Bersabarlah terhadap taqdir Allah wahai saudaraku

Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta’ala.

Perbedaan antara Al-Qadar & Al-Maqduur

Qadar atau taqdiir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqduur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi’lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta’ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha.

Contohnya adalah: Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan diantara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat).

Sedangkan al-maqduur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata.

– Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya,

– Sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqduur,

– Adapun (jika dilihat) dari sisi bahwasanya (terjadinya kemaksiatan dan kerusakan) itu adalah taqdir (yang telah ditetapkan) Allah, maka kita wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan.

Dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata:

“Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan.”

Maka barangsiapa yang melihat dengan kacamata Al-Qadha` wal Qadar kepada seseorang yang berbuat maksiat, maka wajib atasnya ridha, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah menaqdirkan hal itu dan padanya ada hikmah dalam taqdir-Nya.

Dan sebaliknya apabila dia melihat kepada perbuatan orang tersebut maka tidak boleh ridha dengannya karena perbuatannya tadi adalah maksiat.”

Inilah perbedaan antara al-qadar dan al-maqduur.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh mengatakan:

“Seorang hamba dalam takdirnya berada pada dua keadaan; Kondisi sebelum terjadinya takdir dan kondisi setelah terjadinya takdir. Sebelum terjadinya takdir, maka yang wajib baginya adalah meminta pertolongan kepada Allah, bertawakkal dan berdo’a kepada-Nya. Apabila Alloh menetapkan takdir bukan karena sebab perbuatannya (bukan yang diharapkannya-pent), maka dia wajib bersabar dan ridho. Apabila takdir itu datang dengan sebab perbuatannya, maka itu adalah sebuah nikmat, yang hendaknya dia memuji Alloh karenanya”.

[Majmu’ul Fatawa 8/76]

Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?

Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:

Tingkatan pertama: Marah

Yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al-Hajj:11)

Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”

(HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no.146)

Yaitu dia marah dengan lisannya seperti meratap, memaki-maki/mencela, berkata-kata buruk kepada Allah, atau menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.

Tingkatan kedua: Sabar

Sebagaimana ucapan penyair:

الصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ

“Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”

Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.

Tingkatan ketiga: Ridhå

Dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan.

Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.

Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.

Tingkatan keempat: Bersyukur

Dan ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya ‘adzab dunia lebih ringan daripada ‘adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut.

Tidak sama antara MUKMIN dan KAAFIR dalam menghadapi musibah

Sikap muslim/mukmin dalam menghadapi musibah

Imam Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan:

“Musibah yang menimpa orang-orang yang beriman kepada Alloh, disertai keridhoan dan mengharapkan pahala. Apabila mereka tidak bisa mencapai derajat ridho, maka pegangan mereka adalah kesabaran dan mengharap pahala, dimana hal itu akan meringankan beratnya cobaan dan ujian mereka. Karena setiap kali mereka melihat imbalannya, mereka akan ringan memikul kesusahan dan cobaan. Sementara orang kafir, tidak ada keridhoan pada mereka, tidak mengharapkan pahala. Adapun kalau mereka bersabar, maka sabar mereka seperti sabarnya binatang ternak”.

[Ighotsatul Lahfan 2/187]

Al-Alusy Rahimahulloh berkata dalam tafsir perkataan Alloh Ta’ala:

إِن تَكُونُواْ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ الله مَا لاَ يَرْجُونَ

“Apabila kalian merasakan sakit maka sesungguhnya mereka juga merasakan sakit, sementara kalian mengharapkan apa yang tidak mereka harapkan” (QS An-Nisa’ 104)

“Yakni: Tidaklah yang kalian peroleh berupa rasa sakit, hanya khusus bagi kalian. Akan tetapi perkara tersebut sama antara kalian dan mereka. Kemudian mereka bersabar atas hal itu, terus kenapa kalian tidak bisa bersabar, padahal kalian lebih utama untuk bersabar dari mereka, dari sisi kalian berharap dan menginginkan sesuatu yang tidak terlintas di benak mereka yaitu unggulnya agama kalian diatas seluruh agama, serta pahala yang melimpah dan kenikmatan yang abadi di akhirat”.

(Lihat pada tafsir beliau)

Apalagi yang mereka harapkan selain dari PAHALA YANG TIADA BATAS yang ALLAH JANJIKAN!?

Alloh berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“HANYA KEPADA orang-orang yang BERSABAR-lah, yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas”.

