Jangan kalian jadikan kuburan sebagai masjid!

Ketahuilah wahai saudaraku, TELAH BANYAK HADITS-HADITS yang menyerukan agar kita tidak menjadikan KUBURAN sebagai masjid, dan tidak menjadikan KUBURAN sebagai BERHALA YANG DISEMBAH SELAIN ALLÅH!

Ketahuilah perbuatan seperti ini adalah PERBUATAN TERLAKNAT, yang mana Allåh dan RåsulNya melaknatnya. Ketahuilah Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam MENDOAKAN LAKNAT kepada yahudi dan nashrani, dimana mereka telah menjadikan KUBURAN NABI-NABI MEREKA sebagai masjid.

Lihatlah saudaraku, jika Yahudi dan Nashrani menjadikan KUBURAN NABI-NABI dan ORANG SHÅLIH MEREKA sebagai masjid dikatakan terlaknat, maka bagaimana halnya orang yang menjadikan KUBURAN ORANG-ORANG FASIQ atau orang-orang yang TIDAK DIKETAHUI ASAL-USULnya sebagai MASJID? tentu ini lebih jelek lagi!!

Berikut hadits-hadits yang datang dari Nabi kita yang mulia, Nabi shållallåhu ‘alayhi wa sallam, yang MELARANG KERAS umatnya untuk meniru perbuatan yahudi dan nashrani yang menjadikan KUBURAN SEBAGAI MASJID:

1. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata :

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring :

‫لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah telah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”.

Aku (‘Aisyah) berkata :

“Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka. Hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330, Muslim no. 529, Ahmad 6/80 & 121 & 255, Ibnu Abi Syaibah 2/376, Abu ‘Awaanah 1/399, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 508, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 13/52 & 183, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 7730, dan yang lainnya].

2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata:

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

‫تل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد‬

“Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi! (disebabkan) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya]

3. Hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum

Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, mereka berdua berkata :

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, beliau menutupkan kain khamishah-nya (selimut wolnya) pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika bapasnya semakin terganggu seraya bersabda :

‫لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد‬

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani dimana mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”.

Aisyah berkata :

“Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436, Muslim no. 531, Ibnu Hibban no. 6619, Abu ‘Awaanah 1/399, An-Nasa’i 1/115; dan yang lainnya]

Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang hadits di atas :

“Seakan-akan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan wafat melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir kubur beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka”

[Fathul-Baariy, 1/532].

4. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata:

Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit, maka beberapa orang istri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia) yang diberi nama : Gereja Maria – dimana Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah mendatangi negeri Habasyah -, kemudian mereka (sebagian istri Nabi) membicarakan keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya.

‘Aisyah melanjutkan :

“(Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya) seraya bersabda:

‫أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً ، ثم صوروا تلك الصور ، أولئك شرار الخلق عند الله [ يوم القيامة ‬

‘Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shalih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut, lalu menggambar dengan gambar-gambar tersebut. Mereka itu adalah SEJELEK-JELEK MAKHLUK di sisi Allah pada hari kiamat”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].

5. Hadits Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu

Dari Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu :

Bahwasannya dia pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum hari wafatnya :

‫قد كان لي فيكم إخوة وأصدقاء ‬

“Aku memiliki beberapa saudara dan teman di antara kalian.

‫ولو كنت متخذا من أمتي خليلاً‬

Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari memiliki kekasih (khalil) di antara kalian.

‎‫وإن الله عز وجل قد اتخذني خليلاً كما تخذ إبراهيم خليلاً‬

Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan diriku sebagai kekasih, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih.

‫ لاتخذت أبا بكر خليلا‬

Seandainya aku boleh mengambil kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

‫ألا [ وإن ] من كان قبلكم [ كانوا ] يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد‬

Dan ketahuilah, (sesungguhnya) orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih diantara mereka sebagai masjid.

‫فإني أنهاكم عن ذلك‬

(Maka) Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu”

[Diriwayatkan oleh Muslim no. 532 dan Abu ‘Awanah 1/401].

6. Hadits Al-Harits An-Najrani radliyallaahu ‘anhu

Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita :

Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat :

‎‫ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك‬

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].

7. Hadits Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhuma

Dari Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhu:

Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menderita sakit yang menyebabkan wafatnya beliau :

‎‫أدخلوا علي أصحابي‬

“Masuklah wahai para shahabatku”.

Maka mereka masuk sedangkan beliau dalam keadaan tertutup selimut mu’afir.

