Sulit ruju’ dalam dialog terbuka

Memang benar, dalam dialog terbuka kita LEBIH SULIT RUJU’ daripada empat mata. apakah mungkin karena didalam hati kita terbesit “gengsi” atau “malu” kepada manusia? semoga Allåh melapangkan hati kita untuk mengagungkan kebenaran diatas segalanya, termasuk diatas harga diri kita. karena kebenaran datangnya dari Allåh. tidak patut kita menolaknya hanya karena “gengsi”/”malu”. Allåhul musta’aan

Maka dari itulah kritikan/bantahan yang dilakukan secara dialog empat mata lebih ditekankan daripada blak-blakan secara terbuka yang disaksikan banyak orang.

Kritik dan bantahan secara empat mata sangat baik dalam beberapa sisi:

Dari sudut pandang orang yang dibantah, maka perasaan “gengsi” dan “malu”nya pada dialog empat mata lebih kecil dibandingkan jika dia dibantah dalam dialog terbuka. dan ia akan menunjukkan sikap respek kepada orang yang membantah/mengoreksinya, karena tidak memojokkan dirinya ketika orang tersebut mampu melakukannya.

Dari sudut pandang orang yang membantah, maka ini cara yang lebih selamat dari riya’ dan ujub; karena ketika membantah dan mengalahkan hujjah orang dalam dialog terbuka akan sangat mungkin perasaan ujub dan riya’ hadhir di dlam hati kita.

Disamping itu, ini berguna bagi orang-orang yang belum dikenal orang banyak (atau orang yang belum ahli ilmu) ketika ia hendak menyampaikan kebenaran dengan orang-orang yang dibesarkan atau orang-orang yang memang berilmu (lebih berilmu darinya);

Bayangkan saja jika kita berada dalam satu mesjid, membantah kiai yang dibesarkan oleh masyarakat setempat secara terang-terangan. pastilah yang disalahkan itu kita; karena masyarakat pasti akan mengatakan “siapa dia, siapa kamu!?” dan juga kiainya bisa pakai jurus andalannya “sudah belajar berapa lama kamu! sudah bisa bahasa arab belum! siapa guru-guru kamu! dsb”

Disisi lain, menyampaikan secara empat mata lebih terlihat keikhlashan kita dalam menasehati, yakni bukan untuk merendahkan orang di hadapan orang banyak, dan bukan pula untuk meninggikan diri kita didepan khalayak ramai. terlihat juga ketulusan, yakni kita memilih untuk menasehati dalam menempuh dialog empat mata agar orang itu ruju’, dan juga bahwa dialog empat mata tersebut memang benar-benar dimaksudkan murni untuk menasehati dan mengajak kepada kebenaran, bukan untuk merendahkan orang dan meninggikan diri kita.

Akan tetapi dari penjelasan diatas, tetap ada dua cara dalam menasehati orang, apakah secara terang-terangan ataupun empat mata DENGAN MELIHAT:

– jenis kesalahan,
– situasi dan kondisi,
– SIAPA KITA dan SIAPA DIA?
– dll.

itulah yang dinamakan bersikap dengan hikmah

Wallåhu a’lam.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s