Penisbatan seseorang kepada manhaj salaf, terlarangkah?

asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani ‐rahimahullah‐

Beliau ditanya:

“Mengapa perlu menamakan diri dengan Salafiy? Apakah itu termasuk dakwah Hizbiyyah, golongan, madzhab atau kelompok baru dalam Islam ..?”

Jawaban beliau adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya kata “As-Salaf” sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radyillahu ‘anha :

فَاتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِيْ فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Artinya : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik “As-Salaf” bagimu adalah Aku”

(HR. Muslim no. 1450)

Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah “As-Salaf”. Satu contoh penggunaan “As-Salaf” yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah :

كل خير في اتباع من سلف

وكل شر في ابتداع من خلف

“Setiap kebaikan itu di dalam peneladan yang dilakukan oleh kaum salaf

Dan setiap keburukan itu di dalam pengada-adaan bid’ah yang dilakukan kaum kholaf.”

Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istillah SALAF karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya.

Mereka berkata :

“Seorang muslim tidak boleh mengatakan ‘saya seorang salafiy’.”

Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa:

“Seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafush Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun akhlaq.”

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم .

“Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya”.

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..? Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini
tidak diingkari ..?

Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ISHMAH (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasullullåh telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah an-Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju “Firqah Najiyah”. Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :

Pertama, menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.

Kedua, menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.

Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan ISHMAH para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.

Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan ISHMAH (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Mengapa sandaran terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah belum cukup ..?

Sebabnya kembali kepada dua hal, yaitu hubungannya dengan dalil syar’i dan fenomena Jama’ah Islamiyah yang ada.

Berkenan dengan sebab pertama

Kita dapati dalam nash-nash yang berupa perintah untuk menta’ati hal lain disamping Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana dalam firman Allah :

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Artinya : Taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri diantara kalian”

(An-Nisaa : 59).

Jika ada Waliyul Amri yang dibaiat kaum Muslimin maka menjadi wajib ditaati seperti keharusan taat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah. Walau terkadang muncul kesalahan dari dirinya dan bawahannya. Taat kepadanya tetap wajib untuk menepis akibat buruk dari perbedaan pendapat dengan menjunjung tinggi syarat yang sudah dikenal yaitu :

(Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:)

لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ خَالِقٍ

“Artinya : Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al Khalik”.

(Lihat As-Shahihah No. 179).

(Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman:)

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.

(An-Nisaa : 115).

Allah Maha Tinggi dan jauh dari main-main. Tidak disangkal lagi, penyebutan SABIILIL MU’MINIIN (Jalan kaum mukminin) pasti mengandung hikmah dan manfa’at yang besar. Ayat itu membuktikan adanya kewajiban penting yaitu agar ittiba’ kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah harus sesuai dengan pemahaman generasi Islam yang pertama (generasi sahabat). Inilah yang diserukan dan ditekankan oleh dakwah Salafiyah di dalam inti dakwah dan manhaj tarbiyahnya.

Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Sedangkan dakwah lainnya hanya akan mencabik-cabiknya. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Artinya : Dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar”.

(At-Taubah : 119).

Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya.

Adapun berkenan dengan sebab kedua.

Bahwa kelompok-kelompok dan golongan-golongan (umat Islam) sekarang ini sama sekali tidak memperhatikan untuk mengikuti jalan kaum mukminin yang telah disinggung ayat di atas dan dipertegas oleh beberapa hadits.

Diantaranya hadits tentang firqah yang berjumlah tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu. Rasul mendeskripsikannya sebagai :

“Dia (golongan itu) adalah yang berada di atas pijakanku dan para sahabatku hari ini”.

(HR Abu Daud and dishahihkan syaikh Al Albani dalam shohih Sunan Abu Daud 3/115)

Hadits ini senada dengan ayat yang menyitir tentang jalan kaum mukminin. Di antara hadits yang juga senada maknanya adalah, hadits Irbadh bin Sariyah, yang di dalamnya memuat :

“Artinya : Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafair Rasyidin sepeninggalku”.

(HR Turmudzi dan dishohihkan syaikh Al Albani datam shohih sunan Turmudzi no.2830)

Jadi di sana ada dua sunnah yang harus di ikuti :

– Sunnah Rasul
– dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Menjadi keharusan atas kita -generasi mutaakhirin- untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan kaum mukminin. Kita tidak boleh berkata :

“Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa petunjuk Salafus As-Shalih”.