(Lalu beliau membukanya) dan bersabda :

‎‫ لعن الله اليهود [ والنصارى ] اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد‬

“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi (dan Nashrani) yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no. 669; Ahmad 5/204; Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 393 & 411, Ibnu Sa’d 2/241, Al-Haakim 4/194, dan yang lainnya; hasan dengan syawaahid-nya]

8. Hadits Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu

Dari Abu ‘Ubaidah ia berkata :

“Kalimat terakhir yang diucapkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah :

‎‫اخرجوا يهود أهل الحجاز وأهل نجران من جزيرة العرب واعلموا ان شرار الناس الذين اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد‬

‘Usirlah kaum Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah ‘Arab. Ketahuilah, sesungguhnya SEBURUK-BURUK MANUSIA adalah yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Ahmad 1/195 no. 1691 & 1694; Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/57, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul-Matsaaniy no. 235-236, Abu Ya’laa Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar 4/13; Abu Ya’la no. 872, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 4/12, dan yang lainnya; shahih].

9. Hadits Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu

Dari Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu:

Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لعن الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Ahmad 5/184 & 186 dan ‘Abd bin Humaid no. 244; shahih dengan syawahid-nya].

10. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (beliau bersabda):

‫اللهم لا تجعل قبرى وثنا لعن الله قوما اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد‬

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Ahmad 2/246, Al-Humaidiy no. 1020, Ibnu Sa’d 2/241-242, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 5/43-44, Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/47, dan yang lainnya; shahih].

Al-Haafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly menukil perkataan Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahumallah dalam kitab Al-Kawaakibud-Daraari :

“Al-Watsan itu maknanya patung. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‫لا تجعل قبري صنماً يصلى ويسجد نحوه ويعبد‬

“Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai patung/berhala yang menjadi kiblat shalat, tempat bersujud, juga tempat beribadah”.

(Dha’if, HR. Maalik)

Dan Allah sangat murka kepada orang yang melakukan hal tersebut.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan para shahabat dan seluruh umatnya tentang perbuatan buruk umat-umat terdahulu, karena mereka shalat menghadap kuburan para Nabi mereka serta menjadikannya sebagai kiblat dan masjid.

Sebagaimana penyembah berhala yang menjadikan berhala sebagai objek sesembahan yang diagungkan. Perbuatan tersebut merupakan syirik akbar.

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa perbuatan tersebut mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah ta’ala dan Dia tidak akan pernah meridlainya. Hal tersebut disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena beliau khawatir umatnya akan meniru perbuatan mereka.

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa memperingatkan umatnya agar tidak menyerupai Ahlul-Kitaab dan orang-orang kafir.

Dan beliau juga khawatir bila umatnya akan mengikuti jejak mereka. Tidakkah engkau mengetahui sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan celaan dan kemarahan :

‎‫لتتبعن سنن الذين كانوا من قبلكم حذوا النعل بالنعل ، حتى إن أحدهم لو دخل جحر ضب لدخلتموه‬

“Sungguh kalian akan mengikuti jejak-jejak orang sebelum kalian sama persis, setapak demi setapak; sehingga salah seorang dari mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan memasukinya pula”

[Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly 2/90/65 – melalui perantaraan Tahdziirus-Saajid].

11. Hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu

Dari Abdullah (bin Mas’ud) ia berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‫ان من شرار الناس من تدركه الساعة وهم أحياء ومن يتخذ القبور مساجد‬

“Sesungguhnya SEJELEK-JELEK MANUSIA adalah orang yang menjumpai hari kiamat saat masih hidup, dan juga orang yang menjadikan kubur sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Ahmad 1/405 & 435, Ath-Thabaraniy no. 10413, Ibnu Abi Syaibah 3/345, Al-Bazzaar no. 3420, Abu Ya’laa no. 5316, Ibnu Khuzaimah no. 789, Ibnu Hibbaan no. 6847, dan yang lainnya; hasan].

12. Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu

Dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

Al-‘Abbas radliyallaahu ‘anhu pernah menemuiku seraya berkata:

‘Wahai ‘Ali, mari ikut kami mengunjungi para Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin ada sesuatu hal yang perlu kita tanyakan. Kalau tidak, beliau akan memberikan wasiat kepada orang-orang melalui kita’.

Kemudian kami masuk menemui beliau, sedangkan beliau dalam keadaan berbaring karena sakit. Lalu beliau mengangkat kepalanya :

‫ لعن الله اليهود اتخذوا قبور لأنبياء مساجد‬

“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid “.

Dalam sebuah riwayat ditambahkan :

“Kemudian beliau mengatakan yang ketiga kalinya. Dan ketika kami melihat apa yang terjadi pada beliau, maka kami pun keluar dan tidak menanyakan sesuatu pun kepada beliau”

[HR. Ibnu Sa’ad 4/28 dan Ibnu ‘Asaakir 12/172/2; hasan].

13. Hadits Ummahatul-Mukminin radliyallaahu ‘anhunna

Dari Ummahatul-Mukminiin:

Bahwasannya para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya :

“Bagaimana kami harus membangun kubur Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, apakah kami boleh menjadikannya sebagai masjid ?”