(QS Az-Zumar 10)

Adapun orang-orang kafir… maka mereka hanyalah melihat zhahirnya kehidupan dunia saja dan tidak mengambil pelajaran dan memetik hikmah darinya, sehingga lalai dari keutamaan, bahkan mendapatkan kemurkaanNya!

Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلَّا

(yang artinya), “Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…”

(QS. al-Fajr : 15-17).

Tidaklah setiap orang yang Allah berikan kemuliaan dan kenikmatan dunia kepadanya maka itu berarti Allah mengaruniakan nikmat yang hakiki kepadanya. Karena sesungguhnya hal itu merupakan cobaan dan ujian dari Allah baginya. Dan tidaklah setiap orang yang Allah batasi rezkinya -sehingga Allah jadikan rezkinya sebatas apa yang diperlukannya saja tanpa ada kelebihan- maka itu artinya Allah sedang menghinakan dirinya. Namun, sesungguhnya Allah sedang menguji hamba-Nya dengan nikmat-nikmat sebagaimana halnya Allah ingin mengujinya dengan musibah

(lihat Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, hal. 8. Islamspirit.com)

Allah berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

(Ar-Rum: 7)

Berkata Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhumaa:

“Mereka mengetahui cara membangun dunia, akan tetapi dalam perkara aakhirat mereka bodoh”

(Lihat Tafsiir Ibnu Katsiir)

Mereka hanyalah melihat zhahir apa yang terjadi pada mereka, tanpa memperhatikan hikmah ukhrawi yang mungkin mereka dapatkan dari apa yang terjadi pada mereka. Sehingga ketika mereka mendapatkan musibah, maka mereka mencela taqdir, marah terhadapNya,sehingga bagi mereka kemurkaan Allah pula. Na’uudzubillaah!

Bisa jadi hal itu baik bagimu!

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(Al-Baqara: 216)

Keletihan, kesusahan, musibah, cobaan, bagi seorang muslim adalah KEBAIKAN baginya; demikian pula kesengan, kebaikan, pun adalah KEBAIKAN bagi mereka. Setiap apa yang menimpa mereka baik itu kebaikan atau musibah; maka akan menjadi kebaikan bagi mereka…

Mengapa? Karena ketika mereka mendapatkan cobaan MEREKA BERSABAR, dan ini baik bagi mereka. Dan jika mendapatkan nikmat, MEREKA BERSYUKUR, inipun baik bagi mereka.

Sebagaimana disabdakan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang MUKMIN. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.”

[HR. Muslim]

Pemahaman terbalik dari hadits diatas, bagi orang kaafir, maka nikmat dan musibah bagi mereka adalah keburukan. Ketika mendapat nikmat, maka mereka tertipu, dan bergelimang dalam kekufuran/kesyirikan terhadapNya; dan ketika mendapat musibah mereka marah/murka terhadap taqdirNya!

Ketahuilah! Tanda Allah mencintai suatu kaum adalah dengan mengujinya

Rasuulullaah bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ يَنْزِلُ بِالْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّي يَلْقَي الله وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيْئَةٍ

Tidaklah musibah terus menimpa terhadap seorang MUKMIN laki-laki dan MUKMIN perempuan pada DIRINYA, ANAKNYA dan HARTA BENDANYA hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali.

—-Dalam sebagian riwayat imam Malik—-

وَمَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُضَارُّ فِي وَلَدِهِ وَحَامَتِهِ حَتَّي يَلْقَي الله وَلَيْسَتْ لَهُ خَطِيْئَةٌ.

Tidaklah seorang MUKMIN tertimpa musibah pada anaknya dan sanak kerabatnya hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali.

(HR Tirmidzi, 2401; Ahmad, 2/450; Shahihul Jaami’, 2/2815 dan di dalam Ash Shahihah, 2280)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang MUSLIM kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.”

(HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘A`isyah)

Beliau juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang MUSLIM ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”

(HR. Al-Bukhariy dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Yang mendapatkan keutamaan dalam kesulitan hanyalah MUSLIM/MUKMIN

Jika kita melihat hadits-hadits yang keutamaan yang didapatkan ketika musibah, maka semua keutamaan ini disandarkan pada MUKMIN/MUSLIM. Menandakan hanyalah MUSLIM/MUKMIN lah yang mendapatkan keutamaan dari musibah yang ia hadapi. Mengapa? karena ketika mukmin/muslim mendapatkan musibah, mereka BERSABAR. Dengan kesabaran inilah, mereka mendapatkan kebaikan dari musibah tersebut, sebagaimana sabda beliau:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang MUKMIN. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.”

