Siapakah seorang salafiy?

Oleh: asy-Syaikh Zaid bin Muĥammad bin Hâdi al-Madkholî Råhimahullåh[1. Artikel ini adalah publikasi online dari Maktabah lit Tahmîl (Download Library) Abŭ Salmâ al-Atsarî. Artikel ini dapat disebarluaskan dan dipublikasikan dalam berbagai bentuk selama dalam rangkaian tujuan dakwah, dan bukan untuk tujuan komersil. Harap cantumkan sumber penukilan apabila mempublikasikan atau menukil keseluruhan atau sebagian artikel ini sebagai amanat ilmiah. Koreksi, saran, nasehat dan kritik dapat dikirimkan kepada Abŭ Salmâ al-Atsarî.

© Copyright Maktabah Abŭ Salmâ al-Atsarî 2007
URL: http://abusalma.wordpress.com/2007/11/19/hakikat-salafi-sejati/
Email : abu.salma81@gmail.com]

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan Nama Alloh yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemurah

Sebuah Pengantar (dari Abu Salma al-Atsariy)

Banyak orang mengaku-ngaku sebagai “Salafîy” atau “Ahlus Sunnah”. Namun, sayangnya pengakuan mereka ini hanyalah sekedar pengakuan belaka tanpa diiringi dengan bukti dan hujjah atas klaim mereka. Apalagi sebagian mereka masih jâhil terhadap hakikat dan sifat salafîy sejati, namun dengan bangganya sebagian mereka ini mengaku sebagai satu-satunya salafîy dan selainnya adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).

Sungguh fenomena ini adalah fenomena yang banyak dan tampak di depan mata. Sebagian kaum yang mengaku-ngaku salafî itu, bersikap keras dan bengis terhadap saudara mereka se-Islâm. Mereka tidak mau menjawab salam apalagi memberi salam. Wajah mereka dingin dan tidak mudah senyum.

Apabila berbicara, yang senantiasa keluar dari lisan mereka adalah, “Fulan dan Fulan seperti ini”, “Fulan dan Fulan melakukan ini” dan senantiasa berkisar terhadap Fulan dan Fulan… tanpa mengingkari perlunya membicarakan tentang perseorangan yang memang diperlukan saat itu.

Berikut ini adalah penjelasan Fadhîlatusy Syaikh Zaid bin Muĥammad bin Hâdi al-Madkholî, yang saya (Abu Salma al-Atsariy) sarikan dari buku beliau yang sangat bermanfaat, “Quthūf min Nu’ūtis Salaf wa Mumayyizât Manhajuhum fî Abwâbil ‘Ilmi wal ‘Amal” [Dârul Manhaj, cet. I,1424].

Buku ini walaupun tipis namun sarat akan faidah dan manfaat. Di dalamnya beliau menjelaskan hakikat salafî dan manhaj mereka yang khas di dalam ilmu dan amal. Di dalam buku ini, beliau terangkan hakikat manhaj salaf yang sebenarnya, yang semoga orang yang antipati dengan manhaj salaf menjadi simpati, dan orang yang mengaku-ngaku sebagai salafîy -namun amal dan ilmunya tidak mencerminkannya- mau berkaca. Akhirnya, semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat, baik untuk diri saya pribadi maupun untuk ummat Islâm.

Hakikat Salaf dan Sifat Mereka

As-Salaf : Mereka adalah para sahabat Rasŭlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam yang hidup pada masa beliau, yang menimba agama yang lurus ini dari beliau secara langsung dari sumbernya yang segar, baik dalam keilmuan dan amal, maupun dalam akhlak dan perangai.

Merekalah yang pantas untuk disandarkan laqob (julukan) yang agung dan sifat yang mulia ini, termasuk pula setiap orang yang meniti di dalam meneladani mereka –Semoga Allôh meridhai mereka dan menerangi makam mereka- walaupun mereka berada di zaman ini ataupun sebelumnya ataupun setelahnya sampai hari kiamat kelak.

