Tuluslah, ikhlashlah..

Pernahkah kita pikirkan, sampai-tidaknya ‘ilmu yang kita sampaikan kepada orang bergantung dengan dua hal yang sangat penting:

1. keikhlashan kita dalam menyampaikan (kita menyampaikannya tanpa menginginkan upah, kecuali hanya untuk mencari wajah-Nya dan menginginkan kebaikan kepada orang tsb),

2. ‘ilmu yang kita sampaikan tersebut ada dalam diri kita (perkataan kita sejalan dengan amal kita)..

Maka jangan dulu langsung menyalahkan orang yang kita dakwahkan jika terjadi penolakan-penolakan.. bisa saja penolakan tersebut akibat ketidak-ikhlashan kita dalam berdakwah, atau karena dakwah kita tidak sejalan dengan amal perbuatan kita..

Ali bin Fudhail berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, betapa manisnya perkataan para Sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”

Ayahnya berkata, “Wahai anakku, apakah kamu mengetahui apakah yang menyebabkan perkataan mereka menjadi manis?”

Ali menjawab, “Tidak wahai ayahku.”

Ayahnya berkata, “Karena dengan perkataan tersebut mereka menginginkan Alloh.”

(Saba’ik adz-Dzahab fi Bayani Ushuli ath-Tholab)

Abdullah bin Muhammad bin Munazzil bercerita, bahwa Hamdun bin Ahmad pernah ditanya : “Kenapa perkataan salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita?”

Hamdun menjawab, “Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, kesematan jiwa-jiwa dan keridhaan ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara demi kemuliaan diri sendiri, mencari dunia dan ketenaran di hadapan manusia.”

dinukil dari: http://forum-unand.blogspot.com/2009/02/nasehat.html

ada dua sisi sebab tidak diterimanya dakwah kita,

1. kita yang menyebabkannya dakwah itu sendiri ditolak, karena kebodohan kita yang tidak mengetahui manhaj dakwah yang lurus.

atau

2. orang itu sendiri yang memang menolak kebenaran setelah hujjah ditegakkan dengan terang dan jelas -melalui manhaj yang benar- kepadanya, yang memang belum Allåh berikan taufiq dan hidayah-Nya kepada orang tersebut.

Ditegaskan disini, bukan berarti misi dakwah adalah ‘yang perkataan diterima itu diartikan berhasil, sedangkan yang ditolak itu berarti dakwahnya gagal’. bukan itu yang dimaksud.

Tapi yang ana berusaha sampaikan adalah usaha-usaha memperbaiki kita pribadi, agar kita tidak langsung menganggap sebab penolakan hanyalah dari pihak orang yang kita dakwahi tanpa mengintrospeksi diri kita sendiri.

wallåhu ta’ala a’lam.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s