[HR. Muslim]

Maka jika kita ingin mendapatkan keutamaan-keutamaan ketika musibah menimpa, hendaknya kita bersikap selayaknya muslim/mukmin bersikap; yaitu dengan BERSABAR ketika musibah menimpa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat.”

(HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220)

أَبْشِرْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنْ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ

“Berilah kabar gembira kepadanya bahwasanya Allah ‘azza wa jalla berfirman; “Api neraka-Ku Aku timpakan kepada hamba-Ku YANG BERIMAN di dunia (dengan demam-nya); sehingga bisa mengurangi bagiannya di akhirat.”

(Shahiih, dishahiihkan syaikh al Albaaniy dalam shahiihul jaami’ dan ash shahiihah)

اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang MUSLIM itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada emas dan perak”

(Shahiih; HR Abu Dawud)

لا تسبي الحمى فإنها تذهب خطايا بني آدم كما يذهب الكير خبث الحديد

“Janganlah kamu mencela demam, karena sesungguhnya demam itu mengahapus kesalahan anak Adam seperti bara panas menghilangkan karat besi”.

(HR Muslim)

Rasuulullaah bersabda:

إِذَا ابْتَلَى اللَّهُ الْعَبْدَ المسلم بِبَلاءٍ فِي جَسَدِهِ ، قَالَ لِلْمَلَكِ :

Apabila Allah menguji hambaNya YANG MUSLIM dengan suatu cobaan (penyakit/luka/dsb) pada tubuhnya, maka Allah berkata kepada malaikatNya:

اكْتُبْ لَهُ صَالِحَ عَمَلِهِ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ

Tulislah kepadanya amal shalih dari apa yang dilakukan (hambaKu ini)

—-Dalam riwayat Abu Nu’aym—-

(إذا اشتكى العبد المسلم قال الله تعالى للذين يكتبون 

Jika seorang hamba Allah YANG MUSLIM tertimpa suatu penyakit, maka Allah akan berkata kepada malaikat yang bertugas menulis amal perbuatan:

اكتبوا له أفضل ما كان  يعمل إذا كان طلقا حتى أطلقه

Tulislah kepadanya amal perbuatan yang terbaik dari apa yang (dilakukan hambaKu ini); jika ia SENANG (dalam menghadapi cobaan penyakit tersebut) hingga Aku menyembuhkan penyakitnya.

—-(HR Abu Nu’aym dalam al hilyah dengan sanad yang shahiih)—-

؛ فَإِنْ شَفَاهُ غَسَّلَهُ وَطَهَّرَهُ

Maka jika Allah menyembuhkannya, maka dia akan membersihkan serta menyucikannya (dari penyakitnya dan juga dari dosa-dosanya disebabkan kesabaran hambaNya tersebut, az)

وَإِنْ قَبَضَهُ غَفَرَ لَهُ وَرَحِمَهُ

Dan jika Allah mewafatkannya, maka Allah mengampuninya dan merahmatinya

(HR Ahmad; dengan sanad yang hasan)

Rasuulullaah bersabda

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا طَهَّرَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ”

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya, niscaya ia mensucikannya sebelum wafatnya…

، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا طَهُورُ الْعَبْدِ ؟

Para shahabat bertanya: “apa makna mensucikan hambaNya?”

قَالَ : ” عَمَلٌ صَالِحٌ يُلْهِمُهُ إِيَّاهُ ، حَتَّى يَقْبِضَهُ عَلَيْهِ

Beliau bersabda: “(dengan) diilhamkanNya kepadanya amalan shalih; hingga Allah mencabut nyawanya dalam keadaan tersebut.”

(Shahiih; HR ath Thabraaniy)

Bukankah sabar adalah amalan shalih? Bukankah sabar dapat mendulang pahala? Bukankah sabar dapat menghapus dosa-dosa bahkan bisa menghapus dosa besar; jika murni keikhlashannya?

Maka barangsiapa yang Allah beri petunjuk untuk bersabar dalam menghadapi rasa sakitnya hingga ia wafat; maka itulah tanda kebaikan bagi orang tersebut. Maka hendaknya kita BERUSAHA untuk SENANTIASA BERSABAR dalam menghadapi musibah yang menimpa kita, baik musibah tersebut kecil (terinjak duri), apalagi jika ia musibah yang besar!

Rasuulullaah bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ

dan barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran.

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran”.

