Adab, amalan serta dzikir-dzikir yang berkaitan dengan tidur menurut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam

Allah berfirman.:

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ . إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. (QS. Ar-Ruum: 23).

Allah juga berfirman:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا 

Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. (QS. An-Naba’: 9).

Imam Ibnu Katsir berkata:

“Yaitu termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya Allah menjadikan sifat tidur bagi kalian diwaktu malam dan siang, dengan tidur, ketenangan dan rasa lapang dapat tercapai dan rasa lelah serta kepenatan dapat hilang”.

Anjuran Qåyluulah

Berkata Ibnu Atsir:

“Qoyluulah adalah istirahat di pertengahan siang walaupun tidak tidur”.

(Nihayah Fi Ghoribil Hadits)

Istirahat siang adalah sunnah yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan kita untuk tidur siang dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.”

(HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah : isnadnya shahih)

Apa yang dilakukan dan dihasung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga diikuti oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat dari ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

رُبَّمَا قَعَدَ عَلَى بَابِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ قَالَ: قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ

Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” ‘

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad : hasanul isnad)

Dalam riwayat yang lainnya disebutkan:

كَانَ عُمَرُ رضي الله عنه يَمُرُّ بِنَا نِصْفَ النَّهَارِ –أَوْ قَرِيْبًا مِنْهُ – فَيَقُوْلُ: قُوْمُوا فَقِيْلُوا، فَمَا بَقِيَ فَلِلشَّيْطَانِ

Biasanya ’Umar radhiyallahu ‘anhu bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.” 

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad : hasanul isnad)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga mengabarkan kebiasaan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulunya:

كَانُوا يُجَمِّعُوْنَ ثُمَّ يَقِيْلُوْنَ

“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang.”

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad : shahihul isnad)

Jika para sahabat saja bersemangat mengikuti perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengajak yang lainnya melakukan kebaikan ini, tentu kita tak pantas meninggalkannya. Kita melakukan dan kita ajak anak-anak kita untuk melakukannya pula. Manfaat yang besar akan mereka dapatkan; tubuh akan terasa segar untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga menyelisihi kebiasaan setan yang tak pernah istirahat di siang hari. Lebih penting lagi, membiasakan diri mereka untuk meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adab-Adab Tidur

1. Tidur diawal malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir

Rasulullah adalah teladan bagi setiap muslim, maka barang siapa yang memperhatikan tidurnya, niscaya dia akan mendapati bahwa tidurnya beliau paling sempurna dan paling bermanfaat bagi tubuh. Beliau tidur diawal malam dan pada sepertiga malam terakhir.

Sahabat mulia Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa pernah bertutur:

“Suatu ketika aku pernah bermalam dirumah bibiku Muimunah untuk melihat bagaimana shalatnya Rasulullah, beliau berbincang sejenak bersama istrinya, kemudian tidur”.

(HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, beliau berkata:

“bahwasanya Nabi biasa tidur pada permulaan malam dan bangun pada akhir (sepertiga) malam, kemudian mengerjakan shalat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dibencinya tidur sebelum lsya’ dan ngobrol setelahnya.

Berdasarkan hadits:

Dari Abu Barzah bahwasanya Rasulullah membenci tidur sebelum isya’ dan bercakap-cakap setelahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh lbnu Hajar berkata:

“Dibencinya tidur sebelum Isya’ karena dapat melalaikan pelakunya dari shalat isya’ hingga keluar waktunya, adapun bercakapcakap setelahnya yang tidak ada manfaatnya-pent, dapat meyebabkan tidur hingga shalat shubuh dan luput dari shalat malam”. (Fathul Bari)

Kemudian Al-Hafizh menegaskan bahwa larangan bercakap-cakap setetah Isya’ dikhususkan pada percakapan yang tidak ada manfaat dan kebaikan didalamnya. (Fathul Bari)

Adapun percakapan yang bermanfaat maka tidaklah termasuk dalam larangan ini, sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi bersama Abu Bakar pernah bercakap-cakap hingga larut malam karena urusan kaum muslimin.

(HR. Tirmidzi, Ahmad; terdapat dalam Ash-Shahihah)

3. Menutup pintu, mematikan api dan lampu Berdasarkan hadits:

Dari Jabir Bin Abdullah bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Juga berdasarkan hadits:

Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah bersabda: 

“Janganlah kalian meningalkan api yang menyala ketika kalian tidur”.

