Tidak ada manfa’atnya engkau mendengki!

Untuk apa dengki kepada orang yang lebih berilmu darimu; padahal engkau bisa mengambil ilmu darinya dan mengamalkannya untuk dirimu. Untuk apa dengki kepada orang yang lebih berharta darimu; padahal engkau memiliki tanggung-jawab yang lebih ringan disisi Allah dihari akhir kelak dibanding dirinya? jika telah timbul kedengkian, ingatlah akan hal ini! dan ingatlah sifat dengki itu sifat iblis!


Berbeda lagi dengan yang dinamakan dengan GHIBTHAH, maka ini tidaklah tercela, apa itu ghibthah, samakah ini dengan hasad?

Hasad adalah suatu sifat yang tercela karena pelakunya mengharapkan hilangnya nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain, yang juga disertai kebenciannya kepada orang tersebut dikarenakan memperoleh nikmat tersebut. Adapun ghibthah adalah seseorang menginginkan untuk mendapatkan sesuatu yang diperoleh orang lain [yang kelebihan tersebut, ia gunakan untuk kebaikan], tanpa menginginkan hilangnya nikmat tersebut dari orang itu [bahkan, ia menginginkan nikmat tersebut terus berada pada orang tersebut, dan bahkan ia menginginkan tambahan nikmat kepada orang terebut]. Yang seperti ini tidak mengapa dan tidak dicela pelakunya. Wallåhu A’lam

(Lihat At-Tafsirul Qayyim, 1/167 dan Fathul Bari, 1/167)

Bebasnya seseorang dari sifat hasad akan menjadikan seseorang tersebut AHLI JANNAH. Dalilnya? Simaklah hadits berikut:

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Dahulu kami duduk-duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ اْلآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sekarang akan muncul kepada kalian dari jalan ini, seorang lelaki dari penghuni surga.”

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Lalu muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar, jenggotnya meneteskan air karena wudhu. Orang tersebut mengikatkan kedua sandalnya di tangan kirinya. Orang itu pun mengucapkan salam. Keesokan harinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan yang seperti itu. Muncul lagi lelaki itu seperti pada kali yang pertama. Hari ketiga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal yang sama, dan muncul lagi lelaki itu seperti keadaannya yang pertama.

Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdiri, lelaki itu diikuti oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma. Kemudian Abdullah berkata:

“Sesungguhnya aku bertengkar dengan ayahku, lalu aku bersumpah untuk tidak masuk kepadanya (kedalam rumahnya) selama tiga (hari). Jika engkau mempersilakan aku tinggal di rumahmu hingga lewat tiga hari, maka akan aku lakukan. ”

Lelaki itu berkata: “Ya.”

Anas berkata: “Adalah Abdullah –yakni bin ‘Amr– bercerita bahwa ia menginap bersamanya tiga malam.”

Anas berkata lagi: “Ia tidak melihat lelaki itu shalat malam sedikitpun. Hanya saja bila ia terbangun dari tidurnya di malam hari dan menggerakkan (tubuhnya) di atas kasurnya, ia berdzikir kepada Allah dan bertakbir, sampai ia bangun untuk shalat fajar. Hanya saja, jika ia terbangun di malam hari, ia tidak berucap kecuali kebaikan.”

Abdullah berkata: ‘Tatkala tiga malam itu lewat, dan aku hampir-hampir menganggap remeh amalannya, aku berkata: ‘Wahai hamba Allah, (sebenarnya) tidak ada ketegangan dan pemboikotan antara aku dengan ayahku. Namun aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap (tiga kali): ‘Sekarang akan muncul kepada kalian salah seorang penduduk surga.’ Lalu engkau muncul, (dan ini terjadi -abu zuhriy) tiga kali. Aku ingin tinggal menginap di tempatmu sehingga aku tahu apa amalanmu. Namun aku tidak melihat engkau banyak beramal. Apa gerangan yang menyebabkan kedudukanmu sampai seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Dia menjawab: ‘Tidak ada, kecuali yang kamu lihat.’

Abdullah berkata: ‘Aku pun meninggalkannya, Tatkala aku berpaling, ia memanggilku dan ia berkata: “Aku tidak punya amalan (yang menonjol) kecuali apa yang engkau lihat. Hanya saja aku tidak dapatkan dalam diriku kedengkian terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Dan aku tidak hasad kepadanya atas kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.