(HR. Bukhariy)

Bahkan para nabi pun mendapatkan ujian yang besar

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً

dari Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya, bahwa ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?

قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian YANG SEPERTINYA, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan.”

(ahmad, ibn maajah, tirmidziy; berkata at Tirmidziy, hadits ini hasan shahiih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”

(HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no.146)

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian” yakni semakin besar ujian, semakin besar pula balasannya. Maka cobaan yang ringan balasannya pun ringan sedangkan cobaan yang besar/berat maka pahalanya pun besar karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai keutamaan terhadap manusia. Apabila mereka ditimpa musibah yang berat maka pahalanya pun besar dan apabila musibahnya ringan maka pahalanya pun ringan.

“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka” ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman, apabila ditimpa suatu musibah maka janganlah dia menyangka bahwa Allah membencinya bahkan bisa jadi musibah ini sebagai tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Allah uji hamba tersebut dengan musibah-musibah, apabila dia ridha, bersabar dan mengharap pahala kepada Allah atas musibah tersebut maka baginya keridhaan (dari Allah), dan sebaliknya apabila dia marah maka baginya kemarahan (Allah).

Dalam hadits ini terdapat anjuran, pemberian semangat sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah-musibah yang menimpanya sehingga ditulis/ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Wallaahul Muwaffiq

(Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan; Dikutip dari Bulletin Al Wala’ wa Bara’, Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo’dah 1425 H)

Bersabar itu adalah diawal musibah menimpa

Ujian kesabaran adalah ketika awalnya disadarinya cobaan, Sebagaimana di Shohih Bukhory, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إنما الصبر عند الصدمة الأولى.

“Kesabaran itu hanyalah pada benturan pertama”.

(HR Bukhory dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahulloh mengatakan:

“Dalam riwayat lain: “Hukum-humnya ketika pertama kali datangnya musibah”, dan makna semisal diriwayatkan Muslim. Maknanya adalah: Apabila kekokohan terjadi pada pertama kali sesuatu – berupa tuntutan-tuntutan untuk berkeluh kesah- menyerang hati, maka itulah kesabaran sempurna yang menyebabkan tergapainya pahala”.

[Fathul Bary 3/149]

Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh mengatakan:

”Kesabaran yang diberi pahala adalah kesabaran yang muncul pada awal kali datangnya musibah, inilah kesabaran. Adapun kesabaran yang muncul setelah itu, bisa saja itu sekedar menghibur diri sebagaimana binatang ternak menghibur dirinya. Maka kesabaran, pada hakikatnya adalah bahwasanya seseorang jika diterpa pada pertama kalinya, dia bersabar, berharap pahala, dan baiknya dia mengatakan:

إنا لله وإنا إليه راجعون

inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun

“Sesungguhnya kita adalah milik Alloh, dan kepada-Nyalah kita kembali.

اللهم أجرني في مصيبتي واخلف لي خيراً منها

Allahumma’jurni fii mushiibatiy wakhlifly khayran minhaa

Ya Alloh berilah aku balasan dalam musibahku ini, dan gantilah bagiku dengan yang lebih baik darinya”.

[Syarah Riyadhush Sholihin 36]

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad Hafizhohulloh mengatakan:

“Maksud “benturan” adalah berita yang didapatkan seseorang di awal kejadian. Yakni ketika dia mengetahui mana yang terkena musibah dan jenis musibahnya. Ini adalah kondisi yang sangat berat di sisi seseorang, yaitu ketika sampainya berita kepadanya pertama kali. Pada kondisi inilah berlakunya kesabaran dan mengharapkan pahala. Karena orang yang tidak bisa bersabar omelan-omelannya akan hilang, dia tidak akan terus-terusan dalam hal tersebut, namun akan datang hari-hari dia berusaha melupakan cobaannya sebagaimana binatang ternak”.

[Syarh Sunan Abi Daud 16/440]

Sabarlah dengan sabar yang baik!

Allah berfirman tentang perkataan Nabi Ya’qub:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

Maka kesabaran yang indah, (itulah kesabaranku)

(Yusuf 83)

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“(Ya’qub) berkata: Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

(Yusuf 86)

Allah berfirman:

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah.

(al Ma’aarij 5)

Syaikhul Islam berkata:

Sabar yang indah (yang baik) adalah seseorang bersabar TANPA MENGELUH DAN MERINTIH rasa sakit pada makhluk.

