Cukupkanlah dirimu dengan sunnah!

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أبالله تعلموني أيها الناس ؟ قد علمتم أني أتقاكم لله وأصدقكم وأبركم افعلوا ما آمركم

Demi Allah! bukankah kalian mengenalku wahai manusia!? Kalian telah mengetahui bahwa aku paling bertaqwa kepada Allaah diantara kalian, paling jujur dan paling baik… maka kerjakanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian!

(HR. Bukhariy dan Muslim; dinukil dari Hajjatun Nabiy karya Syaikh al Albaaniy rahimahullaah)

dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata:

ada beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata; saya tidak akan menikah, sebagian lagi berkata; saya akan selalu shalat dan tidak tidur, sebagian…… lagi berkata; saya akan terus berpuasa dan tidak berbuka.

Berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, hingga (Beliau Shallallahu’alaihi wasallam) bersabda:

‎مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang mengatakan demikain dan demikain, Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan, dan barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku “.

Dalam riwayat lain:

dari ‘Aa-isyah radhiyallahu ‘anhaa, ia berkata;

“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan mereka dengan apa yang mereka mampui.”

Sehingga mereka mengatakan;

“Sesungguhnya kami tidak seperti engkau. Sebab Allah AzzaWaJalla telah mengampuni dosa-dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam marah hingga terlihat dari raut wajahnya. Dia berkata; Kemudian beliau bersabda:

‎وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا

“Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling tahu terhadap Allah dan paling bertakwa di antara kalian.”

[HR. Al-Bukhari (no. 5063) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1401) kitab an-Nikaah, an-Nasa-i (no. 3217) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 13122)]

dari ‘Aa-isyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang menemui Utsman bin Mazh’un, lalu Utsman datang kepada beliau, maka beliau bersabda:

‎يَا عُثْمَانُ أَرَغِبْتَ عَنْ سُنَّتِي

“wahai ‘utsman; Apakah kamu membenci sunnahku?”

Utsman menjawab; “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah… bahkan sunnahmu lah yang amat kami cari.”

Beliau bersabda:

‎فَإِنِّي أَنَامُ وَأُصَلِّي وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَنْكِحُ النِّسَاءَ فَاتَّقِ اللَّهَ يَا عُثْمَانُ فَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَصَلِّ وَنَمْ

“Sesungguhnya aku tidur, aku juga shalat, aku berpuasa dan juga berbuka, aku juga menikahi wanita. Bertakwalah kepada Allah wahai Utsman, sesungguhnya keluargamu mempunyai hak atas dirimu, dan tamumu mempunyai hak atas dirimu, dan kamu pun memiliki hak atas dirimu sendiri, oleh karena itu berpuasa dan berbukalah, kerjakanlah shalat dan tidurlah.”

(Shahiih; HR. Abu Dawud, dishahiihkan oleh al-Imam al-Haytsamiy dalam majma’ al zawaa-idl, juga dishahiihkan oleh syaikh al-Albaaniy dalam shahiih abi dawud)

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam MARAH ketika melihat para shahabatnya MERASA TIDAK TERCUKUPI dengan sunnahnya, sehingga mereka mengada-adakan suatu praktek ibadah yang menyelisihi apa yang diperbuat oleh Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam.

Bahkan diakhir hadits pertama dikatakan: فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku); sebagaimana pada hadits kedua Rasulullah bersabda: يَا عُثْمَانُ أَرَغِبْتَ عَنْ سُنَّتِي (“wahai ‘utsman; Apakah kamu membenci sunnahku?”) yang kemudian setelahnya Rasullullah mengabarkan sunnah-sunnahnya, yang wajib seorang muslim untuk mencukupkan diri dengan sunnah tersebut.

Dalam hadits diatas juga terdapat pelajaran berharga yakni:

Tidak ada kebaikan SAMA SEKALI bagi orang-orang yang melakukan melebihi dari apa yang beliau lakukan. Bahkan orang-orang yang merasa TIDAK TERCUKUPI dengan sunnah beliau diancam dengan ancaman:

‎ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

(barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku).

