Dukun, para penerawang hati…

Dukun itu identik dengan ‘penerawangan alam ghåib’, yang mereka mengaku mengetahuinya. Ini tidak bedanya dengan orang yang suka menerawang hati orang, mengatakan “si fulan itu ikhash”, mengatakan “si fulan itu riya'”. Allåhu akbar! Dapat wahyu darimana mereka sehingga bisa mengetahui hati seseorang?! ataukah mereka sudah membedah hati orang tersebut?!

Tidak diperbolehkannya seseorang menerka-nerka hati seseorang atau menuduh dengan tuduhan riya’/sum’ah/ujub

Adapun dalil-dalilnya:

Hadits pertama

Dari Said Al Khudri rådhiyallåhu ‘anhu, bahwa ada orang yang menggugat Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam dalam membagian zakat, ia berkata kepada Nabi : “Wahai Rasulullah bertaqwalah kepada Allah.”

Khalid bin Walid langsung minta izin kepada Nabi untuk memenggal lehernya…

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda, : “Boleh jadi dia shalat”

Khalid berkata, “Berapa banyak orang yang shalat tetapi ucapannya tidak sesuai dengan perbuatannya. [maksudnya, ia mengucapkan bahwa dirinya seorang muslim, tapi yang nampak dari perbuatannya adalah perbuatan orang-orang munafik -wallåhu ta’ala a’lam-]”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda, yang artinya:

“AKU TIDAKLAH DIPERINTAH UNTUK MEMBEDAH HATI MANUSIA”

[Munafaqqun ‘Alaih]

Hadits kedua

Dari Usamah bin Zaid radhiyallåhu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam.

Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bertanya:

“Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya?”

Aku menjawab:

“Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang.”

Rasulullah shållallåhu ‘alaihi wa sallam, bersabda (yang artinya):

“APAKAH ENGKAU SUDAH MEMBEDAH DADANYA sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?”

Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu.

(HR Muslim No 140)

Maka apa saja perbuatan (yang sesuai syar’i) yang nampak dihadapanmu yang diamalkan manusia, maka yang engkau lakukan hanyalah menilai amalannya, bukan hatinya.

Jika engkau melihat shalatnya terlihat khusyu’ maka tidak ada hak sama sekali bagimu untuk menilainya riya’ (sengaja memperbaguskan amalan untuk manusia) atau sum’ah (sengaja memperdengarkan amalan untuk manusia); karena itu hanya dirinya dan Allåh yang tahu; engkau tidak memiliki pengetahuan SEDIKITPUN tentangnya.

Amalan apa saja yang tidak nampak dihadapanmu (selain amalan-amalan wajib yang memang mengharuskan seseroang menampakkan amalannya), maka engkau tidak boleh mengatakan “dia tidak pernah beramal”. Tahukah dirimu apa yang dilakukannya dalam kesendiriannya?!

Ketahuilah sejelek-jeleknya orang adalah ketika ia melihat orang beramal ia berkata “ia telah riya’/sum’ah” dan ketika ia tidak melihat orang beramal dihadapannya ia berkata “ia tidak pernah beramal.”.

Allåhul musta’aan. Semoga kita dilindungi dari sifat yang demikian.

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s