Sifat Shalat Malam (Qiyamul Lail, Tahajjud, Tarawih, serta Witir) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Istilah-istilah Shalat Malam

Shalat malam itu dikenal dengan beberapa penamaan/istilah :

– Qiyaamul Lail : Yaitu shalat malam SECARA UMUM, yang dikerjakan sebelum tidur, baik diawal malam atau dipertengahan malam; atau setelah tidur (dan ini yang disebut dengan tahajjud) di sepertiga terakhir malam. Jika disebut “Qiyamul lail”, maka bisa bermakna tahajjud dan/atau tarawih berserta witir.

– Shalat Tahajjud : Yaitu shalat malam yang dikerjakan dengan didahului dengan tidur; lebih utama dikerjakan pada sepertiga terakhir malam.

– Shalat Tarawih : Yaitu shalat yang dikerjakan diawal waktu malam, setelah shalat ‘isya dibulan ramadhan; baik itu dikerjakan di masjid bersama imam, atau dikerjakan di selain masjid [baik sendirian maupun berjama’ah]

– Shalat Witir : Yaitu shalat yang dilaksanakan untuk meng-ganjilkan shalat malam.

Diantara keutamaan-keutamaan shalat malam

1. Shalat Malam merupakan satu-satunya shalat sunnah yang disinggung Allaah dalam kitabNya yang mulia

Allaah berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ

Dan pada sebahagian malam hari, (shalat) tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah nafilah (tambahan) bagimu

(al Israa’ : 79)

2. Shalat malam merupakan seafdhal-afdhalnya shalat sunnah

Rasuulullaah bersabda:

وَأَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةَ صَلاةُ اللَّيْلِ

Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam

(HR. Muslim)

3. Teladan orang-orang shalih terdahulu

Allaah berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam [yang digunakan untuk shalat malam]

(adz Dzaariyaat: 51)

Allaah juga berfirman:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya [karena shalat malam mereka]…

(as Sajdah: 16)

4. Wujud nyata keshalihan seseorang

Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ رَجُلٌ صَالِحٌ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ

“Abdullah (ibnu ‘Umar) adalah seorang hamba yang shalih, asalkan dia shalat di sebagian waktu malam.”

az Zuhriy berkata: “setelah itu Ibnu ‘Umar memperbanyak shalat malam”, dalam riwayat lain dikatakan: “setelah saat itu, ia tidak tidur malam kecuali sedikit”

(HR. Bukhariy, dalam baab: ta’bir, diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam shahiihnya)

5. Allaah kagum terhadap orang yang shalat malam

Rasuulullaah bersabda:

عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رَجُلَيْنِ

“Tuhan kita, (Allaah) Azza wa Jalla, kagum terhadap dua orang laki-laki:

(diantaranya)

فَيَقُولُ رَبُّنَا أَيَا مَلَائِكَتِي انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي ثَارَ مِنْ فِرَاشِهِ وَوِطَائِهِ وَمِنْ بَيْنِ حَيِّهِ وَأَهْلِهِ إِلَى صَلَاتِهِ رَغْبَةً فِيمَا عِنْدِي وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِي

lalu Robb kita berfirman: Wahai para malaikatKu, lihatlah kepada hambaKu yang meninggalkan kasur dan selimutnya di antara tidur dan keluarganya untuk melaksanakan shalat karena mengharap balasan di sisiKu dan takut adzab di sisiKu.

(Hasan li ghayrihi; HR Ahmad, terdapat dalam shahiih at targhiib karya al albaaniy)

Waktu & Tempat Pelaksanaan Shalat Malam

Boleh dikerjakan pada awal, pertengahan atau akhir malam. Hanya saja, lebih utama dikerjakan pada sepertiga terakhir malam

Berdasarkan hadits ‘Aa-isyah, bahwa beliau berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat witir pada setiap bagian malam, baik di awal waktu, pertengahan, ataupun akhir malam. Shalat Witir beliau selesai di waktu sahur.”

[Muttafaqun ‘alayh]

Adapun yang paling utama, adalah mengawali dengan tidur, kemudian mengerjakannya pada sepertiga terakhir malam (baca: http://abuzuhriy.com/keutamaan-untuk-bangun-dan-beribadah-pada-sepertiga-terakhir-malam/). Boleh witirnya diawal malam, kemudian shalat dua raka’at-dua raka’at di akhir malam.

