Panduan dalam memilih masjid

Hukum asal shalat di mesjid, adalah mendatangi masjid terdekat[1. Lihat Ahkam Hudhuril-Masajid, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzân, edisi bahasa Indonesia Adab Masuk Masjid, hlm. 158-161, Pustaka Azzam; dinukil dari: bukhori.or.id]

Sesuai sabda Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam,

‎لِيُصَلِّ الرَّجُلُ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يَلِيْهِ وَلاَ يَتَّبِعِ الْمَسَاجِدَ

Seseorang itu harus shålat di masjidnya, dan tidak mencari-cari masjid lainnya (Lihat Shahîhul-Jami’, no. 5332).

Seseorang yang shalat di masjid yang jauh dari rumahnya dan meninggalkan masjid di dekatnya, akan mengakibatkan berbagai keburukan, antara lain:

1. Menyebabkan masjid di dekatnya menjadi sepi, terlebih lagi jika sikapnya itu diikuti orang lain, dan jama’ah masjid di itu jumlahnya juga sedikit.

2. Menyakiti hati imam dan jama’ahnya, buruk sangka terhadapnya, serta menjatuhkan kehormatannya.

3. Lebih menyusahkan dirinya.

Dari penjelasan ini, maka hendaklah seseorang itu melakukan shalat di masjid yang dekat dengan rumahnya. Tetapi, jika terdapat hal lainnya yang dibenarkan syari’at, maka seseorang boleh saja shalat jama’ah di masjid yang jauh dari rumahnya dalam kondisi sebagai berikut:

1. Masjid yang didekat rumahnya tidak layak untuk dijadikan shalat; seperti masjid tersebut ada kuburan di dalamnya*, masjid tersebut menghadap ke kuburan**, dll.

2. Imam masjid yang terdekat dengan rumahnya tidak menyempurnakan rukun dan kewajiban-kewajiban shalat, atau bacaannya.***

3. Imam masjid melakukan pelanggaran-pelanggaran agama, seperti perbuatan maksiat, bid’ah atau bahkan syirik, sebagaimana terjadi di beberapa tempat.****

4. Bertujuan menghadiri kajian agama di masjid yang dia tuju.

5. Di masjid yang lebih jauh itu dilakukan shalat berjama’ah dan tepat waktu, sedangkan di masjid di dekatnya tidak demikian.

Dan lain-lain yang semisalnya.

Walaupun demikian, asalnya ialah shalat jama’ah di masjid yang dekat. Adapun jika mendapatkan adanya kesalahan imam atau makmum di masjid itu, hendaklah dinasihati dengan baik, sehingga akan terwujud persatuan di atas kebenaran bagi kaum Muslimin.

[Lihat Ahkam Hudhuril-Masajid, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Shalih al-Fauzân, edisi bahasa Indonesia Adab Masuk Masjid, hlm. 158-161, Pustaka Azzam; dinukil dari: bukhori.or.id]

* Menghindari masjid yang ada kuburan di dalamnya[2. dipetik dari: “Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya“]

Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata di dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim pada hal. 460 berkenaan dengan masjid yang dibangun di atas kuburan [dalam arti kuburannya berada di dalam masjid -red]:

“Aku tidak mengetahui adanya khilaf (perselisihan pendapat) tentang dibencinya shalat di masjid tersebut dan menurut pendapat yang masyhur. (Dan) dalam madzhab kami shalat (tersebut) tidak sah (batal) karena adanya larangan dan laknat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perkara itu.”

Jadi shalat di area pekuburan (tanpa masjid) begitu pula di masjid yang dibangun di atas kuburan hukumnya haram menurut pendapat yang masyhur di kalangan Hanabilah mengikuti pendapat Al-Imam Ahmad sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hazm darinya dan dibenarkan (dirajihkan) oleh Ibnu Hazm.

[Lihat Ahkamul Janaiz karya Al-Albani rahimahullah hal. 273-274)]

Dan pendapat ini dirajihkan (dipilih) pula oleh:

– Syaikhul Islam rahimahullah sebagaimana dalam Al-Ikhtiyarat Al-’Ilmiyyah hal. 25,

– Asy-Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar (2/134),

– Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarhul Mumti’ (2/232-236) dan Syarh Bulughul Maram (kaset).

– Begitu pula Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan batalnya shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan dalam Zadul Ma’ad (3/572)

– dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah dalam Ijabatus Sail hal. 200.

