Sebelum mengkritik/membantah…

Sebelum membantah/mengkritik, Maka:

1. Hendaknya melihat dulu apakah memang orang yang hendak kita bantah atau kritik itu; memang berada dalam posisi salah/keliru menurut timbangan syarå’ atau tidak?

Salah seorang berkata kepada Ibnu Mas’ud,

“Binasalah orang yang tidak menyeru kepada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran”,

Lalu Ibnu Mas’ud menimpali,

“Justru binasalah orang yang tidak mengetahui dengan hatinya kebaikan dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran.”

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf beliau no. 37581)

Tidak ber-amar ma’ruf nahi munkar adalah suatu musibah, namun tidak mengilmui mana yang dikatakan ma’ruf dan mana yang disebut mungkar oleh syari’at adalah musibah yang lebih besar lagi!

Karena jika seseorang tidak mengetahui tentang yang ma’ruf, boleh jadi ia akan memerintahkan suatu perkara yang disangkanya ma’ruf padahal hakikatnya mungkar sementara ia tidak tahu.

Bisa jadi ia akan melarang sesuatu yang sebenarnya ma’ruf, dan mengajak kepada sesuatu yang sebenarnya mungkar.

Allåhul musta’aan.

Imam Ibnu Rajab mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud di atas dan berkata,

“Maksud beliau adalah bahwa MENGETAHUI yang ma’ruf dan mungkar dengan hati adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap orang.

Maka barang siapa yang tidak mengetahuinya maka dia akan binasa, adapun mengingkari dengan lisan dan tangan ini sesuai dengan kekuatan dan kemampuan.”

(Jami’ul Ulum wal Hikam 2/258-259)

2. Perlu diperhatikan juga apakah kritikan tersebut kita layangkan berdasarkan murni karena Allåh (memberi nasehat) ataukah karena hawa nafsu (yang didasarkan dengki/mencari-cari kesalahan)?

Syaikh al-Albaniy berkata:

“Aku menasehatkan bagi orang yang ingin membantahku -atau selainku-, atau menjelaskan ketergelinciranku, hendaknya bantahan tersebut TULUS MURNI untuk TUJUAN NASEHAT, bukan HASAD dan KEBENCIAN yang menghancurkan agama”

3. Hendaknya orang yang hendak mengkritik/membantah memiliki HUJJAH (argumentasi yang terang dan jelas.

Lihat QS:

– An-Nahl: 35 dan 82
– Al-Ankabut: 18
– At-Taghaabun: 12
– Al-Maaidah: 92
– An-Nur: 54

4. Hendaknya orang yang hendak mengkritik/membantah menyiapkan kata-kata, yang mungkin dengan kata-kata tersebut NASEHAT AKAN TERSAMPAIKAN kepada orang yang hendak kita nasehati.

Yakni kata-kata yang MUDAH DIPAHAMI, tidak menggurui, dan juga kata-kata yang semoga dengannya ia dapat meninggalkan kezhalimanya.

‘Ali rådhiyallåhu ‘anhu berkata:

Berbicaralah kepada manusia dengan ucapan yang mereka fahami. Apakah kalian ingin Allah dan RasulNya di dustakan (disebabkan ulah kalian -abu zuhriy)?

[Ibnu Hajar, Fathul Bari, jilid 1, halaman 225, cetakan Darul Fikr. Imam Adz Dzahabi, Syi’ar A’lam An Nubala, Jilid 2 halaman 597, cetakan Muassasah. Ibnu Taimiyah, Al Fatawi Al Kubra, jilid 13 halam 260]

5. Hendaknya pula orang cerdas dalam melihat kondisi, apakah kritikan/bantahan dilaksanakan secara terang-terangan atau empat mata?

Pada asalnya menasehati seseorang itu hendaknya EMPAT MATA, karena itu lebih menunjukkan ketulusan dalam memberi nasehat. Namun, jika sekiranya kekeliruannya menyangkut banyak pihak sehingga kekeliruannya tersebut dapat menyebabkan banyak orang ikut terjerumus dalam kesalahan seperti yang diperbuatnya, maka baiknya kita pada saat itu menasehatinya secara terang-terangan namun tetap menjaga ADAB-ADAB yang sesuatu syari’at sehingga dapat melapangkan hatinya untuk ruju’ kepada kebenaran.

6. Hendaknya kita mengetahui kapan kritikan kita harus keras, dan kapan kritikan kita harus dengan kelemahlembutan?

Lihat pembahasan lebih lengkapnya disini.

7. Hendaknya kita mengetahui SIAPA yang melakukannya (apakah orang ‘alim atau awwam)?

Tak hilang dari ingatan kita, yaitu kisah seorang Arab Badui yang buang air kecil di dalam masjid yang hendak dihardik para shahabat.

