Urgensi Amanah Ilmiyyah

Disusun oleh : al-Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Muqoddimah

Diantara sifat para Rasul yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam Al- Qur’an bahwasanya mereka adalah pemberi Nasihat dan orang-orang yang amanah.

Diantara sifat generasi terbaik umat ini adalah orang-orang yang menjaga amanah, karena akan datang generasi sesudah mereka yang berkhianat dan tidak amanah sebagaimana dijelaskan oleh oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadist Imron bin Husain rodhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh al- Imam al-Bukhori dan Imam Muslim didalam kedua shohihnya.

Adapun di zaman akhir ini jadilah amanah sebagai sesuatu yang langka, sekalipun dikalangan kaum muslimin.Sulit sekali dijumpai pada hari ini orang-orang yang benar dalam amanah . Banyak manusia yang tergiur dengan dunia sehingga lalai dari kewajiban menunaikan amanah. Hal ini terjadi pada semua bidang kehidupan tidak terkecuali bidang ilmu Syar’I yang pada hari-hari ini banyak dimasuki oleh orang –orang yang bukan ahlinya, tidak dari segi kapasitas keilmuan dan tidak juga dari segi adab-adab seorang pengemban ilmu.

Karena itu Insya Allah pada pembahasan kali ini kami akan menyumbangkan sedikit saham kami didalam menghasung kaum muslimin umumnya dan para pengemban ilmu khususnya kepada akhlaq yang muliya ini, yaitu amanah didalam ilmu dengan banyak mengambil faedah dari kitab” Tahrifun Nushush min Maakhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidlal” karya Syaikh al Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid.

NILAI SEBUAH AMANAH

Amanah secara bahasa terambil dari kata اَلأَمْنُ yaitu ketenangan hati. Amanah merupakan lawan dari khianat

(lihat Mu’jam Maqoyis Lughoh oleh Ahmad bin Faris: 1/133 – terbitan Darul Jail Beirut cetakan pertama 1411H)

Amanah secara istilah adalah segala sesuatu yang dipikulkan kepada seorang muslim dari taklif-taklif syariat dan yang lainnya.

(Lihat al Masu’ah Fiqhiyyah: 6/236 dan Mu’jam Lughotil Fuqoha’ hal 88)

Amanah hukumnya wajib, sehingga harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya di dalam setiap amanah yang dipikul oleh setiap manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya… ”

(QS. An- Nisa’ [4]: 58 )

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rohimahullah berkata di dalam kitabnya (Tahrifun Nushush min Maakhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidlal” hal : 113):

“Para ulama berkata : “Menjaga amanah akan membawa kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan khianat akan membawa kepada kebinasaan di dunia dan di akhirat.

Karena itulah maka amanah merupakan pokok yang paling pokok di dalam kehidupan seorang muslim. Orang yang amanah memiliki nilai yang agung dan kedudukan yang tinggi baik di dalam syariat, adat istiadat manusia, maupun dalam bermua’malah dengan mereka di dalam kehidupan.

Para Ulama telah menjelaskan bahwa termasuk kewajiban pemerintah:

“Menyiapkan orang-orang yang amanah dan orang-orang yang beritikad baik di dalam memberikan tugas-tugas dan penjagaan terhadap harta-harta , agar tugas-tugas bisa terlaksana dengan baik ditangan orang-orang yang ahli dan harta-harta bisa terjaga di tangan orang-orang yang amanah.”

(Ahkam Sulthoniyyah oleh al Mawardi hal 15-16)

Allah Azza wa Jalla berfirman :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

(QS. Al Qoshosh [28]: 26 )

Allah Azza wa jalla melarang khianat di dalam memegang amanah , sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

(Qs. Al-Anfal [8]:27 )

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Orang yang ghisy ( curang ) terhadap kami maka dia bukanlah golongan kami

(HR. Muslim: 1/99)

AMANAH DI DALAM ILMU

Berdasarkan dail-dalil di atas, para ulama menjadikan amanah sebagai persyaratan di dalam urusan-urusan dan tugas-tugas seperti: wasiat, wakaf, hakim , saksi, dan para ahli di dalam bidangnya masing-masing, termasuk seorang ‘alim didalam ilmunya.

