Keutamaan Membaca, Mempelajari, Mentadabburi, Menghafalkan, Mengamalkan, serta Mendakwahkan al-Qur’an

Seorang muslim hendaknya tahu, bagaimana seharusnya ia bermuamalah dengan al Qur-aan, semoga artikel berikut dapat memberitahukan pengetahuan kita tentang bagaimana cara kita bermuamalah dengan al Qur-aan

Disyari’atkannya membaca al-Qur’an

Yang disyariatkan sebagai hak bagi orang Islam adalah selalu menjaga untuk membaca Al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan sebagai pelaksanaan atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)”

(Al-Ankabut : 45)

Dan firmanNya.

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)”

(Al-Kahfi : 27)

Juga firmanNya tentang nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ . وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ

“Artinya : Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri. Dan supaya aku membaca Al-Qur’an (kepada manusia)”

(An-Naml : 91-92)

Dan karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

”Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syaithan itu akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah”

[HR. Muslim no. 780].

dan juga sabda beliau:

اقْرَأُوْا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا تَسْتَطِيْعُهَا الْبَطَلَةُ

”Bacalah surat Al-Baqarah, karena membacanya akan mendatangkan berkah dan meninggalkannya berarti kerugian. Tukang sihir tidak akan bisa berbuat jahat kepada pembacanya”

[HR. Muslim no. 804]

dan juga berbagai keutamaannya seperti sabda beliau:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَؤُهُ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ فَلَهُ أَجْرَانِ اثْنَانِ

“Orang yang pandai (dalam membaca) Al-Qur’an maka ia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan, orang yang membacanya dan ia terbata-bata serta kesusahan maka baginya dua pahala*.”

(HR. Ahmad, Muslim, dan selainnya)

*Yakni pahala membaca al qur-aan dan pahala kesungguhannya dalam membaca walaupun sulit

dan juga sabda beliau:

قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu HURUF dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.”

(HR at Tirmidziy, dan beliau berkata; Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini)

Beliau juga bersabda:

‎وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Kitabullah (al Qur-aan), melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.

(HR. Muslim)

Namun bukan membacanya dengan satu suara dengan ‘waqaf’ dan berhenti yang sama, maka ini tidak disyariatkan. Paling tidak hukumnya makruh, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apabila bertujuan untuk kegiatan belajar dan mengajar, maka saya berharap hal tersebut tidak apa-apa.

Demikian pula, keliru apabila ada orang yang membagi juz-juz Al-Qur’an untuk orang-orang yang hadir dalam perkumpulan, agar masing-masing membacanya sendiri-sendiri satu hizb atau beberapa hizb dari Al-Qur’an, tidaklah dianggap secara otomatis sebagai mengkhatamkan Al-Qur’an bagi masing-masing yang membacanya.

Adapun tujuan mereka dalam membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan berkahnya saja, tidaklah cukup. Sebab Al-Qur’an itu dibaca hendaknya dengan tujuan ibadah mendekatkan diri kepada Allah dan untuk menghafalnya, memikirkan dan mempelajari hukum-hukumnya, mengambil pelajaran darinya, untuk mendapatkan pahala dari membacanya, melatih lisan dalam membacanya dan berbagai macam faedah-faedah lainnya

[Lihat Fatwa Lajnah Da’imah no. 3861]

Namun yang benar, apabila mereka berkumpul untuk membaca Al-Qur’an dengan tujuan untuk menghafalnya, atau mempelajarinya, dan salah seorang membaca dan yang lainnya mendengarkannya, atau mereka masing-masing membaca sendiri-sendiri dengan tidak menyamai suara orang lain.

[Bida’u An-Naasi Fii Al-Qur’an; almanhaj.or.id]

juga sabda beliau:

من سره أن يحب الله و رسوله فليقرأ في المصحف

“Barangsiapa yang senang dengan cinta Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia membaca al-mushaf (al-qur’an)”

(HR. Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, al Baihaqiy, dll; Hasan, Shahiihul Jami’ 6289)

‘Abdullah bin Mas’ud berkata,

“Barangsiapa yang mencintai al Qur`an, maka ia akan cinta kepada Allah dan RasulNya.”

[At Thabrani, no. 8658; al Haitsami berkata,”Para perawinya tsiqah.”]

Bukti terbesar cinta kepada al Qur`an, yaitu seseorang berusaha untuk mehamami, merenungi dan memikirkan makna-maknanya. Sebaliknya, bukti kelemahan cinta kepada al Qur`an atau tidak cinta sama sekali, yaitu berpaling tidak merenungi maknanya.

Di antara para sahabat berusaha untuk mendapatkan kecintaan Allah dengan membaca satu surat. Dia renungi dan dia cintai; yaitu surat al Ikhlash, yang mengandung sifat-sifat Allah. Dia selalu membacanya dalam shalat yang ia lakukan. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab : “Karena ia merupakan sifat Allah, dan aku sangat suka menjadikannya sebagai bacaan”. Mendengar jawaban itu, Nabi bersabda :

أَخْبِرُوهُ أَنَّ الله يُحِبُّهُ

“Beritahukan kepadanya, bahwa Allah mencintainya”.

[Diriwayatkan Imam al Bukhari, no. 7375; Fat-hul Bari, 13/360, dan Imam Muslim, 1/557 (813)]

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصَحَابِهِ

“Artinya : Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat”

(Dikeluarkan oleh Muslim no. 804, dalam Shalat Al-Musafirin wa Qashruhu, bab II dari hadits Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

‎الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“(Amalan) Shawm dan (amalan membaca) al Qur`an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak. (Amalan) Shawm akan berkata : “Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Sedangkan (amalan pembacaan) al Qur`an berkata : “Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafa’at”.

[HR Ahmad, II/174; al Hakim, I/554; dari Abdullah bin ‘Amr. Sanad hadits ini hasan. Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh Imam adz Dzahabi. Kata Imam al Haitsami, diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dalam Mu’jam Kabir. Rijal hadits ini rijal shahih. Lihat Majma’uz Zawaid III/181. Dishahihkan oleh al Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 394]

Diwajibkannya untuk mempelajari al Qur-aan

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur`an dan mengajarkanya”.

[Diriwayatkan Imam al Bukhari, no. 5027; Fat-hul Bari, 8/692]

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

“Sungguh, seorang dari kalian berpagi-pagi berangkat ke Masjid lalu ia mempelajari dua ayat dari Kitabullah (Al Qur’an) adalah lebih baik baginya daripada dua ekor Unta. Dan tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta serta empat ayat juga lebih baik dari pada empat ekor unta dan dari sejumlah unta.”

dalam riwayat Abu Dawud lafazhnya:

فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَإِنْ ثَلَاثٌ فَثَلَاثٌ مِثْلُ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

“Sungguh salah seorang diantara kalian setiap hari datang ke Masjid, mempelajari dua ayat dari Kitab Allah ‘azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua ekor unta, dua ayat lebih baik daripada tiga unta, seperti bilangan-bilangan unta tersebut.”

[HR. Ahmad, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiihul jaami’; diriwayatkan pula dengan lafazh yang serupa oleh Muslim dan Abu Dawud (sanadnya pun shahiih, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiih abi dawud)]

Berkata para shahabat nabi:

“Apabila kami mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an kami tidak berinjak meneruskannya hingga kami mendalaminya, mengilmui kandungannya dan mengamalkannya.”

Imam Malik dalam kitabnya Al- Muwatha menceritakan bahwa Ibnu Umar membutuhkan bertahun-tahun malah ada yang mengatakan delapan tahun lamanyahanya untuk menghafal surat Al-Baqarah. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat benar-benar mempelajari dan mengamalkan Al-Qur`an. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

“Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur`an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.”

(QS Al- Qiyamah [75]:16).