(HR. Bukhariy)

Imam Al-Qurthubi berkata:

“Berdasarkan hadits ini apabila seseorang tidur sendirian sedangkan api masih menyala di dalam rumahnya hendaklah ia mematikan terlebih dahulu sebelum tidur, demikian pula apabila di dalam rumah terdapat beberapa orang hendaklah orang yang terakhir yang melakukannya, maka barang siapa yang meremehkan hal ini sungguh dia telah menyelisihi sunnah!”

(Fathul Bari)

Ibnu Daqiq Al-`Ied berkata:

“Perintah menutup pintu sebelum tidur, di dalamnya terdapat kebaikan duniawi dan ukhrowi yaitu menjaga diri dan harta dari orang-orang yang hendak berbuat jahat, terlebih lagi dari syaithon”.

(Fathul Bari)

Perhatian: Perintah mematikan api dan lampu sebelum tidur merupakan tindakan preventif sebelum terjadt kebakaran, apabila aman dan kebakaran -seperti keadaan lampu-lampu masa kini-Pent maka tidaklah mengapa menghidupkannya.

(Syarah Shahih Muslim)

4. Berwudhu

Berdasarkan hadits:

Dari Baro’ Bin ‘Azib bahwasanya Rasulullah bersabda: 

“Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat”.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi berkata:

“Hadits ini berisi anjuran berwudhu ketika hendak tidur, apabila seseorang telah mempunyai wudhu maka hal itu telah mencukupinya, karena maksud dari itu semua adalah tidur dalam keadaan suci khawatir maut menjemputnya seketika itu, maksud yang lain dengan berwudhu dapat menjauhkan diri dari gangguan syaithon dan perasaan takut ketika tidur”.

(Syarah Shahih Muslim)

5. Mengibas tempat tidur

Berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: 

“Apabila salah seorang diantara kalian hendak tidur maka mengibas tempat tidurnya dengan ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpa padanya”.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Faidah hadits:

– Sunnahnya mengibas tempat tidur sebelum tidur. (Syarah Shahih Muslim)

– Hendaklah mengibasinya tiga kali. (Fathul Bari)

– Membaca ‘Bismillah’ ketika mengibasinya sebagaimana hadits riwayat Muslim

– Bagi orang yang bangun dari tempat tidurnya kemudian kembali lagi, maka dianjurkan untuk mengibasinya kembali. (Sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi, dishahihkan oleh AI-Albani)

6. Larangan tidur satu selimut

Berdasarkan hadits:

Dari Abu Said Al-Khudri dari bapaknya bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Janganlah pria melihat aurat pria yang lain dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita yang lain, dan janganlah pria berkumpul dengan pria lain dalam satu selimut, dan janganlah wanita berkumpul dengan wanita lain dalam satu selimut”.

(HR. Muslim dan Tirmidzi)

7. Berbaring Kesisi Kanan

Imam Ibnul Qoyyim berkata:

“Adalah Nabi tidur dengan berbaring kekanan dan beliau meletakkan tangannya yang kanan dibawah pipinya yang kanan”.

(Zaadul Ma’ad)

Rasulullah bersabda:

Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat kemudian berbaringlah kesisi kanan!

(HR. Bukhari, Muslim)

Sahabat Mulia Hudzaifah berkata:

“Adalah Nabi apablla tidur beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya”

(HR. Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Imam Ibnul Jauzy berkata:

“Keadaan tidur seperti ini sebagaimana ditegaskan oleh pakar kedokteran merupakan keadaan yang paling baik bagi tubuh”.

(Fathul Bari)

8. Makruh tidur tengkurap

Abu Dzar menuturkan: 

`Nabi shallallahu `alaihi wa sallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda: 

`Wahai Junaidah (panggilan abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka` 

(H.R Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al Albani).

9. Makruh tidur di atas dak terbuka

Berdasarkan hadits yang bersumber dari `Ali bin syaiban disebutkan bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda:

`Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya`

(HR Al Bukhari di dalam al Adab al Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al Albani).

Dzikir-dzikir menjelang tidur

1. Membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa

“Dengan nama-Mu, Ya Allah, aku mati dan aku hidup.”