Oleh karena itu, pernah dibacakan kepada Imam Ahmad bin Hambal kala ia sakit bahwa Thowus sangat tidak suka merintih tatkala sakit. Setelah itu Imam Ahmad tidak pernah mengeluh lagi (pada makhluk dengan merintih sakit) sampai waktu ia meninggal dunia.

–selesai perkataan syaikhul islam–

Allah berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Artinya : Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”

[Fushilat : 35]

JAUHILAH KELUH KESAH serta RINTIHAN (kepada makhluq) apalagi RATAPAN!!

Allah berfirman:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا . إِلَّا الْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,

(al Ma’aarij 19-23)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللَّهِ فَيُوشِكُ اللَّهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barangsiapa tertimpa kesusahan lalu mengeluh-ngeluhkannya kepada manusia maka kesusahannya tidak akan tertutupi dan barangsiapa tertimpa kesusahan lalu mengeluh-ngeluhkan kepada Allah, hampir saja Allah memberinya rizki, cepat atau lambat.”

(HR, at Tirmidziy; Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih gharib; dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiih at-targhiib)

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

قال الله تعالى: إذا ابتليت عبدي المؤمن فلم يشكني إلى عواده أطلقته من إساري ثم أبدلته لحما خيرا من لحمه ودما خيرا من دمه ثم يستأنف العمل

“Alloh Ta’ala mengatakan: “Apabila Aku memberikan cobaan kepada hamba-Ku yang beriman, dia TIDAK MENGADUKAN/MENGELUHKAN penyakit yang dideritanya kepada orang yang mengunjunginya, Aku lepaskan dia dari sakit itu, kemudian akan Kuganti dengan daging yang lebih baik dari dagingnya dan darah yang lebih baik dari darahnya, lalu dia memulai amalan yang baru (kesalahan yang lalu telah terhapuskan –pent)”.

(HR Hakim Dishohihkan Syaikh Al-Albany di Shohihul Jami’)

sebagaimana di hadist Mahmud bin Labid Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إذا أحب الله قوما ابتلاهم فمن صبر فله الصبر ومن جزع فله الجزع.

“Sesungguhnya jika Alloh mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. barangsiapa yang sabar maka akan mendapat (pahala kesabaran) dan barangsiapa yang gelisah (keluh kesah) maka baginya (hanyalah) kegelisahan”.

(HR Ahmad, dishohihkan Syaikh Al-Albany)

Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan:

“Kesabaran dan kegelisahan (keluh kesah) adalah dua perkara yang bertolak belakang, karena itulah keduanya diperbandingkan satu sama lain. Alloh Ta’ala menyebutkan tentang perkataan penduduk neraka:

سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ

“Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh atau bersabar, kita tetap tidak memiliki tempat untuk melarikan diri” (QS Ibrohim 21)

Keluh-kesah adalah teman dan saudara KELEMAHAN sementara kesabaran adalah teman dan komponen dari kecerdasan.

[‘Uddatush Shobirin 10]

Hal ini bukan berarti tidak boleh ada rasa risau ataupun kegelisahan di hati, karena hal-hal tersebut adalah perkara yang sangat berat dielakkan seorang hamba. Namun selama hal tersebut tidak melampaui kadar yang dibenarkan, maka hal tersebut tidak meniadakan kesabaran.

Al-‘Aini Rahimahulloh mengatakan:

“Adapun kegelisahan, kesedihan yang ada di hati serta menetesnya air mata, sesungguhnya hal itu tidak mengeluarkan seorang hamba dari makna orang-orang yang sabar apabila dia tidak sampai melakukan perkara yang tidak boleh dilakukan. Karena kegelisahan ketika musibah merupakan tabiat jiwa anak Adam”.

[‘Umdatul Qori’ 12/343]

Yang bukan termasuk keluh kesah

Imam Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan:

“Terdapat perbedaan antara mengabarkan keadaan dengan mengadukannya, walaupun samar bentuknya.

Adapun mengabarkan keadaan, maka orang yang mengabarkan memiliki TUJUAN YANG BENAR seperti memberitahu sebabnya atau meminta udzur kepada saudaranya pada perkara yang dituntutnya, atau dia ingin memperingatkan orang lain agar tidak jatuh seperti apa yang menimpanya sehingga justru dia yang menjadi penasehat, atau mengarahkan pembicaraan kepada kesabaran sehingga orang bisa mencontohnya. Seperti kisah Al-Ahnaf, bahwasanya dia berkata kepada seseorang: ‘Wahai anak saudaraku, cahaya kedua mataku telah hilang sejak sekian tahun, namun aku tidak pernah memberitahukan kepada seorangpun’….