Ibnul Qayyim menjelaskan dalam kitabnya, al Fawaid, beliau rahimahullah menyatakan :

“Apabila engkau hendak mengambil pelajaran dari al Qur`an, maka konsentrasikanlah hatimu ketika membaca dan mendengarnya, pasanglah telingamu. Jadikanlah dirimu seperti orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang mengucapkannya, yaitu Allah Subhanahu w Ta’ala, karena al Qur`an merupakan khitab (pembicaraan) yang ditujukan Allah kepadamu melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“(Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

( -Qaaf 50:37-)

Karena pengaruh al Qur`an sepenuhnya tergantung dari yang memberi pengaruh, tempat yang bisa menerima pengaruh, terpenuhi syarat-syaratnya, dan tidak ada yang menghalangi. Maka ayat di atas menjelaskan tentang semua itu dengan ungkapan yang ringkas namun jelas, dan mewakili maksudnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أن فى ذللك لذ كرى

“(Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan)”, (ini merupakan) isyarat kepada ayat-ayat yang telah lewat dari awal surat sampai ayat ini. Inilah muatstsir (yang memberikan pengaruh).

Dan firmanNya :

لمن كان له قلب

“(bagi orang-orang yang mempunyai hati)” adalah, tempat yang bisa menerima pengaruh tersebut. Yaitu hati yang hidup yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaiamana Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُّبِينٌ . لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا

(Al Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup…

(–Yasin 36:69-70)

Yaitu yang hatinya hidup.

Sedangkan firman Allah :

أو ألقى السمع

“(atau yang menggunakan pendengarannya)”

Maknanya, orang yang mengarahkan pendengaran dan memusatkan indera pendengarannya kepada ucapan yang diarahkan kepadanya. Ini merupakan syarat bisa terpengaruh dengan ucapan.

Adapun firmanNya :

وهو شهد

“(dan dia menyaksikannya)”

Maknanya, hatinya hadir, tidak lalai.

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata,

“Yakni, dia mendengarkan al Qur`an dengan penuh perhatian, tidak dengan hati yang lalai lagi lupa. Ini menunjukkan adanya penghalang dari mendapatkan pengaruh, yaitu kelalaian hati tidak merenungi, tidak memikirkan, serta tidak melihat apa yang dikatakan kepadanya.

Apabila ada yang memberikan pengaruh -yaitu al Qur`an- (maka) ada tempat yang bisa menerima pengaruh –yaitu hati yang hidup- dan syaratnya ada -yaitu mendengarkan- serta tidak ada penghalang -yaitu sibuknya hati dengan yang lainya- maka pengaruh itu, pasti akan timbul. Itulah perwujudan dalam memanfaatkan al Qur`an dan mengambil pelajaran darinya”.

[Al Fawaid Ibnul Qayyim, halaman 3]

Ditekankannya membaca al Qur-aan dengan mentaddaburinya

Allah telah menurunkan Al-Qur’an untuk diimani, dipelajari, dibaca, ditadabburi, diamalkan, dijadikan sandaran hukum, dijadikan rujukan dan untuk dijadikan obat dari berbagai penyakit dan kotoran hati serta untuk hikmah-hikmah lain yang Allah kehendaki dari penurunannya.

Hendaknya seorang hamba bertakwa kepada Allah dalam (rangka menyelamatkan) dirinya dan hendaknya dia berkemauan keras untuk mengambil manfaat dari Al-Qur’an dalam segala hal yang memungkinkan serta hendaklah dia mengetahui bahwa dia akan kehilangan dari mendapatkan kebaikan sesuai kadar hujran yang dia lakukan.

Adapun membacanya, maka itu disyari’atkan dan disunnahkan memperbanyak membacanya serta mengkhatamkannya sebulan sekali, namun ini tidak wajib.[2. Idem; ]

Allah berfirman:

لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?

(Al-Anbiyaa: 10)

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

(Saad: 29)

Allah berfirman

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”

(Qs. Al-Hadiid: 16)

Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

(Muhammad: 24)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat diatas:

“Allah Ta`ala memerintahkan agar Al Qur`an ditadabburi dan dipahami maknanya dan melarang berpaling dari Al Qur`an (tidak mau mamahaminya)… (bagi siapa yang tidak mau mentadaburinya) maka hatinya terkunci, makna Al Qur`an sedikitpun tidak bisa masuk kedalamnya.”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Bukti terbesar cinta kepada al Qur`an, yaitu seseorang berusaha untuk mehamami, merenungi dan memikirkan makna-maknanya. Sebaliknya, bukti kelemahan cinta kepada al Qur`an atau tidak cinta sama sekali, yaitu berpaling tidak merenungi maknanya.

Allah Azza wa Jalla mencela orang munafik, karena tidak merenungi al Qur`an dengan firmanNya :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur`an? Sekiranya al Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka sudah mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

[an Nisaa`/4 : 82]

Barangsiapa yang mentadabburi al-Qur`aan, maka dia tidak akan mendapatkan sedikitpun pertentangan darinya. Karena Al-Qur`aan adalah Perkataan Allaah, Kitab Allaah, yang sempurna dari segala sisi. Berbeda dengan perkataan makhluuq, atau kitab buatan makhluuq, maka kita akan dapati pertentangan yang amat banyak.

Buah mentadabburi al-Qur`aan

Mentadabburi al Qur`an dapat mengobati berbagai macam penyakit hati, membersihkannya dari kotoran, serta dapat memberikan jawaban dan bantahan terhadap syubhat yang dibawakan setan, manusia, dan jin. Berbeda dengan orang munafik, karena enggan merenungi al Qur`an dan tidak mencari petunjuk darinya, maka hati mereka sakit, penuh penyakit syubhat dan syahwat.

Sebagaimana firman Allah :

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta”.

[al Baqarah/2 : 10].

Jadi, ketika Allah Azza wa Jalla mengajak manusia untuk mentadabburi al Qur`an, pada hakikatnya Allah Azza wa Jalla mengajak untuk mengobati hati mereka dari berbagai macam penyakit yang membahayakan.

Tadabbur al Qur`an, juga merupakan cara untuk mengetahui kewajiban-kewajiban agama yang telah dibebankan Allah kepada para hamba. Imam al Qurthubi berkata,

“Ayat ini (an Nisaa` 4:82) dan juga firmanNya -QS Muhammad 47:24) menunjukkan wajibnya mentadaburi al Qur`an supaya dapat mengetahui maknanya.”

[Tafsir al Qurthubi, 5/290]

Al Hasan al Basri berkata,

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap al Qur`an adalah surat-surat dari Rabb mereka. Pada malam hari, mereka selalu merenunginya, dan akan berusaha mencarinya pada siang hari.”

[At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur`an, Imam an Nawawi, halaman 28.]

Al Imam Ibnul Jauzi berkata,

“Seseorang yang membaca al Qur`an, hendaknya melihat bagaimana Allah berlemah-lembut kepada makhlukNya dalam menyampaikan makna perkataanNya ke pemahaman mereka. Dan hendakya ia menyadari, apa yang ia baca bukan perkataan manusia. Hendaknya ia menyadari keagungan Dzat yang mengucapkannya, dan hendaknya ia merenungi perkataanNya.”

[Mukhtasar Minhajul Qasidin, halaman 46]

Dalam Madarij As-Salikin Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah menjelaskan:

“Hal yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam kehidupan dunia dan akhiratnya (untuk lebih mendekatkannya dengan keselamatan) adalah dengan ber-tadabbur pada Al-Qur’an, perenungan yang berkelanjutan, dan konsentrasi akan makna ayat-ayatnya. Menurut beliau sikap ini mampu membuat seorang hamba mengetahui berbagai kebaikan dan kejahatan serta aspek-aspeknya, metode untuk menempuh jalan kebaikan dan kejahatan tersebut, kausalitasnya, tujuan-tujuannya, buah hasilnya, dan nasib para pelakunya. “

Sementara dalam bukunya yang lain, Miftah Dar As-Sa’adah beliau mengatakan:

“Tadabbur akan melahirkan cinta, rindu, rasa takut, rasa harap, inabah, tawakal, ridha, sikap penyerahan, syukur, sabar, dan berbagai kondisi psikologis lain yang menghidupkan dan menyempurnakan hati. Tadabbur juga dapat menjauhkan berbagai sifat dan perbuatan tercela yang menggerogoti hati.

