“Melalaikan shalat” itu tidaklah sama dengan “meninggalkan shalat”

Ketahuilah wahai saudaraku, orang yang melalaikan/menyianyiakan shalat, BUKANLAH orang yang meninggalkan shalat.

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’uun: 4-5)

Sa’id ibn Abi Waqqash ketika ditanya tentang makna ayat diatas, beliau berkata:

إِنَّهُ لَيْسَ ذَلِكَ ، وَلَكِنَّهُ إِضَاعَةُ الْوَقْتِ

Sesungguhnya maksud ayatnya tidak seperti itu (yaitu meninggalkan shalat), akan tetapi maksudnya adalah MELALAIKAN SHALAT DARI WAKTU-NYA (yaitu seorang yang lalai dari shalat, sehingga baru shalat DI AKHIR WAKTUnya)

[Lihat ta’zhim qadrish shalaat]

Sebagaimana juga dengan firman Allåh Ta’ala,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat”

Berkata al-auza’i råhimahullåh,

إنما أضاعوا المواقيت، ولو كان تركا كان كفرا

“Sesungguhnya mereka (yang) menyia-nyiakan (shalat) (dalam ayat tersebut, adalah menyianyiakan) WAKTU PELAKSANAAN SHALAT. jika penyia-nyiaan itu merupakan peninggalan, niscaya itu merupakan kekafiran

Berkata ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziiz:

لَمْ يَكُنْ إِضَاعَتُهُمْ تَرْكَهَا ، وَلَكِنْ أَضَاعُوا الْمَوَاقِيتَ

Bukanlah maksud “menyia-nyiakan (shalat)” adalah meninggalkannya. Akan tetapi maksudnya adalah “menyianyiakan waktunya” (yaitu shalat di akhir waktunya)

Ketahuilah, orang yang melalaikan shalat, dan dia tidak mengerjakannya sampai habis waktunya, maka inilah yang dikatakan ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

al Hasan ibn Sa’iid berkata bahwa orang-orang pernah menanyakan ayat berikut kepada Ibnu Mas’uud:

الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ

…Yaitu mereka yang tetap mengerjakan shalat mereka… (al Ma’aarij: 23)

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan orang-orang yang memelihara shalat mereka

(al Ma’aarij: 34)

Ibnu Mas’ud menanggapi,

ذَلِكَ عَلَى مَوَاقِيتِهَا

Yang demikian adalah (melaksanakan shalat atau memelihara shalat) pada waktunya

Kemudian mereka berkata:

مَا كُنَّا نَرَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِلا عَلَى تَرْكِهَا

Tidaklah kami memahaminya wahai aba abdurrahmaan, kecuali (dengan makna) “meninggalkan” (shalat)

Dijawab Ibnu Mas’uud:

تَرْكُهَا الْكُفْرُ

Meninggalkannya adalah kekafiran.

(Lihat Ta’zhim Qadris Shalaat)

Dalam riwayat lain, Wakii’ meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallåhu ‘anhumaa bahwasanya dia ditanya, sesungguhnya Allåh seringkali menuturkan di dalam shalat, seperti ayat:

أَضَاعُوا الصَّلاَةَ

…Menyianyiakan shalat…

(Maryam: 59)

Ibnu Mas’ud menanggapi,

هو تأخيرها عن وقتها

Yang dimaksud dengan ayat diatas adalah (orang yang mengerjakan shalat) dengan mengakhirkan di akhir waktunya

Kemudian orang-orang mengatakan,

كنا نظن ذلك تركها

Kami mengira bahwa maksud dari ayat diatas adalah meninggalkannya

Ibnu Mas’ud berkata,

لو تركوها كانوا كفارا

“Kalau meninggalkan, namanya kekufuran (kufur akbar)”

Dan pemahaman ibn Mas’ud ini, berdasarkan hadits yang secara sharih menyatakan bahwa perbuatan meninggalkan shalat adalah kufur akbar; sebagimana disebutkan dalam hadits, bahwa Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله

Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashr, hapuslah seluruh amalnya. (HR al-Bukhaariy)

Dalam hadits diatas disebutkan “meninggalkan shalat ashr” maka maknanya yaitu MENINGGALKAN SATU SHALAT. Ini dipahami UMUM (tidak hanya untuk shalat ashar saja), sebagaimana dipahami ibn Mas’uud.