Pada kabarnya ini, dia menyampaikan berita penyakitnya, mengarahkan beritanya agar kisahnya dijadikan contoh, dan kepada kesabaran yang menyebabkan dia diberi pahala. Bentuknya adalah bentuk pengaduan, namun tujuan menjadi pembeda keduanya.

sampai perkataan beliau:

Adapun pengaduan adalah pengkabaran yang tidak memiliki tujuan yang benar, dasarnya cuma kemarahan atau sekedar ingin mengeluhkan penderitaannya kepada yang lain.

Apabila dia MENGADU KEPADA ALLAH maka itu BUKANLAH seperti keluhan (kepada manusia) akan tetapi minta agar dikasihani, diperhatikan dan dirahmati.

Seperti perkataan Nabi Ayyub:

ربي أني مسني الضر وأنت أرحم الراحمين

“Wahai Robb-ku sungguh aku telah ditimpa penyakit, sementara Engkau adalah Yang Paling Pemberi Rahmat”

(QS Al-Anbiya’ 83)

-sampai perkataan beliau-

…Pengaduan kepada Alloh sama sekali tidak meniadakan kesabaran, karena Alloh mengatakan tentang Ayyub:

إنا وجدناه صابرا نعم العبد إنه أواب

“Sesungguhnya Kami dapati dia sebagai orang yang sabar”

(QS Shod 44)

[Ar-Ruh 258-259]

Demikian pula, apabila kita memberitahukan kesulitan kita dalam tujuan yang benar (mencari solusi), maka ini BUKAN keluh kesah yang terlarang.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahulloh mengatakan:

“Adapun memberitakan keadaan kepada orang lain, apabila tujuannya agar meminta agar diarahkan, bantuan dan upaya untuk menghilangkan sesuatu yang darurat, maka hal itu tidak mencacati kesabaran. Seperti pengkabaran pasien kepada dokter, orang yang dizholimi kepada orang yang bisa menolongnya atau orang yang tertimpa musibah kepada orang yang diharapkan bisa mencarikan jalan keluar. Dahulu Nabi jika mendatangi orang sakit beliau bertanya: “Bagaimana kondisimu,”. Ini adalah bentuk permintaan keterangan dan pengkabaran darinya tentang kondisinya”.

[‘Uddatus Shobirin 232]

Dan tentunya pengkhabaran ini HANYA PADA ORANG TERTENTU SAJA… BUKAN KEPADA SEMUA ORANG… Sebagaimana dilakukan orang-orang yang suka mengeluh-ngeluhkan permasalahannya kepada manusia.

Berkata Seorang penyair:

وإذا أتتك مصيبة فاصبر لها … صبر الكريم فإنه بك أرحم

“Apabila anda tertimpa musibah, maka bersabarlah dengan baik… sesungguhnya Dia sangat sayang kepadamu.

وإذا شكوت إلى ابن آدم إنما … تشكو الرحيم إلى الذي لا يرحم

Apabila anda mengeluhkan (musibah itu) kepada manusia, (ketahuilah) bahwa (PADA HAKEKATNYA) anda mengeluhkan Dzat yang maha pengasih kepada makhluk yang tidak menyayangimu.”

Keutamaan sabar

1. Orang yang memiliki sifat sabar memiliki sifat yang mulia lagi keberuntungan yang besar

Allah berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.

(Fussilat: 35)

Rasuulullaah bersabda:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan (Allah) kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran”.

(HR. Bukhariy)

2. Orang sabar diberi petunjuk kepada hatinya

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghaabun:11)

Yang dimaksud dengan “beriman kepada Allah” dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.

Firman-Nya: “niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya” yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.”

(HR. Al-Bukhariy no.52 dan Muslim no.1599 dari An-Nu’man bin Basyir)

Berkata ‘Alqamah (menafsirkan ayat di atas): “Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya).”

Tafsiran ‘Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan konsekuensinya iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.

3. Allah bersama orang-orang yang sabar

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(Al-Baqarah: 153)

4. Allah mencintai orang-orang yang sabar

Semua orang yang beriman berharap menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa golongan yang mendapatkan kecintaan-Nya adalah orang-orang yang sabar terhadap ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wata’la. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala tegaskan dalam firman-Nya (artinya):

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“…, dan Allah itu mencintai orang-orang yang sabar.”

(Ali Imran: 146)

5. Ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang sabar

Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar sajalah yang akan dipenuhi ganjaran mereka tanpa batas.”