Di atas pemahaman yang benar inilah, kalimat ahli ilmu bersatu dan mereka menegaskan bahwa siapa saja yang memusuhi mereka dengan cara menyelisihi mereka, baik dengan nama, bentuk maupun perbuatan, maka sesungguhnya orang tersebut tidaklah termasuk as-Salaf, walaupun mereka hidup di tengah-tengah mereka dan sezaman dengan hari-hari kehidupan mereka (baca : para sahabat).

Benar! Sesungguhnya setiap penuntut ilmu yang munshif (obyektif), akan menyaksikan bahwa as-Salaf ash-Shôlih dan para pengikut mereka yang mewarisi ilmu dari mereka dan meniti jalan mereka, sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling berlimpah ilmunya, paling tulus/bersih jiwanya, paling agung nasehatnya dan paling terang jalan dan manhajnya di segala hal baik ‘ilmu dan ‘amal, karena mereka adalah para imam pemberi fatwa tentang segala urusan umat di setiap zaman dan tempat.

Mereka adalah orang yang menjaga hak yang berkaitan dengan kehormatan, darah dan harta benda.

Mereka adalah pemilik karya tulis yang lurus, yang dengannya maktabah-maktabah (perpustakaan) dan tempat peredaran ilmu bersinar berkilauan yang dapat menyembuhkan penyakit dan menghilangkan dahaga.

Mereka adalah para pendidik syar’îyyah dan pengajar ilmu yang bermanfaat lagi kokoh yang mensucikan jiwa dan menghidupkan hati.

Mereka adalah para penegak jihad yang membawa kalimat jihad kepada makna sesuai dengan batasan syariat yang mulia.

Mereka adalah ahlun nuhâ (orang-orang berakal) dan pemilik hikmah dan ihsân di dalam manhaj da’wah ilallôh, jihad fi sabîlillâh dan al-Amru bil Ma’rŭf wan Nahyu ‘anil Munkar, dengan kepemimpinan, dhawâbit (kriteria), batasan dan tingkatannya.

Karena itulah, mereka tidaklah sama dengan selain mereka, dari jama’ah-jamaha’ah dan partai-partai yang mengelola dakwahnya baik secara sirrîyah (sembunyi-sembunyi) maupun ‘alanîyah (terang-terangan), yang menyelisihi salaf pada hampir keseluruhan dari qowâ’id (kaidah-kaidah) manhaj dakwah mereka, baik dalam wasilah dan tujuannya.

Sesungguhnya as-Salaf dan para pengikut mereka di setiap zaman dan tempat, di setiap masa, lokasi dan periode, mereka adalah pemilik manhaj yang haq, yang sempurna dan menyeluruh, baik dalam perbuatan maupun ilmu. Sesungguhnya dakwah mereka dimulai dari pokok agama yang haq dan kaidahnya yang kokoh, yang mencakup seluruh permasalahan ilmu baik perkara yang besar maupun kecil.

Tidaklah heran bahwa keadaan mereka memang seperti ini, karena mereka adalah sumber keilmuan, sebab mereka adalah para ulama Robbânîyun, para Mujâhid yang sabar dan para du’at bijaksana yang lurus.

Maka wajib bagi kita meniti âtsar mereka baik di dalam amal maupun ilmu, berjalan di atas manhaj mereka di dalam dakwah ilallâh dan jihâd fî sabîlillâh, di dalam amar ma’rūf dan nahi munkar, di dalam hukum al-Walâ`wal Barô`, dan di dalam mu’âmalah (interaksi) syar’îyah yang baik terhadap Allôh Azza wa Jalla dan terhadap semua makhluq.

Kita wajib berpegang kepada semua ini dengan tali Allôh yang kokoh, yang tampak di dalam ittiba’ (peneladan) terhadap Kitab-Nya yang terang dan sunnahnya penghulu para Nabî dan Rasūl yang shaĥîĥ Shallâllâhu ‘alaihi wa ‘alâ Alihi wa Shoĥbihi Ajma’în.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh seorang penyair

كل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف

“Setiap kebaikan itu di dalam peneladan yang dilakukan oleh kaum salaf Dan setiap keburukan itu di dalam pengada-adaan bid’ah yang dilakukan kaum kholaf.”

