Nasehat kepada pemberi nasehat

Jika engkau menginginkan nasehatmu tersampaikan kepada orang yang sampaikan. Maka bekalilah dirimu dengan ‘Ilmu, Ikhlash, dan Kejujuran. Percayalah, jika engkau telah memiliki ketiganya, dan dapat mengamalkannya dengan baik, maka kecil kemungkinan nasehatmu tidak tersampaikan. Janganlah bersedih jikalau kamu telah mengusahakannya dengan sebaik-baiknya tapi masih saja terdapat penolakan-penolakan, karena nasehat itu tidak bermanfa’at bagi orang yang hatinya sakit, terlebih lagi bagi yang hatinya telah mati.


1. Suatu nasehat hendaknya didasarkan dengan ‘ilmu

Bagaimanakah seseorang akan mengajak kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang mungkar, sedangkan ia sendiri TIDAK TAHU atau SALAH PAHAM mana yang ma’ruf, dan mana yang mungkar!?

Maka sangatlah tidak mungkin ia dapat menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar sedangkan ia sendiri tidak dapat membedakannya, atau ia sendiri tidak mengenal keduanya.

Sungguh benar kata penyair: “tidaklah mungkin orang yang TAK BERPUNYA; dapat memberi.”

Maka dari itu, ‘Ilmu memegang peran penting dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan ‘ilmu, ia bisa menjelaskan dengan terang dan jelas kepada orang yang hendak ditujunya, hingga akhirnya mereka dapat memahami apa yang ia sampaikan. Bahkan dengan ‘ilmu, ia dapat membuat orang yang berbeda pemahaman dengannya menjadi sepemahaman dengannya dengan izin Allåh Ta’ala.

2. Hendaknya nasehat didasari dengan niat ikhlash

Yaitu hendaknya ia tidak mengharapkan, kecuali dengan mengharapkan pahala Allåh. Ia tidak menginginkan balasan dari manusia sedikitpun. Maka dengan ini ia tidak akan menyampaikan nasehatnya dengan paksaan (agar ia diikuti). Ia mengetahui bahwa Allåh-lah yang membolak-balikkan hati manusia. Maka ia tidak memaksakan kehendaknya.

Tapi disisi lain, ia menginginkan kebaikan kepada orang yang dinasehatinya, maka ia tidak berputus asa terhadap mereka, dan tetap memberi mereka harapan, dan berharap mereka dapat kembali kepada kebenaran.

3. Hendaknya nasehat disampaikan dengan penuh kejujuran

Yang dimaksud jujur disini yakni, ia bukan hanya sekedar berbicara, tapi apa yang ia bicarakan tersebut ADA pada dirinya, atau paling tidak apa yang ia bicarakan JUGA IA USAHAKAN ada pada dirinya.

Dengan kejujuran itu pula, ia mengakui kekurangan dirinya, ia berkata “tidak tahu” jika ia tidak tahu. Ia tidak berbicara tanpa ‘ilmu, Ia malu jika berbicara atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Disinilah kejujuran berperan ketika seseorang menyampaikan nasehat kepada saudaranya.

Inilah ketiga hal yang sekiranya dapat membantu nasehat kita dapat tersampai kepada orang lain, tentunya dengan tidak mendahului KehendakNya. Ini hanyalah wasilah, dan bentuk ikhtiar kita agar apa yang kita nasehatkan dapat tersampaikan kepada orang lain. Adapun hidayah, maka sesungguhnya itu merupakan hak Allåh. Sesungguhnya Dia, memberi petunjuk siapasaja yang Ia Kehendaki, dan menyesatkan siapasaja yang Ia Kehendaki.

Semoga kita dapat mencoba mempraktekkan nasehat yang singkat ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Wallåhu Ta’ala A’lam.

Wallåhul Muwaffiq

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s