Jangan Malu Untuk Mengatakan “Aku Tidak Tahu”!

Kalau seseorang bertanya kepada kita, dan kita belum memiliki ‘ilmu tentangnya, maka katakanlah “wallåhu a’lam” atau “aku tidak tahu”.. Janganlah gengsi untuk mengatakannya, karena Malaikat dan Råsul -yang lebih mulia danri kita- telah mendahului kita berkata demikian.. Ketahuilah, mengatakan “tidak tahu” tidaklah menurunkan kemuliaan kita, tidak pula menghinakan kita..


Justru jika kita mengatakan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu (dan tidak paham) dengannya adalah salah satu tanda kehinaan kita, karena kita telah berbicara TANPA ‘ILMU..

Dituliskan tulisan ini, karena terkadang kita ketika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan; seakan-akan dihadapkan dengan prinsip “ku harus menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan padaku”…

Maka ketika ditanyakan, kita menyibukkan diri kita dengan mencari jawabannya agar dapat menjawab pertanyaan tersebut..

Padahal malaikat dan Råsul, jika ditanyakan sesuatu yang tidak mereka ketahui, dengan gampangnya mereka mengatakan “aku tidak tahu”, tanpa menyibukkan untuk mencari tahu apa jawaban dari pertanyaan tersebut, agar dapat menjawab pertanyaan tersebut..

Semoga kita dapat senantiasa jujur pada diri kita, senantiasa tawadhu, dan tidak berkata melainkan dengan ‘ilmu yang telah kita miliki.

Mengatakan “aku tidak tahu” itu:

1. Mengikuti fitroh,
2. Termasuk sebagian ‘ilmu..

“Kenapa mengikuti fitroh?”

Kita ambil contoh/analogi, ketika kita akan bepergian ke suatu tempat, dan kita kebingungan untuk mencari tempat tersebut… maka:

– Fitroh dalam diri kita adalah BERTANYA,

– Fitroh lain dalam diri kita adalah, MENCARI ORANG

Orang yang akan kita cari inipun, tentunya kita perkirakan bahwa ia AHLI dalam membantu kita menemukan jalan ke tempat tersebut..

Tentu yang pertama kali tergambar dalam pikiran kita “kepada siapakah kita hendak bertanya” pastilah TUKANG OJEK..

Karena yang kita ketahui, bahwa TUKANG OJEK inilah YANG PALING MENGERTI JALAN. maka kita bertanya kepadanya..

Jika ternyata kita tidak menemukan AHLINYA, tentunya kita akan menanyakan kepada orang sekitar, yang kita perkirakan, orang yang tinggal disekitarnya, yang menurut perkiraan kita, tentunya mereka sedikit-tidaknya mengetahui apa yang ingin kita tanyakan..

(Ini kalau kita dalam posisi kebingungan, dan ingin BERTANYA)

(Sekarang, bagaimanakah kita ketika dalam posisi DITANYA?)

Fitroh manusia JIKA IA TIDAK MENGETAHUI tentang sesuatu, dengan lantang ia akan mengatakan:

– “aduh mas, saya nggak tahu, coba tanyakan saja sama yang lain..”

atau dengan kalimat

– “aduh, saya nggak tahu, coba mas tanyakan aja tuh sama tukang ojek di depan..”

Inipun jika ia mengikuti fitroh yang ada dalam dirinya.. karena tak jarang, kita mendapati orang yang SOK TAHU menunjukkan jalan, yang padahal ia sendiri tidak tahu apa yang ia tunjuki..

Dari contoh diatas, kita ambil pelajaran:

1. Jika tidak mengetahui, HENDAKNYA KITA BERTANYA.
2. Jika ingin bertanya, HENDAKNYA BERTANYA PADA AHLINYA.
3. Jika tidak menemukan ahlinya, maka TANYAKANLAH kepada orang yang kira-kira mendekati ‘level’ ahli.

Dan jika ketika kita ditanyakan sesuatu, maka:

1. Jika tidak mengetahui, HENDAKNYA KITA MENGATAKAN “SAYA TIDAK TAHU” agar tidak menyesatkan orang lain.

2. Hendaknya kita tidak membebani diri kita dengan beban yang tidak perlu jika kita tidak mengetahui JAWABAN YANG PASTI dan MEYAKINKAN. cukup dengan mengatakan TIDAK TAHU, maka kita telah menjawab pertanyaannya, kita selamat dari berkata tanpa ‘ilmu, dan kita selamat dari menyesatkan orang lain.

3. Jikalau kita mengetahui sedikit tentang yang ditanyakan, hendaknya kita jujur kepadanya, bahwa ‘ilmu kita tentangnya HANYA SEDIKIT, dan hendaknya kita MEREKOMENDASIKAN penanya untuk bertanya kepada YANG LEBIH AHLI dari kita.

4. Jikalau memang kita mengetahui apa yang ditanya, dengan jawaban yang pasti dan meyakinkan. maka JAWABLAH sesuai dengan apa yang kita ketahui, bantulah saudara kita yang kesulitan untuk menemukan jalannya.

———-

“Kenapa mengatakan “aku tidak tahu” tergolong sebagian ‘ilmu?”

Dikatakan sebagian dari ‘ilmu karena ia telah mengetahui bahwa dirinya tidak tahu; karena sebagian ilmu yang lain adalah ia mengetahui bahwa dirinya tahu.

Dikatakan ia sebagian dari ‘ilmu, karena ia salah satu ADAB dalam ISLAM. yakni mengatakan “tidak tahu” ketika ditanya tentang sesuatu yang ia tidak mengetahui jawabannya…

Wallåhu a’lam

Semoga analogi diatas dapat kita amalkan dalam amalan DUNIA dan amalan AKHIRAT kita..

Semoga Allåh melindungi kita dari berbicara tanpa ‘ilmu, dan melindungi kita dari orang-orang yang menyesatkan kita kepada jalan yang lurus..

Aamiin..

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s