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii, dan Muslim)

(dan/atau) 2. Membaca (tiga kali) :

اللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

Allahumma qiniy ‘adzaabaka  yawma tub’a-tsu ‘ibaadak

“Ya Allah, lindungilah aku dari ‘adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” 

(HR. Abu Dawud, At tirmidizy dan ini lafazhnya, terdapat dalam Shahih At-Tirmidzi)

(dan/atau) 3. Membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ

alhamdulillahilladzziy

Segala puji hanya bagi Allah

أَطْعَمَنَا

ath’amanaa

yang telah memberi kami makan

وَسَقَانَا

wa saqaanaa

yang telah memberi kami minum, 

وَكَفَانَا

wa kafaanaa

yang telah mencukupkan kami 

وَآوَانَا

wa a-waanaa

dan yang telah melindungi kami.

فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

fakam mimm man laa kaafiya lahu wa laa mu’wiy

Karena berapa banyak orang yang tidak mempunyai kecukupan dan perlindungan.”

(HR. Muslim)

(dan/atau) 4. Membaca:

بِاسْمِكَ رَبِّيْ

bismika rabbiy

“Dengan nama-Mu, Ya Rabbku,

وَضَعْتُ جَنْبِيْ

wa dha’tu janbiy

aku meletakkan lambungku, 

وَبِكَ أَرْفَعُهُ

wa bika arfa’uh

dan (dengan nama-Mu pula) aku mengangkatnya.

فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا

wa in amsakta nafsiy, farhamhaa

Maka jika Engkau menahan jiwaku (ruhku) maka rahmatilah dia. 

وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

wa in arsaltahaa, fahfazh-haa, bimaa tahfazhu bihi ‘ibadakash shaalihiin

Dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah dia dengan sesuatu yang Engkau jaga dengannya hamba-hamba-Mu yang shalih.”

(HR. Al-Bukhariy dan Muslim)

(dan/atau) 5. Membaca:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا

Allahumma innaka khalaqta nafsiy, wa anta tawaffaahaa

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan jiwaku (ruhku) dan Engkaulah yang mewafatkannya.

لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا

laka mamaatuhaa wa mahyaahaa

Milik Engkaulah mati dan hidupnya.

إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا

in ahyaytahaa fahfazh-haa

Jika Engkau menghidupkannya maka jagalah dia

وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا

wa in amattahaa faghfirlahaa

dan jika Engkau mematikannya maka ampunilah dia.

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ

Allahumma inniy as alukal ‘aafiyah

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu keselamatan.”

(HR. Muslim dan Ahmad, dan lafazh hadits ini miliknya)

(dan/atau) 6. Membaca:

اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض

Allahumma ‘aalimal ghaybi wasy syahaadah faathiris samawaati wal ardh

“Ya Allah, Yang mengetahui perkara ghaib dan yang nampak, Pencipta langit dan bumi,

رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ

rabba kulli syay-in wa maliikah

Rabbnya segala sesuatu dan Yang memilikinya.

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

asyhadu an laa ilaaha illa ant

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau.

أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ

a’uudzubika min syarri nafsi

Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku 

وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

wa min syarri syaythaani wa syirkih

dan dari kejahatan syaithan dan sekutunya.

وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

wa an uqtarifa ‘ala nafsiy suu-an, au ajurrahu ila muslim

Dan jangan sampai aku menjerumuskan diriku ke dalam kejelekan atau menimpakannya kepada seorang muslim.”

(HR. Abu Dawud, dan At-Tirmidziy, terdapat dalam Shahih At-Tirmidziy)

(dan/atau) 7. Membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Allahumma rabbas samawaatis sab’i wa rabbul arsyil ‘azhiim

“Ya Allah, Rabbnya langit yang tujuh dan Rabbnya ‘arsy yang agung.

رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ،

rabbanaa wa rabba kulli syay’

Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu,

فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى

faaliqal habbi wann nawa

Yang membelah biji-bijian dan biji kurma.

وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ،

wa munzilat tawraati wal injiili wal furqaan

Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al Furqan (Al-Qur`an).

أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ،

a’uudzubika min syarri kulli syay’

Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu.

أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ

anta akhidzun binaashiyatih

(karena) Engkaulah Yang memegang ubun-ubunnya.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْء

Allahumma antal awwalu, fa laysa qablaka syay’

Ya Allah, Engkaulah Yang Awwal maka tidak ada sesuatu pun yang sebelum-Mu.

وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ،

wa antal aakhiru fa laysa ba’daka syay’

Dan Engkaulah Yang Akhir maka tidak ada sesuatu pun yang setelah-Mu.

وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ

wa antazh zhaahiru fa laysa fawqaka syay’

Dan Engkaulah Yang Zhahir (Maha Tinggi) maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu.

وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ،

wa antal baathinu fa laysa duunaka syay’

Dan Engkaulah Yang Bathin (Maha Dekat) maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu.

اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

iqdhi ‘annaa wad dayna wagninaa minal faqr

Lunasilah hutang kami dan cukupilah kami dari kefakiran.”

(HR. Muslim)

(dan/atau) 8. Membaca ayat kursi

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia

لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. 

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. 

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi. 

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. 

(Al-Baqarah: 255). 

Barangsiapa yang membacanya ketika dia merebahkan dirinya di tempat tidurnya maka sesungguhnya akan senantiasa ada baginya dari sisi Allah yang akan menjaganya dan syaithan tidak akan mendekatinya sampai shubuh.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii)

9. Membaca surat As-Sajdah dan Al-Mulk.

Disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam TIDAK TIDUR, SEBELUM MEMBACA “Alif laam mim Tanzil..” (yakni surat As-Sajadah) dan “Tabaarakalladzi biyadihil-mulk…” (yakni surat Al-Mulk) “

(Shahiih li ghairihi; HR. At-Tirmidziy, An-Nasa`iy, dan selainnya; Shahiihul Jaami’ 4/255)

Abdullah Mas’ud berkata:

“Barangsiapa membaca “Tabarokalladzi bi yadihil mulk” (surat Al Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan surat tersebut “al Mani’ah” (penghalang dari siksa kubur). Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullah. Barangsiapa MEMBACANYA SETIAP MALAM, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.”

(HR. An Nasai dalam Al Kabir 6/179 dan Al Hakim, dengan sanad yang hasan)

Rasulullah bersabda,

سُوْرَةُ تَبَارَكَ هِيَ الْمَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ

“Surat Tabarak akan mencegah adzab kubur.” 

(Hasan, dihasankan syaikh albaaniy dalam shahiihul jaami’ no. 3643)

NB: kita tidak harus membacanya ketika akan tidur atau ketika berada diatas tempat tidur… kita boleh membacanya sebelum kita berada diatas tempat tidur atau sebelum beranjak tidur, seperti membacanya setelah shalat sunnah ba’diyah ‘isya. wallåhu a’lam.

(dan/atau) 10. Membaca surat Al-Baqarah:285-286 (dua ayat terakhir).

‎آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman

‎كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. 

‎ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”

‎ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (dan Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

‎لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 

‎ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. 

‎رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

(Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami keliru. 

‎رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا

Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. 

‎رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. 

‎وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا

Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami; 

‎أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

(Ya Rabb kami,) Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

(Al Baqarah 285-286)

Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang membaca dua ayat ini pada MALAM HARI maka dua ayat ini akan mencukupinya.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Bari dan Muslim)

NB: Kita tidak harus membacanya ketika akan tidur atau ketika berada diatas tempat tidur… kita boleh membacanya sebelum kita berada diatas tempat tidur atau sebelum beranjak tidur, seperti membacanya setelah shalat sunnah ba’diyah ‘isya. wallåhu a’lam.

11. Mengumpulkan tangannya (seperti tangan ketika berdoa), kemudian membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas, kemudian meniup ke tangannya, lalu mengusap mukanya dan bagian yang dapat dijangkaunya (semuanya dilakukan tiga kali)

Dimulai dari kepalanya, wajahnya dan bagian depan dari badannya. Hal ini dilakukan tiga kali.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii, dan Muslim)

(dan/atau) 12. Membaca:

Membaca Subhaanallaah 33x, Alhamdulillaah 33x dan Allaahu Akbar 34x.

Barangsiapa yang mengucapkannya ketika merebahkan diri di tempat tidurnya maka hal ini lebih baik baginya daripada seorang pembantu.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii, dan Muslim)

(dan/atau) 13. Membaca SURAT AL-KAAFIRUUN :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Katakanlah: “Wahai orang-orang KAAFIR

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

AKU TIDAK AKAN MENYEMBAH apa-apa yang kamu sembah

وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Dan KAMU BUKANLAH PENYEMBAH (Sesembahan) yang aku sembah.