Para ulama rahimahumullah mengatakan (hukumnya) haram dan shalatnya batal berdasarkan tiga dalil:

1. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Hadits tersebut dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Syaikhul Islam dalam Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim hal. 462-463, Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 270, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (1/277-278), bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi itu semuanya merupakan masjid (tempat shalat) kecuali kuburan dan kamar mandi.”

2. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِياَئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat Yahudi dan Nashara dikarenakan mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”

(HR. Al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 529)

Syaikhul Islam rahimahullah dalam Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim hal. 462 berkata:

“Termasuk di antaranya shalat di pekuburan meskipun tidak ada bangunan masjid di sana, karena hal itu juga masuk dalam kategori menjadikan kuburan sebagai masjid sebagaimana kata ‘Aisyah radhiallahu ‘anha [Setelah Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan hadits di atas: “Allah melaknat …. dst.” -red]:

“Kalau bukan karena hal itu maka sungguh kuburan Rasulullah akan ditampakkan [Artinya beliau akan dikuburkan di luar rumah, di pekuburan Baqi’ misalnya, bersama para shahabat radhiallahu ‘anhum. Lihat Al-Qaulul Mufid syarah Kitabut Tauhid (1/347) karya Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah. -red]

“Akan tetapi beliau (shallallahu ‘alayhi wa sallam) khawatir (takut) kuburannya akan dijadikan masjid.”

Dan bukanlah maksud ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pembangunan masjid semata, karena para shahabat radhiallahu ‘anhum tidak akan melakukan pembangunan masjid di sisi kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi maksud Aisyah radhiallahu ‘anha adalah kekhawatiran bahwa orang-orang akan melakukan shalat di sisi kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap tempat yang dimaksudkan untuk shalat padanya berarti telah dijadikan masjid. Bahkan setiap tempat shalat maka itu dinamakan masjid meskipun tidak ada bangunan masjidnya, sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Telah dijadikan bumi bagiku sebagai masjid (tempat shalat) dan alat untuk bersuci (dengan tayammum).”

[HR. Al-Bukhari no. 330 dan Muslim no. 520 dari Jabir radhiallahu ‘anhu]

3. Alasan bahwa shalat di area pekuburan dimungkinkan sebagai wasilah yang menyeret kepada penyembahan kuburan atau tasyabbuh (menyerupai) para penyembah kubur.

Kemudian perlu diketahui bahwa tidak ada perbedaan antara area pekuburan yang penghuni (kuburan)nya baru satu, atau dua, dan seterusnya. Yang jelas kalau suatu area tanah tertentu telah disediakan untuk pekuburan maka jika telah ada satu mayat yang dikuburkan berarti telah menjadi pekuburan.

Ini menurut pendapat yang kuat (rajih) yang dipilih oleh Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2/134), Syaikhul Islam dalam Al-Iqtidha (hal. 460) dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (2/235), [Karena ada sebagian ulama menganggap bahwa yang dilarang adalah bila sudah ada 3 kuburan atau lebih -red].

Dan hukum ini berlaku sama saja selama dia shalat di area pekuburan, baik kuburannya di hadapan orang yang shalat, di sampingnya atau di belakangnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Ikhtiyarat hal. 25 dan Syarh Bulughul Maram (kaset). Begitu pula halnya dengan shalat di masjid yang dibangun di atas satu kuburan atau lebih, sama saja baik kuburannya di depan orang yang shalat atau tidak.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Bulughul Maram (kaset) berkata:

“Demikian pula hukumnya kalau suatu masjid dibangun di atas suatu kuburan karena masjid itu masuk dalam kategori area pekuburan, mengingat bahwa ketika kuburannya dalam masjid maka berarti masjid itu telah menjadi tempat pekuburan.

Adapun jika suatu mayat dikuburkan dalam masjid (yang telah dibangun lebih dulu) maka wajib hukumnya untuk membongkar kuburan tersebut kemudian dipindahkan ke pekuburan kaum muslimin dan tidak boleh dibiarkan tetap dalam masjid. Namun shalat di dalam masjid tersebut tetap sah selama kuburannya bukan di depan orang yang shalat, karena jika demikian (kuburannya di depan orang yang shalat –red) maka shalatnya batal.”