Inilah wahai para pembaca budiman, sebagian kekhususan para ulama salaf dan ciri khas manhaj mereka secara ringkas :

1. I’timâd (berpegangnya) mereka dengan nushush (nash-nash) al-Kitâb dan as-Sunnah dengan pemahaman yang shaĥîĥ

Dan interaksi mereka terhadap nash-nash ini yang tercermin dalam kehidupan mereka, baik dalam amal dan ilmu, baik dalam perkataan dan perbuatan, secara zhahir dan bathin, sesuai batasan firman Allôh Azza wa Jalla :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.”

(QS al-Hasyr : 7)

2. Niat yang lurus dan tujuan yang baik terhadap semua hal yang mereka lakukan dan yang mereka tinggalkan.

Disertai dengan kesabaran, ĥikmah dan al-Mau’izhah al-Ĥasanah (pelajaran/nasehat yang baik) yang dianggap merupakan asas utama di dalam menegakkan dakwah Islâm.

3. Iltizâm (berpegang kuat) secara sempurna terhadap manhaj para Nabidan Rasūl yang mulia di dalam dakwah mereka yang diridhai, berperangai dengan akhlaq mereka yang suci, yang terpancar dari kaidah-kaidah syar’iyah.

4. Jalan dan manhaj yang jelas di dalam aktivitas dakwah ilallâh dan amar ma’rūf nâhi munkar, tidak bersifat sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan tidak pula mendirikan organisasi atau jama’ah-jama’ah rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh kaum hizbîyūn harokîyūn di setiap negeri kaum muslimin.

Namun as-Salaf, mereka menampakkan dakwah mereka secara terang-terangan di dalam dakwah ilallâh dan ta’lim (mengajarkan) hamba-hamba Allôh, mereka curahkan nasehat bagi ummat menurut keadaan dan kedudukannya, serta beramar ma’rūf nâhi munkar dalam batasan kemampuan syar’iyah dan menetapi adab-adab Islamiyah.

5. Mencintai sikap berlapang-lapang (at-Tawassu’) di dalam ilmu syar’iyah dan wasa`il (sarana-sarananya), dikarenakan Allôh dan Rasūl-Nya mencintai hal ini.

Tidak sedikit ayat dan ĥadîts yang memuji dan menyanjung sifat ini. Oleh karena itu, tidak perlu kita menghiraukan tuduhan yang mengatakan bahwa salafîyyun adalah penghafal matan dan catatan kaki[2. Sebagaimana tuduhan DR. ’Abdullâh ’Azzâm –semoga Allô merahmati beliau dan mengampuni dosa kami dan beliau- di dalam Majalah al-Jihâd, no. 53 dalam artikel berjudul ”Jâ`al Haq wa Zahaqol Bâthil”, th. 1989].

Karena Allôh sendiri yang memuji sebagaimana dalam firman-Nya :

وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِي

”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS al-Mujâdilah : 11)

Dan Firman-Nya :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

(QS Fâthir : 28)

Juga di dalam sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

”Barangsiapa yang Allôh mengehendaki kebaikan pada seseorang, niscaya ia fahamkan ia di dalam agama, dan sesungguhnya ilmu itu adalah dengan belajar.”

[Muttafaq ’alayhi]

Dan sabda beliau :

إِنَّمَا العُلَمَاء ورَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

”Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabî.”

[HR Abū Dâwud, Tirmidzî dan Ibnu Ĥibbân].

6. At-Tawâdhu’ (rendah hati) di dalam belajar dan menyebarkan ilmu, beradab yang baik terhadap makhluk, terutama terhadap para ulama karena mereka pemilik ilmu yang keutamaannya tinggi dan kedudukannya mulia.

Maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk beradab terhadap makhluk.

Allôh Ta’âlâ berfirman :

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan.”

