Ada yang bertanya…

Berikut merupakan tiga petikan diskusiku bersama beberapa orang, semoga dapat kita petik pelajaran bersama:




Diskusi no. 1 – Tentang ‘penghakiman’

Ada yang berkata:

“Janganlah kita gemar menghakimi benar atau salah”

Aku jawab:

Bagaimana jika yang menghakimi BERHUKUM dengan hukum Allåh?!

Apa itu hukum Allåh?

1. al-Qur’an
2. as-Sunnah yang shahih
3. Pemahaman salafush shalih atas keduanya

Maka apa yang HAQ (berdasarkan rujukan diatas), maka katakanlah haq! apa yang BAATHIL, maka katakanlah BAATHIL!

Jika belum paham dengan benar, MAKA TANYAKAN: apa yang belum dipahami!

Jika masih memiliki beban dihati, MAKA UTARAKAN dan SAMPAIKAN: segala keluhanmu. (semoga bisa kita diskusikan)

Janganlah hanya karena al-haq tidak sesuai dengan hawa nafsu kita, maka kita membuangnya ke tembok!

Diskusi no. 2 – Tentang haruslah ‘toleransi’ kepada orang yang memiliki ‘dalil’

ada yang berkata:

“Jangan kita kotori hati kita dengan mudah menuduh syirik dan bid’ah kepada saudara-saudara muslim kita yang punya dalil lain, yang menurut keILMUan mereka (dalil tersebut) adalah shahih/benar”

Aku jawab:

Perkataan antum, pada bagian pertama:

“Jangan kita kotori hati kita dengan mudah menuduh…”

Sudah terjawab diatas.

Adapun perkataan antum:

“Saudara-saudara muslim kita punya dalil lain, yang menurut keILMUan mereka (dalil tersebut) adalah shahih/benar”

Ini tertolak.. Karena kita MENGEMBALIKAN menurut PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH. Bukan pada pemahaman masing-masing. Sudah jelas pasti masing-masing merasa benar. Namun perlu dipastikan ‘PERASAAN’ masing-masing dengan hujjah. Sehingga bukan hanya merasa benar, tapi harus YAKIN BENAR.

Maka periksalah kekurangan kita masing-masing, dan salinglah mendengarkan nasehat untuk memperbaiki diri..

Jika ada orang yang mengatakan bahwa:

MEMINTA DI KUBURAN itu SYIRIK

Maka ini adalah pernyataan yang haq. dan sebenarnya tidak ada satupun orang yang disinggung disini, karena yang dicela adalah PERBUATAN. bahkan ini perbuatan terlaknat. siapa yang melaknatnya? ALLAH dan RASULNYA!

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:


‎لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

(Muttafaqun ‘alaih)

begitupun jika ada orang yang mengatakan bahwa:

Seruan-seuran seperti: “yaa abdul qadir jaelani”, “ya rasulullah”, “ya rafi’iy”, “ya fulan” adalah SERUAN YANG SYIRIK.

Maka ia berada diatas haq! tidak ada satu orang pun disinggung disini, karena yang dicela adalah SERUAN SYIRIK TERSEBUT!

Tidakkah mereka (yang merasa tersinggung akibat dicela perbuatannya tersebut) mendengar/membaca firman Allåh berikut?


‎وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.

(al-a’raaf: 197)

lantas jika telah berfirman Allåh subhanahu wa ta’ala, telah bersabda Råsulullåh shallallahu ‘alayhi wa sallam akan kemungkaran tersebut, kenapa mereka marah? apakah karena ‘perbuatan’nya diusik?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فبأي حدث بعد اللَّه وآياته يؤمنون

artinya: maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman selain (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. (QS. Jaatsiyah: 6)

Ia juga berfirman:

‎فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

artinya: Maka kepada perkataan apakah selain (perkataan) ini [al-qur’an] mereka akan beriman?

(al-mursalaat: 50)

al-Imaam Ibnu Katsir menafsirkan dua ayat serupa diatas;

“Jika tidak beriman dengan al-qur’an (dan keterangan-keteranganNya) ini, maka dengan perkataan apa lagi mereka bisa beriman?!”

[lihat tafsir ibnu katsir ayat mursalaat: 50]

Sesungguhnya Allåh menyesatkan siapa yang Ia kehendaki, dan Ia memberi petunjuk siapa yang Ia kehendaki.



Diskusi no. 3 – Tentang penyeru kepada selain hukum Allah

Ada yang bertanya:

Bagaimana kalau ada orang yang menyuruh orang lain untuk mengikuti hukum yang bukan hukum Allah dan dengan paksaan ( hukuman bagi yang tidak mau mengikutinya ), statusnya bagaimana?

Aku jawab:

Orang yang menyuruh untuk mengikuti hukum selain hukum Allåh apakah sudah tahu MAKNA SYAHADATAIN dan KONSEKUENSInya tidak? dan ia PAHAM terhadapnya dengan BENAR dan SEJELAS-JELASNYA, tanpa ada SYUBHAT; dan tanpa ada KESALAHPAHAMAN?

Ini dulu yang harus dijawab dengan ‘ILMU, bukan dengan kebodohan dan harus dijawab dengan KEYAKINAN, bukan dengan zhann.

Terburu-buru dalam memvonis bisa menyebabkan vonis kembali kepada pemvonis. wallåhul musta’aan.

Ingatlah bahwa sifat tergesa-gesa datangnya dari syaithån, sedangkan sifat tenang datangnya dari Allåh.

Tugas orang berilmu adalah MENENGAKKAN hujjah kepada orang-orang yang belum berilmu, dan orang-orang yang terkena syubhat. bukan SERAMPANGAN main vonis ini itu tanpa ada penegakkan hujjah terlebih dahulu. [dan bagi yang BELUM BERILMU (tentang satu masalah), HENDAKNYA IA BELAJAR dan BELAJAR dahulu.. dan DIAM atas apa yang ia belum memiliki ilmu tentangnya]

Islam itu agama ilmiyyah, tegak dengan PENA dan PEDANG. karena ia bermula dengan didakwahi terlebih dulu dengan benar, TERANG, JELAS dan HIKMAH; sebelum memerangi agama yang baathil; peperangan itupun juga dengan KEKUATAN dan KEKUASAAN yang jelas. bukan dengan aksi SERAMPANGAN.

Inilah Islam yang indah lagi mulia. sayangnya keputusasaan dan keterburu-buruan sebagian penganutnya membuatnya jelek.

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s