Tafsir QS. 45:23 – Mengenal penyembah hawa nafsu

Allåh berfirman:

‎أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّه . أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

(QS al-Jaatsiyah [45]:23)

Tafsir ayat [1. Sumber: Tafsiir Ibnu Katsiir (Viii/288-289), Pustaka Ibnu Katsiir]

Allåh berfirman:

‎وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

Dan Allåh membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya

Ibnu Katsiir menafsirkan:

yaitu Allåh menyesatkan mereka berdasarkan ilmuNya, karena memang orang seperti itu berhak menerimanya (na’udzubilaah). Dengan kata lain, Allåh subhanahu wa ta’ala menyesatkannya setelah sampai ilmu kepadanya dan setelah tegaknya hujjah (atasnya)

Allåh berfirman:

‎وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً

dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?

Ibnu Katsiir menafsirkan:

Maka merekapun tidak bisa mendengarkan nasehat yang bermanfa’at, bahkan mereka sama sekali tidak dapat mencerna petunjuk yang bisa menuntun mereka ke jalan yang benar. Mereka tidak bisa melihat hujjah yang bisa dijadikan lentera penerang dalam perjalanan mereka. karena itulah;

Allåh berfirman:

‎فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Ibnu Katsiir menafsirkan:

Hal ini sama seperti dalam firmanNya;

‎مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

[QS. al-A’rååf [7]: 186]

Semoga Allåh tidak menggolongkan kita sebagai pengikut (terlebih lagi menjadi PENYEMBAH) hawa nafsu. Allåhul musta’aan. aamiin

Semoga bermanfa’at

Sumber: Tafsiir Ibnu Katsiir (Viii/288-289), Pustaka Ibnu Katsiir

Tinggalkan komentar

Filed under Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s