(QS al-Furqân : 63)

Dan sabda Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :

وَ مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إَلا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang itu bersikap rendah hati karena Allôh melainkan Allôh akan angkat kedudukannya.”

[HR Muslim]

Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair :

تواضع تكن كالبدر لاح لناظر على صفحات الماء وهو رفيع
ولا تك كالدخان يعلو بنفسه إلى طبقات الجو وهو وضيع

“Tawâdhu’ (rendah hati) itu menjadikanmu laksana bulan bergemerlap bagi orang yang memandangnya di atas permukaan air sedangkan bulan itu tinggi

Janganlah kamu bagai asap yang terbang melayang meninggikan dirinya di lapisan udara padahal asap itu hina/rendah.”

Sebaliknya, perangai yang kaku keras lagi bengis, yang merasa tinggi hati lagi pembual, maka sesungguhnya sifat-sifat ini akan menghinakan seorang penuntut ilmu. Maka bersegera dan bersegeralah menuju kepada akhlaq yang mulia, dan jauhi da jauhilah akhlaq yang buruk lagi tercela!

Di dalam sebuah hikmah dikatakan :

العلم حرب للمتعالي كالسيل حرب للمكان العالي

“Ilmu itu memerangi sikap tinggi hati sebagaimana banjir itu memerangi tempat yang tinggi.”

7. Menaruh perhatian di dalam meramaikan halaqoh ilmu

Terutama di pusat utamanya, yaitu Masjid sebagai tempat termulia dan paling dicintai oleh Allôh, dan di tempat-tempat lainnya seperti lembaga-lembaga pengajaran semisal sekolah-sekolah, atau bahkan di setiap tempat yang memungkinkan untuk menyebarkan ilmu dengan cara yang benar.

Menurut salaf ilmu-ilmu yang patut difokuskan adalah :

– Al-Qur`ânul Karîm dan kaidah-kaidah tajwîd bacaannya, untuk meluruskan lisân dan membenarkan bacaannya.

– Tafsîr Al-Qur`ân beserta ilmu-ilmunya, yang dipilihkan dari buku-buku tafsîr salafîyah yang lurus, seperti Tafsîr Ibnu Jarîr, Ibnu Katsîr dan selainnya.

– Ilmu ‘Aqîdah dalam semua babnya, beserta tahqîq (penelitian) terhadap segala hal yang menafikan tauĥîd dan mengoyak kesempurnaan I’tiqâd. Buku-buku ‘aqîdah yang mu’tabar di dalam masalah ‘aqîdah adalah:

“Kitâbut Tauĥîd” karya Ibnu Khuzaimah,
“Kitâbut Tauĥîd” karya Ibnu Mandah,
“Kitâbus Sunnah” karya ‘Abdullâh bin Aĥmad,
“Kitâbus Sunnah” karya al-Khollâl,
“Ushulul I’tiqâd” karya al-Lâlikâ`î,
“al-Ibânah” karya Ibnu Baththoh al-Ukbarî,

Karya-karya tulis Imâm Ibnu Taimîyah, Ibnu Qoyîm al-Jauzîyah dan buku-buku lainnya di dalam bidang ini, sebagai tambahan pula kitab-kitab tauhid yang termaktub di dalam kitab ash-Shiĥâh dan as-Sunan pada kitab-kitab ĥadîts.

Termasuk pula buku-buku ‘aqîdah yang ada di hadapan kita di zaman ini, yaitu tulisan-tulisan dan fatâwâ di dalam masalah ‘aqidah oleh asy-Syaikh al-Imâm al-Mujaddid Muĥammad bin ‘Abdil Wahhâb,

Termasuk buku-buku karya putera-putera, keturunan dan murid-murid beliau dari kalangan ulama Najd ar-Robbâniyîn serta selain mereka, terutama yang patut disebut adalah Penulis buku “Ma’ârijul Qabūl” dan “A’lâmus Sunnah al-Mansyūrah fî I’tiqâd ath-Thô`ifah al-Manshūrah”, seorang Allâmah di zamannya, Ĥâfizh bin Aĥmad bin ‘Alî al-Ĥakamî.