Abdullah berkata: ‘Inilah hal yang menjadikan engkau sampai kepada kedudukan tersebut (yakni menjadi penghuni jannah). Dan inilah yang tidak dimampui (susah dilaksanakan)’.”

(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 12/8-9, no. 6181, dan Ahmad dalam Al-Musnad, dan dishahihkan oleh Al-‘Iraqi rahimahullahu dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, 2/862, no. 3168)

Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami mengatakan: ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah orang yang terbaik?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab (yang artinya): ‘Orang yang memiliki hati yang makhmum dan lisan yang jujur.’ Kami berkata: ‘Kami telah tahu lisan yang jujur. Lalu apakah hati yang makhmum?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Hati yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa dan hasad padanya…’.”

(HR. Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab no. 6180, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 948)

Allåhu Akbar, semoga Allåh membersihkan hati kita dari segala penyakit hati! Aamiin.


FAWAID

Fawaid (pelajaran-pelajaran) pada hadits pertama

1. Allåh memberikan pada beliau khabar-khabar ghaib. Seperti yang kita lihat dalam hadits ini bagaimana Rasulullah memberitakan khabar masuk surga.

2. Rasulullah tidak mengetahui hal yang ghaib, apa yang dikatakannya datang dari Allah, dan apa-apa ilmu ghaib yang tidak Allåh wahyukan kepada beliau, beliau tidak mengetahuinya.

3. Rasulullah tidaklah berbicara kecuali berdasarkan wahyu

4. Para shahabat mempraktekkan sunnah nabi mereka pada diri mereka. seperti shahabat anshar, yang MEMELIHARA JENGGOTnya, dan MENYEBARKAN SALAM. sebagaimana yang diberitakan hadits diatas. hukum memelihara jenggot adalah WAJIB.

5. Keutamaan Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash Radhiyallåhu ‘anhumaa.

6. Banyak jalan menuju surga. Tentunya jalan tersebut harus sesuai dengan keridhåan Allåh. Bukan jalan yang menyelisihi syari’at Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam.

7. Semangat para shahabat ridwanullah ‘alayhim jamiy’an (dalam hadits ini, khususnya Abdullah bin ‘Amr bin Ash Radhiyallåhu ‘anhumaa.) dalam mengamalkan sunnah dan mencari sebab yang menghantarkan diri mereka kedalam surga

8. Dianjurkan untuk mendekati orang shalih untuk istifadah (mengambil faidah) ilmu dan amal darinya.

9. Alangkah baiknya seseorang sesekali menginap di rumah saudaranya dalam rangka mendapatkan ilmu dan amal kepada seseorang yang hendak di ziarahinya. Seperti apa yang diperbuat Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash Radhiyallåhu ‘anhumaa.

10. Alangkah baiknya dalam menginap tidak dalam jangka waktu lama, cukup sekitar 2-3 hari. Seperti apa yang dipraktekkan ‘Abdullåh bin ‘Amr bin al-Ash.

11. Dianjurkan kita berkata-kata dengan kebaikan

12. Dianjurkan bagi kita untuk tidak membiarkan waktu kita untuk tersia-siakan begitu saja, hendaknya kita mengisinya dengan ilmu dan amal.

[poin 11 dan 12, kita petik dari bagaimana shahabat tersebut yang ketika dia membolak-balikkan tubuhnya dalam tidurnya, sambil dengan berdzikir memuji Allah. yang jelas ia tidak membiarkan waktunya untuk terbuang begitu saja, tapi ia mengisinya dengan kebaikan. (yakni mengisinya dengan dzikir)]

13. Tidak boleh meremehkan amalan seseorang yang hanya terlihat didepan mata kita. karena bisa jadi orang tersebut memiliki amalan yang ia lakukan dalam kesendiriannya yang tidak kita ketahui. dan bisa jadi orang tersebut memiliki amalan hati yang sangat mulia, yang bahkan menjadikan ia justru lebih baik dari kita.

