Celaan bagi yang mengganti syari’atNya (dengan menambah-nambah/mengurangi)

Allah mencela yahudi yang MENGGANTI PERINTAH-Nya dengan MENGERJAKAN sesuatu yang TIDAK DIPERINTAHKAN-Nya [QS 2:59, 7:162] Sebagaimana Allah mencela kaum nashara yang MENGADA-ADAKAN suatu peribadatan yang BUKAN berasal dariNya [QS 42:21]. Apakah mereka memiliki SESEMBAHAN selain Allah, untuk mensyari’atkan sesuatu yang tidak Allah syari’atkan?! [QS. 42:21]

Ayat Pertama

Allah berfirman:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.

(al Baqarah: 2:59)

dalam tempat lain, Allah berfirman:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِّنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ

Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.

(al A’raaf: 7:162)

dari [bu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

قَالَ قِيلَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dikatakan kepada Bani Israil:

ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ

‘Masuklah kalian pintu itu dengan keadaan sujud dan Katakanlah: ‘Hitthah’ (ampunilah dosa-dosa kami) niscaya Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kalian.’

(Al-Baqara: 58)

فَدَخَلُوا يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاهِهِمْ فَبَدَّلُوا وَقَالُوا

Lalu mereka memasuki pintu itu dan mengganti apa yang telah diperintahkan kepada mereka seraya merangkak di atas pantat-pantat mereka dan mereka berkata:

حِطَّةٌ حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ

‘Hiththah adalah Habbah (biji) dalam tepung’.”

(HR. Bukhåriy)

Fawaid dari ayat dan hadits diatas adalah:

– Haram hukumnya mena’wil nash-nash syari’at sehingga menyimpang dari maksud yang sebenarnya dari pemilik syari’atnya, yaitu Allah Ta’ala.

– Adalah kebiasaan YAHUDI, menyelengkan nash dari maksud yang sebenarnya. Maka hendaknya kaum muslimin TIDAK MENGIKUTI jejak langkah mereka.

(Lihat: Kitab Aysar at-Tafaasiir li Kalaam ‘al-Aliy al-Kabiir [disingkat: Ays] karya Syaikh Abu Bakar al-Jazâiriy dan Kitab Zubdatut Tafsir min Fath al-Qadîr [disingkat: Zub] karya DR. Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar)

Imam Ibnu Khuzaymah rahimahullah berkata:

“Kita beriman kepada kabar Allah Jalla wa ‘Ala bahwa pencipta kita (berada diatas langit dan) bersemayam diatas arsy-Nya.

Kita tidak mengubah kalam Allah dan tidak mengatakan selain apa yang dikatakan kepada kita.

Tidak seperti Kaum Mu’aththilah JAHMIYYAH yang berkata:

“Sesungguhnya Dia berkuasa atas ‘ArasyNya, bukan bersemayam.”

Jadi, mereka MENGGANTI dengan perkataan lain diluar apa yang dikatakan kepada mereka, seperti Yahudi, yang menakala mereka diperintah untuk mengatakan hiththah, tapi mereka mengatakan hinthah. Sehingga menyalahi perintah Allah subhanahu wa ta’ala, demikian pula dengan kelompok JAHMIYYAH.”

(at TAuhiid [I/231]; disalin dari Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i (Manhaj al Imam asy Syafi’iy) oleh Muhammad bin Abdil Wahhab al-‘Aqil; pustaka imam syafi’iy hlm. 440)

Ayat kedua

Allah berfirman:

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا

Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah* padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya

(al Hadid 27)

Rahbaniyyah adalah: Tidak beristeri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara.

Dijelaskan maknanya oleo Sa’id bin Jubeyr dan Qatadah, bahwa MENGADA-ADAKAN IBADAH tersebut, mereka tujukan untuk mencari keridhaan Allah.

Sudah mereka membuat-buat dengan tangan mereka sendiri, justru mereka sendirilah yang pertama kali melanggar apa yang mereka buat-buat tersebut dengan tidak menjaganya.