Adapun ilmu yang dimaksud yang paling agung dalam hal ini adalah ilmu tentang al- Kitab dan as sunnah dengan memahami keduanya berdasarkan pemahaman yang benar.

Karena ilmu adakalanya penukilan yang jujur dan adakalanya adalah istidlal yang muhaqqoq ( cermat ) sedangkan amanah adalah pokok dari keduanya, maka dalam hal ini amanah adalah perhiasan yang diperintahkan secara Syar’iy.

Sedangkan khianat adalah cabang yang rusak yang menggerogoti pokok yang agung ini dan dia adalah tabiat yang terlarang. Diantara contoh Khianat adalah ” tahrif ” ( penyelewengan ) yang merupakan pembatal terbesar terhadap amanah penukilan Nash. Adapun perusak terbesar didalam amanah adalah analisa istidlal dan makna-makna.

Oleh karena itu wajib atas penuntut ilmu agar benar-benar berhias dengan amanah ilmiah di dalam mencari ilmu, mengembannya, mengamalkannya dan didalam menunaikannya.

(Hilyah Tholibil Ilmi hal : 59 )

Sesungguhnya keberuntungan umat adalah didalam kebaikan amalan-amalanya, sedangkan kebaikan amalan-amalanya ialah di dalam ke shohihan ilmu-ilmunya, dan keshohihan ilmu-ilmunya adalah hendaknya diemban oleh orang-orang yang amanah di dalam hal yang mereka riwayatkan dan yang mereka sifati. Barang siapa berbicara di dalam ilmu dengan tanpa amanah, maka sungguh dia telah melukai ilmu dan meletakkan batu penyumbat di jalan yang menuju pada keberuntungan umat.

” Tidaklah lepas kelompok-kelompok yang menisbahkan diri kepada ilmu dari person-person yang tidak menuntut ilmu agar bisa menghiasi diri dengan keutamaan yang paling luhur atau agar mereka bisa memberi manfa’at kepada manusia dengan yang mereka ketahui dari hikmah. Orang-orang seperti mereka ini tidak ada tempat yang tetap bagi amanah di dalam diri-diri mereka, hingga mereka tidak merasa berat untuk meriwayatkan hal-hal yang tidak mereka ketahui. Inilah hal yang membawa para pemuka ahli ilmu kepada kritikan terhadap para perowi, dan memilah antara orang-orang yang berlebihan dalam berbicara dari orang yang mengungkapkannya sesuai dengan kadar yang dia ketahui.

Sehingga jadilah para penuntut ilmu di atas bashiroh( ilmu ) terhadap nilai tulisan yang mereka baca, tidak tersembunyi atas mereka kedudukannya, dari pemastian kebenaran atau kedustaanya, atau lebih kuatnya salah satu dari keduanya atas yang lainnya, atau kemungkinan kesamaan keduannya.”

(Rosail Ishlah oleh Syaikh Muhammad al- Khudair Husain :1/13 dengan perantaraan al- Hilyah hal. 59-60 )

Syaikh Bakr bin Abdulloh Abu Zaid berkata :

“Barang siapa yang mengkhianati amanah dengan melakukan tahrif sebuah ayat di dalam nashnya dan di dalam istidlal dengannya , maka sungguh dia telah jatuh keadilannya, membawa dirinya kepeda Jahr ( cela ) yang parah dan adzab yang pedih.”

Hal ini juga berlaku atas orang yang telah mengkhianati amanah dengan melakukan tahrif terhadap hadist nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang muliya.

Orang yang berkhianat di dalam menukil perkataan seorang ulama dapat dikatakan bahwa dia bicara padahal tidak bicara, atau mengaburkan perkataannya dengan dipotong dan semacamnya, maka ini termasuk bentuk tahrif dan khianat .

(Tahrifun Nushush min Maakhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidlal : hal 115 )

ALLAH MENJAGA AGAMA INI DENGAN ORANG_ORANG YANG AMANAH

Allah azza wa Jalla telah menyiapkan bagi Sunnah Nabawiyyah itu orang-orang yang hati mereka telah diresapi ketakwaan. Mereka tempuh jalan para sahabat di dalam periwayatan sunnah, tidaklah mereka meriwiyatkan kecuali yang mereka yakini tentang keshohihannya.