Demikian juga kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil di jaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan :

“Saya seorang muslim (saja) atau bermadzhab Islam.”

Sebab semua firqah juga mengaku demikian, baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lainnya. Apa yang membedakan kita dengan mereka ..?

Kalau kita berkata :

Saya seorang muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah.

Ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya.

Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan :

“Saya seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf”,

atau disingkat

“Saya Salafiy”.

Kita harus yakin, bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah saja, tanpa manhaj Salaf yang berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, dan jihad, belumlah cukup.

Kita paham para sahabat tidak berta’ashub terhadap madzhab atau individu tertentu. Tidak ada dari mereka yang disebut-sebut sebagai Bakri, Umari, Utsmani atau Alawi (pengikut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali).

Bahkan bila seorang di antara mereka bisa bertanya kepada Abu Bakar, Umar atau Abu Hurairah maka bertanyalah ia. Sebab mereka meyakini bahwa tidak boleh memurnikan ittiba’ kecuali kepada satu orang saja yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak berkata dengan kemauan nafsunya, ucapannya tiada lain wahyu yang diwahyukan.

Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengkritik itu, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai muslimin saja tanpa penyandaran kepada manhaj Salaf -padahal manhaj Salaf merupakan nisbat yang mulia dan benar-

Lalu apakah mereka (pengkritik) akan terbebas dari penamaan diri dengan nama-nama golongan madzhab atau nama-nama tarekat mereka !? Padahal sebutan itu tidak syar’i dan salah !?.

Allah adalah Dzat Maha pemberi petunjuk menuju jalan lurus. Wallahul Musta’an.

Demikianlah jawaban kami. Istilah Salafiy bukan menunjukkan sikap fanatik atau ta’assub pada kelompok tertentu, tetapi menunjukkan pada komitmennya untuk mengikuti Manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu Waliyyut-Taufiq.

[Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya’ban 1414H, Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183; dinukil dari: almanhaj.or.id]

Syaikh Bakr bin Abdillaah Abu Zaid Råhimahullåh

“Jika dikatakan, As-Salaf atau As-Salafiyyun atau bagi jalan mereka (disebut) As-Salafiyyah, maka itu adalah penisbahan diri kepada As‐Salaf Ash‐Sholih, yaitu seluruh sahabat ‐radhiyallahu ‘anhum‐ lalu orang‐orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, tanpa orang-orang yang diseret oleh al‐ahwa’ [ahlul bid’ah].. Orang‐orang yang tegar di atas manhaj kenabian, maka mereka dinisbahkan kepada salaf mereka yang sholih dalam hal itu. Maka dikatakan bagi mereka, “As-Salaf”,” As-Salafiyyun“.

Sedang nisbah kepada mereka adalah “Salafiy”. Berdasarkan hal ini, maka kata “salaf” maksudnya adalah As‐Sala Ash‐Sholih. Kata ini secara mutlak maksudnya adalah setiap orang yang berjalan dalam meneladani para sahabat ‐radhiyallahu ‘anhum‐ sehingga walau ia berada di zama kita.

Demikianlah halnya; berdasarkan inilah komentar para ulama’. Maka dia (kata As‐salaf atau As‐Salafiy) merupakan penisbahan diri yang tak memiliki tanda yang keluar konsekuensi Al‐Kitab dan As‐Sunnah.

Dia adalah penisbahan diri yang tak pernah lepas dalam sekejap apapun dari generasi pertama (sahabat), bahkan mereka berasal dari mereka, dan kembali kepada mereka.

Adapun orang yang menyelisihi mereka dengan nama atau simbol, maka ia bukan termasuk darinya, sekalipun ia hidup diantara mereka, dan sezaman dengan mereka”

[Hukm AlIntima’ (hal. 46) karya Syaikh Bakr Abu Zaid –harosahullah minal mubtadi’‐]

Al‐Allamah Syaikh Abdul bin Baz ‐rahimahullah‐

Beliau pernah ditanya,

“Bagaimana pandangan anda tentang orang yang menamakan diri dengan As‐Salafiy atau Al‐Atsariy? Apakah itu (termasuk) tazkiyah (penyucian diri)?”