Dan kemudian lihatlah pula dalam hadits diatas disebutkan “hapus semua amalnya” menandakan perbuatan ini adalah KUFUR AKBAR! Karena Allah berfirman:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Apabila engkau berbuat kesyirikan, maka hapuslah seluruh amalmu. (az Zumar: 65)

Demikian juga Allah berfirman:

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Barangsiapa yang MURTAD di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam KEKAFIRAN, maka mereka itulah yang DIHAPUS AMAL-AMALnya, di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (al Baqarah: 217)

Berkata Syaikh ibn Baz rahimahullah:

والصواب أن من ترك بقية الصلوات يحبط عمله أيضاً؛ لأنه قد كفر، على الصحيح، لكن تخصيص النبي بذكر صلاة العصر يدل على مزية عظيمة، وإلا فالحكم واحد، من ترك الظهر أو المغرب أو العشاء أو الفجر تعمُّداً بطل عمله؛ لأنه يكفر بذلك

“Dan (pendapat) yang benar; bahwasanya orang yang meninggalkan shalat, adalah DIHAPUSKAN AMALAN MEREKA DISEBABKAN karena KEKAFIRAN mereka, menurut pendapat yang paling benar. Adapun pengkhususan sabda nabi (pada shalat ashar), menunjukkan keagungan shalat tersebut, akan tetapi secara hukumnya satu (yaitu berlaku untuk shalat lainnya). (Maka) barangsiapa yang MENINGGALKAN SHALAT zhuhur ATAU shalat maghrib ATAU shalat ‘isya ATAU shalat shubuh dengan sengaja, maka hapuslah seluruh amalnya DISEBABKAN ia telah telah KAFIR dengan sebab tersebut (yaitu karena ia telah meninggalkan shalat).”

(Fatawa Nuur ‘ala Al-Harb, http://ibnbaz.org/mat/14293)

Pendapat yang beliau anut ini juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ والإيمان الصَّلاةِ . فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

(Pembeda) antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan; adalah shalat. Bila ia meninggalkannya, berarti ia telah berbuat kesyirikan.

[Diriwayatkan ath-Thabariy, dengan sanad yang shahiih sesuai dengan syarat Imam Muslim]

Demikian pula, madzhab dari kebanyakan para shahabat, dan tabi’in adalah KAFIR-nya orang-orang yang MENINGGALKAN SATU SHALAT, hingga habis waktunya.

Sebagaimana perkataan ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallaahu ‘anhumaa ketika mencela buruknya khamr :

إِنِّي إِذَا شَرِبْتُ الْخَمْرَ تَرَكْتُ الصَّلاةَ، وَمَنْ تَرَكَ الصَّلاةَ فَلا دِينَ لَهُ

“Sesungguhnya jika aku minum khamr, maka aku akan meninggalkan shalat. Dan siapa yang meninggalkan shalat, tidak ada agama baginya”

(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah)

Dan dua perkataan pemuka shahabat diatas adalah perkataan yang lebih rinci tentang masalah ini, yang menjelaskan pemahaman mereka, terhadap perkataan umum para shahabat yang lain, seperti ‘Umar ibn al Khaththab:

لاَ حَظَّ فِي الإِسْلامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian (sedikit pun) dalam Islam bagi seseorang yang meninggalkan shalat.” (Al Mughni 3/355)

Shåhabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata:

مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَهُوَ كَافِرٌ

“Barangsiapa yang tidak shalat maka dia kafir.” (Al Mughni 3/355)