** Menghindari masjid yang menghadap kuburan[3. dipetik dari: “Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya“]

Ditegaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin bahwa shalat menghadap ke kuburan [Dalam arti dia di luar area pekuburan -red] tidak sah merupakan pendapat

– Ibnu Qudamah dalam Al-Mugni (2/50),
– Syaikhul Islam dalam Al-Ikhtiyarat hal. 25,
– Ibnu Hazm

Dan ini merupakan pendapat Al-Imam Ahmad sebagaimana diriwayatkan darinya oleh Ibnu Hazm sebagaimana dalam Ahkamul Janaiz hal. 273-274.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarhul Mumti’ (2/247) setelah beliau menegaskan haramnya shalat menghadap ke pekuburan dan pendapat yang mengatakan makruh adalah marjuh (lemah), kemudian beliau berkata:

“Kalau dikatakan bahwa shalatnya tidak sah maka sungguh sisi kebenarannya kuat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits Abi Martsad Al-Ghanawi radhiallahu ‘anhu:

لاَ تَجْلِسُوْا عَلىَ الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya.”

(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan haramnya shalat menghadap ke area pekuburan atau ke kuburan-kuburan atau ke satu kuburan (sekalipun). Dan juga karena alasan dilarangnya shalat di area pekuburan terdapat pula pada shalat menghadap ke kuburan.

Maka selama seseorang masuk dalam kategori shalat menghadap ke kuburan atau ke area pekuburan berarti dia telah masuk dalam larangan. Jika demikian maka shalatnya tidak sah berdasarkan hadits (di atas):

“Janganlah kalian shalat menghadap ke kuburan.”

Jadi larangan menghadap ke kuburan khusus ketika shalat, maka barangsiapa shalat menghadap ke kuburan berarti terkumpul pada amalannya antara ketaatan dan maksiat, dan tidak mungkin seseorang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara demikian.

Jika ditanyakan apa yang dianggap batas pemisah antara dia dengan kuburan?

Kami katakan: Dinding merupakan pemisah, kecuali jika itu dinding pekuburan maka ada sedikit keraguan dengannya. Namun jika ada dinding lain yang memisahkan antara kamu dan pekuburan maka tidak ada keraguan lagi bahwa itu tidak masuk dalam larangan.

Demikian pula jika antara kamu dan pekuburan ada jalan, atau antara kamu dan pekuburan ada jarak pemisah, yang sebagian ulama menyatakan seperti jaraknya pembatas shalat. Berdasarkan ini berarti jaraknya dekat. Namun ini tetap menyisakan keraguan, karena seseorang yang melihat engkau shalat sementara di depanmu ada pekuburan sejarak 3 hasta tanpa dinding pemisah, dia akan menyangka engkau shalat menghadap ke kuburan. Jika demikian berarti butuh jarak yang cukup, yang dengannya diketahui bahwa engkau shalat tidak menghadap ke kuburan.”

Jika demikian maka apabila ada masjid yang dikelilingi oleh kuburan dari luar dinding masjid (termasuk di depannya) maka shalat di dalamnya sah, dan hal ini telah ditegaskan oleh Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Ijabatus Sail hal. 200. Sementara itu sebagian ulama Hanabilah dan dinukilkan dari Al-Imam Ahmad (berpendapat) bahwa tidak boleh shalat di masjid yang di depannya ada kuburan hingga ada dinding lain selain dinding masjid sebagai pemisah (lihat Al-Ikhtiyarat hal. 20).

Dengan demikian, sebaiknya menghindari shalat di masjid tersebut jika ada masjid lain, meskipun shalat di situ tetap sah sebagaimana kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahumallah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

***Menghindari masjid yang imam rawatibnya tidak memperhatikan rukun-rukun dan kewajiban shalat[4. dipetik dari: “Imam terlalu cepat shalat tarawih“]

Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’
(Komisi Tetap dalam Riset Ilmiyyah dan Fatwa di Saudi Arabia)

Soal Kelima dari Fatwa no. 6914

Soal:

Terkadang imam begitu cepat dalam membaca surat (atau bacaan dzikir lainnya) ketika shalat tarawih, sampai hampir-hampir orang yang shalat di belakangnya  tidak mampu membaca surat (atau bacaan shalat) atau tidak mampu menyempurnakan bacaan Al Fatihah. Apakah shalat seperti ini sah?

