Katakanlah kebenaran, janganlah berkata tanpa ilmu dan AMALkanlah apa yang engkau katakan

Berkata Ibnu ‘Abbas Rådhiyallåhu ‘anhumaa:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ فَعَلَ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika Beliau bersabda (tentang sesuatu), maka pasti beliau AMALKAN (apa yang beliau sabdakan tersebut).”

(Atsar Riwayat Bukhåriy no. 2487)

Perlu kita ketahui, bahwa Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam tidaklah berkata/bersabda, melainkan perkataan beliau tersebut adalah wahyu; beliau tidaklah berkata menurut hawa nafsu yang MENYESATKAN; sebagaimana firman Allåh:

وَالنَّجْم إِذَا هَوَىٰ . مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ . وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) TIDAK SESAT dan TIDAK PULA KELIRU. dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

(an-najm: 1-4)

Ibnu Katsiir menafsirkan:

“Ayat ini merupakan kesaksian bahwa Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam berada diatas jalan yang lurus, mengikuti kebenaran dan bukan orang yang sesat.

Yang dimaksud dengan orang yang sesat adalah orang-orang yang menempuh jalan menyimpang TANPA ILMU. Dan orang yang keliru adalah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi ia menyimpang darinya dengan sengaja.

Allåh membersihkan Råsul dan syari’atNya dari kemiripan orang-orang yang sesat, seperti orang-orang nashrani dan jalan-jalan orang (yang keliru dan dibenci/dimurkai, seperti orang) yahudi. Mereka (orang yahudi) mengetahui kebenaran, tetapi menyembunyikannya dan mengamalkan hal yang sebaliknya.

Adapun beliau shållallåhu ‘alayhi wa sallam dan syari’at yang agung yang dengannya Allåh mengutusnya, berada dipuncak kelurusan, keseimbangan dan kebenaran.

Karena itu Allåh berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ

dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. .

Yakni, Beliau shållallåhu ‘alayhi wa sallam SAMA SEKALI TIDAK MENGUCAPKAN sesuatu berdasakan hawa nafsu dan kepentingnnya.

Allåh berfirman:

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)

Yakni, Råsulullåh hanya mengatakan apa yang diperintahkan kepadanya untuk disampaikan kepada manusia DENGAN SEMPURNA, APA ADANYA, TANPA PENGURANGAN dan PENAMBAHAN.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Amr, (ia) berkata:

Dahulu aku menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah untuk kuhafalkan, namun Quraish melarangngku seraya mengatakan: Apakah engau menulis segala sesuatu, padahal Rasulullah adalah seorang manusia yang berbicara ketika marah dan ridha?! Akupun menahan diri dari penulisan sehingga aku mengadukannya kepada Rasullalh, lantas beliau mengisyaratkan dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda:

اكْتُبْ, فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ

Tulislah, Demi Dzat Yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah keluar darinya (mulut Nabi) kecuali al-Haq (sesuatu yang jujur dan benar).

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [VIII/586-587])

Dan PERKATAAN beliau tersebut adalah sesuatu yang DIAJARKAN (disampaikan) oleh Jibril ‘alayhis salaam kepadanya, berdasarkan firman Allåh, pada ayat setelahnya:

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ . ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ

Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli

(an-Najm 5-6)

Ibnu Katsir menafsirkan:

Yakni Jibril ‘alayhis salaam telah mengajarkan kepadanya apa yang harus disampaikan kepada manusia, sebagaimana firman Allåh:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya

(at-Takwir: 19-21)

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [VIII/589])

Fawaid:

Hendaknya kita MENUNTUT ILMU AGAMA (yang kemudian kita MEMAHAMINYA DENGAN BENAR) sebelum membicarakan/mengamallkan perkara agama.

Ketahuilah sesungguhnya Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam telah menjadi teladan kita dalam hal ini.. tepatlah perkataan al-imam al-bukhåriy råhimahullåh:

باب : العلم قبل و العمل

“Baab: Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”.

Perkataan beliau ini beliau sandarkan kepada firman Allah ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”

(QS. Muhammad [47]: 19).

Ibnul Munir rahimahullah berkata,

“Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat diterima benarnya suatu perkataan dan perbuatan.

Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu.

Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.”

(Fathul Bari, 1/108)

dan hendaknya ilmu tersebut dituntut dari AHLInya, sebagaimana firman Allåh:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kepada AHLI DZIKR (AHLI ILMU/ULAMA) jika kamu tidak mengetahui,

(An-Nahl: 43)

Hal yang patut kita teladani dari Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam:

1. Beliau TIDAKLAH BERKATA/BERAMAL TANPA ILMU sebagaimana yang disebutkan Allåh dalam firmanNya diatas (an-najm 2)

2. Beliau berkata dan mengamalkan sesuatu DENGAN BERDASARKAN ILMU (wahyu), berdasarkan firman Allåh (an-najm 3-4)

3. Beliau tidaklah berkata, melainkan itulah kebenaran (berdasarkan wahyu), berdasarkan hadits:

إِنِّيْ لّا أَقُوْلُ إِلَّا حَقًا

“Sesungguhnya aku tak akan mengucapkan sesuatu kecuali itu benar”

[At-Tirmidzy dalam As-Sunan (1990). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albany dalam Ash-Shohihah (1726)]

Bahkan beliau mengamalkan sabdanya sendiri:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.”

[HR. Al-Bukhari dalam al-Adab hadits (6018) dan Muslim hadits (47).]

4. Beliau mendapatkan pengajaran dari AHLI-nya, sebagaimana dijelaskan Allåh dalam firmanNya (an-Najm 5-6) dan (at-takwir 19-21); yang mana wahyu yang beliau katakan/amalkan tersebut, merupakan pengajaran dari Jibril ‘alayhis salaam.

5. Beliau tidaklah berkata, melainkan beliau MENGAMALKAN perkataan yang beliau katakan tersebut, berdasarkan atsar ibnu abbas radhiyallahu ‘anhumaa diatas.

Subhanallåh.. sungguh sesuatu hal yang sangat sangat patut untuk kita teladani.. yakni mengisi hidup dengan ILMU dan AMAL..

Semoga bermanfa’at

1 Komentar

Filed under Adab

One response to “Katakanlah kebenaran, janganlah berkata tanpa ilmu dan AMALkanlah apa yang engkau katakan

  1. Ping-balik: Keutamaan Membaca, Mempelajari, Mentadabburi, Menghafalkan, Mengamalkan, serta Mendakwahkan al-Qur’an – Islam Kajian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s