Membaca satu ayat dengan tafakkur dan tafahhum (kritis dan bersungguh-sungguh untuk mencari pemahaman makna Al-Qur’an), lanjut beliau, lebih baik daripada sekedar membaca satu kali khatam tanpa tadabbur dan tafahhum. Hal itu lebih bermanfaat bagi hati dan lebih efektif dalam menumbuhkan iman dan kenikmatan membaca Al-Qur’an. Jadi, membaca Al-Qur’an dengan tafakkur adalah pangkal kebaikan hati.”

Syaikh al Fawzan berkata:

Dan hendaklah anda men-tadabburi-nya, karena bila anda men-tadabburi-nya, maka ini mendatangkan kekhusyu’an dan membuat anda senang (dan cinta) terhadap Al-Qur’an Al-karim. Janganlah menyelesaikan satu surat atau satu juz menjadi tujuan pokok anda, tapi hendaklah yang anda cari sebagai maksud pokok adalah tadabbur serta tafakkur dalam ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sedang anda baca. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan bacaan pada shalat malam, bila melewati ayat rahmat, beliau berhenti dan memohon kepada Allah dan bila ayat berkenaan dengan adzab dilewati, beliau berhenti dulu dan meminta perlindungan kepada Allah. Semua ini menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan tadabbur dan sepenuh hati.

[70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an; almanhaj.or.id]

Celaan bagi mereka yang tidak mentadabburi al-Qur`aan

Orang-orang yang membaca al qur-aan, namun TIDAK PAHAM apa yang dibacanya, maka ia bukanlah termasuk orang yang mentadabburi al-Qur`aan. Demikian pula, kalaupun ia paham tapi ia TIDAK MENGHADIRKAN ilmu yang ia telah ketahui ketika membacanya, maka ini pun bukan termasuk orang yang mentadabburi al-Qur`aan. Dan alangkah jeleknya orang-orang yang tidak mentadabburi al-Qur`aan.

dari Qatadah rahimahullah ia berkata;

Tidaklah seseorang duduk (dalam majlis) Al Qur’an lalu berdiri darinya kecuali dengan keadaan bertambah atau berkurang.

Kemudian beliau membaca:

وَنُنَزِّلُ مِنْ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

(Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi OBAT dan RAHMAT bagi orang-orang yang BERIMAN

وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

dan Al Qur’an itu TIDAKLAH MENAMBAH kepada orang-orang yang ZHALIM selain KERUGIAN.

(Al-Israa: 82)

[atsar riwayat ad-darimiy]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang khawarij:

‎سَيَخْرُجُ فيِ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ البَرِيَّةِ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya, pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al Qur’an, tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah menembus binatang buruannya.

[HR. Al Bukhari 3611, 5057, 6930; Muslim 1066]

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata :

“Imam An Nawawi berkata : “Yang dimaksud adalah mereka tidak mendapat bagian kecuali hanya melewati lidah mereka saja dan tidak sampai kepada kerongkongan mereka, terlebih lagi hati-hati mereka.

Padahal yang dimaukan adalah mentadabburinya [memperhatikan, memahaminya dengan pemahaman yang benar (pemahaman shahabat)], dan merenungkannya dengan teliti agar sampai ke hati”.”

(Fathul Bari : 12/293)

dari Abu Musa bahwa ia berkata,

“Sesungguhnya Al Qur’an ini dapat menjadi sarana pahala kalian, dapat menjadi sarana dzikir bagi kalian dan sebagai cahaya bagi kalian, namun dapat pula menjadi penyebab dosa kalian.

Ikutilah Al Qur’an ini dan jangan sampai Al Qur’an mengikuti kalian. Sebab orang yang mengikuti Al Qur’an akan singgah di kebun-kebun surga, sedangkan jika Al Qur’an yang mengikuti seseorang maka Al Qur’an akan mendorong di tengkuknya lalu melemparkannya ke dalam neraka jahannam.”

(ad Darimiy)

dari Mu’adz bin Jabal ia berkata;

Al Qur’an akan usang di dalam dada beberapa kaum sebagaimana usangnya pakaian.

Mereka berlomba membacanya namun mereka tidak merasakan kenikmatan dan kelezatan membacanya.

Mereka ibarat orang yang mengenakan pakaian dari kulit domba namun berhati serigala, amalan mereka hanya ketamakan tanpa tercampuri rasa takut, jika mereka melakukan kelalaian.

Mereka berkata; Kami pasti akan sampai, sekalipun mereka berbuat jahat. Mereka berkata; Kami pasti akan diampuni, karena sesungguhnya kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.

(atsar riwayat ad-darimiy)

Dianjurkannya mengkhatam al Qur-aan sebulan sekali

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shåhiih, dari [Abdullah bin ‘Amru] bahwa dia berkata;

“Wahai Rasulullah, berapa lamakah aku harus mengkhatamkan Al Qur’an?”

Beliau bersabda:

فِي شَهْرٍ

“Dalam sebulan.”

Abdullah bin ‘Amru berkata;

“Sesungguhnya aku bisa lebih dari itu.” -Abu Musa (Ibnu Mutsanna) mengulang-ulang perkataan ini- dan Abdullah selalu meminta dipensasi hingga beliau bersabda:

اقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ

“Jika demikian, bacalah al Qur’an (hingga khatam) dalam tujuh hari.”

Abdullah berkata;

“Aku masih dapat menyelesaikannya lebih dari itu.”

Beliau bersabda:

لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ

“Tidak akan dapat memahaminya orang yang mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari.”

(Shåhiih, HR. Muslim, Abu Dawud dan selainnya; dishåhihkan oleh al-‘Allamah al-Muhaddits al-Imam al-Albaniy råhimahullåh dalam Shåhiih Abi Dawud)

Ibn Jauzi Rahimahullah berkata,

“Adapun ukuran banyak atau sedikitnya bacaan, maka para ulama salaf dalam hal ini memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Diantaran mereka ada yang mampu menyelesaikan (khatam) setiap hari, sehari semalam dengan satu kali khatam [–hanya saja ini MENYALAHI SUNNAH jika menjadi suatu yang dirutinkan–]. Ada yang mengkhatamkannya setiap tiga hari, tiga malam. Ada yang setiap minggu, setiap bulan, karena adanya tambahan menyibukkan diri dengan ber-tafakkur tentang kandungannya atau menyebarkan pengetahuan dan mengajarkannya. Atau dengan melakukan ibadah selain membaca Al-Qur’an, seperti mencari kehidupan duniawi.

Kemudian beliau berkata,

“Begitu pula dengan ulil amri yang tidak melarang manusia dari kesibukannya yang utama, serta tidak menyakiti fisik mereka. Akan tetapi, semua kesibukan yang ada padanya tidak membbuatnya meninggalkan kebiasaan membaca Al-Qur’an dan berusaha untuk memahami kandungannya.”

Menurut pendapat dari kebanyakan ahli ilmu, bahwa membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik adalah lebih utama dari pada banyak membacanya tanpa memahaminya.

Seorang juru bicara Al-Qur’an, yakni Ibn ‘Abbas radhiyallåhu ‘anhu berkata :

“Membaca surah Al Baqarah dan Ali Imran dengan melagukannya serta merenungkan maknanya adalah lebih aku sukai daripada aku membaca keseluruhannya dengan cepat.”