(QS. Az-Zumar: 10)

6. Diampunkannya dosa-dosa orang yang sabar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang MUSLIM kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.”

(HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘A`isyah)

Beliau juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang MUSLIM ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”

(HR. Al-Bukhariy dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Rasuulullaah bersabda:

بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang MUSLIM itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada emas dan perak”

(Shahiih; HR Abu Dawud)

Rasuulullaah bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ يَنْزِلُ بِالْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّي يَلْقَي الله وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيْئَةٍ

Tidaklah musibah terus menimpa terhadap seorang MUKMIN laki-laki dan MUKMIN perempuan pada DIRINYA, ANAKNYA dan HARTA BENDANYA hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali.

—-Dalam sebagian riwayat imam Malik—-

وَمَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُضَارُّ فِي وَلَدِهِ وَحَامَتِهِ حَتَّي يَلْقَي الله وَلَيْسَتْ لَهُ خَطِيْئَةٌ.

Tidaklah seorang MUKMIN tertimpa musibah pada anaknya dan sanak kerabatnya hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali.

(HR Tirmidzi, 2401; Ahmad, 2/450; Shahihul Jaami’, 2/2815 dan di dalam Ash Shahihah, 2280)

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً

dari Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya, bahwa ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?

قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian YANG SEPERTINYA, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan.”

(ahmad, ibn maajah, tirmidziy; berkata at Tirmidziy, hadits ini hasan shahiih)

7. Sabar kunci khusnul khaatimah

Rasuulullaah bersabda:

إِذَا ابْتَلَى اللَّهُ الْعَبْدَ المسلم بِبَلاءٍ فِي جَسَدِهِ ، قَالَ لِلْمَلَكِ :

Apabila Allah menguji hambaNya YANG MUSLIM dengan suatu cobaan (penyakit/luka/dsb) pada tubuhnya, maka Allah berkata kepada malaikatNya:

اكْتُبْ لَهُ صَالِحَ عَمَلِهِ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ

Tulislah kepadanya amal shalih dari apa yang dilakukan (hambaKu ini)

—-Dalam riwayat Abu Nu’aym—-

(إذا اشتكى العبد المسلم قال الله تعالى للذين يكتبون 

Jika seorang hamba Allah YANG MUSLIM tertimpa suatu penyakit, maka Allah akan berkata kepada malaikat yang bertugas menulis amal perbuatan:

اكتبوا له أفضل ما كان  يعمل إذا كان طلقا حتى أطلقه

Tulislah kepadanya amal perbuatan yang terbaik dari apa yang (dilakukan hambaKu ini); jika ia SENANG (dalam menghadapi cobaan penyakit tersebut) hingga Aku menyembuhkan penyakitnya.

—-(HR Abu Nu’aym dalam al hilyah dengan sanad yang shahiih)—-

؛ فَإِنْ شَفَاهُ غَسَّلَهُ وَطَهَّرَهُ

Maka jika Allah menyembuhkannya, maka dia akan membersihkan serta menyucikannya (dari penyakitnya dan juga dari dosa-dosanya disebabkan kesabaran hambaNya tersebut, az)

وَإِنْ قَبَضَهُ غَفَرَ لَهُ وَرَحِمَهُ

Dan jika Allah mewafatkannya, maka Allah mengampuninya dan merahmatinya

(HR Ahmad; dengan sanad yang hasan)

Rasuulullaah bersabda

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا طَهَّرَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ”

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya, niscaya ia mensucikannya sebelum wafatnya…

، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا طَهُورُ الْعَبْدِ ؟

Para shahabat bertanya: “apa makna mensucikan hambaNya?”

قَالَ : ” عَمَلٌ صَالِحٌ يُلْهِمُهُ إِيَّاهُ ، حَتَّى يَقْبِضَهُ عَلَيْهِ

Beliau bersabda: “(dengan) diilhamkanNya kepadanya amalan shalih; hingga Allah mencabut nyawanya dalam keadaan tersebut.”

(Shahiih; HR ath Thabraaniy)

Bukankah sabar adalah amalan shalih? Bukankah sabar dapat mendulang pahala? Bukankah sabar dapat menghapus dosa-dosa bahkan bisa menghapus dosa besar; jika murni keikhlashannya?