Setelah sepakat atas kehati-hatian yang sangat ini mereka terbagi menjadi dua kelompok :

– Kelompok yang tidak mengubah satu huruf pun dari riwayat, diantara mereka adalah al-Qosim bin Muhammad bin Abi Bakr ash- Shiddiq rohimahullah, Haiwah bin Syuraih Rohimahullah dan Muhammad bin Sirin rohimahullah.

– Kelompok yang lain dari orang-orang yang mendapat petunjuk ini adalah orang-orang yang berusaha menjaga riwayat hadist atas maknanya, mereka memandang tidaklah mengapa mengungkapkan hadist dengan lafadz yang berbeda dengan riwayatnya dengan syarat bisa menunaikan makna sesuai aslinya, diantara yang menempuh jalan ini adalah Hasan al-Bashri rohimahullah, Asy-Sya’bi rohimahullah dan Ibrohim an- Nakho’i rohimahullah.

Telah menyelundup diantara orang-orang yang amanah ini, yaitu orang-orang yang sama-sama meremehkan kejujuran, akan tetapi berbeda-beda di dalam maksud-maksud mereka. Diatara mereka adalah :

1. Orang Jahil,

Yang menyangka bahwa termasuk jalan-jalan kebajikan kepada agama adalah membuat hadist-hadist palsu yang menghasung atas amal-amal sholih yang dianjurkan, seperti Nuh bin Abi Maryam yang membuat hadist-hadist palsu yang menerangkan tentang keutamaan –keutamaan surat-surat Al-Qur’an .

Dia berkata :

“Aku melihat orang-orang berpaling dari Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan Fiqih Abu Hanifah dan Maghozi Ibnu Ishaq, maka aku buat hadist-hadist ini untuk mengajak mereka kepada Al-Qur’an”.

2. Orang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya,

Hingga membuat hadist-hadist yang mendukung madzhabnya atau untuk mendapatkan dunia yang fana, seperti orang yang memalsukan hadist yang mencocoki keinginan penguasa, agar dia mendapatkan nama disisi mereka. Inilah Ghiyats bin Ibrohim , dia melihat Kholifah al- Mahdi sedang bermain burung merpati , maka dia langsung mengotak-atik hadist :

“Tidak ada perlombaan kecuali pada panah atau (yang memuiliki) khuf (seperti unta) atau yang berkuku (seperti kuda)”

dia tambahkan lafadz

“…atau yang bersayap”.

hanya saja Allah Azza wa Jalla menghendaki . Al- Mahdi tanggap terhadap khianat tersebut, dia hardik Ghiyats dan dia tinggalkan merpati dan dia perintahkan untuk disembelih.

3. Orang Zindiq (munafiq),

Yang memalsukan hadist-hadist untuk merusak hati dan menggoncangkan keimanan, seperti para penyembah berhala yang membuat hadist palsu :

“Seandainya seorang dari kalian berbaik sangka kepada batu, maka batu itu akan memberi manfa’at kepadanya “.

4. Ilmu bahasa dan sastra Arab,

Bangkit di tangan orang-orang yang tercipta atas amanah , seperti Abu “Amr Ibnul Alla’, al-Mufadhdhol adh-Dhabbi, al-Khalil bin Ahmad, Sibawaih, al-Ashma’I, Ibnul A’robi (*bukan Ibnu Arobi tokoh Sufi*), Ibnu ‘ Amr asy-Syaibani, dan Muhammad bin Muslim ad-Dinuwari.

Tidaklah murni bahasa dan sastra Arab dari selundupan orang-orang yang menisbahkan diri kepadanya yang tidak merasa takut untuk memasukkan kedalamnya hal-hal yang bukan dari hakikatnya, diantaranya seperti Quthrub dan Hammad ar-Rowiyah. Seandainya tidak ada para ulama yang mengkritik hal-hal yang diriwayatkan oleh orang-orang seperti ini maka sungguh bahasa Arab telah tertimpa musibah besar.