Lebih utama dikerjakan di rumah

Berdasarkan hadits, dari Haram bin Mu’awiyah, dari pamannya ‘Abdullah bin Sa’d, ia berkata,

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; lebih utama mana shalat (sunnah) di rumahku atau shalat di masjid?” beliau bersabda:

أَلَا تَرَى إِلَى بَيْتِي مَا أَقْرَبَهُ مِنْ الْمَسْجِدِ فَلَأَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّيَ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَلَاةً مَكْتُوبَةً

“Tidakkah engkau lihat betapa dekatnya rumahku dengan masjid? Sungguh, sekiranya aku shalat di rumahku, maka itu lebih aku sukai daripada shalat di masjid, kecuali shalat wajib (karena shalat wajib, lebih disukai/lebih afdhalnya di masjid)”

(HR. Ibnu Majah; dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiih ibnu maajah)

Sekiranya tarawih merupakan pengeceualian, maka tentu beliau akan mengecualikannya: “kecuali di bulan ramadhan”; akan tetapi beliau tidak bersabda demikian. Sedangkan menurut kaidah ushul : لا يجوز تأخير البيان عن وقت الحاجة “tidak boleh bagi beliau untuk mengakhirkan penjelasan dari waktunya”

Demikian pula sabda beliau:

قد عرفت الذي رأيت من صنيعكم فصلوا أيها الناس في بيوتكم فإن أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة‏

Aku mengetahui apa yang aku lihat dari perbuatanmu itu, karena itu shalat (sunnah)lah wahai manusia di rumah-rumah kamu, karena sesungguhnya seutama-utama shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.

Ini beliau sabdakan kepada para shahabat berkaitan dengan SHALAT MALAM DI BULAN RAMADHAN (silahkan cek dalam kitab-kitab hadiits dan penjelasan tentangnya).

Oleh karenanya pembesar shahabat seperti Abu Bakar berpegang dengan sabda bliau ini dengan tetap shalat di rumah meskipun di bulan ramadhan. TERMASUK JUGA ‘UMAR (penghidup sunnah shalat tarawih di masjid), meski beliau memerintahkan sebagian manusia shalat tarawih di masjid, tapi beliau sendiri MENYATAKAN justru yang mengakhirkan shalat (dengan shalat di rumah) LEBIH UTAMA daripada yang mengawalkan shalat (dengan shalat bersama manusia di masjid). [Akan datang nukilan tentang perkataannya akan hal ini]

Juga hadits:

صلاة المرء في بيته أفضل من صلاته في مسجدي هذا إلا المكتوبة

Shalatnya seseorang di rumahnya, LEBIH UTAMA, daripada shalatnya di MASJIDKU INI, kecuali shalat wajib[1]

(Shahiih; Diriwayatkan Ahmad, Abu Daawud, dll; dishahiihkan al-albaaniy, al-waadi’iy, dan selainnya)

Imam ibnu ‘abdil barr berkata:

فإذا كانت النافلة في البيت أفضل منها في مسجد النبي صلى الله عليه وسلم والصلاة فيه بألف صلاة ، فأي فضل أبين من هذا

Jika shalat sunnah seseorang di rumahnya LEBIH AFDHAL dibandingkan shalatnya di masjid nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam (yang mana keutamaan pada shalat wajibnya) setara dengan 1000 shalat; maka keutamaan mana lagi yang lebih besar dari hal ini?!

Beliau pun berdalilkan dengan hadits diatas bahwa shalat sunnah itu MUTLAK lebih afdhal dikerjakan di rumah, daripada di masjid; meskipun ia shalat sunnah tarawih[2], meskipun ia shalat sunnah dhuha; tentu dengan catatan, apabila shalatnya di masjid dapat lebih khusyu’ serta lebih berkualitas, daripada shalatnya di rumah (maka shalatnya di masjid justru afdhal daripada di rumahnya).

Jumlah rakaa’at Shalat Malam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.”

(HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dalam riwayat lain disebutkan:

ما كان يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة، يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي ثلاثا

“Nabi tidak pernah lebih dari 11 raka’at baik di Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi 4 raka’at, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat 3 raka’at.”

(Muttafaqun ‘alaihi)

dalam riwayat Muslim bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَهِىَ الَّتِى يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat antara shalat ‘Isya’ (biasa disebut ‘atamah) dan shalat Shubuh sebanyak 11 raka’at. Beliau salam setiap dua raka’at dan berwitir dengan satu raka’at.”

(HR Muslim)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.”

(HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)

Bolehkah kurang dari 11 raka’at?

Boleh shalat tarawih kurang dari 11 raka’at, bahkan meskipun tarawihnya hanya dengan satu raka’at shalat Witir saja. Hal ini berdasarkan perbuatan dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun perbuatan nabi, berdasarkan hadits ‘aa-isyah:

كان يوتر بأربع وثلاث، وست وثلاث، وعشر وثلاث، ولم يوتر بأنقص من سبع، ولا بأكثر من ثلاث عشرة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Witir 4 dan 3 raka’at, 6 dan 3 raka’at, 10 dan 3 raka’at. Beliau tidak pernah shalat Witir kurang dari 7 raka’at, tidak pula lebih dari 13 raka’at.”

(Ahmad dan Abu Dawud)

Adapaun ucapan nabi, berdasarkan sabda beliau:

الوتر حق، فمن شاء فليوتر بخمس، ومن شاء فليوتر بثلاث، ومن شاء فليوتر بواحدة

“Shalat Witir itu haq, barangsiapa yang mau silakan berwitir 5 raka’at, barangsiapa yang mau silakan berwitir 3 raka’at, dan barangsiapa yang mau silakan berwitir dengan 1 raka’at.”