14. Keutamaan bagi orang yang tidak memiliki sifat dengki dalam dirinya. Sifat dengki pasti akan ada, tapi yang terbaik adalah kita berjihad melawannya dan tidak menampakkannya secara terang-terangan dengan lisan dan gerak-gerik tubuh kita

15. Allah memuliakan orang yang tidak memiliki sifat hasad.

16. Orang yang membersihkan hatinya dari sifat hasad dan tidak menampakkan hasad tersebut dijanjikan surga. Tentunya ia harus memiliki aqidah yang benar dan menjaga aqidah tersebut. Karena syarat masuk surga adalah tauhid dan kemurniannya.

17. Walaupun sifat ini memiliki keutamaan yang luar biasa, ini tidaklah mudah untuk didapatkan, bahkan SEORANG SHAHABAT seperti ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash rådhiyallåhu ‘anhumaa saja mengatakan sulit untuk melaksanakannya. Dibutuhkan perjuangan yang sangat berat dan gigih untuk dapat menanamkannya dalam diri kita, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Mintalah kemudahan kepada Allåh agar Ia menanamkan kita sifat tersebut.

18. SANGAT PENTING UNTUK DIKETAHUI, Para Shahabat -ridwanullah ‘alayhim jamiy’an- walaupun telah dikabarkan surga, mereka tidak menyandarkan diri dengan khabar tersebut. bukan berarti mereka tidak mengimani khabar tersebut, justru mereka mengimaninya dengan keimanan yang sempurna. Tapi mereka tetap beribadah ibadah kepadaNya untuk meraih KEDUDUKAN YANG TINGGI kelak disurga, karena mereka ingin tinggal di surga firdaus, bersama nabi-nabi, shadiqin, syuhada dan orang-orang shalih.

Mereka pun beribadah karena kebutuhan mereka kepada Allah, dan sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap nikmat-nikmat Allåh yang sangat banyak terhadap mereka.

Sungguh pantas Allåh dan RasulNya mengkabarkan surga bagi mereka ketika mereka masih hidup, karena khabar tersebut tidak serta merta menjadikan mereka orang yang bersandar dengan takdir.

Dan itulah kenapa Allåh tidak menjadikan kita sebagai salah seorang pendamping nabi (para shahabat), karena hati kita terlalu hina untuk menjadi seorang shahabat. Semoga Allåh meridhai mereka semua, dan mengumpulkan kita bersama mereka di jannatul firdaus. Aamiin..

Wallåhu a’lam

Fawaid (pelajaran-pelajaran) pada hadits kedua

1. Orang-orang yang terbaik adalah:

– orang-orang yang memiliki lisan yang BENAR (selalu berkata dengan KEBENARAN dan KEJUJURAN. Yang ia katakan adalah seseuatu YANG BENAR dan BERMANFA’AT dan ia JUJUR dengan perkataannya tersebut,

– orang-orang yang memiliki hati yang:

* bertaqwa,

yakni, hati-hati yang bersih dari SYIRIK baik syirik besar maupun syirik kecil, hati-hati yang bersih dari KESESATAN dan KEMAKSIATAN, hati-hati yang terorientasi dengan kehidupan akhirat, hati-hati yang condong kepada kebenaran dan jauh dari hawa nafsunya, hati-hati yang condong kepada hal yang bermanfa’at dan jauh dari kesia-siaan

* bersih dari dosa

Dalam artian ia selalu meminta taubat akan dosa-dosanya, atau ia selalu melaksanakan amal-amal yang dapat menghapus dosa-dosanya.

* bersih dari hasad

yakni dengan berusaha melawan sifat hasad untuk hilang dalam hati, dan tidak ditampakkan dengan lisan dan anggota tubuh kita.

2. Untuk menjadi orang terbaik, ternyata tidak hanya dapat diraih amalan anggota tubuh saja, buktinya hadits ini menunjukkan kepada kita, bahwa amalan lisan dan amalan hati yang benar dapat menjadikan kita termasuk orang-orang terbaik.

3. Antusiasnya para shahabat dalam menanyakan pertanyaan yang bermanfa’at untuk diri mereka

5. Shahabat sangat haus akan kebaikan, maka mereka selalu menanyakan kepada nabi kebaikan-kebaikan AGAR MEREKA DAPAT MENGAMALKANNYA. Sebagaimana mereka menanyakan keburukan-keburukan AGAR MEREKA DAPAT MENJAUHINYA dan memperingatkan saudaranya darinya.

6. Antusias para shahabat untuk menjadi orang terbaik. Dan memanglah mereka generasi terbaik. seperti apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Wallahu a’lam

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s