Dikatakan oleh al-Imam Ibnu Katsir:

“Allah HINAKAN mereka dari dua sisi. Pertama, karena mereka TELAH BERBUAT BID’AH dalam menjalankan agama Allah; yaitu mereka menjalankan (SUATU IBADAH) yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua, karena mereka tidak mengerjakan apa-apa yang mereka buat-buat itu dan yang mereka akui sebagai suatu yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Sebagaimana kita melihat orang-orang yang MENSYARI’ATKAN dzikir-dzikir tertentu dengan jumlah tertentu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya. Seperti berdzikir dengan dzikir tertentu RIBUAN kali. Berapa banyakkah dari mereka yang “istiqamah” dengan amalan tersebut? Kehinaan dan kehinaanlah yang mereka dapatkan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

Dijadikan Kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku.

(HR. Ahmad, dishahiihkan Ahmad Syaakir dan Al-Albaaniy)

Ayat ketiga

Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

(asy Syura 42:21)

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata:

Allah telah melarang penghalalan dan pengharaman tanpa dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan Dia menyatakan bahwa hal itu adalah dusta atas nama Allah. Sebagaimana Dia telah memberitahukan bahwa siapa yang mewajibkan atau mengharamkan sesuatu tanpa dalil maka ia telah menjadikan dirinya sebagai sekutu Allah dalam hal tasyri’.

Sebagaimana firman Allah (diatas)

Siapa yang menta’ati musyarri’ (yang membuat syari’at) selain Allah maka ia telah menyekutukan Allah.

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Artinya : … dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

[Al-An’am: 121]

Maksudnya adalah orang-orang yang menghalalkan bangkai-bangkai yang sudah diharamkan Allah. Maka siapa yang menta’ati mereka dia adalah musyrik.

Sebagaimana Allah memberitahukan bahwa siapa yang menta’ati para ulama dan rahib-rahib dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka ia telah menjadikan mereka sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan (yang disembah) selain Allah, dan (juga mereka menyembah) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Mahaesa; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

[At-Taubah: 31]

Dari ‘Adiy bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ

“Ingat, sesungguhnya mereka tidak menyembah mereka tapi bila mereka menghalalkan sesuatu, mereka menghalalkannya dan bila mengharamkan sesuatu, mereka mengharamkannya.”

(HR at Tirmidziy)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata,

“Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa menta’ati ulama dan pendeta dalam hal maksiat kepada Allah berarti beribadah kepada mereka dari selain Allah, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena akhir ayat tersebut berbunyi:

مَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Artinya : … padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Ma-haesa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Ma-hasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

[At-Taubah : 31]

Senada dengan itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Artinya : Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

[Al-An’am: 121]

Hal ini banyak menimpa orang-orang yang bertaklid kepada ulama mereka. Karena mereka tidak melihat dalil lagi, meskipun ulama yang diikutinya itu telah menyalahi dalil. Dan ia termasuk jenis syirik ini. Maka menta’ati dan konsisten terhadap syari’at Allah serta meninggalkan syari’at-syari’at lainnya adalah salah satu keharusan dan konsekuensi dari laa ilaaha illallah. Dan hanya Allah-lah tempat kita memohon pertolongan.

[Disalin almanhaj.or.id, dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan; ]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan makna ayat diatas,

“Mereka yang menjadikan ulama dan ahli ibadah sebagai tandingan-tandingan selain Allah dengan mentaati mereka dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, dari dua sisi:

Pertama: Mereka tahu bahwa ulama dan ahli ibadah mereka telah merubah agama Allah, lalu mereka ikuti agama yang telah dirubah tersebut. Sehinnga mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan demi mengikuti pemimpin-pemimpin (agama) mereka, padahal mereka tahu bahwa pemimpin-pemimpin tersebut telah menyelisihi agama Rasul. Maka ini adalah kekafiran. Allah dan Rasul-Nya telah menjadikan perbuatan ini termasuk syirik, meskipun mereka tidak shalat dan sujud kepada ulama dan ahli ibadah mereka.

Maka seorang yang mengikuti orang lain dalam perkara yang bertentangan dengan agama padahal ia mengetahui bahwa perkara tersebut bertentangan dengan agama dan ia meyakini kebenaran perkataannya bukan perkataan Allah dan Rasul-Nya, ia pun musyrik seperti mereka.

Kedua. mereka tetap meyakini dan mengimani bahwa yang diharamkan para ulama dan ahli ibadah mereka adalah halal dan yang dihalalkannya adalah haram, namun mereka tetap mentaati para ulama dan ahli ibadah tersebut dalam perkara maksiat kepada Allah, sebagaimana seorang muslim yang melakukan maksiat dan ia tetap meyakini bahwa perbuatannya itu adalah maksiat, maka yang seperti ini hukumnya sama dengan hukum bagi pelaku dosa besar (tidak sampai kafir).”

