‘Janganlah merasa benar sendiri’

‘janganlah merasa benar sendiri’ jika kita telaah kata-kata ini, hal ini berarti dalam permasalahan tersebut ada kebenaran-kebenaran lain, atau ada kemungkinan kebenaran lain disamping kebenaran yang kita yakini benar. maka, hal tersebut TEPAT, jika kita katakan pada perkara ikhtilaf ijtihadiyyah, dan adalah KESALAHAN YANG FATAL jika kita katakan dalam perkara aqidah dan manhaj. wallåhu ta’ala a’lam.

mari kita telaah lebih dalam permasalahnnya agar lebih jelas..

ada dua kelompok yang menyimpang dalam permasalahan ini.

1. kelompok yang membenarkan segalanya.

semua mereka pukul rata, apakah perkara aqidah apakah perkara khilaf, mereka menggunakan satu kaedah mutlak.

tidak ada kebenaran yang hakiki, semua orang bisa berada pada suatu kebenaran, maka tidak boleh ada yang saling klaim berada diatas kebenaran, karena ‘bisa jadi’ dia berada diatas kesesatan.

kelompok yang paling ekstrim dalam masalah ini adalah ahli kalam, yakni orang-orang berpehamahan filsafat yang sesat, yang dianut J.I.L (jaringan iblis laknatullåh), yang membenarkan semua agama, menyatukan semua agama.. na’udzubillahi min dzaalik.

dan ada kelompok yang tidak seekstrim kelompok pertama, tapi juga memiliki ‘sedikit kesamaan’ dengan kelompok ini, namun tidak separah dengan kelompok pertama. kelompok ini bedanya, tetap berpegang teguh kepada al-islam sebagai agama yang haq, NAMUN, kelompok ini menyamaratakan segala permasalahan dalam islam itu sendiri.

sehingga jika ada permasalahan yang ada perbedaan pendapat, maka harus di toleransi. sehingga bahkan slogan mereka:

“Kita saling tolong menolong pada permasalahan yang kita sepakati, dan saling memberi udzur (toleransi) pada apa-apa yang kita perselisihkan”.

sehingga, segala hal yang diperselisihkan mereka tolerir, hatta dalam permasalahan aqidah dan manhaj, dalam rangka mewujudkan apa yang mereka namakan ‘persatuan’. bukan seperti itu Islam menyatukan umatnya yang berselisih tapi disatukan diatas aqidah dan manhaj yang haq.

2. kelompok yang mengingkari segalanya

semua perkara mereka pukul rata, apa-apa yang menurut mereka benar, maka itulah kebenaran, apa-apa yang menurut mereka salah, maka itu kesesatan, tanpa memandang perkara.

kelompok paling ekstrim dalam hal ini adalah kaum atheis, mereka mengingkari semua agama karena keberagaman agama yang ada. sehingga menurut mereka, hal yang benar adalah berlepas diri dari seluruh agama tersebut.

ada juga agama yang bernama ‘ibrahimiyyah’ (kalau tidak salah), maksud mereka adalah menyatukan islam, nashråni dan yahudi, dengan mengatakan, “sudahlah, yahudi, berlepas dirilah kalian dari kefanatikan terhadap musa, nashråni, berlepas dirilah kalian dari kefanatikan terhadap isa, islam, berlepas dirilah kalian dari kefanatikan terhadap muhammad. marilah kita bersatu diatas agama yang satu, agama ibrahim.” ini adalah persatuan yang sangat baathil.

dalam islam, ada suatu kaum yang berpemahaman seperti ini, ini akibat BERLEBIH-LEBIHANNYA (ghuluw) mereka terhadap suatu perkara, berkacamata kuda, dan gampang memutlakkan suatu perkara. sehingga jika terjadi perselisihan walaupun itu adalah perkara khilafiyyah ijtihadiyyah, maka yang mereka lakukan adalah membenarkan pendapatnya, menyalahkan yang menyelisihinya, bahkan sampai meletakkan wala wal bara’ diatas pendapat tersebut.

kaedah mereka yaitu:

?? ??? ???? ??? ?????

“Barangsiapa yang tidak bersama kami, maka ia menjadi musuh kami”.

na’udzubillah..

Ahlus-sunnah dalam permasalahan ini

ahlus-sunnah berada pertengahan dari dua kelompok yang menyimpang diatas.

mereka bertindak ATAS DASAR ‘ILMU sesuai manhaj yang haq, BERWAWASAN LUAS, tidak meremeh-remehkan perkara, tidak pula berlebih-lebihan dalam suatu perkara.

mereka bersatu dan berpegang teguh diatas aqidah dan manhaj yang haq, dan menyelisihi serta mengingkari aqidah dan manhaj yang menyimpang.

sikap ahlus-sunnah terhadap suatu permasalahan segalanya merujuk kepada al-qur’an wa sunnah sesuai pemahaman salafush shåleh, ketika terjadi peselisihan, maka segalanya dikembalikan pada hal ini. menempatkan sesuatu yang mutlak pada tempatnya dan menempatkan sesuatu yang pada perkara tersebut terbuka pintu ijtihad pada tempatnya BERDASARKAN ‘ILMU dan PEMAHAMAN YANG BENAR.

wallåhu ta’ala a’lam bish shåwwab,

jika terdapat kesalahan pada penyampaian ana diatas, mohon dijelaskan dengan hujjah, ana siap ruju’..

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s