Jika ada penolakan terhadap dakwahmu…

Jika engkau mendakwahkan sesuatu, kemudian ada penolakan; maka bukan penolakan itu yang engkau pikirkan; tapi pikirkanlah sebab penolakannya!

Lihatlah pada dirinya:

(1) apakah ia telah MENGENAL Allåh, AgamaNya dan RåsulNya DENGAN BENAR?
(2) apakah ia telah tahu TUJUAN HIDUPnya?
(3) apakah ia telah TAHU dan PAHAM makna dan konsekuensi syahadatain DENGAN BENAR?

Lihatlah juga pada dakwahmu,

1. Apakah engkau telah memiliki KEIKHLASHAN dalam dakwahmu?

2. Apakah dakwahmu telah engkau dasari DENGAN ILMU? (sehingga bisa jadi ia menolaknya karena penjelasanmu yang membingungkan atau tidak dapat dimengertinya)… See More

3. Apakah dakwahmu kepadanya TELAH ENGKAU DAHULUI dengan DAKWAH TAUHID?

4. Apakah dalam dakwahmu itu engkau sertai dengan KEJUJURAN? sehingga engkau tidak menyuruhnya saja, tapi engkau menyuruh dirimu untuk berusaha mengamalkan apa yang engkau dakwahkan

5. Apakah dalam dakwahmu itu engkau sertai dengan KETULUSAN? sehingga engkau menyampaikan padanya dengan cara-cara yang baik, yang mana engkau menempatkan dirimu diposisinya.

Jangan sampai penolakan orang kepadamu, hanya disebabkan dirimu sendiri;

– yang berdakwah hanya karena untuk mengajak kepada dirimu (TIDAK IKHLASH)
– yang berdakwah TANPA ILMU
– yang berdakwah tidak memulainya dengan DAKWAH TAUHID.
– yang berdakwah tapi TIDAK JUJUR dalam dakwahnya
– yang berdakwah tapi TIDAK TULUS dalam dakwahnya

Ketahuilah wahai saudara(i)ku..

– Orang yang berdakwah hendaknya IKHLASH kepada Allåh, menjaga dirinya untuk tidak menginginkan pujian manusia, tidak meminta upah atas dakwahnya, tidak menjadikan dakwahnya agar ia banyak pengikutnya, tidak menjadikan dakwahnya agar ia populer, tidak menjadikan dakwahnya untuk meraih kekuasaan dsb… tapi hanya UNTUK ALLÅH, dan KARENA ALLÅH..

– Dakwah itupun harus sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam; baik metode, caranya, dll

– Dakwah adalah AMAR MA’RUF (mengajak kepada kebaikan) dan NAHI MUNGKAR (melarang dari kemungkaran) dalam rangka nasehat-menasehati diatas kebenaran dengan penuh kesabaran dan tolong-menolong dalam kebaikan. tugas kita hanyalah menyampaikan dengan SEBAIK-BAIKNYA dan dengan TERANG dan JELAS, sedangkan Allåh pemberi hidayah.

– Kemudian, dakwah harus didasari ilmu dan pemahaman yang shåhih; ia MEMILIKI ILMU (yang mantap, dengan pemahaman dan penguasaan yang baik) atas apa yang hendak ia dakwahkan

– Kemudian, dakwah harus dimulai dari HAL YANG PALING PENTING, kemudian yang PENTING, dst.. mulailah dari TAUHID (meng-esakan Allåh dan memurnikan ketaaatan hanya padaNya).. itulah INTI DAKWAH Nabi dan Råsul ‘alayhimush shålatu was salaam

– Kemudian, dakwah harus dimulai DARI DIRI SENDIRI, ia terlebih dahulu mengajak dirinya untuk mengamalkan apa yang ia ILMUI tersebut, sehingga ia berusaha untuk menjadi orang yang pertama kali mengamalkan apa yang ia dakwahkan. sehingga ia menjadi orang yang JUJUR dalam berdakwah, yang ia menjadi teladan untuk dirinya dan orang lain; tidak semata-mata hanya menjadi penghias lisannya saja, tapi apa yang didakwahkannya ia usahakan benar-benar ada pada dirinya.