(Majmu’ al-Fatawa, 7/70; baca: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/01/peringatan-dari-bahaya-syirik-2/)

Ketahuilah, apa yang telah disebutkan diatas, ITULAH BID’AH…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”

(HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i ada tambhaan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“…Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

(HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dishahiihkan oleh Abu Nu’aim, al-Bayhaqiy, ibnu Bazz, al-albaniy, ibnul ‘utsaimiin; dll.)

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”

(Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”

(Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html

apa PENGERTIAN dari BID’AH?

Imam Asy Syafi’I rahimahullah dalam riwayat Ar Rabie’ berkata :

”Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi al qur’an, atau sunnah, atau atsar para shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

”Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap yang diadakan dari apa-apa yang tidak ada asalnya dalam syariat yang menunjukkan kepadanya,

adapun bila ada asal (dalil) syari’at yang menunjukkan kepadanya maka bukanlah bid’ah secara syari’at, walaupun dianggap bid’ah secara bahasa”.

As suyuthi rahimahullah berkata,

”Bid’ah adalah ungkapan tentang perbuatan yang bertabrakan dengan syari’at dengan cara menyelisihinya atau melakukannya dengan cara menambah atau mengurangi”.

Asy Syathibi rahimahullah berkata,

”Bid’ah adalah sebuah tata cara dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at yang maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala”.

Sumber: Mengenal Hakikat Bid’ah, oleh al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam

Baca pula link-link berikut, sehingga kita bisa mengenal KEMUNGKARAN ini, yang sering kita dapati dibungkus dengan perkataan indah, sehingga TERSAMAR kemungkarannya.

1. Islam adalah agama yang sempurna

2. Memahami dan memaknai syahadat “muhammadur råsulullåh”

3. Mengenal Kata “Bid’ah”

4. Komparasi makna bid’ah dan kerancuan terhadapnya

(bagian pertama) – (bagian kedua)

5. Salah kaprah dalam memahami “Bid’ah hasanah”

6. Wajib Mengenal Bid’ah Dan Memperingatkannya

7. Wasiat dan Pernyataan Para Imam Ahlus Sunnah Tentang Berittiba’ dan Larangan Berbuat Bid’ah

8. Ciri-ciri Ahlul hawa (pengekor hawa nafsu) dan Ahlul Bid’ah (Pemimpin/penyeru kepada kebid’ahan)

9. Kapan seseorang disebut ahli bid’ah?

10. Larangan sembarangan memvonis seseorang tertentu dengan vonis “kafir” atau “ahlul bid’ah”

11. Larangan Bermajelis Dengan Ahli Bid’ah

12. Larangan mengambil ‘ilmu dari ahli bid’ah

Ancaman Allah dan RasulNya bagi ahlul bid’ah

dinukil dari: muslim.or.id dengan pengeditan, pengurangan dan penambahan tanpa merubah maksud.

1. Tersesat di dunia, dan diancam dengan neraka

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ‪.‬ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya dineraka.

(Shahiih; HR. Muslim, an Nasaa-iy dll; Hadits ini dishahiihkan oleh Abu Nu’aim, al-Bayhaqiy, ibnu Bazz, al-albaniy, ibnul ‘utsaimiin; dll.)

2. Amalannya Tertolak

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”.

(HR. Bukhariy)

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar dari kami maka amalan itu tertolak.”

(HR. Muslim)

Allah berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَا ‪.‬ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya…”

(al Kahfi: 103-104)

Dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir:

“Ayat ini meliputi orang-orang Haruriyyah (Khawarij) sebagaimana halnya Yahudi, Nasrani, dan selain mereka; karena ayat ini turun tidak hanya berkenaan dengan mereka secara khusus, akan tetapi mencakup semua orang yang beribadah kepada Allah tidak dengan cara yang diridhai sedang dia menyangka ibadahnya sudah benar dan amalnya itu diterima, padahal sebenarnya dia salah dan amalnya tertolak”.