Jawab:

Disyari’atkan untuk memilih imam lain agar bisa betul dalam membaca Al Qur’an secara tartil dan bisa lebih thuma’ninah dalam shalat. Namun jika hal ini tidak bisa dilakukan, maka orang tersebut lebih baik shalat di rumahnya. Dan sudah selayaknya bagi makmum yang pendapatnya bisa didengar oleh imam untuk menasehati imam tersebut agar membaca Al Qur’an secara tartil dan thuma’ninah dalam shalat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat (senantiasa mengharapkan kebaikan pada yang lain).”

[HR. Muslim no. 55, Abu Daud no. 4944, An Nasa-i no. 4197-4200, At Tirmidzi no. 1926, Ad Darimi 2/311]

Wa billahi taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Yang menandatangani fatwa ini:

Abdullah bin Qu’ud dan Abdullah bin Ghodyan sebagai anggota,
‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua
‘Abdul Aziz bin Baz sebagai Ketua.

[Fatwa diatas tidak hanya khusus pada shalat tarawih saja, tapi juga berlaku pada shalat-shalat lainnya; seperti shalat wajib]

****Menghindari masjid yang imam rawatibnya adalah orang fasiq (ahliu maksiat) atau ahlul bid’ah[5. dipetik dari: “aduh lewat“]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- telah ditanya,

“Apakah sah shalat di belakang seorang ahli bid’ah?”

Beliau menjawab,

Ya (sah). Shalat di belakang ahli bid’ah dan di belakang orang yang menurunkan sarungnya (musbil) atau orang-orang yang bermaksiat lainnya adalah sah. Demikian salah satu dari dua pendapat yang kuat. Selama bid’ah tersebut tidak mengkafirkan orangnya. Jika bid’ahnya itu mengkafirkan orangnya, seperti Jahmiyyah atau sejenisnya dari orang-orang yang bid’ahnya mengeluarkan mereka dari lingkup Islam, maka shalatnya tidak sah.

Oleh sebab itu orang-orang yang diberi tanggung-jawab memilih imam, hendaklah mereka memilih imam seorang yang selamat dari kebid’ahan dan kefasikan, serta perilakunya diridhoi. Karena keimaman adalah amanat yang sangat agung dan seorang imam merupakan teladan bagi kaum muslimin. Maka tidak boleh menyerahkannya kepada ahlul bid’ah atau orang fasik, dalam keadaan mampu menyerahkan kepada selain mereka.”

[Lihat Majalah Ad-Da’wah (edisi 913)]

Ahlus Sunnah menganggap shalat berjama’ah di belakang imam baik yang shalih maupun yang fasik dari kaum Muslimin adalah sah[6. dipetik dari: “Hukum Shalat Di Belakang Ahlul Bid’ah“]. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka[7. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 529) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki]

Dalam Shahiihul Bukhari [8. Shahiihul Bukhari (no. 1660, 1662, 1663)] disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah shalat dengan bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Padahal al-Hajjaj adalah orang yang fasik dan bengis[9. Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi seorang amir yang zhalim, dia menjadi amir di Irak selama 20 tahun, dan dialah yang membunuh ‘Abdullah bin Zubair bin ‘Awam di Makkah. Hajjaj mati tahun 95 H. Lihat Taqriibut Tahdziib (I/190, no. 1144) dan Tahdziibut Tahdziib (II/184-186), oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani] ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma adalah seorang Sahabat yang sangat hati-hati dalam menjaga dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan al-Hajjaj bin Yusuf adalah orang yang terkenal paling fasik. Demikian juga yang pernah dilakukan Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf. Begitu juga yang pernah dilakukan oleh beberapa Sahabat Radhiyallahu ‘anhum, yaitu shalat di belakang al-Walid bin Abi Mu’aith.[10. Lihat Shahiih Muslim (no. 1707)]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

“Artinya : Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.”[11. HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah]

Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab: “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya.” Imam al-Bukhari memberikan bab tentang per-kataan Hasan al-Bashri dalam Shahiihnya (bab Imamatul Maftuun wal Mubtadi’ dalam Kitaabul Aadzaan).

Ketahuilah bahwasanya seseorang boleh shalat bermakmum kepada orang yang tidak dia ketahui bahwa ia memiliki kebid’ahan atau kefasikan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Ahli bid’ah maupun pelaku maksiyat, pada asalnya shalatnya adalah sah. Apabila seseorang shalat bermakmum kepadanya, shalatnya tidak menjadi batal. Namun ada ulama yang meng-anggapnya makruh. Karena amar ma’ruf nahi munkar itu wajib hukumnya. Di antaranya bahwa orang yang menampakkan ke-bid’ahan dan kefasikannya, jangan sampai ia menjadi imam rutin (rawatib) bagi kaum Muslimin.