Maka Abu Bakar menjawab :

“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‫لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد‬

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”

[HR. Ibnu Zanjawaih dalam kitab Fadlaailush-Shiddiq sebagaimana disebutkan dalam Al-Jamii’ul-Kabiir 3/147/1]

Apa makna larangan : “Menjadikan Kubur Sebagai Masjid { اتخاذ القبور مساجد } ?

Para ulama telah menjelaskan bahwa kalimat tersebut mencakup tiga makna, yaitu :

1. Larangan shalat di atas kubur

Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:

“Menjadikan kubur sebagai masjid berarti shalat di atasnya atau dengan menghadap ke arahnya”

[Az-Zawaajir, 1/121].

Makna ini diperkuat oleh hadits :

لا تصلوا إلى قبر ، ولا تصلوا على قبر

“Janganlah kalian shalat menghadap ke arah kubur dan jangan pula shalat di atasnya”

[Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir; shahih].

2. Larangan sujud dengan menghadap ke arahnya serta menjadikannya sebagai kiblat shalat dan doa

Al-Imam Al-Munawi rahimahullah berkata :

“Mereka menjadikan kubur para nabi itu sebagai arah kiblat mereka akibat keyakinan mereka yang salah. Dan menjadikan kubur itu sebagai masjid menuntut konsekuensi pembangunan masjid di atasnya, dan juga sebaliknya. Hal demikian itu menjelaskan sebab dilaknatnya mereka, yaitu karena tindakan tersebut mengandung sikap berlebihan dalam pengagungan.

Al-Qadli (yaitu Al-Baidlawi) mengatakan :

‘Orang-orang Yahudi bersujud kepada kubur para Nabi sebagai pengagungan terhadap mereka dan menjadikannya sebagai kiblat. Mereka juga menghadap ke kubur itu dalam mengerjakan shalat dan ibadah lainnya. Sehingga dengan demikian, mereka telah menjadikannya sebagai berhala yang dilaknat oleh Allah. Dan Allah telah melarang kaum muslimin melakukan hal tersebut’.”

[selesai – Faidlul-Qadiir Syarh Al-Jamii’ Ash-Shaghiir – melalui perantara Tahdziirus-Saajid halaman 21; Maktabah Meshkat].

Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :

“Dikatakan maknanya adalah larangan terhadap sujud di atas kubur para Nabi. Dan juga dikatakan bahwa maknanya adalah larangan untuk menjadikannya sebagai kiblat dimana ia shalat menghadapnya”

[Tanwiirul-Hawaalik Syarh Muwaththa’ Malik no. 414; Maktabah Sahab].

Makna ini dikuatkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا تجلسوا على القبور ، و لا تصلوا إليها

“Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan pula shalat menghadap ke arahnya”

[Diriwayatkan oleh Muslim 3/62; Abu Dawud no. 3229; Ahmad 4/135; An-Nasa’iy 2/67, At-Tirmidzi no. 1050; dan yang lainnya. Sanad hadits ini jayyid (baik)].

3. Larangan mendirikan masjid di atas kubur dan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya

Pengertian ini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Bukhari ketika memberikan bab dalam kitab Shahih-nya :

{ باب ما يكره من اتخاذ القبور مسجداً على القبور}

“Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Membangun Masjid di Atas Kubur”.

Makna ini adalah sebagaimana yang terambil dalam hadits :

أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً

“Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shlih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].

Berkata al-Akh Abul Jauzaa’:

“Dari ketiga makna ini – wallahi – hampir semua dikerjakan oleh para pecinta kubur ! Banyak sekali di antara mereka – dengan alasan tabarruk dan tawassul – melakukan doa dan shalat di samping atau menghadap kubur.

Betapa banyak masjid di Indonesia ini yang terdapat kuburannya baik di dalam, di arah kiblat, atau di samping masjid ?! Lihatlah di Cirebon, Ampel, atau daerah-daerah sekitar Madura. Dan saya pribadi pernah “terperosok” sewaktu shalat shubuh di Masjid Agung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang ternyata di arah kiblatnya ada makam “wali”-nya. Inilah budaya/kultur yang dipelihara oleh pecinta kubur masyarakat kita.”

Larangan shalat di masjid yang ada kuburannya

Sebagai tambahan,…. larangan shalat dan mendirikan masjid itu bukan hanya jika kubur itu terletak di dalam atau di depan masjid ! Namun secara umum, termasuk di samping atau belakang masjid (selama kuburan tersebut masih berada di komplek masjid).

Dalilnya adalah sebagai berikut :

Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

الارض كلها مسجد إلا المقبرة والحمام

“Bumi ini secara keseluruhan adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi”

[Diriwayatkan oleh Ahmad 3/83 & 96, Abu Dawud no. 492, At-Tirmidziy no. 317, Ibnu Majah no. 745, Abu Ya’laa no. 1350, Ibnu Khuzaimah no. 791-792, dan yang lainnya; shahih].