Dan yang dipilih –menurut pendapat mayoritas dari para pentahqiq– bahwa hal itu berbeda menurut keadaan seseorang baik kesungguhannya, kelemahannya, perenungannya, dan kelalaiannya, karena telah diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan radhiyallåhu ‘anhu, bahwa ia mengkhatamkannya dalam semalam dan dimakruhkan jika mengkhatamkannya lebih dari 40 hari.

Akan tetapi, mayoritas orang di Kairo, Mesir terkadang tidak mampu untuk mengkhatamkannya satu kali dalam satu bulan. Karena, mungkin diantara mereka ada yang jatuh sakit, sibuk, sedang berperang atau udzur yang lainnya. Untuk itu, dianjurkan mengkhatamkannya selama 6 bulan sekali, yang berarti dua kali dalam satu tahun.

Imam Az Zarkasyi Rahimahullah mengisyaratkannya – yang dinukil dari Abi Al Laits – dimana beliau berkata:

“Seyogyanya seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam satu tahun, jika ia tidak mampu melakukannya lebih dari itu.”

Al Hasan bin Ziyad telah meriwayatkan dari Abi Hanifah, bahwa ia berkata:

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dalam setiap tahun dua kali khatam, maka ia telah memenuhi haknya. Karena, Nabi shållallåhu ‘alayhi wa sallam membacanya (dengan menghafal) dihadapan malaikat Jibril ‘alayhis salaam dalam satu tahun sebanyak dua kali” [3. Dipetik dari kitab Al Burhaan fii ‘Uluumi Al-Qur’an, dari nurulmukmin]

Dianjurkannya menghafal al Qur-aan

Hafalan al-Qur`aan terbagi dua, ada yang wajib dan ada yang dianjurkan. Adapun yang diwajibkan adalah menghafal surat al-faatihah karena ia merupakan surat yang harus dibaca dalam shalat kita, yang mana tidak sah apabila kita tidak membacanya dalam shalat kita (kecuali bagi orang yang baru masuk Islaam, yang belum menghafalnya; maka dalam proses menghafalnya ia boleh menggantinya dengan bacaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir; sebagaimana yang diperintahkan Rasuulullaah). Adapun selain daripada itu, maka sangat dianjurkan bagi seseorang untuk memperbanyak hafalan al-Qur`aannya.

Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri berkata:

“(Jika ada seorang yang) mengatakan bahwa menghafalkan qur-aan “Bukan perkara penting”, maka ini tidak benar!

Allah Ta`ala berfirman :

بلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

“Bahkan sesungguhnya Al-Qur`an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”

(Al-Ankabut:49)

Maka benar, Allah telah memuji para Ulama karena sesungguhnya mereka menghafal ayat-ayat yang nyata. Dan demikian pula para qurro` ketika mereka terbunuh, bukankah para shahabat Nabi merasa khawatir akan sirnanya Al-Qur’an sehingga mereka diperintahkan untuk mengumpulkan mushaf.

Dan Umar berkata “Saya mendapatkan pembunuhan telah menimpa para qurro`”( ) (Hadist Anas radhiyallahu `anhu Al-Bukhari (4987) dan ucapan tersebut dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu`anhu).

Mereka yang dibunuh adalah 70 orang dari para qurro`. Para shabat merasa khawatir dan merasakan hilangnya ilmu. Ketika itu Umar bin Khattob radhiyallahu `anhu memerintahkan orang untuk mengumpulkan lembaran-lembaran yang ada dijadikan dalam satu mushaf setelah beliau meninggal dunia mushaf tersebut ditangan Hafsoh Radliyallahu ‘anha (beliau mengisyaratkan kepada hadist Zaid bin Tsabit dalam Al-Bukahri (4986)).

Kemudian setelah itu Ustman bin Affan radhiyallahu `anhu memerintahkan untuk mengumpulkan lembaran-lembaran tersebut dari Hafsoh radhiyallahu `anha dari seluruh tempat dan beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit dan sebagian shahabat untuk mengumpulkan mushaf. Ini semua adalah termasuk perkara yang menunjukkan pentingya menghafal Al-Quran dan sesungguhnya ini adalah ilmu, maka hendaknya bersungguh-sungguh untuk meraihnya dan tidaklah akan meninggalkan kebaikan ini bagi mereka yang diberi taufiq

Salah satu dalil yang menunjukkan pentingya hafalan adalah hadist dalam shohihain dari Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash, “Sesungguhnya Nabi shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam bersabda:

[‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash] berkata; “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu ini sekaligus dengan mencabutnya dari dada-dada manusia”

(Al-Bukhari 100 dan Muslim 2673)

Maksudnya apabila ilmu tercabut dari dada penghafal dan hilang perkara ini (hafalan) maka hilanglah ilmu.

Ar Rahabi rahimahullah berkata :

Dan ketahuilah bahwa warisan ada dua
Furudh dan ta’shib sesuai dengan bagiannya
Adapun furudh di nash kitab ada enam
Tidak ada furudh dalam warisan selainnya
Setengah dan seperempat kemudian setengahnya seperempat
Sepertiga dan seperenam dengan nash syariat
Dua pertiga dan keduanya penyempurna
Maka hafalkanlah karena setiap penghafal adalah Imam

Maka Allah menjaga agama ini dengan pengahafal-penghafal kitab Allah

[Fatwa-fatwa Syaikh Yahya Al Hajuri atas pertanyaan manca negara; ulamasunnah]

Keutamaan menghafal al-Qur`aan

Para penghafal qur-aan ditinggikan derajatnya di dunia dan di aakhirat.

Sebagaimana dalam hadits-hadits berikut:

إِنَّ الهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab (al Qur`an) ini dan menghinakan yang lain”.

[Imam Muslim, no. 269 (1/559)]

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

“Yang mengimami kaum adalah yang paling hafal kitab Allah”

(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dll.)

إِنَّمَا يُحْسَدُ مَنْ يُحْسَدُ أَوْ كَمَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ عَلَى خَصْلَتَيْنِ رَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

“Hanyasanya kedengkian itu dibolehkan dalam dua hal –atau seperti yang Allah kehendaki— beliau bersabda: “atau dalam dua masalah, yaitu seseorang yang diberi oleh Allah (hafalan) Al Qur’an kemudian ia gunakan untuk berdiri (menunaikan shalat) di pertengahan malam dan siang

(HR. Ahmad, dishahiihkan Syaikh Ahmad Syaakir)

dari [‘Abdullah bin ‘Umar] berkata, “Ketika robongan Muhajirin yang pertama sampai di ‘Ushbah, suatu tempat di Quba’, sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mengimami shalat mereka adalah Salim mantan budak Abu Hudzaifah. Dia adalah seorang sahabat yang paling banyak bacaan (hafalan) Al Qur’annya di antara mereka.”

(HR. Bukhariy)

Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khattab di ‘Isfan (nama sebuah tempat, pen). Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah.

‘Umar pun berkata kepadanya, “Siapakah orang yang kamu serahi urusan untuk memimpin penduduk lembah itu?”.

Dia mengatakan, “Orang yang saya angkat sebagai pemimpin mereka adalah Ibnu Abza; salah seorang bekas budak kami.”

Maka Umar mengatakan, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”.

Dia pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah orang yang pandai memahami Kitabullah, mendalami ilmu waris, dan juga seorang hakim.”

‘Umar radhiyallahu’anhu menimpali ucapannya, “Adapun Nabi kalian, sesungguhnya dia memang pernah bersabda,

إِنَّ الهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan sebab Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya karena kitab ini pula.’

(HR. Muslim).

dari [Hisyam bin ‘Amir] dia berkata;

“Bapakku terbunuh pada perang Uhud, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

احْفِرُوا وَأَوْسِعُوا وَأَحْسِنُوا وَادْفِنُوا الِاثْنَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ فِي الْقَبْرِ وَقَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا

“Gali, perluas, baguskan dan kuburkanlah dua dan tiga orang dalam satu kuburan, serta dahulukan di antara mereka yang paling banyak hafalan Al Qur’annya.”

