Kemiskinan penyebab terjadinya kekufuran?!

“Kemiskinan penyebab terjadinya kekufuran?!”

Kalimat ini Patut di sanggah.. Lihatlah para shahabat, mereka ditawarkan islam ketika mereka miskin; tapi mereka mau masuk Islam dan berpindah dari jurang kekufuran. Setelah masuk Islam kebanyakan dari mereka tetap dalam kemiskinannya; tapi mereka tetap kokoh diatas ad diinul haq. berapa banyak pula kita melihat kaum muhajirin yang KAYA di mekkah, MENINGGALKAN seluruh kekayaannya untuk berhijrah bersama Råsullullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam dalam rangka mencari WajahNya!

Sebaliknya orang-orang kaya; pembesar-pembesar di mekkah kebanyakan dari mereka tetap pada kekafirannya ketika Islam datang.


Hal ini SUDAH JELAS TERBANTAH dengan hadits shahiyh berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎فَوَاللهِ لاَ الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ

(artinya) “Demi Allah, BUKANLAH KEFAKIRAN yang aku khawatirkan atas diri kalian”

‎وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

(artinya:) Akan tetapi, (yang aku) khawatirkan (kepada kalian adalah) kalau dibukakan dunia bagi kalian sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang (kafir) sebelum kalian

‎ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

(artinya) Lalu kalian pun berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka berlomba-lomba meraihnya; (aku juga khawatirkan) kalau dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka”.

[HR. Al-Buhkoriy dalam Shohih-nya (3158, 4015 & 6425), dan Muslim (2961)]

Lihatlah perkataan para shahabat yang sejalan dengan hadits diatas!

‘Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Sungguh kami telah mengalami suatu masa di mana tidak ada seorang pun (menganggap) lebih berhak dengan uang dinar dan dirhamnya yang dimilikinya lebih dari saudaranya yang muslim. Kemudian sekarang dinar dan dirham lebih dicintai oleh seorang daripada saudaranya yang muslim.”

(Shahih Adab Al-Mufrad no. 81)

‘Abdurrahman bin ’Auf radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Dahulu kami diuji bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesengsaraan, maka kami (mampu) bersabar. Kemudian setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bersabar.”

(Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2464)

‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu hendak mengatakan bahwa mereka diuji dengan kefakiran, kesulitan, dan siksaan (musuh) maka mereka mampu bersabar. Namun tatkala (kesenangan) dunia, kekuasaan, dan ketenangan datang kepada mereka, maka mereka bersikap sombong.

(Lihat Tuhfatul Ahwadzi)

Maka dari itu yang terpenting adalah kadar tauhid dan iman dalam diri seseorang. Dengan baiknya hal tersebut, maka tidak peduli kelas sosialnya -apakah ia kaya atau miskin- itu tidak ada pengaruhnya baginya, disebabkan ia mengetahui dunia itu singkat, dan ia percaya kebahagiaan/kemalangan didalamnya (dunia) tidaklah kekal, sehingga ia lebih percaya apa-apa yang ada di sisi Allåh daripada apa yang ada di sisnya.

Ingatlah, janganlah engkau berputus asa karena kemalangan nasibmu (dlm hal harta) di dunia, karena kelak engkau akan mati dan mengakhiri kemalangan tersebut, jika engkau memurnikan tauhidmu, dan tetepdiatasnya hingga akhir hidupmu, maka kebahagiaan akan menantimu di hari yg kekal dan abadi; kemalanganmu pun akan terlupakan.

Ingatlah pula, janganlah engkau berbangga diri dengan ‘kebaikan’ nasibmu (dlm hal harta) di dunia, karena kelak engkau akan mati dan mengakhiri ‘kebaikan’ tersebut, jika engkau merusak tauhidmu, dan tetap diatasnya hingga akhir hidupmu, maka kesesengsaraan akan menantimu di hari yg kekal dan abadi; dan kebahagiaanmu semasa didunia pun akan terlupakan.

Inilah yang wajib kita tanamkan dalam diri-diri kita.. dan inilah pentingnya tauhid.. inilah pentingnya DAKWAH TAUHID

– bukan DAKWAH KEKUASAAN
– bukan DAKWAH MENGENTASKAN KEMISKINAN (yang digunakan sebagaian kaum muslimin untuk topeng baginya dan tipuan untuk kaum muslimin, padahal hanya untuk memuluskan dirinya menduduki kursi jabatan yang HINA).

Allahul musta’aan.

Namun jika yang dimaksudkan adalah kefakiran hati; maka itu benar, karena dengannya ia bisa-bisa menjual agamanya hanya untuk mencari dunia yg tidak ada harganya disisi Allåh. Dan ini bisa menimpa kepada setiap orang; tanpa menimbang status sosialnya; kaya maupun miskin.

Wallåhu A’lam

Tinggalkan komentar

Filed under Syubhat & Bantahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s