(HR Abu Daawuud, dinilai shahiih oleh al albaaniy)

[kutip dari darussalaf]

Shahihkah riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shalat 20 raka’at?

As Suyuthi mengatakan,

“Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Namun… tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan,

Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.”

(Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan,

“Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.”

(Fathul Bari, 6/295)

[kutip dari rumaysho.com]

Demikian juga hadits tentang ‘Umar yang shalat 23 raka’at, maka hadits ini syaadz (yang lemah, karena menyelisihi riwayat-riwayat yang lebih shahiih dari riwayat tersebut) [simak: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/riwayat-shalat-taraawih-23-rakaat-di.html]

Jumlah Raka’at Shalat Malam yang Dianjurkan

Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.

‘Aisyah mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.”

(HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.”

(HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764).

Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

(Fathul Bari, 4/123; Asy Syamilah)

[kutip dari rumaysho.com]

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Malam (Tahajjud/Tarawih/Witir) Lebih dari 11 Raka’at?

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa BOLEH menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan,

“Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.”

(At Tamhid, 21/70)

Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).”

(HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.”

(HR. Muslim no. 488)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal:

Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. … Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.”

(Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.

[kutip dari rumaysho]

Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Malam

Pendapat pertama, yang membatasi hanya 11 raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Pendapat kedua, shalat tarawih tidak dibatasi jumlah raka’at tertentu… Kemudian mereka berbeda dalam pengamalan dari pendapat diatas: diriwayatkan ada yang mengamalkan 23 raka’at, ada yang mengamalkan 39 raka’at, ada yang mengamalkan 47 raka’at, bahkan ada yang mengamalkannya dengan jumlah raka’at yang tidak terhitung.

Inilah yang benar, yaitu shalat malam tidak ada batasannya, dan tidak ditentukan jumlah bilangannya; karena tidak ada satupun hadits shahiih dari Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- yang menetapkan jumlah raka’at tertentu, maka kita tidak menetapkan jumlah raka’at tertentu (yaitu tetap dalam kemuthlaqannya, yaitu dua raka’at, dua raka’at; tanpa menentukan 23, 39, 47, dll).

Mana yang lebih utama untuk diamalkan ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.”

(HR. Muslim no. 756)

Dari Az-Zafarani, Imam As Syafii mengatakan:

إِنْ أَطَالُوا الْقِيَامَ وَأَقَلُّوا السُّجُودَ فَحَسَنٌ ، وَإِنْ أَكْثَرُوا السُّجُود وَأَخَفُّوا الْقِرَاءَةَ فَحَسَنٌ ، وَالْأَوَّل أَحَبُّ إِلَيَّ

Jika shalatnya panjang (berdirinya/bacaanya) dan sedikit sujud (jumlah rakaatnya sedikit) itu baik. Dan jika banyak sujudnya (jumlah rakaatnya banyak), dan bacaan (surah nya) ringan (pendek) juga baik menurutku, dan aku lebih suka dengan yang pertama (yaitu lebih sedikit raka’atnya, dan panjang bacaannya)

(Diriwayatkan Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bary, 6/292)

Tata cara mengerjakan shalat malam

1. Dua raka’at, Dua raka’at (terus menerus tanpa mengikatkan dengan jumlah apapun) kemudian diakhiri dengan satu raka’at

Berdasarkan sabda beliau KETIKA DITANYA TENTANG TATA CARA SHALAT MALAM:

مثنى مثنى فإذا خشيت الصبح فصل ركعة واجعل آخر صلاتك وترا

Dua raka’at-dua raka’at, jika engkau khawatir masuk waktu shubuh; shalatlah satu raka’at; dan jadikanlah akhir shalat malam-mu dengan witir.

(HR Muslim)

2. Sebelas raka’at [(2,2,2,2 + 3) atau (2,2,2,2,2 + 1) atau (4,4, + 3) atau (9, + 2) atau (8, 1, + 2)]

– Adapun 2,2,2,2 + 3

Berdasarkan hadits:

ما كان يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة، يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي ثلاثا

“Nabi tidak pernah lebih dari 11 raka’at baik di Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi 4 raka’at, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat 3 raka’at.”

(Muttafaqun ‘alaihi)

Dipahami bahwa 4 raka’at tersebut dipisahkan dengan salam.

– Adapun 2,2,2,2,2 +1

Berdasarkan hadits:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَهِىَ الَّتِى يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat antara shalat ‘Isya’ (biasa disebut ‘atamah) dan shalat Shubuh sebanyak 11 raka’at. Beliau salam setiap dua raka’at dan berwitir dengan satu raka’at.”

(HR Muslim)

– Adapun 4,4 + 3

Berdasarkan hadits, ‘Aa-isyah:

“Nabi tidak pernah lebih dari 11 raka’at baik di Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi 4 raka’at, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat 3 raka’at.”

(Muttafaqun ‘alaihi)

Dan ini dipahami sebagaimana zhahirnya.