Bapakku adalah orang ketiga dari tiga orang (yang dimasukkan dalam satu lubang), ia adalah yang paling banyak hafalan Al Qur’annya, dia didahulukan.”

(an-Nasaa`iy, dishahiihkan syaikh al-albaaniy)

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).”

(HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ dalam hadits ini adalah menghafalkan Al Qur’an. Perhatikanlah perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2440.

“Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan shohibul qur’an (orang yang membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (Al Qur’an).’

Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga nanti tergantung dari banyaknya hafalan seseorang di dunia dan bukan tergantung pada banyak bacaannya saat ini, sebagaimana hal ini banyak disalahpahami banyak orang. Inilah keutamaan yang nampak bagi seorang yang menghafalkan Al Qur’an, namun dengan syarat hal ini dilakukan untuk mengharap wajah Allah semata dan bukan untuk mengharapkan dunia, dirham dan dinar. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا

“Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan Al Qur’an dengan niat yang jelek).”

(HR. Ahmad, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).” [Makna qurro’uha di sini adalah salah satu makna yang disebutkan oleh Al Manawi dalam Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 2/102 (Asy Syamilah); rumaysho.com]

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قَبْرُهُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ

Dan Sesungguhnya Al Quran akan menemui pemiliknya pada hari kiamat saat kuburnya terbelah seperti orang kurus.

‎فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ

ia berkata: Apa kau mengenaliku?; Pemilik Al Quran menjawab: Aku tidak mengenalimu,

‎ فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ

ia berkata: Apa kau mengenaliku?; Pemilik Al Quran menjawab: Aku tidak mengenalimu.

‎فَيَقُولُ أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ

Ia berkata: Aku adalah temanmu, Al Quran yang membuatmu haus ditengah hari dan membuatmu bergadang dimalam hari, setiap pedagang berada dibelakang dagangannya dan engkau hari ini berada dibelakang daganganmu.

‎فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يُقَوَّمُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنْيَا

Kemudian ia diberi kerajaan di tangan kanannya dan keabadian di tangan kirinya, di kepalanya dikenakan mutiara kemuliaan dan kedua orang tuanya dikenakan dua hiasan yang tidak bisa dinilai oleh penduduk dunia .

‎فَيَقُولَانِ بِمَ كُسِينَا هَذِهِ

lalu keduanya berkata: Kenapa aku dikenakan perhiasan ini?

‎فَيُقَالُ بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ

Dikatakan pada keduanya: Karena anak kalian berdua mempelajari Al Quran.

‎ثُمَّ يُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجَةِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَا فَهُوَ فِي صُعُودٍ مَا دَامَ يَقْرَأُ هَذًّا كَانَ أَوْ تَرْتِيلًا

Kemudian dikatakan padanya: Bacalah dan naiklah ke tingkat surga dan kamar-kamarnya. Ia senantiasa naik selama ia membaca dengan cepat atau dengan tartil.

(HR. Ahmad; dikatakan Syaikh Ahmad Syaakir; Didalamnya terdapat Basyir bin Al Muhajir dan Ibnu Ma’in mentsiqatkannya, dan ia merupakan perawi imam muslim. hadits ini dihasankan oleh Imam Ibnu Katsir)

Kewajiban untuk mengamalkan apa yang telah diketahui dari al qur-aan

Allah berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah [–al Qur-aan–] dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan

(al Alaq: 1)

Dan ketahuilah tidak cukup sampai disitu, namun ada konsekuensi setelahnya, yakni MENGAMALKAN apa yang telah kita BACA (dan PAHAMI dengan benar) tersebut.

‘Aa-isyah radhiyallahu ‘anhu berkata tentang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

‎كَانَ خُلُقُهُ القُرْآن

“Akhlak beliau adalah Al Quran.”

(HR. Ahmad)

Beliau tidak hanya sekedar MEMBACA al Qur-aan saja untuk dirinya dan kepada manusia, tapi apa yang beliau baca, juga nampak dalam AMALAN-AMALAN beliau.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ

“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya: (diantaranya)

وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ

tentang ilmunya untuk apa dia amalkan,

(HR. Tirmidziy; hasan shahiih)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

al-Qur’an adalah hujjah untukmu (yang dapat menjadi penolong bagimu) atau hujjah atasmu (yang dapat mencelakakamu)

(HR. Muslim)

Perumpamaan yang baik, bagi orang yang membaca (yang disertai pemahaman dengan benar) dan mengamalkan al Qur-aan sebagaimana disabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ

Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak.

وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا

Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma.

وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit.

وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.”

(HR. Bukhari no. 5059)

Terdapat keutamaan besar dalam mengamalkan al qur-aan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

ثُمَّ أُعْطِيتُمْ الْقُرْآنَ فَعَمِلْتُمْ بِهِ حَتَّى غُرُوبِ الشَّمْسِ فَأُعْطِيتُمْ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ

Kemudian kalian diberi al Quran, lantas kalian mengamalkannya hingga matahari terbenam, lantas kalian diberi dua qirath.

(HR. Bukhariy)

An Nawwas bin Sam’an Al Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ

“Al Qur`an akan didatangkan pada hari kiamat bersama Ahlinya yang telah beramal dengannya, dan yang pertama kali adalah surat Al Baqarah dan Ali Imran.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tiga permisalan terkait dengan keduanya, aku tidak akan melupakannya setelah itu. yakni:

كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ ظُلَّتَانِ سَوْدَاوَانِ بَيْنَهُمَا شَرْقٌ أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

“Seperti dua tumpuk awan hitam yang diantara keduanya terdapat cahaya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya.”

(HR. Muslim)

dari Abu Ad Darda’ dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata;

هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ

“Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali”,

maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya;

‘Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al Qur’an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.’

—dalam riwayat lain, riwayat ibn maajah–

“Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu bisa hilang? Sedangkan kami masih membaca Al Qur’an dan kami juga membacakannya (mengajarkannya) kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami juga akan membacakannya kepada keturunannya sampai hari kiamat datang.”

–selesai petikan–

Maka beliau berkata:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nashrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?!”

—dalam riwayat ibn maajah disebutkan–

‎‫ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ ‬

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, padahal aku melihatmu adalah orang yang paling memahami agama di Madinah ini!”

‎أَوَلَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ لَا يَعْمَلُونَ بِشَيْءٍ مِمَّا فِيهِمَا

“Bukankah orang-orang Yahudi dan Nashrani juga membaca Taurat dan Injil, namun mereka tidak mengamalkan sedikitpun apa yang terkandung di dalamnya.”

—selesai nukilan—

Jubair berkata; Kemudian aku bertemu dengan [Ubadah bin Ash Shamith], maka aku bertanya; ‘Tidakkah kamu mendengar sesuatu yang dikatakan saudaramu yaitu Abu Ad Darda’? ‘

Maka aku memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Ad Darda’. Dia berkata;

‘Abu Ad Darda’ benar, jika kamu berkehendak sungguh pasti aku ceritakan kepadamu tentang ilmu yang pertama kali akan diangkat dari manusia yaitu Al Khusyu’ (rasa khusyu’) hampir-hampir kamu masuk ke dalam masjid jami’ namun kamu tidak melihat seorang pun di dalamnya orang yang khusyu’.’

(HR. Tirmidzi, Ibnu Maajah, dll.; dishahiihkan oleh Syaikh al-albaaniy dalam shahiih at tirmidziy)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

‎سَيَخْرُجُ فيِ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ البَرِيَّةِ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya, pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al Qur’an, tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah menembus binatang buruannya.

[HR. Al Bukhari 3611, 5057, 6930; Muslim 1066]

Beliau juga bersabda tentang khawarij:

يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka

(HR. Muslim)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad berkata,

“Sebagian salafush shalih mengatakan, sesungguhnya al Qur`an turun supaya diamalkan. Maka jadikanlah membaca al Qur`an sebagai wujud pengamalannya. Oleh karena itu, Ahlul Qur`an adalah orang yang memahami al Qur`an dan mengamalkan yang terkandung di dalamnya, walaupun ia tidak menghafalkannya.

