Sabarlah..

jika nikmat rp. 50rb (yang kecil itu) dicabut dari kita, kita sudah berlaku su’uzhån kepada Allåh, tidak ridhå terhadap taqdir-Nya, apalagi marah dengan keputusan-Nya. maka bagaimana halnya nanti kita pada saat sakratul maut, ketika saat itu Ia hendak mengambil kehidupan kita?! semoga kita dapat menjadikan segala musibah yang menimpa kita sebagai latihan untuk menghadapi saat yang paling mengerikan tersebut.

alhamdulilaah, Allåh tidak mematikan kita ketika kita marah terhadap taqdir-Nya.

tidakkah kita berpikir bagaimana halnya jika Ia mencabut nyawa kita ketika kit sedang marah terhadap taqdir-Nya?!

dan bukankah Ia berfirman dalam hadits qudsi, (yang artinya) “Sesungguhnya Aku menurut persangkaan baik hamba-Ku kepada-Ku.” (Muttafaq ‘alaih) ??… Read More

maka hendaknya kita terus mengingat mati, bahkan ketika kita ditimpa musibah, jangan sampai kita lupa dan lalai akan hal ini..

dan memikirkan dan memimpikan dan berusaha mendapatkan husnul khåtimah, yakni dengan selalu berusaha bersabar dan ridhå terhadap segala keputusan-Nya, ingatlah akan mati, dan ingatlah bagaimana jika Allåh mencabut nyawa kita sedangkan kita pada saat itu sedang besabar dan ridhå terhadap-Nya. ingatlah keutamaan ini.

dan yang terpenting, untuk mengingat, kita, pada asalnya tidak ada dan tidak memiliki apa-apa. jika nantinya ada sesuatu yang kita miliki, diambil-Nya, maka yakini itu semua titipan [mungkin ini sudah kita ketahui bersama, tapi kita sering lupa dan lalai diakibatkan dosa dan maksiat yang menutup kejernihan hati dan pikiran kita]..

dan termasuk titipan Allåh adalah nyawa kita sendiri, terlebih lagi keluarga kita [ayah-ibu-istri-suami-anak2 kita], semuanya bukan milik kita, inilah yang harus senantiasa kita tanamkan agar kita dapat menyadari jika kita kehilangannya maka kita tidak memiliki haq sama sekali untuk protes dsb, terlebih lagi untuk marah.

manusia dituntut untuk tawakkal dan ikhtiar, jangan sampai salah satunya mendominasi sehingga menghilangkan yang lain.

jangan sampai kita terbutakan dengan ikhtiar, sehingga kita merasa apa yang ada dalam diri kita atau apa yang kita miliki sekarang adalah hasil usaha kita sendiri. sehingga ketika nikmat tersebut dicabut, kita akhirnya tidak ridhå dan marah terhadap hal tersebut.

dan jangan sampai pula kita meniadakan ikhtiar, sehingga kita hanya bertawakkal kepada-Nya menyerahkan segala urusan tanpa berbuat sama sekali hanya bersandar saja. hal inipun merupakan hal yang keliru.

maka, kita berikhtiar untuk menjaga sebaik-baiknya segala titipan-Nya tapi juga sekaligus kita bertawakkal segala keputusan ada di Tangan-Nya, sehingga kita tidak marah dengan apa-apa yang Ia Putuskan, karena kita tahu, segalanya hanyalah titipan dari-Nya dan kita bersyukur, karena kita telah menjaga titipan dari-Nya dengan sebaik-baiknya, maka janganlah sia-siakan titipan-Nya tersebut, selama ia masih bisa kita betul-kan atau lurus-kan jika selama ini kita lalai dengannya.

wallåhu ta’ala a’lam.
semoga jadi pelajaran bagi ana dan yang membaca.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s