Al-Maqbarah {المقبرة} adalah isim makan (tempat) yang bentuk jamaknya Al-Maqaabir {المقابر}; yang artinya setiap tanah yang ditanam/dikuburkan seorang mayit. Adalah salah jika ada orang yang menganggap bahwa al-maqaabir ini merupakan bentuk jamak dari al-qubr (القبر).

Maka larangan untuk melakukan shalat (dan juga tentunya mendirikan masjid) di sini berlaku untuk kubur satu orang atau lebih (seperti di daerah pekuburan); baik menghadap kubur atau membelakangi, di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Ini semua terlarang, sebab dua hadits di atas lafadhnya adalah mutlak (yaitu larang shalat di kubur dan juga di antara kubur).

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata ketika menjelaskan madzhab Al-Imam Ahmad rahimahumallah dalam permasalahan ini :

“Tidak ada perbedaan pendapat antara Ahmad dan shahabat-shahabatnya (yaitu para ulama Hanabilah) dalam permasalahan ini. Akan tetapi keumuman perkataan, ta’lil, dan istidlal mereka adalah menetapkan pelarangan shalat di samping kubur, walau itu satu kuburan saja[1. Apalagi lebih kalau dari satu kubur !!]. Dan itulah yang benar.

Dan yang disebut Al-Maqbarah adalah setiap tanah dibuat untuk mengubur (mayat). Al-Maqbarah bukanlah bentuk jamak dari Qabr (kubur).

Dan telah berkata sebagian shahabat-shahabat kami :

“Setiap yang masuk dalam definisi Al-Maqbarah adalah setiap sesuatu yang berada di sekitar kubur yang tidak boleh digunakan untuk shalat”.

Dan ini menentukan bahwa larangan tersebut mencakup lingkup kuburan yang terpencil bersama halaman sekitarnya”

[Al-Ikhtiyaaratul-‘Ilmiyyah hal. 25 melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaail-Mushallin hal. 32, Maktabah Al-Misykah dan Tamamul-Minnah hal. 298 Daarur-Rayah].

Al-Muhaqqiq Muhammad Yahya Al-Kandahlawi Al-Hanafi rahimahullah berkata :

“Adapun membangun kubur termasuk tasyabbuh (meniru) perbuatan Yahudi dan menjadikan kubur para Nabi dan para tokoh sebagai masjid termasuk pengagungan terhadap mayit dan meniru para penyembah berhala meskipun masjid itu berada di samping kubur. Jika kubur berada di arah kiblat, maka lebih dibenci daripada di samping kanan atau kiri. Jika berada di belakang orang-orang shalat, maka itu lebih ringan namun tidak lepas dari hukum makruh”

[Al-Kawaakibud-Daraari ‘alaa Jamii’it-Tirmidzi hal. 153]

Apa makna “pemakruhan” yang dikatakan para ulama diatas?

Perlu diketahui bahwa Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah ketika menuliskan “Maa Yukrahu….” (Apa-Apa yang Dimakruhkan….) dalam kitab Shahih-nya, bisa mengandung dua pengertian, yaitu : 1) bermakna bukan tahrim; dan 2) bermakna tahrim.

Saya contohkan bab yang ditulis beliau rahimhullah dengan makna pertama :

1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Tidur Sebelum ‘Isya’ { باب ما يكره من النوم قبل العشاء }

2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Meninggakan Shalat Malam Bagi Mereka yang Telah Biasa Mengerjakannya { باب ما يكره من ترك قيام الليل لمن كان يقومه }

3. dan lain-lain.

Adapun yang makna kedua (tahrim/pengharaman) :

1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Niyahah (Meratap) terhadap Mayit { باب ما يكره من النياحة على الميت }

2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Shalat Jenazah terhadap Orang-Orang Munafik dan Meminta Ampunan terhadap Orang-Orang Musyrik { باب ما يكره من الصلاة على المنافقين والاستغفار للمشركين }

3. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Namimah (Mengadu Domba) { باب ما يكره من النميمة}

4. dan lain-lain.

Lantas,…. bagaimana dengan menjadikan kubur sebagai masjid ? Tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksudkan makruh dalam perkataan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah adalah bermakna tahrim (pengharaman).

Apa indikasinya ? Indikasinya adalah bahwa lafadh hadits yang dibawakan oleh Al-Imam Bukhari rahimahullah dalam Bab “Maa Yukrahu Min-Ittikhaadzil-Masaajidi ‘alal-Qubuur” merupakan lafadh-lafadh laknat. Sesuai dengan kaidah Ushul-Fiqh bahwa lafadh laknat mempunyai konsekuensi pada pengharaman.

[lihat Badai’ul-Fawaaid 4/5-6].

Contohnya adalah firman Allah :

إِنّ الّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِناتِ لُعِنُواْ فِي الدّنْيَا وَالاَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar

[QS. An-Nuur : 23]

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

لعن الله الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة

“Allah telah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambung rambutnya; juga wanita yang mentato dan yang minta ditato”

[HR. Bukhari no. 5589].