Sedangkan orang yang menghafalnya namun tidak memahaminya, serta tidak mengamalkan kandungannya, maka dia bukan Ahlul Qur`an, meskipun dia mendudukkan huruf-hurufnya sebagaimana mendudukan busur panahnya (artinya, sangat perhatian terhadap huruf-hurufnya, Red).”

[Zaadul Ma’ad, I/338; almanhaj.or.id]

al-Hasan (al Bashriy) berkata:

“Al Qur-aan diturunkan agar diamalkan, tetapi manusia (malah) menjadikan PEMBACAAN AL QUR-AAN sebagai amalannya saja”*

(Talbis Iblis hlm. 137; dinukil dari al furqan)

*Maksudnya, seharusnya al Qur-aan diamalkan kandungannya. namun manusia hanya menjadikan pembacaan al qur-aan sebagai amalan mereka, karena mereka tidak tahu kandungannya, sehingga mereka pun tidak mengamalkan kandungannya.

Az Zarkasyi berkata,

“Ketahuilah, seseorang yang Allah ajarkan padanya al Qur`an, baik seluruhnya atau sebagian, hendaknya menyadari kedudukan nikmat ini. Yakni, al Qur`an merupakan mukjizat terbesar, karena ia senantiasa eksis dengan keberadaan dakwah Islam. Dan juga, karena Rasulullah merupakan penutup para nabi dan rasul. Jadi, hujjah al Qur`an akan senantiasa ada di setiap zaman dan waktu, karena al Qur`an merupakan kalamullah dan kitabNya yang paling mulia. Maka, orang yang dianugerahi al Qur`an hendaknya memandang, bahwa Allah Azza wa Jalla telah memberikan nikmat yang agung kepadanya. Hendaknya dia menyadari dengan perbuatannya, bahwa al Qur`an akan membelanya, dan bukan justru menuntutnya.”

[Al Burhan fi Ulumil Qur`an, 1/449]

Kewajiban untuk menyampaikan apa yang telah diketahui dari al qur-aan

Allah berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.

(Aali Imraan: 187)

Allah berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?

(Aali Imraan: 71)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.

(Al-Baqara: 159)

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

(Al-Baqara: 174)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

بلغوا عني ولو آيةً

“(yang artinya:) Sampaikanlah DARIKU (yakni dari Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam) walau hanya satu ayat”

[HR Al-Bukhari 3/1275 no 3274]

Demikian pula dengan hadits:

لِيَبْلُغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ

Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir…”

(Muttafaqun ‘alaih)

Dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مثل الذي يتعلم العلم ثم لا يحدث به كمثل الذي يكنز الكنز فلا ينفق منه

“Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menyampaikannya adalah seperti orang yang menyimpan harta namun tidak menafkahkannya darinya (membayarkan zakatnya)”

[Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 689; shahih – lihat Ash-Shahiihah no. 3479].

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

من كتم علما ألجمه الله يوم القيامة بلجام من نار

“Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 96, Al-Haakim 1/102, dan Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 5/38-39; hasan].

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

من سئل عن علمٍ فكتمه ألجمه اللّه بلجام من نارٍ يوم القيامة

“Barangsiapa yang ditanya tentang satu ilmu lalu menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3658, At-Tirmidziy no. 2649, Ath-Thayalisiy no. 2534, Ibnu Abi Syaibah 9/55, Ahmad 2/263 & 305 & 344 & 353 & 499 & 508, Ibnu Maajah no. 261, Ibnu Hibbaan no. 95, Al-Haakim 1/101, Al-Baghawiy no. 140, dan yang lainnya; shahih].

Adapun keutamaan orang yang mengajarkan ilmunya, maka ini sangat besar; dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”

[HR at-Tirmidzi (no. 2685) dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 7912); Hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (4/467)].

Adapun yang dimaksudkan “mengajarkan/menyampaikan” ilmu disini, maka kitaTIDAK ASAL MENYAMPAIKAN, karena sebelum menyampaikan kita harus memperhatikan :

1. Ilmu yang disampaikan haruslah SHAHIH, yang berasal dari al-qur’an dan as-sunnah yang SHAHIH, bukan hadits-hadits DHAIF atau MAUDHU’.

2. Ilmu yang disampaikan harus disampaikan DENGAN PEMAHAMAN YANG BENAR. Karena bisa jadi dalil-dalilnya tersebut walaupun shahih, tapi ternyata kita tidak memahaminya seperti yang diinginkan Allåh dan RåsulNya.

3. Ilmu yang disampaikan hendaknya disertai penguasaan yang baik; yang kita harus benar-benar memahami Ilmu tersebut. Yang dengan penguasaan yang baik ini, kita bebas dari segala kerancuan/kesalahpahaman/kekeliruan terhadapnya. Penguasaan yang baik juga akan menjadikan kita berdiri diatas BAYAN (penjelasan) yang TERANG, JELAS dan KEYAKINAN (tanpa keragu-raguan dan kerancuan). Sehingga semoga kita dapat menjadi sebab hidayah kepada orang yang kita sampaikan…

Maka jika ada –SATU saja– ILMU yang kita miliki dan memenuhi kriteria diatas. MAKA SAMPAIKANLAH..

Jika tidak memenuhi salah satu syarat diatas (atau bahkan tidak memenuhi syarat diatas), MAKA BELAJARLAH terlebih dahulu. Janganlah semangatmu mendahului ilmumu!

Al-Qosim bin Muhammad berkata,

“Termasuk bentuk pemuliaan seseorang terhadap dirinya yaitu ia tidak berkata kecuali sesuatu yang ia telah kuasai ilmunya”

[Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 805]

Silahkan baca lebih lengkap penjelasan tentang ini disni

4, Ketahuilah sebelum kita menyampaikan kepada orang lain, maka yang kita dahulukan dan kita prioritasi  adalah kepada KELUARGA KITA dan ORANG-ORANG YANG BERADA DIBAWAH TANGGUNG JAWAB KITA, karena Allah akan menanyakan tanggung jawab kita atas mereka, dan merekalah yang lebih berhak mendapatkan pengajaran dibanding orang lain.

Simak pula artikel berikut:

Janganlah engkau berkata TANPA ILMU
Katakanlah kebenaran, janganlah berkata tanpa ilmu dan AMALkanlah apa yang engkau katakan
Ketika engkau ditanya dengan sesuatu yang engkau TIDAK TAHU atau RAGU dengannya, maka jangan malu untuk berkata “aku tidak tahu”

Makruhnya meninggalkan al Qur-aan

Fudhail bin Iyadh berkata:

“Hamilul Qur`an adalah pembawa panji Islam. Tidak layak baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa, sebagai wujud mengagungkan Allah”.

[Mukhtasar Minhajul Qasidin, halaman 45]

Tidak pantas (tidak patut) hal itu [–yakni meninggalkan al Qur-aan–] terjadi… Dan sudah merupakan kewajiban ahli ilmu yang berada di sekitarnya menasihati dia dan menjelaskan keutamaan membacanya, men-tadabburi-nya dan mengambil pelajaran darinya. Mudah-mudahan dia menerima nasihat itu dan mau membacanya lagi. [3. Idem]

Manusia terkadang suka meninggalkan Al-Qur’an, dia tidak beriman, tidak mendengarkan dan tidak memperhatikannya. Terkadang dia mengimaninya, namun tidak mempelajarinya. Terkadang dia mempelajarinya, namun tidak membacanya. Terkadang dia membacanya, namun tidak men-tadabburinya. Terkadang tadabbur sering ia lakukan, namun ia tidak mengamalkannya. Ia tidak menghalalkan apa yang dihalalkannya dan tidak mengharamkan apa yang diharamkannya. Dia tidak menjadikannya sebagai sandaran dan rujukan hukum. Dia juga tidak berobat dengannya dari penyakit-penyakit hati dan jasmani. Maka hajrul Qur’an (meninggalkan Al-Qur’an) terjadi dari seseorang sesuai dengan kadar keberpalingan dia darinya.