– Adapun 8, 1, + 2

Berdasarkan Hadits ‘Aa-isyah, bahwa beliau berkata:

“Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudhu’ untuk beliau. Lalu Allah membangunkan beliau pada malam hari sesuai dengan kehendak-Nya. Lalu beliau bersiwak dan berwudhu’. Kemudian beliau shalat sembilan raka’at. Beliau tidak duduk kecuali pada raka’at kedelapan. Beliau berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a kepada-Nya. Setelah itu bangkit dan tidak salam. Lalu beliau berdiri dan mengerjakan raka’at yang kesembilan. Kemudian beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a kepada-Nya. Lantas beliau mengucap salam dan memperdengarkannya kepada kami. Setelah itu beliau shalat dua raka’at sesudah salam sambil duduk. Itulah berjumlah sebelas raka’at, wahai anakku.”

(HR Muslim, dll)

3. Tiga belas raka’at [(2,2,2,2 + 3, +2) atau (2,2,2,2 + 5) atau (4,4, + 5)

– Adapun 2,2,2,2, + 3, +2

Yaitu tata cara sebagaimana diatas, akan tetapi ditambah 2 raka’at lagi setelah witir.

‘Aaisyah berkata :

“Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat sunnah malam. Beliau shalat delapan raka’at, kemudian mengerjakan witir (tiga raka’at). Setelah itu, beliau shalat dua raka’at dalam keadaan duduk. Apabila hendak rukuk, beliau berdiri lalu rukuk. Setelah itu, beliau shalat dua raka’at antara adzan dan iqamat saat waktu Shubuh tiba”

(HR Muslim)

– Adapun 2,2,2,2, +5

Berdasarkan hadits, ‘Aa-isyah:

Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam pernah shalat malam tiga belas raka’at; berwitir darinya lima raka’at. Beliau tidak duduk kecuali di akhirnya.

[HR Muslim]

– Adapun 4,4, +5

Berdasarkan hadits diatas, karena 8 raka’at yang disebutkan diatas TIDAK DISEBUTKAN tata caranya. Maka dapat dikerjakan 2,2,2,2 atau 4,4. Wallaahu a’lam.

4. Sembilan raka’at (8, 1), atau (7 + 2), atau (2,2,2 + 3)

– Adapun 8, 1

Berdasarkan hadits ‘aa-isyah:

Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam berwitir sembilan raka’at, beliau tidak duduk kecuali di raka’at kedelapan, lalu memuji Allah, mengingat dan berdoa, kemudian bangkit tanpa salam; kemudian shalat raka’at kesembilan, lalu duduk dan berdzikir kepada Allah dan berdoa; kemudian salam satu kali.

(HR Muslim, dll)

Jadi berdiri delapan kali, kemudian tasyahud, kemudian berdiri lagi satu raka’at, kemudian tasyahud, kemudian salam.

– Adapun 7 + 2

Berdasarkan hadits, dari ‘Aa-isyah, beliau berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat witir sebanyak sembilan raka’at. Lalu setelah itu shalat dua raka’at dalam keadaan duduk. Ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam lemah, maka beliau mengerjakan tujuh raka’at, lalu setelah itu shalat dua raka’at dalam keadaan duduk”

[Shahiih; An Nasaa-iy]

– Adapun 2,2,2 + 3

Berdasarkan hadits ibnu ‘Abbaas:

“…Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan shalat 2 rakaat maka beliau memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya dalam 2 rakaat tersebut, kemudian setelah selesai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring sampai mendengkur. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal tersebut sampai 3 kali sehingga semuanya berjumlah 6 rakaat. Dan setiap kali hendak melakukan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak kemudian berwudhu terus membaca ayat (Inna fii kholqis samawati wal ardhi wakhtilafil laili… sampai akhir surat) kemudian berwitir 3 rakaat.”

(HR. Muslim)

5. Lima raka’at [(2,2, + 1) atau 5 sekaligus]

Rasuulullaah bersabda:

فمن أحبَّ أن يوترَ بخمسٍ فليفعَل

Maka barangsiapa yang suka untuk berwitir 5 raka’at, hendaknya ia melakukannya…

(Shahiih; HR Abu Dawud)

Dan 5 sekaligus, berdasarkan zhahir hadits diatas.

6. Tiga raka’at [(2, +1) atau tiga raka’at sekaligus]

– Adapun 2, +1

Berdasarkan hadits ibnu ‘Umar, bahwa beliau berkata:

Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam memisah antara yang ganjil dan genap dengan salam, dan beliau perdengarkan kepada kami.

[HR Ahmad dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Irwâ` al-Ghalîl, no. 327].

Juga didasarkan pada perbuatan Ibnu ‘Umar.sendiri.

Dahulu, ‘Abdullah bin ‘Umar mengucapkan salam antara satu raka’at dan dua raka’at dalam witir, hingga memerintahkan orang mangambilkan kebutuhannya.

[HR al-Bukhâri].