asy-Syaikh yang mulia ‘Abdūl ‘Azîz bin Baz al-Atsarî,
asy-Syaikh yang mulia Muĥammad Nâshiruddîn al-Albânî,
asy-Syaikh yang mulia Muĥammad bin Shâliĥ al-‘Utsaimîn,
asy-Syaikh yang terhormat Ĥammūd at-Tuwaijirî,
asy-Syaikh yang terhormat Muĥammad Amân ‘Alî al-Jâmî

–semoga Allôh merahmati merekasemua-.

Juga asy-Syaikh yang terhormat Shâliĥ bin Fauzân bin ‘Abdillâh al-Fauzân,
asy-Syaikh yang terhormat ‘Abdūl ‘Azîz al-Muĥammad as-Salmân,
asy-Syaikh yang terhormat Rabî’ bin Ĥâdî al-Madkholî,
asy-Syaikh yang terhormat Shâliĥ bin Sa’d as-Suĥaimî,
asy-Syaikh yang terhormat ‘Alî bin Nâshir al-Faqîhî,
asy-Syaikh yangterhormat ‘Ubaid al-Jâbirî,
asy-Syaikh yang terhormat Muĥammad bin Ĥadî al-Madkholî,
asy-Syaikh yang terhormat Muĥammad bin Robî’ al-Madkholî,
asy-Syaikh Aĥmad Yahyâ an-Najmî,
asy-Syaikh Shâliĥ bin‘Abdil ‘Azîz Alusy Syaikh

Dan selain mereka dari para ulama as-Salaf di zaman ini, semoga Allôh memperbanyak jumlah mereka dan menjadikan mereka dan ilmu mereka bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Mereka semua ini memiliki karya-karya tulis yang bermanfaat dan rekaman-rekaman ceramah yang membahas masalah ‘aqîdah as-Salafîyah.

– ‘Ilmu al-Ĥadîts, yang dipetik darinya dan dari al-Qur`ân, fikih yang terperinci bagi rukun-rukun Islâm, Umân, Iĥsân dan keterangan ĥalâl dan ĥarâm, dan perincian seluruh ĥukum yang Allôh bebankan kepada manusia.

– ‘Ilmu Farô`idh yang mana begitu butuhnya umat ini terhadap ilmu ini yang apabila mereka memahaminya, niscaya akan terpenuhilah hakhak kepada para pemiliknya.

– ‘Ilmu as-Sîrah an-Nabawîyah dan segala pelajaran yang terkandung di dalamnya. Inilah bidang-bidang ilmu syar’iyah mulai dari yang terpenting hingga yang ke penting, dan kesemuanya ini harus dipelajari menurut tingkatan dan kebutuhannya.

8. Bersikap ar-Rifq (ramah), ĥilm (lembut) dan ‘anât (tenang) kepada makhluk pada batasan syar’i.

Kesemua sifat yang baik ini merupakan sifat yang harus dimiliki du’at yang berdakwah ke jalan Allôh. Banyak sekali ayat-ayat yang terang dan tegas dan ĥadîts-ĥadîts yang shaĥîĥ yang mendorong untuk bersifat dengan sifat-sifat yang mulia ini.

Diantaranya adalah firman Allôh :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

(QS al-A’râf : 199)

Dan firman-Nya :

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”

(QS Fushshilat : 34-35)

Sabda Nabî kepada Asyaj ’Abdul Qays :

إِنَّ فِيْكَ خُصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ, الحِلْمُ وَالأَنَةُ

”Sesungguhnya engkau memiliki dua perangai yang dicintai Allôh, yaitu kelemahlembutan dan ketenangan.”

[HR. Muslim]

Dan sabda beliau Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :

إِنّ اللهَ رَفِيْقُ يُحِبُّ الرِفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allôh itu Maha Lembut, dan mencintai kelemahlembutan pada segala hal.”

[HR Muslim].

Sunguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair :

أحب مكارم الأخلاق جهدي وأكره أن أعيب وأن أعاب

وأصفح عن سباب الناس حلما وشر الناس من يهوي السبابا

و من هاب الرجال تهيبوه ومن حقر الرجال فلن يهاب

“Aku menyukai akhlaq yang mulia maka kutekuni dan kubenci mencela dan dicela orang lain

Aku berpaling dari cercaan manusia dengan kelemahlembutan dan seburuk-buruk manusia itu adalah orang yang gemar mencerca

Barangsiapa yang memuliakan orang lain maka ia akan dimuliakan, dan barangsiapa yang merendahkan orang lain ia takkan dihormati.”

Berangkat dari nash-nash dan hikmah inilah, salafîyun menganggap sifatsifat yang mulia ini –yaitu ar-Rifq, al-Ĥilm dan al-Anât- sebagai penopang dakwah mereka dan mereka pun berperangai dengannya. Oleh karena itulah Allôh menentukan kesukesan bagi dakwah mereka di setiap zaman dan tempat.

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

”Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar”

(QS al-Ĥadîd : 21)

9. Pemahaman yang benar dan penerapan yang syar’i terhadap hukum al-Walâ` wal Barô` bagi Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah

Yang berangkat dari sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :

أَوْثَق عُرَى الإِيْمَان الحُبٌّ فِي اللهِ والبُغْضُ فِي اللهِ

”Tali iman yang terkuat adalah mencinta karena Allôh dan membenci karena Allôh”

[HR Aĥmad].

Di dalam lafazh lain dikatakan :

أَوْثَق عُرَى الإِيْمَان المُوَلاَة فِي اللهِ وَالمُعَادَة فِي اللهِ الحُبٌّ فِي اللهِ والبُغْضُ فِي اللهِ

”Tali iman yang terkuat adalah berloyal dan berlepas diri karena Allôh serta mencinta dan membenci karena Allôh”

[HR as-Suyūthî dalam al- Jâmi’ ash-Shaghîr dan diĥasankan oleh al-Albânî].

Yang semakna dengan kedua ĥadîts di atas, adalah ucapan Ibnu ’Abbâs radhiyallâhu ’anhu, seorang sahabat yang bergelar Turjumânul Qur`ân (penterjemah al-Qur`ân) :

”Barangsiapa yang mencinta, membenci dan berwala’ karena Allôh, maka ia akan mendapatkan wilâyah (kecintaan) dari Allôh yang tidak akan diperoleh oleh seorang hamba rasa iman ini walaupun ia banyak melakukan sholat dan puasa, sampai ia melakukan kesemua hal ini.”

[Lihat Jâmi’ al-’Ulūm wal Ĥikam karya Ibnu Rojab al-Hanbalî hal. 30].

Sebuah Penutup

Demikianlah kurang lebih apa yang dapat disarikan dari ulasan Fadhîlatusy Syaikh Zaid al-Madkholî hafizhullâhu. Semoga apa yang beliau sampaikan bisa menjadi bahan bercermin bagi kita semua. Semoga Allôh memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, agar dapat menjadi seorang salafîy sejati…

Iklan

2 Komentar

Filed under As-Salafiyyah, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah

2 responses to “Siapakah seorang salafiy?

  1. Ping-balik: Siapakah seorang salafiy? « Learn something by Tomy gnt

  2. Indra Ganie-Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten

    Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain semoga tuhan mempercepat kebangkitan kaum Muslim, memulihkan kejayaan kaum Muslim, melindungi kaum Muslim dari kesesatan – terutama melindungi kaum Muslim dari kemurtadan, memberi kaum Muslim tempat yang mulia diakhirat – terutama mempertemukan kita di surga dengan Nabi Muhammad Shallahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam, juga bertemu dengan keluarga besar beliau, serta bertemu dengan para sahabat beliau. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

    A’udzubillaahiminasysyaithaanirrajiim

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin,

    Arrahmaanirrahiim

    Maaliki yaumiddiin,

    Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,

    Ihdinashirratal mustaqiim,

    Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladhaaliin

    Aamiin

    Bismillaahirrahmanirrahim

    Alhamdulillaahirabbil ‘alamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu, wa yukafi mazidahu, yaa rabbana lakal hamdu. Kama yanbaghi lii jalaali wajhika, wa ‘azhiimi sulthaanika.

