Fatwa ‘ulama mengenai ‘ceramah tarawih’

Mungkin sebagian dari kita menganggap ceramah di sela-sela tarawih adalah sunnah. Mungkin juga sebagian yang lain menganggap ini adalah bid’ah secara mutlak. Bagaimanakah pandangan ulama mengenai ‘ceramah tarawih’ ini? Mari kita menyimak penjelasan asy-Syaikh al-Albaniy berikut…

Syaikh al-Albaniy råhimahullåh berkata:

“Hari-hari ramadhån adalah hari-hari ibadah, bukan ‘ilmu. (Adapun) untuk ‘ilmu, ada waktu lainnya lagi. Maka pada asalnya, tidak selayaknya di sela-sela tarawih digunakan untuk kultum, ceramah, dan pengajian. Ini bukan termasuk sunnah, karena waktu itu adalah waktu untuk ibadah bukan waktu untuk ilmu.

Namun disebabkan kurangnya kaum muslimin sekarang dalam menuntut ilmu [1. Ilmu yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) rahimahullaah. Beliau berkata,

“Ilmu itu apa yang dibawa dari para Shahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, adapun yang datang dari selain mereka bukanlah ilmu.”

(Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (I/769, no. 1421) dan Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 42))

Beliau juga mengatakan,

“Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur-an, penjelasan makna hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka…”

(Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 41))

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah mengatakan,

Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.”

Lihat penjelasan tentang ilmu yang bermanfa’at disini.] dan kurangnya ahli ilmu dalam menyampaikan ilmu kepada manusia, maka manusia mendapatkan pada waktu tersebut kesempatan berharga untuk menyampaikan ilmu yang dibutuhkan masyarakat dalam waktu yang tepat bagi mereka.”

(Kaset Liqå’atu al-Huwayniy Ma’a al-Albaniy 7/B)

Dikomentari al-Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa atau/dan al-Ustadz Abu Ubaydah Yusuf as-Sidawiy Hafizhahumallåh:

“Dari perkataan beliau ini, sangat jelas menunjukkan bahwa kultum setelah [atau sebelum -abuzuhriy] tarawih, tidak bisa dikatakan bid’ah secara mutlak. Wallåhu A’lam

[Dinukil dari: “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut al-Qur-an dan Sunnah”, karya al-Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa dan al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawiy, hlm. 81, dalam catatan kaki no. 250, Pustaka al-Furqon, cetakan Jumada Tsaniyah 1431H, http://abuzuhriy.com/?p=1899%5D

Iklan

3 Komentar

Filed under Al-Bid'ah, Ibadah, Ramadhån, Shålat

3 responses to “Fatwa ‘ulama mengenai ‘ceramah tarawih’

  1. abu uwais

    Bukankah sebaik2 contoh adalah Rasulullah?

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      Betul sekali.

      Kalau misalkan seorang yang ceramah pada saat tarawih TIDAK MERUTINKANNYA, TIDAK PULA MENGANGGAPNYA SEBAGAI SUNNAH (yang merupakan bagian dari) TARAWIH…

      Apakah tetap dikatakan secara bid’ah (secara mutlak) !?

      Sebagaimana kita tidak bermudah-mudahan mengatakan “sunnah” suatu perbuatan, tidak boleh pula kita bermudah-mudahan mengatakan “bid’ah” sebuah perbuatan tanpa meniti jalan yang benar, mengikuti jalannya para ulamaa’…

  2. Ping-balik: Hukum Ceramah dalam Rangkaian Shalat Tarawih | Celotehrumahku's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s