Dan perlu diketahui bahwa kalimat “makruh/karahah” dalam syari’at banyak yang menunjukkan pada makna haram (dan ini adalah madzhab ulama mutaqaddimiin). Misalnya: Setelah Allah menyebutkan tentang larangan berbuat syirik, larangan durhaka kepada dua orang tua, larangan bersikap boros, dan yang lainya. [2. Silakan lihat selengkapnya dalam QS. Al-Israa’ : 23-38]

Maka Allah menutupnya dengan :

ذَلِكَ كَانَ سَيّئُهُ عِنْدَ رَبّكَ مَكْرُوهاً

“Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Rabbmu”

[QS. Al-Israa’ : 38].

Juga Allah berfirman :

وَلَـَكِنّ اللّهَ حَبّبَ إِلَيْكُمُ الأِيمَانَ وَزَيّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan”.

[QS. Al-Hujuraat : 7].

Makna makruh dalam dua ayat di atas adalah haram. Kecuali,…. bila ada yang mengatakan syirik, durhaka pada orang tua, kefasikan, kemaksiatan, dan sikap boros itu hanya sebatas makruh, dimana orang yang meninggalkannya mendapat pahala dan yang mengerjakannya tidak dibebani dosa……. (Allåhul Musta’aan)

Oleh karena itu, perkataan makruh ulama di bawah juga menunjukkan pengharaman.

Telah berkata Abu Bakr Al-Atsram :

Aku mendengar Abu ‘Abdillah – yaitu Ahmad – ditanya tentang shalat yang dilakukan di kuburan (maqbarah), maka ia me-makruh-kannya. Lalu ditanyakan kepadanya : “Bagaimana tentang masjid yang berada di antara kubur ?”. Ia pun me-makruh-kannya hal itu juga”

[Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab, 3/195].

“Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ahli ilmu/ulama adalah makruh mengerjakan shalat di kuburan, berdasarkan hadits Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu. Dan begitulah yang menjadi pendapat kami”

[Al-Ausath, 2/185].

Kesimpulan di point ini adalah bahwa menjadikan kubur sebagai masjid dan shalat di dalamnya adalah haram.

Syubhat dan Jawaban

Syubhat

Lantas bagaimana dengan ayat:

وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوَاْ أَنّ وَعْدَ اللّهِ حَقّ وَأَنّ السّاعَةَ لاَ رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُواْ ابْنُواْ عَلَيْهِمْ بُنْيَاناً رّبّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىَ أَمْرِهِمْ لَنَتّخِذَنّ عَلَيْهِمْ مّسْجِداً

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”

[QS. Al-Kahfi : 21]

Bukankah makna dalam ayat tersebut terkandung bahwa:

Mayoritas masyarakat ahli tauhid (monoteis) kala itu sepakat untuk membangun masjid di sisi makam para penghuni gua (Ashabul-Kahfi). Tentu kita sepaka bahwa al-Quran bukan hanya sekedar kitab cerita yang hanya begitu saja menceritakan peristiwa-peristiwa menarik zaman dahulu tanpa memuat ajaran untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslimin.

Jika kisah pembuatan masjid di sisi makam Ashabul-Kahfi merupakan perbuatan syirik maka pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan menyindir dan mengkritik hal itu dalam lanjutan kisah al-Quran tadi, karena syirik adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun terbukti Allah subhanahu wa ta’ala tidak melakukan peneguran baik secara langsung maupun secara tidak langsung (sindiran). Atas dasar itu pula terbukti para ulama tafsir Ahlusunah menyatakan bahwa para penguasa kala itu adalah orang-orang yang bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan kaum musyrik penyembah kuburan (Quburiyuun).

Jawaban

1. Telah masyhur dalam kaidah Ushul tentang { أن شريعة من قبلنا ليست شريعة لنا} “Syari’at orang-orang sebelum kita pada asalnya tidaklah menjadi syari’at kita”. [4. Salah satunya bisa ditengok dalam kitab Al-Ihkaam karya Ibnu Hazm] Apalagi jika itu bertentangan secara jelas dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Syari’at orang-orang sebelum kita hanyalah bisa kita terima jika memang sesuai dan tidak bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Banyak sekali nash-nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskannya. Satu contoh : Allah telah menetapkan hari Sabtu untuk orang Yahudi sebagai hari beribadah, sebagaimana firman-Nya :

إِنّمَا جُعِلَ السّبْتُ عَلَىَ الّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ

Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya.

[QS. An-Nahl : 124].

Jika mengikuti alur logika Saudara, tentu kita juga wajib untuk mengagungkan hari Sabtu. Sebab, ini merupakan firman dan perintah dari Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an. Namun,….. apakah memang begini pola berpikirnya ? Kewajiban tersebut telah mansukh dan tidak berlaku bagi umat Islam, sebab Allah telah menetapkan hari khusus bagi umat Islam, yaitu hari Jum’at.