– Adapun 3 raka’at sekaligus (dengan satu tahiyat)

Berdasarkan hadits Abu Hurayrah:

لاَ تُوْتِرُوْا بِثَلاَثٍ تُشَبِّهُوْا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ، وَلَكِنْ أَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ ، أَوْ بِسَبْعٍِ ، أَوْ بِتِسْعٍ ، أَوْ بِإِحْدَى عَشَرَةَ

“Janganlah berwitir dengan tiga rakaat menyerupai shalat Maghrib (dua tahiyat), namun berwitirlah dengan lima raka’at, tujuh, sembilan atau sebelas raka’at”.

[HR al-Hâkim dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam kitab Shalat Tarawih, hlm. 85]

Juga Hadits ‘Ubay bin Ka’ab:

Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam membaca dari shalat witirnya surat al-A’lâ dan pada raka’at kedua membaca surat al-Kâfirûn, dan rakaat ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad. Beliau tidak salam, kecuali di akhirnya.

[HR an-Nasâ`i, dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Shahih Sunan an-Nasâ’i, 1/372]

7. Satu Raka’at

Berdasarkan hadits:

ومن أحبَّ أن يوترَ بواحدةٍ فليفعَلْ

Dan barangsiapa yang suka berwitir 1 raka’at, hendaknya ia melakukannya…

(HR Abu Daawuud, dinilai shahiih oleh al albaaniy)

Berkaitan dengan shalat malam di bulan ramadhan (tarawih dan/atau tahajjud)

Diantara keutamaan shalat malam di bulan ramadhan

Rasuulullaah bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan karena mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.”

[Muttafaqun ‘alayh]

Beliau juga bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang shalat malam, pada lailatul qadar, dengan keimanan dan karena mengharapkan pahala (dari Allaah), niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.

[HR al Bukhaariy]

Kapankah waktu paling utama untuk mengerjakan shalat malam di bulan ramadhan?

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pelaksanaan shalat malam di bulan ramadhan, apakah sama seperti bulan-bulan lainnya (yaitu diakhir malam)? ataukah di awal malam?

Yang benar, sama seperti bulan-bulan lainnya, yaitu di akhir malam, di rumah… DENGAN PENGECUALIAN apabila shalatnya di masjid dapat lebih baik, lebih khusyu dan lebih berkualitas; maka shalatnya di masjid bersama imam di awal malam lebih utama.

Berdasarkan hadits:

صلاة المرء في بيته أفضل من صلاته في مسجدي هذا إلا المكتوبة

Shalatnya seseorang di rumahnya, LEBIH UTAMA, daripada shalatnya di MASJIDKU INI, kecuali shalat wajib.

Tentu hadits diatas juga tetap mengungulkan shalat seseorang di rumahnya daripada shalat sunnah seseorang di masjid; bahkan sekalipun di masjid nabawi; tentu termasuk disini shalat tarawih, shalat dhuha, dan shalat-shalat sunnah lainnya.

Bahkan hal tersebut yang dipahami oleh ‘Umar sendiri (penghidup shalat sunnah tarawih di masjid, sepeninggal rasuulullaah dan abu bakar). Beliau berkata:

والتي تنامون عنها أفضل من التي تقومون

dan yang tidur (tidak ikut bersama manusia) LEBIH UTAMA dari yang ikut shalat

Disebutkan:

يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله

ia memaksudkan bahwa (yang shalat) di akhir malam (lebih utama), karena pada saat itu orang-orang melakukan shalat tarawih di awal malam.

Dan inilah yang menjadi pengamalan para ulama dizaman tersebut.

Berkata ibnu ‘Abdil Barr dalam al-istidzkarnya bahwa imam malik berkata:

فقال مالك والشافعي : صلاة المنفرد في بيته في رمضان أفضل .وكان ربيعة وغير واحد من علمائنا ينصرفون ولا يقومون مع الناس .قال مالك وأنا أفعل ذلك ( يعني الانصراف) وما قام رسول الله إلا في بيته .

Berkata imam maalik dan imam asysyaafi’iy: “shalat sendirian di rumah dalam bulan ramadhan lebih utama”. Dahulu rabii’ah dan para ulama kami, yang tidak cuma satu-dua; keluar, dan tidak menegakkanya bersama manusia. Berkata imam maalik: “dan aku mengamalkan demikian” (yaitu keluar dan tidak bersama mereka), kemudian beliau melanjutkan: “Dan tidaklah rasuulullaah menegakkan shalat malam, kecuali di rumahnya”

وروينا عن ابن عمر، وسالم ، والقاسم ، وإبراهيم ، ونافع ، أنهم كانوا ينصرفون ، ولا يقومون مع الناس . وجاء عن عمر وعلي أنهما كانا يأمران من يقوم للناس في المسجد ولم يجيء عنهما أنهما كانا يقومان معهم .

Diriwayatkan pula dari ibnu ‘umar, saalim, qaasim, ibraahiim, dan naafi’ bahwasanya dahulu mereka keluar dan tidak shalat tarawih bersama manusia. Dan telah datang riwayat dari ‘umar dan ‘aliy bahwasanya mereka berdua memerintahkan manusia shalat tarawih di masjid, tapi tidak didapati dari mereka berdua bahwasanya mereka berdua shalat bersama manusia.

