Tanggung jawab seorang penyampai..

Orang yang menyampaikan sesuatu itu memiliki beberapa tanggung jawab diantaranya: hendaknya ia memiliki ILMU atas apa yang hendak disampaikannya; ikhlash dalam niatnya; yang ia sampaikan adalah kebenaran; benar cara penyampaiannya, jujur dan tulus dalam penyampaiannya; dan ia dapat menjadi teladan atas apa yang disampaikannya.

1. Memiliki Ilmu

Berkata asy Syaikh al-Fauzan:

“Seorang dai, hendaklah membekali diri dengan ilmu. Apabila seorang dai mengajak kepada Islam, hendaklah ia memiliki pengetahuan tentang Islam; karena mustahil seseorang mengajak kepada sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي… See More

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata”.

[Yûsuf /12 : 108]

Makna dari “bashirah” adalah ilmu serta pengetahuan yang sempurna terhadap apa yang ia dakwahkan. Demikian itulah wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya menuju khaibar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ

“Berangkatlah menuju tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam. Beritahukanlah hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan” [HR Bukhâri]

Maksudnya, jelaskan kepada mereka tentang hakikat Islam dengan sejelas-jelasnya, karena terkadang seseorang berada di atas kesesatan tetapi menganggap berada di atas kebenaran, sehingga perlu adanya penjelasan.

Dan ini, tidak mungkin dilakukan oleh orang yang jahil yang tidak mengetahui hakikat kebenaran, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk membantah syubhat-syubhat dan menjelaskan kesesatan mereka.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016; http://www.almanhaj.or.id/content/2598/slash/0%5D

2. Hendaknya ia ikhlash dalam niatnya

Syaikh Abdul Malik menjelaskan,

“Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama.

Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah

“Menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. ”

Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah

“Membersihkan amalan dari komentar manusia”,

Yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu.

Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya.”

Lihat: http://abuzuhriy.com/?p=23

3. Hendaknya yang disampaikan adalah kebenaran

Hendaknya apa yang disampaikannya itu berlandaskan kitabullåh, as-sunnah yang SHÅHIH, sesuai PEMAHAMAN SALAFUSH SHÅLIH. Bukan berdasarkan akal/pemahaman yang sempit kita, bukan berasal dari riwayat yang lemah atau palsu.

4. Benar cara penyampaiannya

Silahkan lihat disini:

Keindahan amar ma’ruf nahi mungkar
Uslub (metode) dakwah: antara lemah-lembut dan keras

5. Jujur dan tulus dalam penyampaian

– Jujur dalam dua hal:

Ia jujur dengan keilmuan yang dimilikinya, sehingga apa yang hendak dikatakannya menurut apa yang diketahuinya saja, ia menahan dirinya memperbincangkan sesuatu yang ia tidak ketahui; dan ia tidak takalluf (memberatkan dirinya) untuk mencari-cari jawaban ketika ditanyai apa yang tidak ketahui atau yang ia ragu dengannya

Ia jujur dalam penyampaiannya, penyampaiannya ini bukanlah sebatas isapan jempol, melainkan apa yang disampaikannya ini ADA PADA DIRINYA atau yang ia akan/sedang usahakan pada dirinya

– Tulus

dan ini didasari keikhlashan, sehingga dengan ikhlshan tersebut membawanya kepada akhlak yang mulia dalam penyampaiannya. ia tidak menginginkan keucali hanya wajah Allåh. ia tidak mengajak pada dirinya. ia tidak memaksakan kepada orang yang disampaikannya. dan ia berharap kebaikan kepada orang yang disampaikannya sehingga penyampaiannya selain menyampaikan kebenaran, ia ingin agar orang yang disampaikannya mendapatkan petunjuk dan berada diatas kebenaran seperti dirinya. sehingga dengan ini, ia tidak kecewa dengan celaan orang yang mencelanya, ia sabar dalam menghadapi gangguan manusia dan ia tidak ujub dengan pujian-pujian orang terhadapnya.

6. Ia menjadi teladan atas apa yang disampaikannya

karena dakwah itu dimulai DARI DIRI SENDIRI sebelum kepada orang lain, maka tentulah DIRINYALAH yang lebih dahulu ia ajak kepada kebaikan dan dilarang untuk jatuh kepada kemungkaran sebelum ia mengajak kemungkaran. maka jadilah ia adlaah ORANG YANG PERTAMA KALI mengamalkan apa yang disampaikannya.

Silahkan baca:

Ancaman Terhadap Orang Yang Mengajak Kebaikan dan Melarang Kemungkaran Tetapi Perkataannya Menyelisihi Perbuatannya

Semoga bermanfa’at dan semoga Allåh melapangkan hati kita dan memudahkan kita, agar kita bisa mengamalkannya untuk diri kita dan keluarga dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s