– Shåhabat ‘Abdullah bin Mas’uud radhiallahu anhumaa berkata:

مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ فَلاَ دِيْنَ لَهُ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka tidak ada agama baginya.” (Shahih At Targhib no. 574)

– Berkata Jabiir ibn ‘abdillaah radhiyallaahu ‘anhumaa:

من لم يصل فهو كافر

Barangsiapa yang tidak shalat, maka dia kaafir. (diriwayatkan imam ibnu abdil barr juga imam al mundziriy)

Abu Darda’ radhialallahu anhu berkata:

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَلاَةَ لَهُ وَلاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ

“Tidak ada keimanan bagi yang tidak shalat, dan tidak ada (sah) shalat bagi yang tidak berwudhu’…” (Shahih At Targhib no. 575)

Ibnu Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa bahwa dia berkata:

من ترك الصلاة فقد كفر

Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah kaafir. (diriwayatkan imam al Mawarziy)

Dan ini pula pendapat yang dikuatkan oleh para ulamaa terdahulu seperti Ibraahiim An-Nakha’iy, Al-Hakam bin ‘Utbah, Ayyuub, Ibnul-Mubaarak, Ahmad, dan Ishaaq. Dan pendapat inilah yang dirajihkan Syaikh ibn Baz rahimahullaah.

Sesungguhnya orang yang melalaikan shalat adalah, mengakhirkan shalat sampai habis waktunya; tapi baru MENGERJAKAN setelah habis waktunya

Adapun orang yang shalat, tapi SHALAT DILUAR WAKTUNYA TANPA UDZUR, karena melalaikannya; maka yang seperti ini yang dimaksudkan ayat diatas, dan yang seperti ini yang dimaksudkan dalam hadits-hadits ‘Ubadah ibn Shamit:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ وَصَلاَّهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ

“Shalat lima waktu telah Allah ‘Ta’ala wajibkan bagi hamba-Nya. Barangsiapa memperbagus wudhunya, MENGERJAKAN SHALAT DI WAKTUNYA, menyempurnakan ruku’nya, dan khusyu’ ketika mengerjakannya, maka Allah berjanji akan mengampuninya.

وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

Dan barangsiapa tidak melakukan (hal-hal diatas), maka Allah tidak memiliki janji. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengadzabnya.” (Shahiih; HR Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya; dishahiihkan syekh al albaaniy)

Dan ancaman orang-orang yang TIDAK MENJAGA SHALATnya (terutama tidak menjaga waktu shalat) sangat besar!

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang selalu menjaganya (shalat), maka baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat…

وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan pada hari kiamat akan bersama Karun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf”.

[HR. Ahmad; Al Mundziri berkata di dalam At Targhib Wa At Tarhib: “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang jayyid”, adz Dzahabiy berkata: “sanadnya Jayyid”, Al Haitsamy berkata: “Para perawi hadits ini orang-orang tsiqah”, Ahmad Syaakir menshahiihkan hadits ini dalam Musnad Ahmad, hadits ini juga dishahiihkan oleh Syaikh ibn Baz]

Disyarah maknanya oleh Ibnul Qayyim, barangsiapa yang melalaikan shalatnya karena kekuasaan; maka akan dikumpulkan bersama fir’aun. barangsiapa yang melalaikan shalatnya karena harta; maka akan dikumpulkan bersama qaarun. barangsiapa yang melalaikan shalatnya karena kementriannya (urusan politik), maka ia akan dikumpulkan bersama haamaan. Dan barangsiapa yang melalaikan shalatnya karena perdagangannya, maka akan dikumpulkan bersama ‘Ubay bin Khalaf.

Apakah maknanya mereka KEKAL bersama orang-orang kaafir diatas?

Tidak demikian. Karena “tidak menjaga shalat” bukanlah kufur akbar, tapi berdosa besar. Disebutkan demikian disebabkan karena besarnya dosa yang akan mereka dapatkan, bahkan mereka bersama-sama tokoh-tokoh pemuka kaafir.