(Tafsir Ibn Katsir)

3. Termasuk orang yang dilaknat

Berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْد‪*‬ثَ فِيهَا حَدثًا أَوْ آوَى مُحْد‪*‬ثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara yang baru (bid’ah) atau mendukung pelaku bid’ah maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat dan manusia semuanya.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 6755 dan Muslim no. 1370]

Dijelaskan oleh para ulamaa, bahwa:

أَحدث

dan

محدثا

bisa dibaca “ahdits-muhdits” atau dibaca “ahdats-muhdats”… keduanya dibenarkan.

ahdits-muhdits = adalah perbuatan bid’ah dan pelakunya

sedangkan

ahdats-muhdats = adalah perbuatan kejahatan dan pelakunya

4. Ahlul bid’ah terhalangi dari bertaubat akan dosanya

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa salam,

“Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya.”

(Diriwayatkan Thabrani, Baihaqi, dan Adh Dhiya dari Anas radliyallahu ‘anhu; dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah nomor 1620).

Sufyan Ats Tsaury berkata,

“Bid’ah lebih dicintai iblis daripada maksiat, orang terkadang bertaubat dari maksiat tetapi seseorang akan sulit bertaubat dari perbuatatan bid’ah”.

Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah menganggap bid’ah yang dilakukannya itu sebagai amal sholih yang mendekatkan diri pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh sebab itu dia tidak akan pernah berpikir untuk bertaubat dari perbuatan bid’ahnya tersebut dan bahkan sebaliknya ia berusaha melanggengkan amalan bid’ah tersebut.

(Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah)

5. Kegelapan bid’ah menutupi cahaya sunnah.

Abdulloh bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu berkata,

“Tidaklah datang suatu zaman kecuali orang-orang yang berbuat bid’ah pasti mematikan –menghilangkan- sunnah sehingga tumbuhlah bid’ah dan matilah sunnah.”

6. Ahli bid’ah menanggung dosanya sendiri dan dosa orang yang mengikutinya.

dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

‎ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.

‎وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

(Sebaliknya,) barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”

(HR Muslim)

Sedangkan bid’ah merupakan kesesatan sebagaimana yang telah dinyatakan Rosululloh dalam hadits di atas. Inginkah ahlu bid’ah menanggung seluruh dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat?!

7. Ahli bid’ah akan dihalangi untuk memasuki telaga Nabi pada hari kiamat.

Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda;

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَهُ شَرِبَ مِنْهُ وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا لَيَرِدُ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ

“Aku manusia pertama-tama diantara kalian yang menuju telaga, barangsiapa mendatanginya, maka tak akan haus selama-lamanya, sungguh beberapa orang menemuiku yang aku mengenal mereka dan juga mereka mengenalku, lantas tiba-tiba aku dan mereka terhalang.”

Kemudian Rasulullah bersabda:

إِنَّهُمْ مِنِّي

“Sesungguhnya mereka adalah dari ummatku’

فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ

Lantas ada suara yang menjawab; kamu tidak tahu perubahan yang mereka lakukan sepeninggalmu!

فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي

Sehingga aku berkata; ‘Celaka,, celaka bagi siapa saja yang mengganti (agama) sepeninggalku!”

(HR. Bukhariy, Muslim, dll.)

8. Ahli Bid’ah mukanya HITAM MURAM pada hari kiamat

Allah berfirman:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram

Dijelaskan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa:

“Yaitu pada hari kiamat, yang pada saat itu wajah Ahlus-sunnah wal jama’ah (pengikut sunnah dan al-jama’ah) putih berseri dan wajah Ahlul-bid’ah wal furqah (pengikut kebid’ahan dan perpecahan) hitam muram.”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Maka hendaknya kita BERTAUBAT dari perbuatan ini, kembali ke jalan yang benar, kembali kepada PEMAHAMAN dan PENGAMALAN yang BENAR dalam mengamalkan agama ini… semoga Allah membimbing kita diatas jalanNya yang lurus dan menetapkan kita diatasNya. aamiin.

Iklan

1 Komentar

Filed under Al-Bid'ah, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh

One response to “Celaan bagi yang mengganti syari’atNya (dengan menambah-nambah/mengurangi)

  1. Ping-balik: Tweets that mention Website-nya Abu Zuhriy Rikiy Dzulkifliy » Celaan bagi yang mengganti dengan menambah-nambah/mengurangi syari’atNya -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s