Syaikh bin Baz menjawab dalam sebuah ceramah beliau “Haqqul Muslim”:

Jika ia benar bahwa ia adalah atsariy atau ia Salafiy, maka tak mengapa. Seperti para salaf dahulu berkata, “fulan Salafiy, fulan atsariy”. Ini adalah tazkiyah yang harus ada, tazkiyah yang wajib”.

[Al‐Ajwibah Al‐Mufidah (38‐39), karya Jamal bin Furoihan Al‐Haritsiy, cet. Darul Minhaj, 1426 H; Irsyad Al‐Bariyyah ilaa Syar’iyyah Al‐Intisab li As‐Salafiyyah wa Dahdusy Syubah Al‐Bid’iyyah (hal.21), karya Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar‐Roimiy As‐Salafiy, cet. Darul Atsar, 1421 H]

Syaikh Shålih al-Fauzan Hafizhåhullåh

Beliau ditanya:

“Apakah menggunakan nama As‐Salafiy dianggap membuat kelompok (hizbiyyah)?”.

Maka beliau menjawab,

Menggunakan nama As-Salafiy –jika sesuai hakekatnya- (maka) tak mengapa. Adapun jika hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya menggunakan nama As‐Salafiy, sedang ia bukan di atas manhaj Salaf.

Seperti orang‐orang Al‐Asy’ariyyah ‐contohnya‐ berkata, “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. Ini tak benar, karena pemahaman yang mereka pijaki bukanlah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Demikian pula orang‐orang Mu’tazilah menamai diri mereka dengan Al‐Muwahhidin (orang‐orang bertauhid).

Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila
Sedang Laila tidak mengakui hal itu bagi mereka

Jadi, orang yang mengaku bahwa ia berada di atas madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan meninggalkan orang‐orang yang menyelisihi (madzhab Ahlus Sunnah.‐pent).

Adapun jika ia mau mengumpulkan antara “biawak dan ikan paus” –menurut istilah orang‐, yakni: mau mengumpulkan hewan daratan dengan hewan laut, maka ini tak mungkin; atau ia mau mengumpulkan antara api dengan air dalam suatu daun timbangan.

Maka tak akan bersatu ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan madzhabnya orang‐orang yang menyelisihi mereka, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan Hizbiyyun yang disebut orang dengan “Muslim Masa Kini”, yaitu orang yang mau mengumpulkan kesesatan‐kesesatan orang‐orang di zaman ini bersama manhaj salaf.

Maka “Tak akan baik akhir ummat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki awalnya”. Walhasil, harus ada pembedaan dan penyaringan”.

[Al‐Ajwibah Al‐Mufidah ‘an As’ilah Al‐Manahij Al‐Jadidah (hal.36‐40) karya Jamal bin Furoihan Al‐Haritsiy ‐hafizhahullah‐, cet. Darul Minhaj, 1426 H]

Dalam fatwa beliau yang lain, beliau berkata:

“Apabila kamu telah tahu bahwa meneladani salaf itu mengharuskanmu untuk mengetahui jalan mereka, maka tidaklah mungkin kamu bisa meneladani salaf kecuali apabila kamu mengetahui jalan mereka dan memahami manhaj mereka supaya kamu dapat meniti di atas jalan itu.

Adapun (jika kamu menitinya) dengan kebodohan, maka tidak mungkin kamu dapat meniti di atas jalan mereka sedangkan kamu bodoh terhadapnya dan tidak mengetahuinya, atau kamu menyandarkan kepada mereka apa‐apa yang tidak mereka ucapkan dan yakini, lantas kamu berkata : “ini madzhab salaf”…”

Sebagaimana yang tengah terjadi saat ini pada sebagian orang-orang bodoh, yang menamakan diri mereka dengan Salafiyyin, namun mereka menyelisihi salaf, mereka bersikap arogan dan mengkafirkan, menfasikkan dan membid’ahkan (siapa saja yang menyelisihi mereka). Para salaf, mereka tidak pernah membid’ahkan, mengkafirkan dan menfasikkan melainkan dengan dalil dan burhan (bukti yang terang), bukannya dengan hawa nafsu dan kebodohan.”

[Lihat : Durus Syarh Aqidah ath-Thohawiyah, 1425 H, dinukil dari Kasyful Khola`iq, op.cit]

Tinggalkan komentar

Filed under As-Salafiyyah, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s