Rasulullah berkata kepada para shahabat :

“Biarkanlah dia, dan siramlah kencingnya dengan seember air. Atau segayung air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan, bukan untuk menyusahkan”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata orang badui tersebut:

“Sesungguhnya masjid ini bukan untuk kencing atau membuang kotoran lainnya. Sesungguhnya masjid ini untuk dzikrullah dan bacaan al Qur`an.”

Saking gembiranya orang Arab Badui itu, sehingga ia berdoa:

“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad, dan jangan ampuni selain kami berdua.”

8. Hendaknya kita mengetahui kita MOTIF orang yang melakukannya, maka dari itu BERTANYA dulu tentang motif dan hujjahnya sebelum mengingkari.

Bukankah ini telah ada contohnya dari Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam?

Dari Abdullah ibnu auf, dia berkata

“Tatkala Mu’adz Ibn Jabal datang dari Syam, (ia) LANGSUNG SUJUD KEPADA NABI shalallahu ‘alahi wasallam

Maka nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda :

APA YANG KAMU LAKUKAN, wahai mu’adz?

Ia berkata :

”Saya datang dari di Syam saya dapatkan mereka bersujud kepada para uskup dan pendeta mereka, saya senang bila hal itu dilakukan untukmu. ”

Nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda,

“Janganlah kamu lakukan (itu), sebab bila aku boleh menyuruh bersujud kepada selain Allah, maka aku akn perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya.

(HR Ibnu Majah, Ahmad, Al Mudziri dalam Targhib, dan disahihkan oleh Al Albani dalam Sahih Ibnu Majah dan adab Az Zafaf)

Hadits diatas mengisahkan jenis perbuatan yang menurut kita. adalah perbuatan syirik dan penuh dengan kesesatan, YANG HARUS DITINDAKI dengan KERAS.

Namun tidak dihadapan Nabi shalallahu ‘alahi wasallam dan sesungguhnya beliau telah memberikan tauladan yang baik untuk tidak serta mencela mereka, tidak juga langsung memvonis kufur kepada Mu’adz, karena disana bisa jadi terdapat faktor penghalang pada dirinya:

– Yang bisa berupa kebodohan,
– Atau belum sampai hujjah kepadanya,
– Atau ada syubhat yang belum hilang di kepalanya

Berbeda seperti apa yang terjadi dikalangan orang-orang yang sekarang ini, yang dalam dakwahnya menisbatkan kepada as-sunnah; namun penyikapannya sangat jauh dari nilai As Sunnah yang haq dengan mudahnya ia memvonis kafir atau ahlul bid’ah kepada orang yang dilihatnya melakukan penyimpangan.

Syaikh Shalih al-‘Utsaimin råhimahullåh berkata:

Oleh karena itu jika kita melihat seseorang berada di kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dia menujukan do’a pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semacam dia mengatakan :

‘Ya Muhammad, berikanlah aku rizki!’ ;

Apakah dalam kondisi semacam ini kita boleh langsung mengingkari perbuatan orang ini dengan mengatakan:

‘Engkau musyrik, engkau telah berbuat syirik, engkau telah berdo’a kepada selain Allah!”…?

Jawabannya: Jangan lakukan seperti itu. Bahkan kita biarkan hingga dia selesai berdo’a lalu kita berdialog dengannya dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Mungkin kita bisa katakan padanya,

“Akhi, siapakah yang mampu mengabulkan do’a, Rasulullah ataukah Allah Ta’ala?”

Pasti dia akan mengatakan,

“Allah.”

Lalu setelah itu kita katakan padanya,

“Jika demikian, mintalah do’a pada Allah saja, janganlah engkau menujukan satu do’a pun pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujukanlah do’amu pada Allah semata karena itu memang lebih baik padamu daripada engkau berdo’a kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena seorang Rasul tidaklah bisa mendatangkan manfaat atau bahaya, juga tidak mengetahui perkara ghoib.”

Jika orang ini sudah merasa jelas dengan penjelasan ini, barulah kita katakan bahwa yang dia lakukan adalah kesyirikan yang dapat menjadikan seseorang menjadi penghuni neraka.

(Fathu Dzil Jalali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, 1/117-120; dari: http://rumaysho.com/hukum-islam/thoharoh/409-10-pelajaran-berharga-dari-arab-badui-yang-kencing-di-masjid-nabi.html)

Semoga bermanfa’at

Iklan

2 Komentar

Filed under Adab

2 responses to “Sebelum mengkritik/membantah…

  1. Ahsanta ustadz, mohon izin berbagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s