Iklan

9 Komentar

Filed under Adab

9 responses to “Panduan dalam memilih masjid

  1. Ping-balik: Panduan dalam memilih masjid « Learn something by Tomy gnt

  2. Ping-balik: Panduan Dalam Memilih Masjid « Mutiara Sunnah

  3. Assalamu’alaikum ustadz,

    bagaiman akiranya jika khusus dalam masalah shalat subuh, ana lebih memilih masjid yang agak jauh, dikarenakan waktunya lebih terhindar dari perselisihan masalah waktu subuh di Indonesia/Surabaya

    • wa ‘alaykumus salaam (dan ana bukan ustadz)

      tentang masalah waktu shubuh, dan mengatakan bahwa SELURUH DUNIA atau INDONESIA (SECARA KHUSUS) telah salah dalam menentukan waktu shubuh.

      berikut ana nukilkan perkataan ulama ahlus-sunnah dalam hal ini:

      Fatwa Syeikh Sholeh Fauzan

      (sumber: http://www.alradnet.com/TopSin/article.php?id_Hour=72)

      Belum lama ini, kita melihat sebagian orang ingin merubah cara ini, mereka menampakkan pendapatnya pada masalah-masalah yang tidak sepatutnya mereka menampakkan pendapatnya, sehingga menjadikan masyarakat bingung dalam urusan ibadah, mu’amalah dan akidah mereka.

      Seperti ikut campur mereka dalam masalah waktu sholat, mereka mulai membuat masyarakat ragu-ragu terhadapnya, dan menyebarkan isu bahwa orang-orang mendirikan sholat sebelum masuk waktunya. Mereka mengatakan, dalam kalender Ummul Quro ada kesalahan hisab, padahal itu merupakan kalender yang ditetapkan oleh waliyul amri, dan ditetapkan oleh para ulama sejak dahulu kala, dan tidak pernah terjadi kesalahan dalam prakteknya sejak puluhan tahun yang lalu.

      Ada juga fatwa beliau yang berupa rekaman suara, anda bisa dengar dari link berikut ini:

      http://www.midad.me/mediaFrame/fatwa/337790/337790

      Fatwa dari Syeikh Abdulloh bin Sulaiman bin Mani’ (Anggota dari Hai’ah Kibar Ulama di Negara Saudi)

      Soal: Bismillahirrohmanirrohim, aku mohon agar kalian mau menjelaskan padaku hukum syar’i dalam masalah ini.

      Ada seseorang yang menyebarkan tulisan berjudul “Tanbihul anam bibuthlani sholatil fajri fil masjidil harom” (peringatan bagi manusia, tentang batalnya sholat fajar di masjidil harom

      orang ini beranggapan bahwa sholat fajar di masjidil harom makkah itu tidak sah, karena mereka sholat sebelum masuk waktunya.

      Apa pendapat kalian dalam masalah ini?

      Apa penilaian kalian terhadap orang seperti ini dan yang lainnya dalam tindakannya membuat keraguan terhadap kalender yang ada?

      Jazakamullohu khoiro.

      Jawab:

      Segala puji bagi Alloh, tak diragukan lagi bahwa pendapat ini batil dan sama sekali tidak benar, karena masalah penentuan waktu sholat itu telah diserahkan kepada lajnah yang ahli dalam ilmu syar’i dan ilmu falak. Lajnah itu telah berusaha dan akan terus berusaha untuk mengurusi masalah itu, dan teliti dalam menentukan jadwal waktu sholat. Alhamdulillah lajnah ini telah menjalankan tugasnya dan dia yang akan bertanggung-jawab penuh atasnya.

      Ucapan mereka itu, termasuk dalam sikap berlebih-lebihan dalam agama, padahal Rosul kita -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Janganlah kalian berlebih-lebihan, karena hal itu telah merusak umat sebelum kalian!”. (HR. Nasa’i:3057 dan Ibnu Majah: 3029) dari hadits riwayat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-.

      Itu juga termasuk dalam sikap waswas dan tanaththu’ (ekstrim), padahal Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Binasalah orang-orang yang tanaththu’” (HR. Muslim: 2670) dari hadits riwayat Ibnu Mas’ud -rodhiallohu anhu-.