    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammad wa ‘alaa aalhi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya semuanya.
    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin. Shalaatan tunjinaa bihaa min jamii’il-ahwaali wal aafaat. Wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al-haajaat. Wa tuthahhiruna bihaa min jamii’is-sayyi-aat. Wa tarfa’unaa bihaa ‘indaka a’lad-darajaat. Wa tuballighuna bihaa aqshal-ghaayaati min jamii’ilkhairaati fil hayaati wa ba’dal mamaat.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya dan umatnya, shalawat yang dengannya kami selamat dari semua ketakutan dan bencana, dan Engkau sucikan kami dari semua kejahatan, Engkau angkat kami ke derajat yang tinggi di sisiMu, dan Engkau sampaikan semua cita-cita kami berupa kebaikan-kebaikan dalam hidup maupun sesudah mati.

    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa nuuril anwaar. Wa sirril asraar. Wa tiryaqil-aghyaar. Wa miftaahil baabil yasaar. Sayyidinaa wa Maulaanaa Muhammadanil-mukhtaari wa aalihil-ath-haari wa ash-haabihil akhyaar. ‘Adada ni’amillaahi wa afdhaalih.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkah atas cahaya di antara segala cahaya, rahasia di antara segala rahasia, penetral duka, dan pembuka pintu kemudahan, junjungan dan pemimpin kami Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karuniaNya.

    Allaahumma shalli shalatan kaamilah. Wa sallim salaaman taamman ‘alaa Sayyyidina wa Maulaana Muhammadanil-ladzii tanhallu bihil-‘uqad. Wa tanfariju bihil-kuruub. Wa tuqdhaa bihil hawaa-iju wa tunaalu bihir-raghaa-ibu wa husnul-khawaatim. Wa yustasqal-ghamaamu biwajhihil-kariim. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’luumin laka.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan salaam yang sempurna pula, kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad, yang dengan beliau itu Engkau lenyapkan kesusahan, Engkau tunaikan segala kebutuhan, dan diperoleh segala keinginan dan akhir hidup yang baik, serta diberi minum dari awan berkat
    wajahMu yang mulia. Juga kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya dalam setiap kejapan mata dan tarikan nafas, sebanyak jumlah pengetahuan yang Engkau miliki.

    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammadinil-habiibil-mahbuub. Syaafil ‘ilali wa mufarrijil-kuruub. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi wa baarik wa sallim.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad, kekasih dan yang dikasihi, (dengan izin Allah) penyembuh penyakit dan pelepas kesusahan, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.

    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaanaa Muhammadin fil-awwaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaanaa Muhammadin fil-aakhirin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaanaa Muhammadin fin-nabiyyiin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaanaa Muhammadin fil-mursaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaanaa Muhammadin fil mala-il a’laa ilaa yaumid-diin. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang terdahulu. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang kemudian. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para nabi. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para rasul. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para arwah hingga hari kemudian, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.

    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ‘adada in’aamillaahi wa ifdhaalih.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya sebanyak jumlah nikmat Allah dan karuniaNya.

    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaanaa Muhammadin wa ikhwaaniihi minal anbiyaa-i wal mursaliin wa azwaajihim wa aalihim wa dzurriyatihim wa ash-haabihim wa ummatihim ajma’iin.

    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkah kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad, para saudaranya dari nabi dan rasul, para istrinya, para keluarganya, para keturunannya dan para umatnya semua.
    Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fiddiini waddun-yaa wal akhirati wa ’aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wabarakatan firrizqi wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal maut. Allaahuma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti, wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indal hisaab.