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Dan AKU TIDAK AKAN PERNAH menjadi PENYEMBAH (sesembahan) yang kamu sembah. Dan KAMU PUN TIDAK AKAN PERNAH menjadi PENYEMBAH (sesembahan) yang aku sembah.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Bagiku agamaku, bagimu agamamu.

(al-Kaafiruun: 1-6)

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada Naufal:

إذا أخذتَ مَضجعَكَ من الليلِ فاقْرأْ قُلْ يَا أيُّهَا الْكَافِرُونَ ثمَّ نَمْ على خاتِمَتِها فإنَّها بَراءةٌ من الشِّركِ

Jika engkau mengambil tempat pembaringanmu disaat malam, maka bacalah (surat) ’QUL YAA AYYUHAL KAAFIRUUN (Katakanlah; Wahai orang-orang kafir)’, dan TIDURLAH SETELAH MEMBACANYA hingga selesai, sebab itu adalah PEMBEBAS dari perbuatan SYIRIK.”

(HR. Abu Dawud; dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiih abi dawud)

(dan/atau) 14. Membaca :

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ

Allahumma as-lamtu nafsiy ilayk

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu 

وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ،

wa fawwadh-tu amriy ilayk

dan aku memasrahkan urusanku kepada-Mu. 

وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ

wa wajahtu wajhiy ilayk

Dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu 

وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْك

wa al-ja’tu zhahriy ilayk

dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, 

رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ

raghbatan wa rahbatan ilayk

dalam keadaan harap dan cemas hanya kepada-Mu. 

لامَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إٍلَيْكَ

laa malja wa laa manjaa minka illaa ilayk

Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari (siksa)Mu kecuali hanya kepada-Mu. 

آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ

aamantu bi kitaabikalladziy anzalat

Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan 

وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

wa nabiyyikalladziy arsalat

dan (aku beriman) kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”

Rasulullah menyatakan kepada orang yang mengucapkan do’a ini: 

فإن متَّ متَّ على الفطرةِ فاجعَلهنَّ آخرَ ما تقولُ

“Jika kamu mati [setelah kamu membaca dzikir no. 14 diatas, az], (maka) kamu mati di atas fithrah (Islam); maka jadikanlah (dzikir tersebut sebagai) akhir dari perkataanmu”

(HR. Al-Bukhariy dan Muslim)

Dua dzikir diatas (no. 13-14) hendaknya dijadikan dua dzikir yang terakhir kita baca (kalau kita membaca keduanya); dan tidak berkata-kata lagi setelah membaca keduanya.

Dzikir-dzikir diatas BUKAN URUTAN BAKU, kita bebas mendahulukan mana saja, kecuali dua dzikir terakhir; karena hendaknya dibaca terakhir (karena memang haditsnya menyebutkan demikian)

Dzikir-dzikir diatas TIDAK HARUS dibaca SEMUA, apabila hanya mampu SEBAGIAN atau BEBERAPA, atau bahkan hanya SATU atau DUA, maka BACALAH. Lebih baik MASIH MEMBACA daripada TIDAK BACA SAMA SEKALI. Tapi tentu, semakin banyak yang mampu dan bisa dibaca, maka semakin baik.

Dzikir ketika mendapati badan berbolak-balik (di Pembaringan) di Malam Hari (sulit tidur)

Ketika mendapati badan berbolak-balik ke kanan dan ke kiri (karena sulit tidur), maka hendaklah kita mengucapkan, dzikir berikut:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Laa ilaaha illallahul wahidul qahhar

“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, Yang Esa lagi Maha Perkasa. 

رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا

rabbus samawaati wal ardhi wa maa baynahumaa

Rabbnya langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya,

الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

al-‘aziizul ghaffar

Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.”

—–

‘Aa`isyah berkata:

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا تضوَّر مِن اللَّيلِ قال

Rasuulullaah kalau bolak-balaik di malam hari, maka membaca (dzikir diatas)

(HR. Al-Hakim, terdapat dalam Shahiihul Jaami’)

Dzikir ketika Tersentak dalam Tidur dan Dihinggapi Rasa Kesepian

Hendaklah dia membaca:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ

a’uudzubikalimatillaahit taammaati min ghadhabih, wa ‘iqqabih, wa syarri ‘ibaadih

“Aku berlindung dengan kalimat (firman) Allah yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya serta dari kejahatan hamba-hamba-Nya 

وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنَ

wa min hamazaatisy syayaathiin, wa an yahdhuruun

dan dari bisikan-bisikan syaithan, serta apabila mereka datang (yakni berlindung dari kedatangan mereka dari kalangan syaithan).”