      Oleh karena itu, hendaknya kita tidak menghiraukan pendapat-pendapat yang seperti ini, yang bersumber dari terkaan dan jauh dari kenyataan, serta tidak percaya kepada lembaga yang ahli dalam bidangnya dan memiliki kelebihan dalam bidang ilmu syariat dan ilmu falak.

      Wajib bagi kita untuk membuang jauh pendapat seperti ini dan jangan sampai menghiraukannya, karena ini merupakan tindakan skeptis yang tidak pada tempatnya, ditambah lagi mereka tidak memiliki dalil nyata yang mendukungnya. Adapun kalender Ummul Quro, ia disusun atas dasar ketentuan yang mendetail, baik dalam hal yang berhubungan dengan observasi maupun dalam hal yang berhubungan dengan hisab falak yang sekarang telah diakui dan digunakan, dalam hal yang berhubungan dengan masalah ini, wallohu a’lam.

      Fatwa Syaikh Abdul Aziz alusy Syaikh

      …Adapun jika ada satu orang atau seorang imam, lalu mengatakan: “Masyarakat, (waktu kita) terlalu cepat!”, yang lain mengatakan: “Jangan sholat (sekarang)!, dan yang lain lagi mengatakan: “Ulangilah sholat kalian!” atau “Sholat kalian batal (karena tidak tepat waktu)!”, maka tindakan seperti ini, merupakan tasykik (membikin keraguan) dalam hal ibadah, dan hal itu tidak boleh dilakukan kecuali dengan fatwa dari badan fatwa tertinggi di negara itu, karena ini menyangkut amal ibadah yang paling agung, dan tidak seorang pun berhak secara pribadi ikut campur dalam masalah ini.

      (Lihat Kitab Thulu’ul Fajris Shodiq hal. 32-35)

      baca: Siapa yang salah kaprah dalam waktu shubuh?

      maka meninggalkan mesjid terdekat dengan alasan seperti ini, kurang tepat menurut penilaian ana.

      wallahu a’lam

  4. ukefitriadi

    bagaimana hukumnya sholat di mesjid terjauh karena ingin melangkahkan kaki lebih banyak, menghindari bidah dan karena jamaah disana lebih banyak disetiap sholat fardhu. sbg tambahan info bhw mesjid di sebelah rumah ana adalah mushola yg tidak dipakai jumatan namun dipakai sholat berjamaah dg jamaah sholat kurang dr 10org

    • Gak apa-apa… Justru yang mendapatkan pahala 25 atau 27 kali lipat adalah shalat di masjid jami’ (yang ditegakkan shalat jama’ah dan shalat jum’at)…

      Berkata Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy:

      . وَرَوَى سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ أَوْسٍ الْمَعَافِرِيِّ أَنَّهُ قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ :

      ”Diriwayatkan dari Sa’id bin Manshur dengan sanad yang HASAN dari Aus Al-Ma’arifi bahwa dia pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Ash,

      أَرَأَيْتَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى فِي بَيْتِهِ ؟

      ”Bagaimana pendapat anda jika seseorang berwudhu dengan sempurna lantas ia shalat (sendirian) di rumahnya?

      قَالَ : حَسَنٌ جَمِيلٌ

      ”Abdullah bin Amr menjawab :”Sangat baik”.

      قَالَ : فَإِنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِ عَشِيرَتِهِ ؟

      Aus bertanya lagi “Jika ia shalat di mesjid keluarganya ?”

      قَالَ : خَمْسَ عَشْرَةَ صَلَاةً

      Dijawab :”Berarti ia dapat pahala 15 kali lipat”.

      قَالَ : فَإِنْ مَشَى إِلَى مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ فَصَلَّى فِيهِ ؟

      Diatanya lagi ,”Bagaimana jika berjalan ke masjid (yang ditegakkan shalat) jama’ah kemudian ia shalat didalamnya?”

      قَالَ : خَمْسٌ وَعِشْرُونَ

      Abdullah bin Amr menjawab “Berarti ia mendapat 25 kali lipat”

      [Hasan; HR Sa’id bin Manshur, lihat Fathul Baari (II/35)]

      Semoga bermanfaat.

  5. Ping-balik: Keutamaan Hari Jumat | My Name is Bam

  6. Mau tanya nih kalo saya sholat di masjid yang satu lagi gitu gak jauh kok deket tapi ada yang lebih deket. tapi ane mau yang ke2 itu karena mau aja dan ane mau aja, apa boleh ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s