5. Ilmu Tarikh (sejarah)

Ilmu Tarikh (sejarah) memiliki bagian yang besar pemalsuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan pemalsuan kitab-kitab, berapa banyak dari hakikat-hakikat yang nampak yang berusaha mereka hilangkan, berapa banyak dari biografi-biografi yang bersih yang mereka suguhkan di dalam bentuk yang layak mendapat cercaan, biografi-biografi yang kotor mereka beri baju bersih sehingga pantas mendapatkan pujian, diantara sisi orang –orang yang diharamkan dari nikmat amanah di dalam ilmu adalah munculnya kitab-kitab seperti kitab al- Imamah wa Siyasah yang dinisbahkan kepada Ibnu Qutaibah, kitab-kitab tersebut mensifati banyak dari orang-orang muliya dari Salaf dengan tidak objektif, mencela kehormatan para Sahabat yang merupakan sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.

Para ahli ilmu telah memperingatkan agar tidak bersegera menerima hal-hal yang ditulis para Ahli Sejarah tentang para Sahabat dan hendaknya diambil berita-berita tentang para Sahabat dari riwayat-riwayat terpercaya, seperti riwayat-riwayat yang datang dari para ulama Hadist.

Demikian juga engkau melihat ilmu-ilmu yang lain selain Hadist, bahasa dan Sejarah yang disentuh oleh orang-orang yang tidak amanah.

Mereka kumpulkan di dalam ilmu-ilmu tersebut hal-hal yang tidak bisa shohih secara riwayat dan diterima secara diroyah, maka hal-hal tersebut dikritik oleh para ulama yang ahli, mereka sisihkan kotoran-kotorannya , sebagaimana api membersihkan kotoran-kotoran besi

(Lihat Rosail Ishlah oleh Syaikh Muhammad al-Khudhair Husain: 1/13-21 dengan perantara at Tahrif hal. 116-117 )

BALASAN BAGI ORANG_ORANG YANG TIDAK AMANAH

Amanah adalah perhiasan ilmu dan ruhnya yang menjadikannya bersih buahnya lagi lezat rasanya. Jika engkau telaah biografi-biografi para pengemban ilmu, akan engkau lihat jarak yang jauh antara seorang ‘alim yang amanah dengan orang yang memiliki tingkatan sama yang tidak amanah.

Yang pertama di dalam kedudukan yang penuh kewibawaan dan manusia semakin ingin mengambil manfa’at darinya, sedangkan yang kedua di dalam kedudukan yang remeh dan jiwa para penuntut ilmu berpaling atau berlambat-lambat dari mengambil darinya.

Kadang engkau membaca sebuah kitab yang penuh dengan masalah-masalah yang jarang dijumpai, hingga menjadi agung penulisnya bagimu. Akan tetapi disaat engkau mengetahui bahwa dia termasuk orang-orang yang tertuduh di dalam amanahnya, maka engkau merasakan bahwa satu baris dari keagungannya telah hilang, bercampur dengan keraguanmu terhadap keshohihan hal-hal yang menakjubkanmu dari kitab tersebut yang bersumber dari riwayatnya…

Orang yang berada dalam bagian dari ilmu namun dia tidak mengurusnya dengan amanah yang kokoh, maka dia akan dipandang sebelah mata oleh manusia. Telah hilang kepercayaan mereka kepadanya dan hampir-hampir mereka tidak mengambil manfa’at atas pengetahuan-pengetahuan yang shohih yang mungkin bisa mereka dapatkan darinya.

Inilah Sho’id bin Husain al-Baghdadi, dia masuk kota Cordova di masa pemerintahan Manshur bin Abi ‘Amir. Dia dikenal ahli dalam ilmu bahasa, sastra dan sejarah , akan tetapi para ulama mengujinya dan mendapatinya memakai kedustaan. Maka mereka berpaling darinya dan tidak mengambil sedikitpun darinya. Dia menulis sebuah kitab yang diberi judul al Fushush yang mengikuti metode sebagaimana ditempuh oleh kitab al-Amaali oleh Abu Ali al-Qoli. Ternyata kesialan yang diakibatkan oleh kedustaan di dalamnya mengalahkan apa yang ada di dalamnya dari kebenaran . Oleh karenanya orang-orang mengungkapkan ‘syukur’ mereka terhadap kitab ini dengan melemparkannya ke dalam sungai.