    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu keselamatan dalam agama, dunia, akhirat, kesejahteraan/kesehatan jasmani, bertambah ilmu pengetahuan, rezeki yang berkat, diterima taubat sebelum mati, dapat rahmat ketika mati dan dapat ampunan setelah mati. Ya Allaah, mudahkanlah kami pada waktu sekarat dan selamatkanlah kami dari api neraka serta kami mohon kemaafan ketika dihisab.

    Allaahuma inna nas’aluka ridhaka waljannata wana’uudzubika min shakhkhatika wannaar.

    Ya Allaah, sesungguhnya kami mohon keridhaan-Mu dan sorga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka.

    Allaahumma inna nas aluka husnul khaatimah wa na’uudzubika min suu ul khaatimah.

    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu akhir yang baik dan berlindung dari akhir yang buruk.

    Allaahummadfa’ ‘annal balaa-a walwabaa-a walfahsyaa-a wasy-syadaa-ida walmihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa haadzaa khaash-shataw wamin buldaanil muslimuuna ‘aammah.

    Ya Allaah, jauhkanlah bencana, wabah, kekejian, kekerasan dan cobaan – yang terlihat maupun tersamar – dari negeri kami khususnya dan dari dunia Muslim umumnya.

    Allaahumma ahlkil kafarata walmubtadi-‘ata walmusyrikuun, a’daa-aka a’daa-ad diin.

    Ya Allaah, hancurkalah musuhmu, musuh agamamu, yaitu orang kafir, bid’ah dan musyrik.

    Allaahumma syatttit syamlahum wa faariq jam-‘ahum, wazalzil aqdaamahum.

    Ya Allaah, cerai beraikanlah persatuan mereka, goyahkanlah keyakinan mereka.

    Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqiw wa-akhrijnii mukhraja shidqiw waj-‘al lii milladunka sulthaanan nashiiraa.

    Ya Allaah, masukkanlah kami melalui jalan yang benar, keluarkanlah kami melalui jalan yang benar, dan berilah aku kekuasaan yang menolong.

    Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena imaamaa.

    Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa.

    Ya Allaah, terimalah amal saleh kami, ampunilah amal salah kami, mudahkanlah urusan kami, lindungilah kepentingan kami, ridhailah kegiatan kami, angkatlah derajat kami dan hilangkanlah masalah kami.

    Ya Allaah, tetapkanlah kami selamanya menjadi Muslim, tetapkanlah kami selamanya dalam agama yang kau ridhai – Islam, tetapkanlah kami selamanya menjadi umat dari manusia yang paling engkau muliakan – Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallahu’alihi wa alihi wa shahbihi wa ummatihi, wa baraka wassallam.
    Ya Allaah, percepatlah kebangkitan kaum Muslim.

    Pulihkanlah kejayaan kaum Muslim, Lindungilah kaum Muslim dari kesesatan terutama kemurtadan. Berilah kaum Muslim tempat mulia di akhirat.

    Ya Allaah, jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim tetap dimiliki kaum Muslim. Jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Jadikanlah dunia non Muslim dimiliki kaum Muslim.
    Jadikanlah musuh Islam ditaklukan orang Islam.

    Ya Allaah, dengan hak yang kau berikan pada kalimah syahadat, Surah al-Fatihah dan shalawat, salam dan berkah semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassalam, kami mohon segala hal yang terbaik, segala hal yang terindah bagi semesta – khususnya kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslim.

    Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar wa adkhilnal jannata ma’al abraar.

    Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksaan neraka serta masukanlah kami ke surga bersama orang-orang baik.

    Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalallaahu ‘alaa sayyidina wa nabiyyina wa maulaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassalaam.

    Tuhan kami, perkenankanlah do’a-do’a kami (baik lisan maupun tulisan), karena sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang. Shalawat, salam dan berkah semoga dilimpahkan kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad s.a.w, atas keluarganya, sahabatnya dan umatnya semuanya.

    Subhana rabbika rabbil ‘izzati, ‘amma yasifuuna wa salamun ‘alal anbiyaa-i wal mursaliin, walhamdulillahirabbil ‘alamiin.

    Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.

    Indra Ganie – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s