Mereka ini sebagaimana yang disebutkan pada hadits pertama diatas, dan juga sebagaiman yagn disebutkan Rasulullah shallalahu ‘alayhi wa sallam dalam sabdanya:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لاَ يَمُوتُونَ فِيهَا وَلاَ يَحْيَوْنَ

“Penduduk neraka yang memang kekal di neraka maka mereka tidak merasakan kematian tidak pula merasakan hidup yang nyaman di neraka.

وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ – أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ – فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ

Sedangkan sejumlah orang yang masuk neraka dikarenakan dosa mereka -atau beliau bersabda: karena kesalahan mereka- (yaitu bukan karena kekufuran atau kesyirikan) maka Allah mematikan mereka sehingga ketika mereka telah menjadi arang Allah mengizinkan adanya syafaat” [HR Muslim no 477].

Syaikh Abdurrazzaq al Badr dalam pelajaran Tajrid Sharih kedelapan mengatakan,

Bahkan terdapat dalam Shahih Muslim dari Abu Said al Khudri, Nabi bersabda “maka Allah mematikan mereka sehingga ketika mereka telah menjadi arang”. Fahm maknanya jelas yaitu arang. Menjadi arang inilah yang dimaksudkan dengan ‘mereka menjadi hitam’ sebagaimana dalam hadits yang ada dalam Shahih Bukhari. Artinya badan mereka menjadi arang sebagaimana layaknya sepotong arang.

Tentang makna ‘mereka dimatikan’ yang terdapat dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Muslim, bagi muslim bertauhid yang penuh dengan lumuran dosa ini terjadi sebelum kematian disembelih karena ada saat dimana kematian disembelih di satu tempat diantara surga dan neraka. Setelah kematian disembelih maka yang ada hanya kehidupan tanpa ada lagi kematian. Jadi kematian yang dirasakan oleh mukmin ahli maksiat itu terjadi sebelum kematian disembelih.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa disembelihnya kematian yang ketika itu dalam bentuk domba jantan lalu dikatakan kepada penghuni surga dan neraka ‘apakah kalian mengenalnya?’. Jawaban mereka semua ‘betul, kami mengenalnya’. Mereka semua mengenalnya karena mereka semua pernah merasakannya. Kemudian kematian disembelih di antara surga dan neraka. Kematian itu secara nyata disembelih diantara surga dan neraka. Setelah itu dikatakan kepada penghuni surga dan neraka ‘Kalian tinggal kekal di tempat kalian tanpa merasakan kematian’.

Penyembelihan kematian ini terjadi setelah semua mukmin ahli maksiat yang dibersihkan di neraka seluruhnya telah keluar dari neraka. Setelah tidaklah tertinggal di neraka kecuali orang yang kekal alias penghuni asli neraka saat itulah kematian didatangkan lalu disembelih diantara surga dan neraka. Setelah itu maka masing masing penghuni surga dan neraka kekal di tempatnya masing masing tanpa merasakan kematian”.

[Penjelasan beliau di atas bisa disimak pada link berikut ini: http://www.al-badr.net/web/index.php?page=lecture&action=lec&lec=4273; dari ustadzaris]

Wallåhu A’lam.

Maraji’:

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir

Artikel Muslimah.or.id: “Adzab orang yang lalai dalam shalat”

Artikel abuzuhriy.com

Iklan

2 Komentar

Filed under al-Quran, Aqidah, Ibadah, Shålat, Tafsir, Tauhid Uluhiyyah

2 responses to ““Melalaikan shalat” itu tidaklah sama dengan “meninggalkan shalat”

  1. Ping-balik: Kelemahan aqidah -> Melalaikan Shalat -> Pengikut Hawa Nafsu « Learn something by Tomy gnt

  2. mashaAllah manfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s