(Lihat Rosail Ishlah oleh Syaikh Muhammad al-Khudhair Husain: 1/13-21 dengan perantaraan at-Tahrif hal. 118-119)

BENTUK_BENTUK AMANAH ILMIAH

1. Mengatakan “Saya tidak tahu” pada perkara yang ilmunya belum sampai kepadanya

Kadang seseorang terjatuh dalam suatu kondisi yang dia pandang kalau dia mengakui ketidaktahuannya di dalam hal itu maka akan berkurang prestisenya di hadapan para penanya tentang hal itu. Bila dihadapkan pada kondisi seperti itu, dia berada di antara dua penyeru : Keutamaan amanah dengan mengatakan ” Tidak tahu “ dan keinginannya agar tetap tidak berkurang prestisenya dihadapan para penanya dengan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan hakikatnya.

Dalam keadaan seperti ini akan tampak kadar hubungan seorang ‘alim tersebut dengan keistimewaan amanah. Jika amanah tersebut telah kokoh di dalam dirinya sekokoh gunung, maka betapapun deras badai menerpa maka tidak akan tergoyahkan walau seujung rambut , yakni dia akan penuhi panggilan amanah dan berkeyakinan bahwa penghormatan yang haq adalah dengan berhenti pada batas-batas amanah.

Adapun jika amanah sekedar kata yang dia ucapkan dengan mulutnya dan dia dengar dengan telinganya tanpa meresap di dalam jiwanya, maka sungguh dia akan mengutamakan kelezatan penghormatan di dalam kondisi tersebut dengan memberikan jawaban di luar jangkauan ilmunya.

Dari Nafi’ bahwasannya Ibnu Umar Rodhiyallahu anhuma ditanya oleh seseorang tentang sesuatu , maka beliau menjawab : ” Saya tidak tahu”, ketika orang tersebut berpaling maka Ibnu Umar rodhiyallahu anhuma berkata :

“Sebaik-baik orang adalah Abdullah bin Umar ketika dia ditanya tentang sesuatu yang tidak tahu dia mengatakan: ‘Saya tidak tahu’.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ bayanil Ilmi wa Fadhlihi: 2/834-835 dan al-Khotib dalam al-Faqih wal Mutafaqqih, dan dia adalah hasan dengan 3 jalannya).

Dari Ayyub bahwasannya orang-orang di Mina berbondong-bondong kepada al-Qosim bin Muhammad bertanya kepadanya , maka al-Qosim berkata :

“Saya tak tahu”

Kemudian dia berkata :

“Demi Allah, tidaklah kami tahu semua yang kalian tanyakan kepada kami, seandainya kami mengetahuinya tidak akan kami sembunyikan kepada kalian. ”

(Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam sunannya: 1/48 dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi: 2/836 dengan sanad yang shohih ).

Abdurrohman bin Mahdi berkata:

“Kami berada di sisi Imam malik bin Anas, tiba-tiba datang seseorang kepadanya seraya berkata:

“Aku datang kepadamu dari jarak 6 bulan perjalanan, penduduk negeriku menugaskan kepadaku agar aku menanyakan kepadamu suatu permasalahan.”

Al Imam Malik menjawab :

“Tanyakanlah!”

Maka orang tersebut bertanya kepadanya suatu permasalahan .

Al Imam Malik menjawab:

“Saya tidak bisa menjawabnya.”

Orang tersebut terhenyak, sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada kepada seseorang yang tahu segala sesuatu, orang tersebut berkata:

“Lalu apa yang akan aku katakana kepada penduduk negeriku jika aku pulang kepada mereka?”

Al-Imam Malik berkata:

“Katakan kepada mereka : ” Malik tak bisa menjawab.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Taqdimah Jahr wa Ta’dil hal. 18 dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi: 2/838 dengan sanad yang shohih)

2. Kembali kepada al-Haq dan meralat ucapan atau pendapat sebelumnya yang keliru.

Amanah Ilmiah adalah yang membawa para ulama besar untuk mengumumkan di hadapan manusia tentang rujuknya mereka dari pendapat-pendapat ilmiah atau ijtihad-ijtihad agama, ketika nampak bagi mereka bahwa di dalam pendapat pendapat dan ijtihad-ijtihad tersebut mereka tidak mengatakan perkataan yang tepat. Engkau jumpaikeutamaan ini pada para Imam yang diteladani seperti Malik bi Anas Rohimahullah, Abu Hanifah rohimahullah, Asy-Syafi’I rohimahullah dan Ahmad bin Hambal rohimahullah.

