Wasiat Allåh untuk selalu menetapi kebenaran dan berpaling dari hawa nafsu

Allåh berfirman:

‎أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

Maka apakah orang yang berpegang dengan HUJJAH yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?

(QS 47:14)

Ibnu Katsiir menafsirkan ayat diatas:

Orang-orang yang berada diatas bashiirah (hujjah) dan keyakinan dari syari’at dan agama Allåh subhanahu wa ta’ala berdasarkan petunjuk dan ILMU yang Dia turunkan dalam kitabNya [dan sunnah RåsulNya -abuzuhriy-] serta berdasarkan fithrah yang lurus yang Allah hujamkan dalam tabiat mereka. TIDAKLAH SAMA dengan orang-orang yang MEMANDANG BAIK PERBUATAN BURUK dan MENGIKUTI HAWA NAFSUnya.

Kemudian Ibnu Katsiir membawakan ayat yang senada dengan ayat diatas:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Adakah orang yang MENGETAHUI (MENGILMUI) bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Råbbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran

(QS. 13:19)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas:

Tidaklah sama antara

“Orang yang MENGETAHUI (MENGILMUI) bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu”, wahai Muhammad. “(apa yang diturunkan) dari Råbbmu” itu merupakan kebenaran yang tidak diragukan dan tidak diperselisihkan lagi, justru semuanya merupakan kebenaran, sebagiannya membenarkan sebagian yang lain, dan aneka perintah serta larangan adalah ADIL.”

dengan

“orang yang buta, yang tidak mendapatkan petunjuk untuk menuju kebenaran, dan juga yang tidak memahami kebenaran itu. Jika dia memahaminya, maka dia tidak mengikutinya, tidak membenarkannya dan tidak menaatinya.

Firman Allåh:

“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”

Maksudnya, yang dapat mengambil nasehat dan memahaminya hanyalah pemilik akal yang SEHAT dan WARAS.

Semoga Allåh menjadikan kita dari kalangan mereka.

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [VIII/357] dan Ringkasan Tafsir Ibnu Katsiir [II/916])

Allåh berfirman:

‎قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“(Iblis berkata:) Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka MEMANDANG BAIK (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”

(QS. 15: 39-40)

Ibnu Katsiir menafsirkan:

Maksud firman Allåh (39-40) tersebut adalah “Aku (Iblis) akan selalu menggoda dan mendorong mereka hingga berhasil membuat hati mereka menyukai kemaksiatan serta membuat hati mereka gelisah dan ingin selalu berbuat maksiat.”

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [V/107])

‎إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ . إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka. kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.

(QS. 15: 42)

Ibnu Katsiir menafsirkan:

Maksudnya, mereka telah diputuskan mendapatkan hidayah, tidak akan dapat kamu goda atau kamu sesatkan (kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat). إِلَّا (kecuali) disini adalah pengecualian istitsna’ munqåthi’ (pengecualian terpisah).[Maksudnya, hamba-hamba Allåh yang mukhlish dengan orang-orang sesat SAMA SEKALI TERPISAH. Tidak boleh diartikan sebagian dari hamba-hamba yang mukhlish ini ada yang sesat]

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [V/108])

Allåh berfirman:

‎إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

(16: 99-100)

Ibnu Katsiir menafsirkan:

(Ada dua pendapat tentang tafsir ayat 99).

Sufyan ats-Tsauriy berkata,

“Syaithån itu tidak memiliki kekuasaan untuk menjatuhkan mereka ke dalam dosa yang mereka tidak bertaubat darinya” (ath-Thåbariy [XVII/294])

Adapun pendapat lain:

“Tidak ada hujjah bagi syaithån atas orang-orang beriman”

(adapun tafsiran untuk ayat 100)

Mujahid berkata:

“Maksudnya, kekuasaan (syaithån) itu hanya berlaku kepada orang-orang yang tunduk kepadanya (yakni tunduk kepada syaithån).”

Pendapat yang lain mengetakan:

“Kekuasaan (syaithån) itu hanya berlaku kepada orang-orang yang menjadikannya sebagai kekasih selain Allåh.”

dan kekuasaan itu juga berlaku:

“Atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”

(Shahiih Tafsir Ibnu Katsiir [V/255])

Allåh berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ‪. ‬ وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Råbbmu Maha Memelihara segala sesuatu.

(34: 20-21)

Ibnu Katsiir menafsirkan:

“Pada (dua) ayat ini, Allåh mengabarkan tentang perilaku orang-orang yang mengikuti Iblis dan Hawa Nafsu, serta orang-orang yang selalu menentang petunjuk dan hidayah Ilahi.

Allåh berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka”

Ibnu Abbas dan para ahli tafsir lainnya berkata:

“Ayat ini memiliki makna sepadan dengan firman Allåh yang mengabarkan tentang perilaku iblis yang enggan bersujud kepada Adam ‘alayhis salaam.”

Selanjutnya Allåh berfirman, mengisahkan perkataan Iblis,

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا

“Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.

(QS. 17: 62)

Dan Allåh berfirman -mengisahkan perkataan Iblis-:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

kemudian aku akan benar-benar mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

(QS. 7: 62)

Dan ayat-ayat lain yang menjelaskan sumpah serapah iblis untuk menyesatkan manusia.

Firman Allåh:

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka (yakni manusia)

Ibnu Abbas berkata:

“Maksud dari lafazh سُلْطَانٍ pada ayat ini adalah hujjah.”

Firman Allåh:

إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ

melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu

Ibnu Katsiir menafsirkan:

Maksudnya, kami biarkan iblis menggoda mereka supaya menjadi jelas siapa saja yang beriman terhadap hari akhirat dan terjadinya hari kiamat serta akan adanya hari perhitungan dan pembalasan padanya, sehingga dengan keyakinan tersebut MEREKA MEMBAGUSKAN PENGHABAAN MEREKA TERHADAP RÅBB MEREKA. juga supaya jelas, siapa yang merasa ragu akan datangnya hari akhirat itu.

Adapun firmanNya:

وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

Dan Råbbmu Maha Memelihara atas segala sesuatu.

Ibnu Katsiir menafsirkan:

Meskipun pemeliharaan Allåh itu ada, tetap saja para pengikut iblis itu berada dalam kesesatan (karena mereka mengikuti iblis) Dan dengan penjagaan dan pemeliharaan Allåh-lah maka selamatlah orang-orang yang beriman yang mengikuti para Råsul (karena keimanan mereka).

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [VII/416-417])

Semoga Allåh menggolongkan kita termasuk hamba-hambaNya yang MUKHLSIH, yang selalu MEMPERBAIKI dan MEMPERBAGUS IMAN-NYA, dan yang selalu BERTAWAKKAL kepadaNya dan menjaga kita dari seluruh tipu daya iblis dan juga tipu daya para penyembah dan pengikutnya.

Aamiin.

NB:

Silahkan kembali TADABBURI lagi artikel berikut:

Ciri-ciri Pengikut Hawa Nafsu

juga artikel berikut:

Mengenal Penyembah Hawa Nafsu

juga artikel berikut:

Janganlah engkau sombong dengan kebenaran yang datang padamu

Tinggalkan komentar

Filed under Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s