Seharusnya seorang muslim itu menjauhi dari meninggalkannya dan dari memutuskan hubungan dengannya, walau dengan cara apapun bentuk meninggalkan itu yang telah disebutkan oleh para ulama dalam menafsirkan makna hajrul Qur’an.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsinya (Tafsir Ibnu Katsir 6/117):

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memberi khabar tentang Rasul dan NabiNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Artinya : Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”

(Al-Furqan : 30)

Itu karena orang-orang musyrik tidak mau diam memperhatikan dan mendengarkan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Artinya : Dan orang-orang yang kafir berkata,’Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya”

(Fushishilat : 26)

Bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka membuat gaduh, hiruk pikuk dan perkataan-perkataan lain sehingga tidak mendengarnya, ini termasuk makna hujran Al-Qur’an.

Tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkannya termasuk makna hujran.

Tidak men-tadabburi dan tidak berusaha memahaminya termasuk hujran.

Tidak mengamalkannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangan-larangan termasuk makna hujran.

Berpaling darinya kepada hal lain, baik berupa sya’ir [–Termasuk didalamnya MUSIK, LAGU & NYANYIAN–], percakapan, permainan, pembicaraan atau tuntunan yang diambil dari selain Al-Qur’an, semua itu termasuk makna hujran.[4. Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta; yang disalin almanhaj.or.id dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an]

Orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an itu bermacam-macam jenis dan kategorinya. Oleh karenanya, seorang Mu’min hendaknya mawas diri, agar tidak termasuk dalam kategori di atas, dengan melakukan salah satu dari kategori yang dilakukan oleh orang-orang yang dicap sebagai golongan yang meninggalkan Al-Qur’an.

Imam Ibn Qayyim Al Jauziyah rahimahullah berkata, bahwa perilaku meninggalkan Al-Qur’an itu bermacam-macam bentuknya, yang diantaranya adalah :

a. Tidak mau (enggan) mendengarkannya, mengimani, atau mendengarkannya dengan seksama.

b. Tidak mengamalkan kandungannya, dan berhenti atau tidak mengindahkan pada ketentuan halal haramnya, meskipun ia membaca serta beriman kepadanya.

c. Tidak bertahkim dan menjadikannya sebagai landasan hukum dalam perkara-perkara dasar serta cabang-cabangnya.

d. Tidak ber-tafakkur, memahaminya dan mengetahui apa yang dikehendaki oleh yang berfirman dengan perantaraan kalam (Al-Qur’an).

e. Tidak menjadikannya sebagai obat penyembuh bagi berbagai macam penyakit hati dan obat-obatnya, hingga ia mencari obat bagi penyakitnya itu kepada yang lain serta tidak mengobati penyakitnya dengan perantaraan Al-Qur’an.

Kesemua kategori tersebut di atas termaktub dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Artinya: Berkatalah (Råsul): Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”

(Al-Furqan : 30)

Kesemuanya itu dikategorikan sebagai meninggalkan membaca Al-Qur’an. Dan masih banyak lagi gambaran dari perlakuan ini pada era kita saat ini. Misalnya dengan meletakkan mushhaf pada tempat yang tersedia hanya untuk mengambil berkah dari keberadaannya semata. Seperti diletakkan di rak buku rumah, di belakang mobil atau di bagian dpeannya, sehingga mushhafnya itu tertutup oleh debu. Sebagaimana disaksikan bahwa mushhaf itu tidak diacuhkan dan ini merupakna etik ayang buruk yang diberikan bagi kitab Allah.

Ibnu Jauzi Rahimahullah berkata :

“Barangsiapa yang memiliki mushhaf (Al-Qur’an), maka seyogyanya ia membacanya setiap hari, beberapa ayat saja, agar tidak dianggap sebagai orang (hamba) yang tidak mengacukannya.”

Seperti yang digambarkan oleh Ibn Jauzi rahimahullah, bahwa untuk menyembuhkan jenis terakhir dari ketidak-acuhan terhadap Al-Qur’an ini maka ia pun menunjukkan cara bagaimana mengatasi perlakuan buruk lainnya seperti tidak ber-tafakkur dan tidak berusaha memahaminya dimana ia berkata :

“Hendaknya seorang pembaca Al-Qur’an mengerjakannya semata-mata untuk menghilangkan faktor-faktor pencegah di dalam memahaminya. Seperti bayangan yang diberikan setan kepadanya. Dimana seakan-akan bacaan ayatnya tidak benar dan atau tidak keluar menurut makhrajnya, yang mana ia harus mengulang-ulang bacaannya. Sampai timbul keinginan pada dirinya untuk memahami maknanya.

Selain itu, setan menggodanya dengan mendorong untuk terus melakukan dosa, bersikap takabbur, atau dicoba dengan menuruti hawa nafsu. Sebab, kesemuanya itu merupakan faktor yang menggelapkan dan mengkaratkan hatinya seperti pudarnya cahaya sebuah cermin. Ia juga mencegah untuk menampakkan kebenaran.

Hati itu seperti kaca (cermin) dan syahwat itu seperti karat. Adapun makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu seperti gambaran-gambaran yang dipantulkan dan terlihat di muka cermin, serta bentuk riyadhah atau pelatihan bagi hati. Yaitu, menyingkirkan segala bentuk syahwat yang merusak, seperti membersihkan cermin dari setiap karat yang memudarkan cahayanya.”

Itu semua merupakan bentuk pengacuhan terhadap Al-Qur’an, yaitu golongan dan keadaannya. Adapun orang-orang yang selalu berhubungan dengan Al-Qur’an menurut kategori dan derajatnya, tergantung pada kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka, yaitu dengan mencurahkan kemampuan dan keinginan mereka. Para ulama salaf selalu menghidupkan hati mereka dengan kitab Allah, siang dan malam. Mereka memelihara hatinya dengan senantiasa memperbaharui dan mengairinya dengan kesejukan, agar ia selalu hidup, segar dan terjaga.

Muamalah kaum muslimin dizaman ini dengan al Qur-aan

Sungguh sangat menyayangkan kita dapati kaum muslimin yang meneriakkan slogan dan klaim “Cinta Allåh dan RåsulNya” lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dan membaca novel-novel penyair dibandingkan membaca al-qur’an yang merupakan perkataan Allah (kalamullah); sebagian mereka juga menghabiskan waktunya untuk melantunkan LAGU-LAGU atau NASYID-NASYID atau SYAIR-SYAIR atau memainkan MUSIK-MUSIK dibandingkan melantunkan bacaan al Qur-aan…

Lantas bagaimanakah bisa seorang YANG MENGAKU mencintai Allah; namun ia lebih mendahulukan perkataan selainNya?!

Bahkan termasuk KEDUSTAAN klaim cinta tersebut, jika seseorang lebih memilih perkataan manusia diatas perkataan (firman) Allah. Ia lempar jauh-jauh firmanNya yg tidak sesuai hawa nafsunya dan lebih memilih perkataan selainNya yang sesuai dengan hawa nafsunya.. dan ini lebih jelek lagi dari kelompok sebelumnya.

Jangankan menyibukkan diri dengan kitab-kitab PENYAIR-PENYAIR, atau kitab-kitab AHLUL BID’AH yang mengandung banyak syubuhat. BAHKAN PARA ULAMA memprihatinkan seseorang yang sibuk dengan kitab-kitab para ULAMA AHLUS-SUNNAH dan meninggalkan membaca al Qur-an..

dari Ibrahim At Taimi rahimahullah ia berkata:

“Telah sampai kabar kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhumaa sebagian orang mengagumi sebuah kitab, kondisinya tetap demikian hingga Ibnu Mas’ud mendapati kitab tersebut dan menghapusnya, kemudian ia berkata:

‘Rusaknya Ahlul Kitab (orang-orang Yahudi dan Nashrani) sebelum kalian adalah karena mereka mengagumi kitab-kitab ulama mereka dan mereka tinggalkan kitab Råbb mereka’ “.

