Ikhlashlah, tuluslah, jujurlah!

‘ilmu yang kita sampaikan dengan ketulusan (untuk mencari ridhå-Nya, bukan popularitas atau dukungan, tidak minta balasan, tidak minta ‘harus ikut’) dan kejujuran (apa yang disampaikan ada dalam dirinya, atau ia berusaha mengamalkan apa yang ia sampaikan), lebih akan mudah tersampaikan kepada orang yang kita ajak bicara, begitupun juga sebaliknya.

inilah yang terlebih dahulu harus kita koreksi (melihat kepada diri sendiri), jika terjadi penolakan-penolakan, sebelum kita menoleh kepada orang lain…

telah ikhlash-kah diriku?

yakni, hanya menginginkan pahala dari-Nya, menginginkan kebaikan pada diriku, dan menginginkan kebaikan pada saudaraku.

telah benarkah caraku?

yakni, meneladeni bagaimana adab, akhlak, dan kaedah (hikmah) Råsululåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan ‘ilmu.

telah jujurkah diriku?

yakni, aku mengatakan sesuatu yang kuamalkan, atau jika hal tersebut belum ada padaku, aku berusaha mengamalkan apa yang kukatakn.

tanyakanlah ini pada diri kita, sehingga kita tidak menjadi orang yang hanya mencela diri kita sendiri.

karena orang-orang yang mencela dirinya sendiri adalah orang-orang yang lebih mengetahui keadaan orang lain dibandingkan keadaan dirinya. sehingga ia lupa terhadap dirinya, karena sibuk memikirkan keadaan orang lain.

wallåhu ta’ala a’lam bish shåwwab

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s