Begitu pula untuk kasus pendirian masjid di atas kuburan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan bahwa hal itu bukan merupakan syari’at Islam dengan sabdanya :

Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat :

ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].

2. Jika jawaban no.1 ditolak, maka dalam ayat tersebut juga tidak ada pernyataan secara tegas bahwa pembangunan masjid itu merupakan syari’at dan perintah dari Allah atau merupakan tindakan raja/penguasa semata.

Perhatikan secara cermat ayat tersebut :

وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوَاْ أَنّ وَعْدَ اللّهِ حَقّ وَأَنّ السّاعَةَ لاَ رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُواْ ابْنُواْ عَلَيْهِمْ بُنْيَاناً رّبّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىَ أَمْرِهِمْ لَنَتّخِذَنّ عَلَيْهِمْ مّسْجِداً

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka., orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”

[QS. Al-Kahfi : 21].

Ayat tersebut mengandung ihtimal (kemungkinan) bahwa orang yang berniat dan memerintahkan untuk membangun masjid di atas goa -yakni, tempat kubur para pemuda Ashaabul-Kahfi- adalah orang-orang kafir di jaman itu.

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas menukil perkataan Ibnu Jarir Ath-Thabari bahwa ada dua pendapat mengenai status orang-orang tersebut :

Pertama, mereka adalah orang-orang Islam di antara mereka; dan Kedua, mereka adalah orang-orang musyrik di antara mereka.

Dan di sini, kemungkinan kedua lah yang nampaknya lebih kuat. Hal ini didasari oleh dalil tentang laknat Allah kepada orang Yahudi.

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

قاتل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi dimana mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].

Dalam hadits di atas (juga hadits-hadits lain sebagaimana telah dituliskan sebelumnya) nampak bahwa larangan menjadikan kubur sebagai masjid (tempat peribadatan) telah ada semenjak jaman para Nabi diutus kepada orang Yahudi. Dan ini tentu jauh sebelum jaman Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Maka dari itu Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullah ketika menjelaskan hadits pelaknatan Allah kepada kaum Yahudi yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid; mengatakan :

“Al-Qur’an juga telah menunjukkan seperti apa yang ditunjukkan oleh hadits ini, yaitu firman Allah ‘azza wa jalla tentang kisah Ashhaabul-Kahfi :

قال الذين غلبوا على أمرهم لنتخذن عليهم مسجداً

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”

(QS. Al-Kahfi : 21)

Dengan demikian, Allah ‘azza wa jalla telah mengkatagorikan tindakan menjadikan kubur sebagai masjid merupakan perbuatan orang-orang yang berkuasa mengendalikan urusan. Dan itu menunjukkan bahwa sandarannya adalah pemaksaan dan kekuasaan serta ketundukan terhadap hawa nafsu. Hal itu bukan merupakan perbuatan ulama yang selalu mendapatkan pertolongan Allah, dimana Allah telah menurunkan beberapa petunjuk-Nya kepada Rasul-Nya”

[Fathul-Baari bi-Syarhil-Bukhari 65/280 oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly – melalui perantara Tahdziirus-Saajid hal. 42]

Penutup

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Allåh, RåsulNya, para shahabat RåsulNya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik telah mengingatkan kita akan perbuatan yang sangat terlaknat ini; marilah kita menyimak penjelasan berikut sebagai penutup pembahasan ini…

Allah berfirman :

قَالَ نُوحٌ رّبّ إِنّهُمْ عَصَوْنِي وَاتّبَعُواْ مَن لّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاّ خَسَاراً * وَمَكَرُواْ مَكْراً كُبّاراً * وَقَالُواْ لاَ تَذَرُنّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنّ وَدّاً وَلاَ سُوَاعاً وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً * وَقَدْ أَضَلّواْ كَثِيراً

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar.” Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia).

[QS. Nuh : 21-24].

Terkait ayat di atas, Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan satu hadits dalam Shahih-nya :

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma (ia berkata) :

“Patung-patung yang ada di kaum Nuh menjadi sesembahan orang Arab setelah itu.

(Patung) Wadd menjadi sesembahan bagi Bani Kalb di Dumatul-Jandal, (patung) Suwaa’ bagi Bani Hudzail, (patung) Yaghuuts bagi Bani Murad dan Bani Ghuthaif di Al-Jauf sebelah Saba’, Ya’uuq bagi Bani Hamdaan, dan Nasr bagi Bani Himyar dan kemudian bagi keluarga Dzul-Kalaa’.

Mereka adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, maka syaithan membisikkan kepada kaum mereka (yaitu kaum Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka dalam majelis-majelis dimana kaum Nuh biasa mengadakan pertemuan, sekaligus memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukannya. Patung tersebut tidaklah disembah pada waktu itu. Akhirnya setelah generasi pertama mereka meninggal dan ilmu telah dilupakan, maka patung-patung tersebut akhirnya disembah”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4920].

Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menukil perkataan Muhammad bin Qais dalam Tafsir-nya sebagai berikut :

“Mereka (Wadd, Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) adalah kaum shalih dari bani Adam yang mempunyai banyak pengikut.

Ketika mereka meninggal, maka berkatalah shahabat-shahabat dari kalangan pengikut mereka :

‘Jika kita membuat gambar-gambar mereka, maka kita akan semakin tekun beribadah ketika mengingat mereka’.

Maka mereka pun membuat gambar mereka. Ketika mereka (generasi pertama) meninggal, datanglah generasi berikutnya dimana Iblis mulai melakukan tipu daya kepada mereka.

Iblis berkata :

‘Orang-orang sebelum kamu membuat gambar-gambar tersebut tidak lain hanyalah untuk menyembah orang-orang shalih tersebut yang dengannya mereka meminta diturunkan hujan’.

Akhirnya mereka pun menyembahnya”

[Tafsir Ath-Thabari, QS. Nuh : 23-24].

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :

“Mula-mula para pendahulu mereka membuat patung orang-orang shalih itu adalah agar dapat meneladani mereka dan mengenang mengingat perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka. Karenanya, mereka menyembah Allah di sisi kuburan mereka.

Kemudian setelah mereka meninggal, datanglah generasi generasi yang tidak mempunyai pengetahuan cukup terhadap agama sehingga tidak mengerti maksud pendahulu mereka, lalu syaithan membisikkan pada mereka bahwa pendahulu mereka tersebut menyembah patung-patung itu dan mengagungkannya.

Oleh karena itulah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang terjadinya hal demikian untuk menutup rapat-rapat segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut (Saddu lidz-Dzari’ah)”

[Lihat Fathul-Majiid hal. 218 – Maktabah Taufiqiyyah, Cairo].

Dalam kesempatan lain Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga berkata :

“Semua itu dimaksudkan untuk memutus jalan yang menjurus kepada ibadah terhadap orang yang ada di dalam kubur tersebut. Sebagaimana halnya yang terjadi pada orang-orang yang menyembah berhala”

[idem, hal. 220].

Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah ketika menjelaskan hukum menjadikan kubur kaum muslimin sebagai masjid/tempat ibadah, menukil perkatan Al-Muhallab :

“Sesungguhnya termasuk larangan dari hal itu wallaahu a’lam. Yaitu dikarenakan untuk memutuskan perantara dan pendekatan diri mereka dalam beribadah kepada berhala, serta memutuskan upaya menjadikan gambar dan patung sebagai sesembahan”[3. Akan tetapi di sini Al-Muhallab mengatakan bahwa terdapat keluasan dimana seseorang dapat berpaling ke arah kanan atau kiri dari tempatnya (agar tidak menghadap ke kubur), karena menghadap ke shalat kubur dapat membuat shalat tidak sah. Dan yang benar, adalah tetap tidak diperbolehkan shalat walaupun ia berada di sisi kubur karena telah tetap larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk tidak shalat di antara kubur (walau tidak menghadap ke kubur) sebagaimana telah disebutkan di atas]

[Syarhul-Bukhari li-Ibni Baththal Al-‘Ukbari 3/96].

Al-Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durrul-Mantsur (6/269) berkata :

Diriwayatkan oleh ‘Abdun bin Humaid dari Abu Muthahhir, dia bercerita di sisi Abu Ja’far (yaitu Al-Baqir) Yazib bin Al-Muhallab, dia bercerita :

“Sesungguhnya dia telah terbunuh di permukaan bumi yang menjadi tempat penyembahan selain Allah”.

Kemudian dia menyebutkan Wadd. Dia menyebutkan bahwa Wadd adalah seorang muslim yang sangat dicintai kaumnya. Ketika meninggal dunia, kaumnya berkumpul di sekitar kuburnya di tanah Babil. Dan mereka pun merasa kasihan padanya.

Ketika Iblis mengetahui kesedihan mereka padanya, Iblis tersebut kemudian berpakaian menyerupai manusia dan kemudian berkata,

”Aku tahu rasa sedih kalian terhadap orang ini. Apakah kalian mau aku buatkan gambar sesuatu yang mirip dengannya, sehingga dengan tetap berada di perkumpulan kalian, kalian bisa mengingatnya ?”.

Mereka menjawab :

“Mau”.

Lalu Iblis membuat gambar yang mirip dengan orang shalih tersebut (Wadd), kemudian mereka meletakkannya di tempat perkumpulan mereka sambil mengingat-ingatnya.

Setelah mereka selalu mengingat-ingatnya Iblis pun berkata,

”Apakah kalian mau aku buatkan patung yang menyerupai wajahnya di rumah masing-masing kalian ?”