(Atsar riwayat ad-Darimiy)

Allåhu akbar.. demikianlah kecintaan para shahabat terhadap al Qur-aan, mereka sangat CEMBURU ketika al Qur-aan ditinggalkan oleh manusia, ketika manusia beralih kepada selainnnya..

NB: Bukan berarti ini MERENDAHKAN kitab-kitab para ulama, hanya saja, yang dicela apabila kita MENYIBUKKAN DIRI DENGAN MELAMPAUI BATAS sehingga kita terlewatkan dari membaca kitabullåh akibat kesibukan tersebut.

Bahkan kitab-kitab para ulama AHLUS-SUNNAH ini sangat bermanfa’at bagi kita untuk menambah khazanah ilmu kita, yang dengannya dapat kita gunakan untuk MENTADABBURI dan MENTAFAKKURI al Qur-aan.

Maka hendaknya kita barengi niat kita menuntut ilmu dan membaca kitab-kitab para ulama untuk tujuan tersebut, sehingga dapat menumbuhkan SEMANGAT kita untuk MEMBACA AL QUR-AAN, tidak hanya sekedar membacanya, tapi juga dengan PENUH TAFAKKUR dan TADABBUR dengan ilmu yang telah kita miliki; SEHINGGA dapat TERSERAP DALAM HATI-HATI KITA sehingga kita dapat MENGAMALKAN kandungannya, mengajarkannya, dan berusaha tetap berada diatasnya hingga akhir hayat kita.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala diinik..

Wahai Dzat Yang Membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami diatas agamamu.. aamiin

Wasiat kepada kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada al Qur-aan dan tidak meninggalkannya

Kesimpulannya, al qur-aan FUNGSInya adalah

– UNTUK DIBACA

(jika tidak mampu baca, MAKA BELAJAR MEMBACAnya DENGAN BENAR; mengetahui tempat keluarnya huruf, shifat-shifat huruf dan lain-lain; sehingga ia bisa membaca DENGAN BAIK dan BENAR)

– jika telah dibaca, maka dibaca DENGAN TADABBUR dan TAFAKKUR *tidak mungkin ada tadabbur dan tafakkur, JIKA TIDAK MEMILIKI ILMU, maka hendaknya kita mempelajari ilmu al qur-aan berupa ilmu tafsir; juga mempelajari hadits-hadits nabi yang menjelaskan isi al qur-aan.

– (atau jika mampu, dan ini lebih utama, maka kita berusaha untuk MENGHAFALKANnya..)

– jika telah dibaca disertai dengan tadabbur dan tafakkur; maka selanjutnya adalah MENGAMALKAN isi kandungan tersebut

– jika telah dibaca disertai dengan tadabbur dan tafakkur; dan mengamalkannya; maka kita MENGAJARKANnya, TERUTAMA pada KELUARGA kita, dan ORANG-ORANG YANG DIBAWAH TANGGUNG JAWAB KITA; baru setelah itu kepada selainnya.

Jika kita telah memiliki hal diatas, maka alangkah bahagianya kita; semoga kita termasuk dalam hadits nabi berikut:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصَحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena dia akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.”

(HR Muslim no. 804)

Juga dalam hadits:

يُؤْتَى يَوْمَ القِيَامَةِ بِالقُرْآنِ وَأَهْلِهِ الَّذِيْنَ كَانُوا يَعْمَلُوْنَ بِهِ تَقَدَّمَهُ سُوْرَةُ البَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ

“Pada hari kiamat nanti didatangkan Al-Qur’an beserta para pembacanya yang senantiasa mengamalkannya semasa di dunia, didahului oleh Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran.”

Lalu beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyebutkan tiga permisalan kedua surah tadi yang tak pernah kulupakan setelahnya.

Beliau berkata lagi:

كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ ظُلَّتَانِ سَوْدَوَانِ، بَيْنَهُمَا شَرْقٌ، أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

“Kedua surah itu seakanakan dua gumpalan awan atau dua naungan hitam, di antara keduanya ada cahaya, atau keduanya seakan-akan dua kumpulan burung yang berbaris, memberikan hujjah yang membela pembacanya.”

(HR Muslim no. 805)

Dan juga hadits:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR Al-Bukhari no. 5027)

Syaikh al-Albaniy rahimahullah berkata dalam mengomentari hadits diatas[6. Diterjemahkan dari al-Ustadz Abuz Zubeir hafizhahullåhu ta’ala dari http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=5348; dari Website beliau]:

“Di dalam hadits ini ada isyarat yang memerintahkan mempelajari Al-Qur’an. Bahwasanya sebaik-baik pengajar adalah yang mengajarkan Al-Qur’an. Andai saja para penuntut ilmu mengetahui itu, sesungguhnya di dalamnya ada manfaat yang besar.

Di antara fenomena yang tersebar luas di zaman kita bahwasanya engkau mendapatkan banyak da’i-da’I atau para pemula dalam menuntut ilmu, tampil untuk berdakwah, berfatwa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia sementara dia tidak benar dalam membaca Al-Fatihah dengan makhraj-makhraj yang benar untuk setiap huruf. Sehingga engkau melihatnya mengucapkan sin seperti shod dan tho’ seperti ta’, dzal seperti zaai dan tsa’ sebagai siin. Jatuh dalam Lahan Al-Jalii (kesalahan yang jelas) apalagi Lahan al-Khofii (kesalahan yang tersembunyi).

Seharusnya – adalah suatu keniscayaan – ia memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan hapalannya. Agar ia membawakan ayat-ayat dengan baik dan berdalil dengannya dalam nasehat-nasehat, pelajaran-pelajaran dan dakwahnya.

Engkau dapatkan ia sibut dengan menshohih dan mendho’ifkan, membantah ulama dan mentarjih diantara mereka. Dan engkau sering mendengar darinya kalimat-kalimat yang lebih tinggi dari levelnya sendiri. Kadang ia berkata, “Menurut pandangan saya … saya katakan .. pendapatku dalam masalah ini begini … dan pendapat yang rojih menurutku begini”.

Lebih mencengangkan lagi, orang-orang seperti mereka engkau dapatkan tidak berbicara dalam masalah-masalah yang telah disepakati. Akan tetapi selalu – kecuali yang dirahmati Allah – berbicara dalam masalah-masalah khilaf, sehingga ia turut pula memberikan pendapat padanya. Jika ia kesulitan ia merajihkan di antara pendapat-pendapat. Aku berlindung kepada Allah dari riya’, dan cinta ketenaran.

Pertama aku nasehati diriku sendiri dan kedua untuk mereka; bahwasanya sebaik-baik perkara yang harus dimulai oleh seorang penuntut ilmu adalah menghapal Al-Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman,

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an orang-orang yang takut akan ancaman”.

(QS. Qååf 50:45)

[–Selesai perkataan syaikh al-Albaniy rahimahullåhu ta’ala–]

Yakinlah akan janji Allah:

إِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِِيَةً يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitabullah, menunaikan shalat dan berinfak dengan rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara diam-diam ataupun terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tak akan merugi.”

(Fathir: 29)

Dan orang yang BENAR-BENAR yakin akan janji ini, tentu TIDAK AKAN MENYIANYIAKAN kesempatan emas yang ia dapati dalam masa HIDUPnya.. jujur atau dustanya keyakinannya, kuat atau lemahnya keyakinannya; nampak dalam AMALAN-AMALANNYA.

Semoga bermanfa’at

Tinggalkan komentar

Filed under al-Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s