita sampaikan.

7. Hendaknya paham dan sempurna dalam menentukan cara-dakwah dan sikap kita terhadap orang yang akan didakwahi.

Cara dakwah tersebut, bisa seperti secara langsung, menghadirkan orang ketiga [ustadz], menghadiahkan buku dll. Sedangkan sikap tersebut, yaitu antara keras dan lemah-lembut. ada dua kondisi dalam hal ini:

A. Untuk memberikan pelajaran,
B. Untuk mempertahankan prinsip agama kita

A. Untuk memberikan pelajaran,

Disinilah yang kebanyakan salah dalam menentukan sikap. sebelum menentukan sikap, seharusnya kita mengetahui bahwa tujuan kita dalam bersikap seperti itu adalah untuk memberikan pelajaran kepadanya. maka jika bersikap lemah lembut dapat membuatnya ruju’ kepada kebenaran dan meninggalkan kemungkaran, maka itulah yang terbaik, begitupun sebaliknya.

B. Untuk mempertahankan prinsip agama kita

Mirip dengan point pertama, hanya saja dalam hal ini, diperlukan pertimbangan yang serius. apakah orang tersebut membahayakan aqidah kita (saja) atau malah bisa membahayakan orang lain.Maka dalam hal ini, kita harus memperingatkan orang agar menghindari orang-orang tertentu, tentunya peringatan ini harus ditimbang maslahat dan mafsadatnya.

Perlu diketahui, kita mengambil sikap ini untuk kemaslahatan agama kita dan menghindari fitnah baik untuk diri kita ataupun orang lain, bukan untuk tujuan lainnya. Maka jika kita ingin mempraktekkannya pun harus bisa menghindarkan fitnah, bukan malah menambah fitnah.

Sebagai contoh, misalnya ada tokoh ahlul bid’ah yang dikenal dimasyarakat bahkan dicintai dan dieluk-elukkan. maka hal ini harus kita perinci,

i. sikap dakwah kita terhadap pengagum (simpatisan) ahlul bid’ah tersebut.
ii. sikap dakwah kita terhadap orang awwam yang belum mengenalnya, atau orang yang tidak mempunyai kesan spesial terhadap tokoh/kelompok ini, atau orang yang ingin mencari kebenaran.

i. Jika yang kita sampaikan itu adalah pengagumnya

Maka yang kita jelaskan kepada pengagumnya adalah kesesatan dan pemahaman yang menyimpang orang yang dikaguminya tersebut, tanpa perlu menyebutkan namanya, dengan cara menyinggung (sindiran) terhadap aqidah dan manhaj pemimpin/pembesar-nya yang menyimpang. Hingga ia tahu dan paham sendiri akan kesesatan yang dibawa oleh orang yang dikaguminya tersebut. Sehingga ia menyadari bahwa singgungan-singgungan kita itu, kita tujukan kepada orang yang ia kagumi, atau kepada kelompoknya. Sehingga akhirnya ia ruju’ dan meninggalkan kelompoknya dan pemimpinnya. Inilah yang diharapkan dalam metode ini.

ii. Jika yang kita sampaikan itu adalah awwam yang tidak tahu-menahu dan tidak punya sangkut dalam hal ini atau orang-orang yang menginginkan kebenaran [yang ingin selamat dari fitnah-fitnah]…

Maka sepatutnya kita menjelaskan secara terperinci penyimpangan dan kesesatan tokoh-tokoh atau kelompok-kelompok tertentu, lengkap dengan namanya. ini dimaksudkan agar ia tidak terjerumus dalam kelompok sesat tersebut, dan berhati-hati dengan pemimpin-pemimpin-nya yang menyeru kepada kesesatan. Sepatutnya pula kita menjelaskan kaedah-kaedah ini kepadanya, agar ia tidak menimbulkan fitnah, yang hanya akan membawa mudhårat pada dakwah itu sendiri.

Berapa sering dakwah ini terkotori dengan gelar-gelar buruk akibat pelaku-pelaku dakwah itu sendiri yang tidak becus dalam menjalankan dakwahnya!?

Sekiranya ini sedikit ‘ilmu yang ana punyai dan pahami mengenai manhaj dakwah, bila ada kesalahan dan penyimpangan, mohon diluruskan.

Wallåhu a’lam.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s