Karenanya beliau bersabda:

‎وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا

“Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling tahu terhadap Allah dan paling bertakwa di antara kalian.”

Maka mengapa engkau merasa kurang tercukupi dengan sunnah beliau?! sehingga engkau mengada-adakan ibadah yang tidak pernah beliau kerjakan?!

apakah engkau merasa LEBIH TAHU cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding beliau?!

Ataukah engkau merasa LEBIH BERTAKWA kepada Allah dibanding beliau sehingga engkau tidak merasa cukup dengan apa yang telah dicoontohkan beliau?!

Maka tidak salah Khalifatur Rasyid ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِذَا حُدِّثْتُمْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا فَظُنُّوا بِهِ الَّذِي هُوَ أَهْيَا وَالَّذِي هُوَ أَهْدَى وَالَّذِي هُوَ أَتْقَى

“Jika disampaikan hadits kepada kalian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka anggaplah bahwa beliau orang yang paling menggembirakan dan yang paling mendapat petunjuk serta yang paling bertakwa.”

(Atsar Riwayat Ahmad)

Sehingga kalian tidak mengambil petunjuk selain petunjuk beliau, sehingga kalian menjadikan beliau SATU-SATUNYA uswah hasanah (teladan yang baik) dalam rangka menggapai takwa!

Apakah ada petunjuk yang lebih baik daripada petunjuk beliau, sehingga engkau lebih memilihnya ketimbang memilih petunjuk beliau?!

Apakah ada teladan yang lebih baik bagimu untuk menggapai ketakwaan daripada beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam?!

Benarlah perkataan Ibnu Ma’sud:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”

(Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”

(Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Maka camkanlah sabda beliau:

‎ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

(barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku).

Cukuplah ini sebagai ancaman keras bagi orang-orang bodoh yang hanya bermodalkan semangat dalam menjalankan ibadahnya TANPA MERUJUK kepada sunnah beliau, shallalllahu ‘alayhi wa sallam.

Apa makna “membenci sunnahku” dan “bukan dari golonganku”

Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an

“Makna dari “مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي” (barangsiapa yang membenci sunnahku) adalah berpaling dari jalanku dan menyelisihi apa yang aku kerjakan, sedang makna “لَيْسَ مِنِّي” (bukan dari golonganku) yakni bukan dari golongan yang lurus dan yang mudah, sebab dia memaksakan dirinya dengan apa yang tidak diperintahkan dan membebani dirinya dengan sesuatu yang berat.

Jadi, maksudnya adalah barang siapa yang menyelisihi petunjuk dan jalannya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, dan berpendapat apa yang dia kerjakan dari ibadah itu lebih baik dari apa yang dikerjakan oleh Rasulullah . Sehingga makna dari ucapan “لَيْسَ مِنِّي” (bukan dari golonganku) adalah “bukan termasuk orang Islam”, karena keyakinannya tersebut menyebabkan kekufuran.”

(Dikutip salafiyunpad; dari buku “Tata Pergaulan Suami Istri Jilid I” Penerbit Maktabah Al-Jihad, Jogjakarta)

al-Imam an-Nawawiy berkata:

Maksud “لَيْسَ مِنِّي” (bukan dari golonganku) artinya dia termasuk orang kafir jika ia berpaling dari Sunnah Nabi, tidak meyakini Sunnah itu sesuai dengan nyatanya. Tapi jika ia meninggalkannya karena menggampangkannya maka ia tidak di atas tuntunan Nabi.

(Lihat Syarh Shahih Muslim, Al Imam An Nawawi: 9/179 dan Nashihati Linnisa’ hal. 37; dari artikel asysyariah)

Takutlah engkau ditimpa fitnah!!

Salah seorang murid Imam Ahmad bernama Abu Thalib mengatakan:

“Aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang sebuah kaum yang meninggalkan hadits dan cenderung kepada pendapat Sufyan (salah seorang ulama kala itu).”

Maka Imam Ahmad berkata:

“Aku merasa heran terhadap sebuah kaum yang tahu hadits dan tahu sanad hadits serta keshahihannya, lantas kemudian ia meninggalkannya, dan bahkan lantas pergi kepada pendapat Sufyan dan yang lainnya; padahal Allah berfirman:

‎فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih.”