Makanya yang menjadi penengah dalam masalah ini adalah:

“Apabila kurang hafalan, dan dikhawatirkan jika shalat di rumah maka shalatnya tidak bagus (atau bahkan tidak shalat); sebaliknya jika ia shalat di masjid shalatnya malah menjadi bagus dan ia mendapatkan kekhusyu’an; maka tentu lebih utama di masjid.

Sebaliknya, apabila seseorang memiliki bekal hafalan dan bacaan bagus; dan ia yakin mampu untuk bangun dan shalat, seraya dapat menjaga kualitas shalat yang lebih baik di akhir malam di rumah dibandingkan mereka yang shalat di masjid; maka tentu ini lebih utama, melebihi shalatnya bersama manusia (sebagaimana hal inilah yang diamalkan para pembesar sebagian shahabah, tabi’iin, dan imam madzhab seperti maalik dan asy-syaafi’i)”

Inilah yang menjadi fatwa dari imam ibnu ‘abdil barr dalam tamhiidnya, yang demikian pula fatwa dari hasan al-bashri; ana pribadi lebih condong akan hal ini], meskipun ia shalat sunnah dhuha; tentu dengan catatan, apabila shalatnya di masjid dapat lebih khusyu’ serta lebih berkualitas, daripada shalatnya di rumah (maka shalatnya di masjid justru afdhal daripada di rumahnya).

Dimanakah tempat yang paling utama mengerjakan shalat tarawih?

Para ulama berbeda pendapat tentang tempat pelaksanaan shalat tarawih dibulan ramadhan, dimanakah yang lebih utama? apakah di rumah? ataukah di masjid?

=> Sebagian berpendapat yang lebih utama di masjid (berdasarkan hadits Abu Dzar),

=> Adapun sebagian yang lain tetap lebih utama di rumah (berdasarkan hadits shalat sunnah yang lebih utama dikerjakan dirumah; dan hadits ini pun berkaitan dengan shalat malam di bulan ramadhan),

=> Sebahagian lain berpendapat bahwa dirinci: jika seorang yang memiliki banyak hafalan al Qur-aan dan dapat shalat lebih baik, lebih khusyu, lebih berkualitas, maka lebih utama ia shalat di rumah (atau menjadi imam di masjid, jika tidak ada imam yang bisa menjadkan shalat manusia menjadi berkualitas dan khusyu’). Sebaliknya, jika seseorang memiliki sedikit hafalan al Qur-aan, atau shalatnya di rumah dikhawatirkan asal-asalan atau bahkan dikhawatirkan justru tidak shalat di rumah, maka dalam kondisi ini tentu lebih utama ia shalat di belakang imam di masjid (yang dengannya shalatnya lebih dapat berkualitas). Para penganut pendapat pertama dan kedua bersepakat jika kondisinya seperti diatas, hanya saja mereka tetap berbeda akan “hukum asal afdhaliyyahnya”.

(simak lebih lengkap pembahasan tentang hal ini disini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=4376&highlight=%C7%E1%CA%D1%C7%E6%ED%CD)

Adapun yang lebih utama adalah pendapat ketiga, dengan hukum asal afdhaliyyahnya sebagaimana shalat-shalat sunnah yang lainnya, yaitu di rumah. Apabila jika shalatnya di masjid lebih khusyu’ dan lebih berkualitas, ditambah lagi jika ia tidak shalat tarawih di masjid maka ia shalatnya asal-asalan bahkan tidak shalat tarawih sama sekali; maka dalam kondisi ini shalat tarawih dan witir di masjid lebih utama (jika sebaliknya, maka kembali kepada hukum asal fadhilahnya, yaitu lebih utama di rumah). Wallaahu a’lam

Bagaimana tata-cara paling utama mengerjakan shalat tarawih (bagi yang shalat tarawihnya di masjid)?

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah:

Yang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah.

Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.

Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh.

Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.”

(Majmu’ Al Fatawa, 22/272; rumaysho)

Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam jumlah raka’at ini[2. Sebagaimana dipraktekan oleh para ‘ulama yang berselisih tentang masalah ini. Sikap inilah yang dicontohkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Dalam kitabnya Shalat At-Tarawih, setelah beliau membawakan argumentasi ilmiah, dengan kupasan ilmu hadits yang sangat detail dan cermat, bahwa pendapat yang benar adalah hanya 11 rakaat saja, maka di akhir pembahasan beliau rahimahullah menegaskan :

“…Apabila telah mengerti hal itu, maka jangan ada seorang mengira bahwa ketika kami memilih untuk mencukupkan dengan sunnah dalam jumlah rakaat shalat Tarawih dan tidak boleh melebihi/menambah jumlah tersebut bahwa berarti kami menganggap sesat atau membid’ahkan para ‘ulama yang tidak berpendapat demikian, baik dulu maupun sekarang. Sebagaimana telah ada sebagian orang yang berprasangka demikian dan menjadikannya sebagai alasan untuk mencela kami …”

Sumber: asSalafy].