Maka barangsiapa yang Allah beri petunjuk untuk bersabar dalam menghadapi rasa sakitnya hingga ia wafat; maka itulah tanda kebaikan bagi orang tersebut. Maka hendaknya kita BERUSAHA untuk SENANTIASA BERSABAR dalam menghadapi musibah yang menimpa kita, baik musibah tersebut kecil (terinjak duri), apalagi jika ia musibah yang besar!

8. Sabar jalan menuju surga

Allah berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.

(Aali Imraan: 142)

Allah berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah (yaitu surga [lihat tafsir ibnu katsir]) adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”.

(Al-Qasas: 80)

9. Sabar menghantarkan kepada kedudukan yang tinggi lagi mulia disisiNya

Allah berfirman:

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka (orang-orang yang sabar) itulah yang akan dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam al-jannah) dikarenakan kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.“

(Al Furqaan: 75)

Rasulullah juga bersabda:

إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ

“Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada dirinya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan memberi taufiq kepadaNya untuk bersabar, kemudian ia bersabar, hingga kesabaran tersebut menghantarkannya kepada kedudukan yang diraihnya.”

(HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-ahaadits Ash-shahihah 2599)

Renungankanlah!

Ibnu Muflih Rahihahulloh mengatakan:

“Apabila seorang hamba MENGETAHUI dan MENYADARI bahwa dirinya dan apa yang dimilikinya pada hakikatnya adalah milik Alloh, karena Dialah yang menciptakannya dari tidak ada kemudian Dia juga yang memusnahkannya. Dialah yang menjaga hamba ketika ada, dan hamba tidak bisa bertindak kecuali apa yang dibolehkan baginya, serta tempat kembalinya adalah kepada Alloh …

dan bahwasanya apa yang menimpanya tak akan bisa dielakkan serta apa ang dielakkan darinya tak bakal menimpanya …

dan bahwasanya kalau Alloh berkehendak maka bisa saja Dia menjadikan musibahnya lebih dahsyat dari yang sekarang.

Serta kalau dia bersabar maka Alloh akan menggantikan baginya dengan sesuatu yang lebih utama dari apa yang luput darinya.

Bahwasanya musibah tidak khusus baginya, sehingga dia bisa meneladani orang-orang yang telah tertimpa musibah.

Bahwasanya sebagian musibah lebih besar dari yang lain.

Bahwasanya kesenangan dunia –bersamaan dengan keminiman dan terputus-putusnya- adalah sesuatu yang susah dicapai …

Dan hamba mengetahui bahwasanya keluh-kesah tidak bisa menolak musibah bahkan itulah adalah kepedihan yang menambah musibah tersebut.

Bahwasanya hal itu akan membuat musuhnya senang, dan membuat sedih orang yang mencintainya.

Bahwasanya luputnya pahala akibat keluh kesah lebih besar nilainya dari musibah itu sendiri, diantaranya Baitul Hamd yang dibangunkan baginya di surga atas pujiannya (mengucapkan Alhamdulillah) dan istirja’nya (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un) …

Dan mengetahui bahwa ujung-ujungnya hanyalah kesabaran, dengannya dia diberi pahala …

Dan mengetahui bahwasanya kalaulah bukan sebab musibah-musibah maka sungguh hamba akan menjadi angkuh, semena-mena, dan melampaui batas. Dengan adanya musibah, seorang hamba terlindungi dari hal-hal tersebut dan dibersihkan dari kejelekan yang ada …

Dan mengetahui bahwasanya kepahitan di dunia adalah kemanisan di akhirat dan sebaliknya …

Dan mengetahui bahwasanya dia mencintai Robbnya, apabila dia membuat-Nya marah maka dia telah berdusta dalam pengakuan akan kecintaan kepada-Nya …

Dan mengetahui bahwasanya tingkatan-tingkatan kesempurnaan tergantung dengan kesabaran dan sebaliknya. Paling minim dia tidak sampai berprasangka jelek kepada Robbnya atas takdir yang ditetapkan baginya …
x
Apabila hamba mengetahui perkara-perkara tersebut, menelaah dan menimbangnya maka dia akan bersabar dan mengharap pahala, sehingga dia akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat dengan sesuatu yang hanya diketahui oleh Alloh Subhanahu”

[Al-Adabusy Syar’iyyah 2/282-288]

2 Komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

2 responses to “Bersabarlah terhadap taqdir Allah wahai saudaraku

  1. ade

    izin share2 y mas

    syukron

  2. Ping-balik: Mengeluh dan berdoa di jejaring sosial (facebook / twitter) « Blog Abu Zuhriy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s