(An-Nur: 63).

Tahukah kalian apa arti fitnah (dalam ayat tersebut)? Fitnah (dalam ayat) tersebut adalah kekafiran.

Allah berfirman:

‎وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

“Dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.”

(Fathul Majid: 466)

Ayat yang dibacakan oleh Imam Ahmad tersebut benar-benar merupakan ancaman keras bagi orang-orang yang menyelisihi Sunnah Nabi.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata:

“Hendaklah takut siapa saja yang menyelisihi syariat Rasul secara lahir maupun bathin untuk tertimpa fitnah dalam hatinya baik berupa kekafiran, kemunafikan atau bid’ah atau tertimpa adzab yang pedih di dunia dengan dihukum mati atau dihukum had atau dipenjara atau sejenisnya.”

(Tafsir Ibnu Katsir: 3/319)

Allah juga berfirman:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian keraskan suara kalian di atas suara Nabi dan jangan kalian bersuara keras terhadap Nabi sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian kepada sebagian yang lain supaya tidak gugur amal kalian sedangkan kalian tidak menyadarinya.”

(Al Hujurat: 2)

Ibnul Qayyim menjelaskan ayat ini katanya:

“Allah memperingatkan kaum mukminin dari gugurnya amal-amal mereka dengan sebab mereka mengeraskan suara kepada Rasul sebagaimana kerasnya suara mereka kepada sebagian yang lain.

Padahal amalan ini bukan merupakan kemurtadan bahkan sekedar maksiat, akan tetapi ia dapat menggugurkan amalan dan pelakunya tidak menyadari.

Lalu bagaimana dengan yang mendahulukan ucapan, petunjuk, dan jalan seseorang di atas ucapan, petunjuk dan jalan Nabi?!

Bukankah yang demikian telah menggugurkan amalannya sedang dia tidak merasa?!!”

(Kitabush Shalah, 65, Al Wabilush Shayyib, 24 dan Ta’dhimus Sunnah, 22-23).

Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata

Pembatal Islam kelima: Barangsiapa membenci sesuatu yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir

Penjelasan:

Yang kelima dari pembatal-pembatal keislaman adalah barangsiapa membenci sesuatu dari apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka membenci apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kemurtadan, walaupun dia melakukannya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

‎ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 9)

Yang dimaksud dengan tidak suka (الكراهة ) adalah membenci (البغض), ini adalah kemurtadan, walaupun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. Kebenciannya di dalam hati adalah kekafiran walaupun secara dhohir dia mengamalkannya.

‎ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.”

(Muhammad: 9)

(sumber: ulamasunnah)

Maka yang sangat yang dikhawatirkan dari AHLUL BID’AH adalah ketika kecintaan terhadap bid’ah dan kebencian terhadap sunnahnya itu MENJADI-JADI dan MENDARAH DAGING. Sehingga ditakutkan setelah TEGAK HUJJAH, dirinya masih saja CINTA terhadap kebid’ahannya, dan BENCI terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam; dikarenakan TIDAK MAU KEHILANGAN PAMOR/POPULARITAS atau TIDAK MAU KEHILANGAN JAMA’AH..

Allahul musta’aan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berjalan DIATAS ILMU dalam mengamalkan syari’at Islam yang indah ini, semoga kita ditetapkan Allah diatas jalanNya yang lurus, diatas sunnah nabiNya shallallahu ‘alayhi wa sallam, semoga kita ditetapkan diatas keimanan sampai kita wafat dan dihindarkan dari segala bentuk kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan dan kemaksiatan, dan semoga kita diberikan kelapangan hati oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk senantiasa menerima kebenaran darimanapun datangnya, dan merujuk kepadanya. Aamiin.

Iklan

1 Komentar

Filed under Akhlak, Al-Bid'ah, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh

One response to “Cukupkanlah dirimu dengan sunnah!

  1. –amin,barakallahu fiik…

    ana ijin share artikel-artikelnya akhiy,insyaAllah bermanfaat sekali…jazakallahu khairan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s