Perintah untuk shalat dengan thuma’ninah dan larangan shalat terburu-buru!

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusyu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud.

(Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengingatkan :

“Banyak kaum muslimin mengerjakan shalat Tarawih pada bulan Ramadhan namun tidak memahami (bacaannya) dan tidak thuma`ninah padanya, bahkan sangat cepat. Shalat tersebut dengan cara pelaksanaan demikian adalah batil. Pelakunya berdosa tidak mendapatkan pahala.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih ibnul ‘Utsaimiin rahimahullah juga berkata :

“Namun hendaknya pelaksanaan rakaat-rakaat Tarawih tersebut hendaknya dilakukan dengan cara yang syar’i. Semestinya memanjangkan bacaan, ruku’, sujud, I’tidal, dan dalam duduk antara dua sujud. Berbeda dengan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin pada hari ini. Mereka mengerjakannya dengan sangat cepat, sehingga para makmum tidak bisa mengerjakan shalat dengan baik. … .”

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam risalahnya Shalat At-Tarawih juga mengingatkan permasalahan ini, dan membuat pembahasan khusus tentang hal ini, yaitu “Dorongan untuk mengerjakan shalat dengan sebaik-baiknya, dan peringatan dari mengerjakannya dengan tidak baik.”

Oleh karena itu, tidak tepat jika mereka yang shalat lebih dari 11 raka’at, maka mereka melakukannya dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas, sehingga mereka lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan.

Bolehkah seseorang shalat tahajjud, setelah ia shalat tarawih dan witir bersama imam?

Boleh. (simak: http://abuzuhriy.com/tahajjud-setelah-tarawih-dan-witir-bolehkah/)

Berkata ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa:

مَنْ أَوْتَرَ أَوَّلَ اللَّيْلِ ثُمَّ قَامَ، فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ”

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat witir di awal malam, kemudian ia bangun berdiri (dari tidurnya), hendaklah ia shalat dua raka’at-dua raka’at”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/285 (4/472); sanadnya shahih; kutip dari blog abul-jauzaa].

Bagaimana cara pelaksanaannya?

Shalat malam seperti biasa, dua raka’at-dua raka’at, tapi tanpa witir lagi. Karena sudah witir bersama imam.

Rasuulullaah bersabda:

لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.”

(HR. Tirmidziy dan selainnya; shahiih)

Berkata Syaikh Shaalih al Fawzaan:

“Jika ada orang yang shalat tarawih dan shalat witir bersama imam, kemudian dia bangun malam dan melaksanakan tahajud, maka itu diperbolehkan, dan dia tidak perlu mengulangi witir, tetapi cukup dengan witir yang dia laksanakan bersama imam. Dia boleh melakukan tahajjud sesuai dengan kemampuannya.”

(Majmu’ Fatawa Syaikh Shaleh Al-Fauzan, 1:435)

Bagaimana dengan hadits untuk menjadikan witir sebagai akhir dari shalat malam?

Dijelaskan ustadz Abul Jauzaa’:

“Hadits itu mengandung anjuran untuk menutup rangkaian shalat malam dengan shalat witir. Dan bagi yang masih berkeinginan untuk menambahkan shalat lagi setelah witir, diperbolehkan.”

[Simak: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/04/sunnah-yang-banyak-ditinggalkan-shalat.html]

Makruh meninggalkan shalat malam

Rasuulullaah bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ ثُمَّ تَركَهُ

“Wahai ‘Abdullah (ibn ‘Amr), janganlah engkau seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam, lalu ia meninggalkannya.”

(HR. al Bukhaariy dan selainnya)

Semoga bermanfaat


Catatan Kaki

[1] Hadits diatas memberikan faidah bahwa yang dimaksudkan keutamaan 1000 shalat adalah shalat wajib, bukan shalat sunnah. Karena shalat sunnah tetap lebih utama di rumah, sebagaimana dijelaskan Rasuulullaah pada hadits diatas

[2] 1. Bagaimanakah mengkompromikannya dengan hadits-hadits berikut?

Sebagaimana dalam shalat dhuha terdapat hadits:

مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ غَدَا إِلىَ الْمَسْجِدِ لِسَبْحَةِ الضُّحىَ، فَهُوَ أَقْرَبُ مَغْزىً وَأَكْثَرُ غَنِيْمَةً وَأَوْشَكُ رَجْعَةً

Barang siapa yang berwudhu kemudian PERGI pada waktu pagi KE MASJID untuk melakukan SHALAT DHUHA, maka hal itu adalah peperangan yang paling dekat dan ghanimah yang paling banyak dan akan segera kembali.

(HR. Thabrani dan lainnya; terdapat dalam shahiih at-targhiib)

Juga hadiits:

وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ

Barangsiapa KELUAR (dari rumahnya ke masjid) untuk SHALAT DHUHA, dia tidak mengharapkan apapun kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumroh…

(HR. Ahmad, Abu Dawud, dll)

Dan shalat taraawiih:

إنَّ الرَّجُلَ إذا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنصَرِفَ حُسِبَ له قِيَامُ لَيلَةٍ

”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”.

