Kedudukan zuhud

Kedudukan zuhud itu lebih tinggi dari wara’. karena wara artinya meninggalkan apa yang berbahaya (terlarang) saja; sedangkan zuhud adalah meninggalkan perkara yang TIDAK BERMANFA’AT.

[fawaid hadits ttg zuhud (al-ustadz yazid bin ‘abdil qadir jawwas; dr majalah as-sunnah no.12/thn XIII/rabi’ul awwal 1431 H]


Fawaid dari kata hikmah diatas adalah:

1. TIDAK MUNGKIN seseorang mengatakan dirinya ‘saya berusaha untuk zuhud’ tapi ia masih banyak melakukan hal-hal terlarang. Inilah mungkin yang dinamakan ‘zuhud prematur’ yang tidak didahului dengan proses. Hendaklah kita berusaha untuk menanamkan sifat wara’ terlebih dahulu sehingga ketika bisa dapat mengamalkan dengan baik dan kontinyu dengan sifat tersebut; maka kita mulai secara perlahan untuk mengamalkan sifat zuhud ini.

2. Salah dalam mengamalkan sifat ini akan menimbulkan penzholiman pada diri; karena orang yang belum semestinya berbuat zuhud pada dirinya, tapi ia memaksakan untuk zuhud; jadinya adalah ia memberat-beratkann dirinya atas sesuatu yg ia belum mampu amalkan. Imam Ahmad pernah diceritakan oleh seseorang tentang apa yang dilihatnya, ia (orang yang menceritakan kepada imam ahmad apa yang dilihatnya) melihat seseorang yang sedang bertransaksi dipasar dan membeli seikat sayuran; kemudian ia mengembalikan ‘tali pengikat’ sayuran tersebut, dan mengatakan pada penjualnya (yang maknanya): “yang aku beli darimu adalah sayuranmu, tidak ditambah dengan ikatannya. kutakutkan ikatannya ini adalah sesuatu yang berasal dari syubuhat.” Imam Ahmad bertanya dengan nada mengingkari: “siapa orang tersebut!?” orang tersebut menjawab: “Fulan (Sufyan ats-Tsauriy -jika penulis tidak keliru-)”. Imam Ahmad berkata: “Sesungguhnya ia PANTAS untuk berlaku demikian (yakni berlaku zuhud)”. Pelajaran yang kita petik disini adalah, pertanyaan pengingkaran yang dilakukan oleh Imam Ahmad atas cerita orang tersebut. Imam Ahmad akan mengingkari apa yang diperbuat orang tersebut jika ia belum dikenal ke-WARA-annya. Tapi ia membenarkannya karena orang yang disebutkan pencerita tersebut memanglah pantas untuk berlaku zuhud.

Kesalahan lainnya adalah, ketika seseorang yang sudah bahagia dan tenang dengan kezuhudannya tapi ia mencoba memaksakan setiap orang untuk dapat sepertinya. Ini keliru, karena kualitas keimanan itu berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Adalah penzholiman kepada orang lain jika kita memberatkan padanya atas apa-apa yang ia belum mampu kerjakan. Patutlah kita tanyakan kepada orang yang melakukan hal ini, “apakah engkau -dengan keadaanmu yang sekarang- mendapatkannya dengan waktu yang singat atau instan? ataukah engkau berproses dalam mendapatkannya?!” Jika engkau berproses untuk bisa mendapatkannya, maka seharusnya hal tersebutlah yang harus engkau praktekkan pada saudara-saudaramu. Bantulah ia dalam berproses, bukan memaksanya untuk menjadi seperti dirimu.

Wallåhu A’lam

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s