Abdullah bin Wahb berkata :

“Aku mendengar Malik ditanya oleh seseorang tentang masalah menyela-nyela jari-jari kedua kaki ketika berwudlu , maka dia berkata :

“Hal itu tidak disyariatkan atas manusia.”

(Abdullah bin Wahb berkata:)

Aku biarkan dia sampai ketika sudah sepi dari manusia , aku katakaan padanya:

“Kami memiliki Hadist tentang itu…”

maka Dia berkata :

“Apa itu ?”

Aku berkata :

“Telah mengkhabarkan kepada kami Laits bin Sa’d , Ibnu Lahi’ah, dan Amr bin Harits dari Yazid bin Amr al-Ma’afiri dari Abi Abdirrohman al-Hubulli dari Mustaurid bin Syaddad al-Qurasy dia berkata :

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menggosok sela-sela jari-jari kakinya dengan kelingkingnya.”

Malik berkata :

“Hadist ini hasan , aku belum pernah mendengarnya kecuali sa’at ini .”

(Abdullah bin Wahb berkata:)

Kemudian sesudah itu aku mendengar malik ditanya tentang itu dan dia memerintahkan agar menyela-nyela jari-jari kaki ketika berwudlu.

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam at-Tahmid: 24/259)

3. Mengkritik pendapat yang keliru atau pemikiran yang batil meskipun atas kerabat atau teman

Termasuk amanah ilmiah adalah jika engkau mengkritik pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran yang bathil walaupun datang dari orang yang memiliki hubungan kerabat denganmu atau teman yang dekat.

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

“Pena yang menyeluruh adalah pena untuk membantah para pemilik kebathilan dan meninggikan para pemilik kebenaran, menyingkap bentuk-bentuk kebathilan mereka, menjelaskan kontradiksi-kontradiksi dan kegelapan jalan mereka, menjelaskan keluarnya mereka dari kebenaran dan terjerumusnya mereka ke dalam kebathilan.

Para pemilik pena ini adalah para pembela dakwah para Rasul dan penyerang musuh musuh para Rasul. Merekalah para da’I disisi Allah Azza wa Jalla dengan hikmah, mau’izhoh hasanah dan membantah siapa saja yang menyeleweng dari jalannya dengan berbagai macam argument.”

(at-Tibyan fi aqsamil Qur’an: 1/379 )

Karena inilah kita dapati kitab-kitab para ulama dari berbagai disiplin ilmu Syar’I diantaranya : Tafsir, Hadist , Fiqih dan yang lainnya sarat dengan perdebatan dan bantahan terhadap pendapat-pendapat yang keliru.

4. Menerima kritikan dengan lapang dada

Para ulama mengakui bahwa tidak seorang pun yang bisa menguasai seluruh ilmu dan tidak melakukan kesalahan sama sekali, karena inilah para Imam Salaf – yang disepakati tentang keutamaan dan keilmuan mereka selalu menerima kebenaran yang disampaikan kepada mereka, walaupun orang yang menyampaikan kebenaran tersebut lebih muda darinya sekaligus menasihatkan kepada semua pengikutnya agar selalu menerima kebenaran meskipun kebenaran tersebut muncul dari selain mereka.

Al- Imam asy Syafi’I rohimahullah berkata :

“Tidak ada seorang pun yang mendebatku melainkan aku tidak memperdulikan munculnya kebenaran dari lisanku atau lisannya.”

Al Imam Ahmad rohimahullah memuji dan menyanjung Ishaq bin Rahuwiyah seraya mengatakan:

“Walau dia menyelisihi dalam banyak hal tetapi sejak dahulu manusia biasa menyelisihi satu dengan yang lainnya”

PERKARA-PERKARA YANG TIDAK MENAFIKAN AMANAH ILMIAH

Dibawah ini perkara-perkara yang tidak melanggar amanah Ilmiah karena tidak disertai unsure kesengajaan :

1. Kekeliruan – kekeliruan penulisan yang tidak disengaja.

Hal ini memiliki bab sendiri yang terangkum di dalam tulisan-tulisan yang berjudul “Tash-hifatul Muhadditsin” ( Kekeliruan –kekeliruan dalam hal penulisan dari para ulama hadist )

Dosa dalam hal ini terampuni, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

…رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا….

Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah ..

(QS.. Al-Baqoroh [2]: 286)

2. Meringkas suatu penukilan

Dalam hal ini ada syarat: mengisyaratkan tentang peringkasan tersebut dan tidak mengurangi atau keluar dari maksud pengucapnya.

3. Menambah tambahan penjelasan pada penukilan dengan diberi pemisah dari kalimat aslinya.

Diantara seperti dengan memberi tanda diantara tambahan penjelasan tersebut dua strip – ….- atau di dalam tanda kurung (…..). Dengan syarat tidak berlebihan sehingga merusak pemahaman terhadap Nash.

(lihat Kitab Tahrifun Nushush min Makhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidlal hal. 126-127 )

PENUTUP

Kami akhiri bahasan ini dengan nasihat yang agung dari Syaikh Muhammad al-Khudhair Husain :

” Jika amanah di dalam ilmu adalah sumber kehidupan umat dan pondasi keagungannya, terlebih lagi dia adalah sifat yang menghasilkan kewibawaan dan keagungan bagi pemiliknya, maka wajib atas kita agar menyayangi generasi penerus kita dari para penuntut ilmu.

Kita ambil semua sarana untuk meluluskan mereka menjadi orang –orang yang amanah di dalam halyang mereka riwayatkan dan yang mereka sifati, yaitu dengan berusaha menjaga amanah di dalam ta’lim-ta’lim kita di dalam apa yang kita riwayatkan, tidaklah menjawab pertanyaan mereka kecuali dengan apa yang kita tahu atau dengan perkataan kita : “Tidak tahu” .

Jika kita telah menyampaikan suatu pendapat yang kemudian kita ketahui bahwa dia diambil tanpa dasar, maka hendaknya kita katakan dengan terus terang: ” Kami telah keliru. ” Atau katakanlah : ” kami telah keluar dari dari hal yang diharuskan oleh pokok-pokok ilmu.”

Diantara metode pendidikan amanah di dalam ilmu kepada mereka adalah menerima diskusi-diskusi mereka dengan dada yang lapang. Jangan sampai kita membunuh pandapat-pendapat mereka dengan kata-kata yang melukai atau mempersulit diri di dalam membantahnya dengan hal-hal yang kita yakini tidaklah cukup membelanya.

Wajib atas seorang pengajar setelah menegakkan hak amanah ialah memperhatikan peri-kehidupan para murid, hingga jika sebagian dari mereka terjatuh kedalam hal-hal yang menunjukkan bahwa dia lalai dari ketinggian nilai amanah dan derasnya faedah-faedahnya, maka dia arahkan kepadanya bahwa ilmu jika tidak disertai amanah lebih jelek daripada kejahilan, dan bahwasannya kecerdasan yang tidak disertai kejujuran adalah bencana atas akal. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

(QS. Al- Isro’ [17]: 36)

(Rosa’il Ishlah: 1/13-21 dengan perantaraan at-Tahrif hal. 124-125 ).

Kata Mutiara : ….” ILMU JIKA TIDAK DISERTAI SIFAT AMANAH MAKA DIA LEBIH JELEK DARI PADA KEJAHILAN. KECERDASAN YANG TIDAK DISERTAI KEJUJURAN MAKA DIA ADALAH BENCANA BAGI AKAL…”

Sumber : Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 4, tahun kesembilan, Dzulqo’dah 1430 [Okt/Nop 2009] oleh al-Akh Handriyanto Abu Fahmi Abdullah

1 Komentar

Filed under Adab, Ilmu

One response to “Urgensi Amanah Ilmiyyah

  1. rasya

    assalamuaikumm…
    pak abu zuhry saya ada tugas dari dosen ni disuruh menanyakan mengapa manusia lalai dalam melaksanakan amanah..?

    “mohon di jawab secepatnya yah pak soalnya tanggal 1 oktober pengumpulan terakhir tugas nya”

    terimakasih
    wassalamualaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s