Amanah Ilmiyyah

Terkadang kita mendapatkan sebuah faedah berharga dari seorang kawan yang telah bersusah payah mendapatkannya, tetapi setelah itu kita menasabkannya kepada diri kita tanpa mengingat jerih payah saudara kita. Jangan, sekali-kali jangan! Hindarilah perangai jelek ini. Hargailah jasa orang lain padamu! Semoga Allah memberkahi ilmumu.

[Nasehat Al-Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi Hafizhåhullåhu ta’ala; dinukil dari: http://alashree.wordpress.com/ (dibagian kanan websitenya ‘AMANAH ILMIYYAH)]

Adapun untuk ana pribadi, insya Allåh tidak mengapa; karena kebenaran datangnya dari Allah dan segala kebaikan datangnya dari Allåh. yang penting bagi ana; kebenaran tersebar, dan ana mendapatkan kebaikan (atas amal jariyah tersebut).

Hanya saja orang yang menulis sesuatu yang didapatkannya pada seseorang kemudian ia mengatakan itu adalah dari hasil usahanya/pemikirannya sendiri; maka ini adalah pengkhianatan bagi dirinya sendiri. kasihanilah dirimu.

Contohnya:

orang-orang yang menulis hadits dan takhrijnya…

ia menulis DENGAN LENGKAP:

“Hadits ini diriwayatkan oleh:

Ahmad (III/118)
An-Nasa’i dalam kitab Al-Kubra (VI/10128/2), Al-Baihaqi dalam kitab Al-Kubra (III/239) ”

APAKAH dia sendiri yang mengecek di kitab-kitab tersebut?!

Padahal dia hanya copas; sedangkan yang meneliti hadits tersebut bukanlah dirinya. maka sandarkanlah takhrij-nya kepada yang menelitinya. itu bukanlah jerihpayahmu.

Demikian pula orang yang menuliskan:

“Allah tidak menerima rasa syukur seorang hamba atas kebaikan yang Dia curahkan apabila hamba tersebut tidak mau bersyukur (berterima kasih) terhadap kebaikan manusia dan mengingkari kebaikan mereka, karena berkaitannya dua perkara ini.”

(‘Aunul Ma’bud, 13/114)

Apakah dia sendiri yang membuka kitab ‘aunul ma’bud jilid ke 13 pada halaman 114?

Jika hanya copas saja, maka katakanlah engkau menukil copas-an diatas dari si fulan; dan ini merupakan karya si fulana. dll.

Dan yang terpenting SEBELUM kita menukilkan kita HARUS MEMASTIKAN kita memahami perkataan orang yang kita nukil tersebut sesuai dengan apa yang dimauinya. sehingga ketika kita menyandarkan perkataan ini padanya, kita benar-benar mengerti maksud perkataannya dan TIDAK SALAH PAHAM atas apa yang dikatakannya.

Jangan sampai kita menukilkan perkataan seseorang, tapi apa yang kita maksudkan tidak seperti maksud yang diinginkan orang tersebut. sehinga jadinya, kita bisa membuat fitnah dan menyandarkannya kepada orang yang kita nukil perkataan tersebut.

Ujung-ujungnya yang kena getahnya adalah yang kita nukil tersebut; padahal orang yang kita nukil tersebut tidak memaksudkan perkataannya seperti apa yang kita pahami.

Dan yang terparah adalah ketika MENUKIL FIRMAN ALLÅH dan/atau SABDA RÅSULULLÅH shållallåhu ‘alayhi wa sallam, kemudian kita pahami sendiri maksudnya, padahal bukan seperti itu yang dimaksudkan atau diinginkan Allåh dan/atau RåsulNya. Allåhul musta’aan. Semoga Allåh menjauhkan kita dari semua itu.

Inilah yang kita sebut dengan AMANAH ILMIYYAH, yang telah banyak kita tinggalkan dan kita lupakan. Semoga Allåh mengampuni kesalahan-kesalahan kita, aamiin

Iklan

1 Komentar

Filed under dakwah

One response to “Amanah Ilmiyyah

  1. Ini adalah nasehat yang baik mengingatkan kita tentang adab belajar dan berbagi terutama di dunia maya. Senang bisa menjumpai dan berkunjung di sini, jazaakallah, wassalamu’alaikum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s