Mereka menjawab:

“Mau”.

Lalu Iblis pun membuatnya lagi setiap rumah satu patung yang menyerupai orang shalih tersebut. Mereka pun menyambutnya dan terus-menerus mengingat orang tersebut melalui patung itu”.

Kemudian ia (Al-Baqir) menceritakan :

“Anak-anak mereka pun mengetahui hal itu seraya melihat yang mereka kerjakan dengan patung itu. Hingga akhirnya mereka melahirkan banyak keturunan. Lalu, anak-anak mereka pun mempelajari cara mengingat orang shalih tersebut melalui patung itu, hingga akhirnya mereka menjadikannya sebagai ilah (sesembahan) selain Allah”

[selesai]

Dari riwayat tersebut, para ulama telah menjelaskan bahwa sebenarnya generasi pertama kaum Nuh bukanlah penyembah berhala. Namun kemudian mereka tertipu oleh Iblis/syaithan untuk membuat hal-hal yang mereka anggap dapat menyempurnakan ibadah mereka, namun ternyata malah membuka jalan ke pintu kesyirikan.

Sama halnya dengan pembangunan masjid di kuburan yang diniatkan untuk ber-tabarruk dan mengenang orang-orang shalih yang telah meninggal. Mereka menganggap bahwa beribadah di masjid tersebut lebih afdlal dan lebih sempurna karena keberadaan orang shalih yang ada di liang kubur itu, dibandingkan masjid lainnya. Alasan ini mirip dengan alasan generasi pertama kaum Nuh dimana mereka membuat patung-patung hanya untuk mencari barakah dan agar mereka semakin giat dalam beribadah.

Begitulah cara syaithan menjerumuskan manusia ke lembah kesyirikan. Mereka memulai dari hal-hal yang dipandang remeh di mata sebagian manusia. Bagaikan kerbau yang digembala – sedikit-demi sedikit syaithan membawa manusia ke masuk ke pintu syubhat dan bid’ah hingga akhirnya benar-benar masuk kepada kesyirikan yang nyata.

Sangatlah tepat apa yang dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berikut :

“Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya melarang mendirikan masjid di atas kuburan. Inilah yang pada umumnya menjerumuskan umat-umat terdahulu ke dalam syirik akbar atau yang lebih rendah daripada itu (yaitu syirik ashghar). Kesyirikan akibat mengagungkan kuburan orang yang diyakini keshalihannya lebih dekat kepada hati manusia dibandingkan syirik akibat menyembah pohon atau batu.

Oleh sebab itu, kita sering menjumpai ahli syirik duduk dengan tenang dan khusyu’ di sisi kuburan melakukan ibadah yang tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan di waktu sahur. Bahkan di antara mereka ada yang sujud menghadap kuburan dan (kebanyakan mereka) berharap memperoleh barakah shalat dan berdoa di sisi kubur, yang tidak pernah mereka harapkan sewaktu mereka berada di masjid.

Karena mafsadah (kerusakan) inilah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memutuskan sumbernya. Bahkan dengan tegas beliau melarang shalat di kuburan sama sekali, meskipun ia tidak bermaksud mencari barakah dengan shalat di tempat itu. Jika seseorang shalat di sisi kuburan dengan tujuan untuk mendapatkan barakah dengan shalat di tempat itu, ini sesungguhnya penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, meyelisihi agama-Nya, dan melaksanakan kebid’ahan yang tidak diijinkan Allah.

Dan kaum muslimin telah sepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dengan pasti dari agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ini bahwa shalat di sisi kubur siapapun adalah terlarang”

[Iqtidhaa’ Shiraathil-Mustaqiim 2/680-681; Maktabah Ar-Rasyid].

Al-Imam An-Nawawi ASY-SYAFI’IY rahimahullah berkata :

“Para ulama telah berkata bahwa larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan kubur beliau dan kubur yang lainnya sebagai masjid/tempat ibadah hanyalah dikarenakan kekhawatiran beliau dari berlebih-lebihannya (kaum muslimin) dalam mengagungkannya dan terfitnah dengannya”

[Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi Bab An-Nahyi ‘an Banaail-Masaajid ‘alal-Qubuur wa Ittikhaadzish-Shuwari fiiha wan-Nahyi ‘an Ittikhaadzil-Qubuuri Masajid].

Semoga bermanfa’at.

Sumber

Dialog bersama pecinta kubur”, oleh al-Akh Abul Jauzaa’; dengan sedikit perubahan format tanpa mengubah makna dan maksud.

2 Komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah

2 responses to “Jangan kalian jadikan kuburan sebagai masjid!

  1. Ping-balik: Jangan kalian jadikan kuburan sebagai masjid! « Learn something by Tomy gnt

  2. Ping-balik: Ingin lulus, pelajar pergi ke makam Gus Dur | Salman Syamil Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s