(HR. Abu Dawud, at Tirmidziy, dll; terdapat dalam Shahih At-Tirmidziy)

Amalan dan Dzikir ketika Melihat Mimpi Buruk dan Mimpi Kosong (Mimpi yang Tidak Bisa Ditafsirkan)

(1). Hendaklah dia meludah ringan ke arah kirinya tiga kali. Berlindung kepada Allah dari godaan syaithan dan (berlindung) dari kejelekan apa yang dilihatnya, tiga kali. (HR. Muslim 4/1772, 1773)

(2). Tidak menceritakannya kepada siapapun. (HR. Muslim)

(3). Mengubah/Berpindah dari posisi tidur sebelumnya. (HR. Muslim)

(4). Hendaklah dia bangkit untuk melakukan shalat kalau dia mau. (HR. Muslim)

Dzikir-Dzikir ketika Bangun Tidur

Ketika bangun tidur hendaklah kita membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Alhamdulilaahilladziy ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhinn nusyuur

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya (kami) dikumpulkan.”

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii dan Muslim)

Kemudian membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ

Alhamdulilaahilladziy ‘aafaaniy fiy jasadiy 

Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi keselamatan kepadaku dalam jasadku

وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ

wa radda ‘alayya ruuhiyy 

dan yang telah mengembalikan ruhku kepadaku

وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

wa adzinaliy bi dzikrih

dan yang telah mengizinkanku untuk berdzikir/mengingat-Nya.”

(HR. At-Tirmidziy, lihat Shahih At-Tirmidziy)

Kemudian membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،

Laa ilaaha illallah, wahdahu laasyariikalah

Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

Lahul mulku wa lahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qadiir

Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maka Kuasa atas segala sesuatu.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،

subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah wallahu akbar

Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah, dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Allah Maha Besar

وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ،

wa laa hawla wa laa quwwata illa billah

Dan tidak ada daya upaya (untuk melakukan ketaatan) dan tidak ada kekuatan (untuk meninggalkan kemaksiatan) kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

اللهم اغفر لي

Allaahummaghfirliy

“.Ya Rabbku, ampunilah aku.”

Rasulullah bersabda:

من تعار من الليل فقال … ثم قال اللهم اغفر لي أو دعا استجيب له فإن توضأ وصلى قبلت صلاته

Barangsiapa yang terbangun di malam hari, kemudian mengucapkan: …(dzikir diatas)… Kemudian dia mengucapkan: “Allaahummaghfirliy” (Ya Allaah ampunilah aku) maka akan diampuni (dosa-dosanya), dan jika berdo’a maka akan dikabulkan, dan jika dia bangkit lalu berwudhu` kemudian shalat maka akan diterima shalatnya.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii, dan lainnya)

Dan membaca surat Aali ‘Imraan:190-200.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii, dan Muslim)

Jika telah menghafalnya, alangkah baiknya dibaca dalam dua raka’at pertama shalat malam.

Wallaahu A’lam.

Semoga Allah selalu membantu dan memudahkan kita untuk mengamalkan amalan-amalan ini dan semoga Allåh memberikan kita ke-istiqamah-an untuk tetap terus mengamalkannya. Aamiin. 

Maraaji’

1. Tidur Menurut Tuntunan Rasulullah, Abu Abdillah Al-Atsari, Dikutip dari majalah AlFurqon 05/III  hal 40 – 41; dari blogvbaitullah.

2. Artikel: Tidur Siang, Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran

3. Hishnul Muslim min Adzkaaril Kitaab was Sunnah karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Buluughul Maraam dan Al-Kalimuth Thayyib. (http://fdawj.co.nr/), dari Bulletin Al-Wala wal Bara

4. Ditulis ulang dari kutaib Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Azis bin Baz, penerbit Al Sofwa Jakarta, 2001, dari salafyoon.net

1 Komentar

Filed under Adab, Dzikir, Ibadah

One response to “Adab, amalan serta dzikir-dzikir yang berkaitan dengan tidur menurut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam

  1. Ping-balik: Tertinggal | _matahari terbit_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s