(HR at Tirmidizy, dan dishahiihkannya)

Maka tetap yang dimenangkan adalah keutamaan shalat seseorang di rumahnya. Mengapa?

Karena jelas Rasuulullaah bersabda:

صلاة المرء في بيته أفضل من صلاته في مسجدي هذا إلا المكتوبة

Shalatnya seseorang di rumahnya, LEBIH UTAMA, daripada shalatnya di MASJIDKU INI, kecuali shalat wajib

Tentu hadits diatas juga tetap mengungulkan shalat seseorang di rumahnya daripada shalat sunnah seseorang di masjid; bahkan sekalipun di masjid nabawi; tentu termasuk disini shalat tarawih dan shalat dhuha dibalik keutamaannya.

Bahkan hal tersebut yang dipahami oleh ‘Umar sendiri (penghidup shalat sunnah tarawih di masjid, sepeninggal rasuulullaah dan abu bakar). Beliau berkata:

والتي تنامون عنها أفضل من التي تقومون

dan yang tidur (tidak ikut bersama manusia) LEBIH UTAMA dari yang ikut shalat

Disebutkan:

يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله

ia memaksudkan bahwa (yang shalat) di akhir malam (lebih utama), karena pada saat itu orang-orang melakukan shalat tarawih di awal malam.

Dan inilah yang menjadi pengamalan para ulama dizaman tersebut.

Berkata ibnu ‘Abdil Barr dalam al-istidzkarnya bahwa imam malik berkata:

فقال مالك والشافعي : صلاة المنفرد في بيته في رمضان أفضل .وكان ربيعة وغير واحد من علمائنا ينصرفون ولا يقومون مع الناس .قال مالك وأنا أفعل ذلك ( يعني الانصراف) وما قام رسول الله إلا في بيته .

Berkata imam maalik dan imam asysyaafi’iy: “shalat sendirian di rumah dalam bulan ramadhan lebih utama”. Dahulu rabii’ah dan para ulama kami, yang tidak cuma satu-dua; keluar, dan tidak menegakkanya bersama manusia. Berkata imam maalik: “dan aku mengamalkan demikian” (yaitu keluar dan tidak bersama mereka), kemudian beliau melanjutkan: “Dan tidaklah rasuulullaah menegakkan shalat malam, kecuali di rumahnya”

وروينا عن ابن عمر، وسالم ، والقاسم ، وإبراهيم ، ونافع ، أنهم كانوا ينصرفون ، ولا يقومون مع الناس . وجاء عن عمر وعلي أنهما كانا يأمران من يقوم للناس في المسجد ولم يجيء عنهما أنهما كانا يقومان معهم .

Diriwayatkan pula dari ibnu ‘umar, saalim, qaasim, ibraahiim, dan naafi’ bahwasanya dahulu mereka keluar dan tidak shalat tarawih bersama manusia. Dan telah datang riwayat dari ‘umar dan ‘aliy bahwasanya mereka berdua memerintahkan manusia shalat tarawih di masjid, tapi tidak didapati dari mereka berdua bahwasanya mereka berdua shalat bersama manusia.

Makanya yang menjadi penengah dalam masalah ini adalah:

“Apabila kurang hafalan, dan dikhawatirkan jika shalat di rumah maka shalatnya tidak bagus (atau bahkan tidak shalat); sebaliknya jika ia shalat di masjid shalatnya malah menjadi bagus dan ia mendapatkan kekhusyu’an; maka tentu lebih utama di masjid.

Sebaliknya, apabila seseorang memiliki bekal hafalan dan bacaan bagus; dan ia yakin mampu untuk bangun dan shalat, seraya dapat menjaga kualitas shalat yang lebih baik di akhir malam di rumah dibandingkan mereka yang shalat di masjid; maka tentu ini lebih utama, melebihi shalatnya bersama manusia (sebagaimana hal inilah yang diamalkan para pembesar sebagian shahabah, tabi’iin, dan imam madzhab seperti maalik dan asy-syaafi’i)”

Inilah yang menjadi fatwa dari imam ibnu ‘abdil barr dalam tamhiidnya, yang demikian pula fatwa dari hasan al-bashri; ana pribadi lebih condong akan hal ini. Wallaahu a’lam

3 Komentar

Filed under Ibadah, Ramadhån, Shålat

3 responses to “Sifat Shalat Malam (Qiyamul Lail, Tahajjud, Tarawih, serta Witir) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

  1. Waz Wa

    Salam ya akhi…mohon share artikelnya ya….Jazakallah

  2. Ping-balik: Sifat Shalat Tarawih Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam « Learn something by Tomy gnt

  3. muhammad adi idcat harahap

    سم الله الرحمن الرحيم

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    terima kasih saya share di face book saya ucokmonaisa dan mohon izin ..semoga berguna ..amin ya Robb

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s