Tabiat Manusia

Sifat-sifat manusia yaitu; zhålim lagi bodoh (lihat al-ahzab 72), berpaling ketika dalam keadaan senang, membangkang dengan sikap sombong, berputus-asa apabila ditimpa kepayahan (Al-Isråå:83), paling banyak membantah (Al-Kahfi: 54), tergesa-gesa (Al-ambiya: 37) dan sering berkeluh-kesah lagi kikir (al-ma’aarij:19). semua sifat ini dimiliki setiap manusia, kecuali bagi orang-orang yang Allåh anugerahi taufiq dan hidayah.

Maka jika kita dapat terselamat dari sebagian atau bahkan seluruh sifat-sifat diatas, ketahuilah Allåh telah memberikan nikmat taufiq-Nya kepada kita, yang harus senantiasa kita syukuri.

Kebanyakan orang melupakan hal ini dan menyangka dirinya yang membuat segalanya menjadi baik, padahal itu tidaklah terjadi melainkan dengan rahmat dan taufiq yang diberikan Allåh kepada hamba-Nya yang Ia Kehendaki.

Maka, sepatutnya kita tidak berbangga diri, akan tetapi harus terus merasa BUTUH akan hidayah-Nya, sehingga kita senantiasa meminta kepada-Nya. hanyalah orang-orang sombong yang menganggap dirinya akan berada diatas hidayah selama-lamanya

Janganlah sampai Ia mencabut hidayah tersebut dari kita akibat kesombongan kita -yang lupa (atau tidak menganggap/sadar) atau bahkan mengingkari- terhadap nikmat yang paling besar yang ia anugerahkan kepada kita.

Dengan hal ini pula, kita harus senantiasa memberikan udzur terhadap orang-orang yang memiliki sifat-sifat diatas, karena itulah tabiat manusia -terkecuali orang-orang yang telah tegak hujjah diatasnya-

Kita harus membantunya baik dengan dakwah ataupun do’a, agar ia juga dapat merasakan kenikmatan yang kita rasakan.

Alangkah zhålimnya manusia yang sombong akan nikmat yang telah Allåh berikan kepada-Nya, yaitu manusia yang lupa bahwa setiap kebaikan yang dimilikinya adalah datang dari Allåh.

Akibat kelupaannya tsb, membuat ia bertindak semena-mena dengan hamba-hamba Allåh yang belum mendapatkan nikmat ini.

Takutlah kepada Allåh wahai manusia, bagaimana halnya jika Allåh mencabut nikmatnya darimu dan mematikanmu dalam kesesatan, dan memberikan nikmatnya kepada orang yang engkau rendahkan tersebut dan mematikan dirinya diatas hidayah-Nya?!

Dan sesungguhnya kesemuanya ini telah dijelaskan Allåh subhanahu wa ta’ala dalam hadits qudsi, yang artinya:

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya telah Aku haramkan atas diri-Ku perbuatan zhalim dan Aku jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.

Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah sesat kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian petunjuk.

Wahai para hamba-Ku, setiap kalian itu adalah lapar kecuali orang yang telah Aku beri makan; maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian makan.”

Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling takwa di antara kamu (mereka semua adalah ahli kebajikan dan takwa), maka hal itu (keta’atan yang diperbuat makhluk-red.,) tidaklah menambah sesuatu pun dari kekuasaan-Ku

Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling fajir (bejad) di antara kalian (mereka semua ahli maksiat dan bejad), maka hal itu (kemaksiatan yang mereka perbuat-red.,) tidaklah mengurangi sesuatu pun dari kekuasaan-Ku.

Wahai para hamba-Ku, andaikata generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian berada di bumi yang satu (satu lokasi), lalu meminta kepada-Ku, lantas Aku kabulkan permintaan masing-masing mereka, maka hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali sebagaimana jarum bila dimasukkan ke dalam lautan.

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian kemudian Aku cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.” (HR.Muslim)

Imam Ahmad Råhimahullåh berkata,

“Tidak ada hadits yang lebih mulia dari ini bagi Ahli Syam (karena para periwayatnya semua adalah orang-orang Syam).”

Beliau mengatakan hal tersebut karena betapa agungnya hadits tersebut yang mengandung banyak makna-makna mulia.

Semoga Allåh memberikan tambahan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s