Berkah dan tidak berkah-nya ilmu

Ilmu yang dilandasi dengan keikhlashan dan dengan tujuan yang mulia, maka ilmu tersebut akan memberikan keberkahan bagi orang yang memilikinya sehingga keberkahan tersebut juga dirasakan orang-orang sekitarnya.

Tanda keberkahan ilmu dalam diri seseorang adalah:

– bertambahnya rasa takutnya kepada Allåh

– bertambah baik dan banyaklah amalan shalih nya.

– berkurangnya amalan dosa dan maksiatnya

– berbaktinya ia kpd kedua org tuanya

– membaiknya akhlaknya

– bertambahlah rasa kasih sygnya kpd saudaranya

– bertambah teguhlah keyakinannya kepada al-haq

– bertambah kebenciannya kepada kebathilan; kesyirikan dan kesesatan beserta ahlinya.

– bertambahlah kebijaksanaannya

– bertambahlah kewaraannya

– bertambahlah kezuhudannya

– bertambahlah ke-tawadhu’-annya

– bertambahlah qona’ah-nya

– bertambahlah kepelitannya terhadap waktunya

– bertambahlah kecondongannya dan rasa cinta kepada akhirat.

– berkurangnya rasa cintanya kepada dunia

dan lain-lain..


Maka sebaliknya, Percuma menuntut ilmu syar’i (al-qur’an, as-sunnah ‘ala fahmi salaf) berpuluh-puluh tahun, tapi tidak menambah rasa takutnya kepada Allåh, tidak memeperbaiki amalan shalihnya, tidak memperbaiki akhlaknya kepada Allåh dan RåsulNya dan kaum muslimin, bahkan tidak mengangkat penyakit-penyakit dalam hatinya [seperti ujub, riya, sum’ah, hasad (dengki)].

Sungguh sia-sialah waktunya, dan itulah ketidakberkahan ilmu dalam diri seseorang. Ia merasa telah ‘alim, tapi ia tetaplah bodoh, berbapapun disiplin ilmu yang dikuasainya, karena refleksi dari ilmu yang dikuasainya tersebut TIDAK ADA dalam dirinya.

Allåhul musta’aan.

Mari kita melihat wasiat Abu Hamid (beliau di akhir hidupnya bertaubat dan kembali ke manhaj salaf, yang sebelumnya bermanhaj shufi) di mana beliau mengingatkan para penuntut ilmu akan wajibnya mengawasi dan memperhatikan jiwanya dan agar selalu bertanya kepadanya apa pendorong dalam mencari ilmu dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan menuntut ilmu:

“Berapa malam kamu bangun untuk mengulang ilmu dan mentelaah kitab-kitab dan kamu mengharamkan dirimu untuk tidur, aku tidak tahu apa yang mendorongmu melakukan semuanya itu?

Apabila niatmu mencari bagian dari dunia, perhiasannya dan kedudukan-kedudukan di dunia, serta ingin berbangga-bangga dengan teman-teman setingkatmu, maka kecelakaanlah bagimu kemudian kecelakaanlah bagimu.

Dan apabila tujuanmu dalam mencari ilmu adalah dalam rangka menghidupkan syari’atnya Nabi dan mendidik akhlakmu serta mengikis habis nafsu yang cenderung kepada kejelekan, maka kebahagiaanlah bagimu kemudian kebahagiaanlah bagimu.”

(Ayyuhal Walad hal.105-106)

Ingatlah berkah-atau-tidakberkah-nya ilmu dalam diri seseorang itu tergantung dari NIATNYA dalam menuntut ilmu! Keberkahan dari Allåh hanya Allåh berikan kepada orang-orang yang ikhlash lagi tulus.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s