– Kemudian, dakwah harus dimulai dari keluarga dan orang-orang dibawah tanggung jawab.. karena itu merupakan tanggung jawabnya.. kemudian, setelahnya atau berjalan seiring, ia mendakwahkan kepada orang-orang terdekatnya, yang berada disekitarnya..

– Kemudian, dakwah harus dilakukan di WAKTU dan KONDISI yang tepat…

– Kemudian, dalam berdakwah harus mempehatikan tingkat ilmu dan pemahaman seseorang.. jangan berbicara melebihi tingkat ilmu dan pemahamannnya

– Kemudian, dalam berdakwah harus memperhatikan ISI DAKWAH, apakah isi dakwah tersebut sudah TEPAT untuk orang yang kita dakwahkan? contohnya; orang yang belum siap menerima suatu dakwah hendaknya DITUNDA untuk mendakwahkannya akan hal tersebut.

– Kemudian, dalam berdakwah harus memperhatikan TAHAPAN-TAHAPAN, tidak membebankan seseorang sesuatu yang ia belum pantas untuk dibebankan.

– Kemudian, dalam berdakwah kita harus tahu KAPAN HARUS TEGAS dan KERAS, dan KAPAN HARUS LEMBUT.

– Kemudian, kita harus tahu POSISI KITA dan POSISI orang yang kita dakwahi. jika kita hendak menasehati pemuka agama di lingkungan kita, maka ketahuilah posisi kita. janganlah kita berlagak seakan-akan MENGGURUInya. jika bisa, dakwah bisa lewat MENGHADIAHKANnya KITAB, atau mendatangkan ustadz agar ustadz tersebut berdiskusi dengannya, atau mengajaknya ke ustadz agar ia berdiskusi dengannya dan lain-lain; ingatlah kita mengajak kepada kebenaran bukan kepada diri kita, maka jika dengan orang lain ia bisa merujuk kepada kebenaran, maka tempuhlah cara itu.

– Kemudian, dakwah harus dilakukan secara kontinyu, yang dimaksudkan disini, rutin dalam mengingatkan (dalam hal yang kita telah ILMUI, PAHAMI dan KUASAI dengan baik) perlu juga memperhatikan orang yang didakwahi apakah bosan atau tidak, jangan sampai kebosanannya terhadap kita malah menjauhkannya dari kebenaran! bukankah para shåhabat hanya menasehati SEKALI setiap pekan?!

– Kemudian, dakwah harus dilakukan dengan penuh kesabaran dalam menghadapi gangguan orang-orang yang tidak mengerti, atau gangguan para pengikut hawa nafsu, atau gangguan para pendengki; ia harus mengetahui orang tidak seperti dirinya yang mudah menerima kebenaran, ia pun harus tahu tingkatan ilmu dan pemahaman orang berbeda-beda, ia pun harus tahu hidayah di Tangan Allåh, sehingga ia tidak dapat memaksakan orang untuk berada diatas jalan hidayah; sehingga ia tidak putus asa dalam dakwahnya walaupun banyak gangguan dan tidak ada yang mengikutinya.

– Kemudian, dakwah harus dilakukan dengan tulus; tulus untuk mengharapkan kebaikan (sampainya petunjuk) pada orang lain, sehingga, kita berusaha agar orang yang kita dakwahkan bisa mendapatkan petunjuk sebagaimana kita berada diatas petunjuk. tapi kita pun mengetahui Allåh-lah Yang memberi petunjuk; sehingga kita ridhå akan segala ketetapanNya, dan kita berdoa kepadaNya agar saudara kita diberikan petunjuk olehNya.

Daan masih banyak lagi.. ini saja yang ana ketahui, silahkan tanyakan lagi kepada ustadz dan penuntut ilmu yang mantap keilmuannya.

Maka begitu cepatnya kita menyalahkan penolakan orang lain, padahal mungkin kita sendirilah yang menyebabkan penolakannya tersebut..

Semoga bermanfa’at buatku dan yang lain..

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s