Engkau tampil untuk menyampaikan sesuatu, ataukah menyampaikan sesuatu untuk tampil!?

Hendaknya seseorang memperhatikan hatinya sebelum beramal/berdakwah. Apakah ia memaksudkannya untuk beribadah kepadaNya ataukah untuk mencari perhatian manusia? dan hendaknya ia senantiasa meluruskan niatnya..

Karena orang yang melaksanakan ibadah kepada Allah, ia tampil karena ia ingin melakukan/menyampaikan sesuatu; sedangkan orang yang mencari-cari perhatian melakukan/menyampaikan sesuatu untuk menampilkan dirinya..

Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

(Al Baqarah 2: 22)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,

”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”

[HR. Ahmad (4/403). Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiihul Jami’ (3731) dan Shahih at Targhiib wa at Tarhiib (36).]

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan para shahabat, kemudian beliau bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ

“Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari langkah semut.”

Kemudian seseorang bertanya,

“Wahai Rasulallah, bagaimana kami harus menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?”

Maka beliau menjawab:

قُولُوا

“Bedo’alah dengan membaca,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

‘ALLAHUMMA INNAA NA’UUDZU BIKA MIN AN NUSYRIKA BIKA SYAY-AN NA’LAMUHU, WA NASTAGHFIRUKA LIMAA LAA NA’LAMUHU

(Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).'”

(HR. Ahmad, dll; dikatakan “HASAN LIGHAYRIHI” oleh Syaikh al-albaaniy dalam shahiih at-targhiib)

dari Abu Sa’id, dia berkata,

‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar bersama kami, sementara kami saling mengingatkan tentang Al Masih Ad Dajjal, maka beliau bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?”

Abu Sa’id berkata, “Kami menjawab, “Tentu.”

Beliau bersabda:

الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.”

(HR. Ibn Maajah; dishahiihkan oleh Syaikh al Albaaniy dalam shahiih ibn maajah)

dari Mahmud bin Labid berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.”

Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرِّيَاءُ

“Riyaa`.”

(Råsulullåh kemudian melanjutkan:)

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ

Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka:

اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan didunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?”

(HR. Ahmad; dikatakan oleh al-‘iraaqiy: “para perawinya TSIQAH (terpercaya)”, dikatakan oleh al-haytsamiy: “para perawinya para perawi yang shahiih”, dikatakan oleh al-mundziriy dan al-albaaniy: “isnadnya jayyid”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ نَادَى مُنَادٍ

“Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir pada hari Kiamat -di hari yang tidak ada keraguan dalamnya-, maka akan ada seorang penyeru yang menyeru,

مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ

“Barangsiapa berbuat syirik yang ia kerjakan untuk selain Allah, hendaknya ia meminta balasan kepada selain Allah tersebut, sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sekutu.”

(HR. Ibn Maajah; dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiih ibn Maajah)

Semoga bermanfa’at..

Semoga Allah menyelamatkan kita dari riyaa’ dan sum’ah; yang ia adalah SYIRIK ASHGHAR, yang dosanya SANGAT BESAR, lebih besar dari mencuri, dll. Yang amalannya itu DIHAPUSKAN pahalanya oleh Allah, yang amalannya tersebut tidak Allah butuhkan, yang amalannya tersebut diserahkan Allah kepada yang ia tujukan, padahal sesuatu/seseorang yang ia tujukan tersebut sama sekali tidak memiliki surga untuk membalas kebaikan..

6 Komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah

6 responses to “Engkau tampil untuk menyampaikan sesuatu, ataukah menyampaikan sesuatu untuk tampil!?

  1. Ummu sahilah

    Bismillah
    ana nulis status,brdasarkan pngalaman hidup,dn brtujuan mengabarkan,skaligus share,apa ana trmasuk dgn yg antu mksd?tujuannya ingn share kpd tman2.apa boleh?

    • @Ummu sahilah

      tujuan mengabarkan itu apa?

      – ingin tampil dan ingin dibaca sehingga dengannya kita mengharapkan KETENARAN (agar facebook kita banyak yang ngeadd karena suka status-status kita; atau lainnya) ?

      – ataukah hanya ingin sekedar memberi pelajaran yang semoga dengannya orang mengambil pelajaran, TANPA ADA NIATAN untuk meraih ketenaran darinya.

      yang pertama TERCELA, yang kedua TERPUJI.

      wallahu a’lam

  2. Ping-balik: Tweets that mention Website-nya Abu Zuhriy Rikiy Dzulkifliy » Engkau tampil untuk menyampaikan sesuatu, ataukah menyampaikan sesuatu untuk tampil!? -- Topsy.com

  3. abuerzha

    jazzakumullohu khayran..atas nasihatnya akhy..

  4. Mas… Diluar sono, di tepi pantai, di gunung-gunung, di tengah hutan, di warung-warung bahkan di lautan bebas… masih banyak manusia yang belum mengenal agama Allah… kalaulah ilmu disampaikan hanya melalui internet saja, tentulah mereka tiada mendapatkan ilmu yang mas dapat….

    Mereka manusia juga sama seperti kita…
    Mari mas keluar 3hr, 40hr, 4 bln jalan kaki… untuk sampaikan ilmu mas diatas kepada mereka…. kalau niat kita benar-benar hendak sampaikan agama Allah dan bukan sampaikan ketenaran ilmu,…..

    Wallahu ‘alam…

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      1. Mas, kemampuan ana hanya SEBATAS BERBAGI ILMU yang ana miliki… itupun terbatas… Dan Allaah TIDAK MEMBEBANI HAMBA-NYA lebih dari kesanggupannya. Adapun orang yang MEMBERAT-BERATKAN DIRI pada sesuatu yang BUKAN KEWAJIBANNYA, atau bahkan MEMAKSAKAN sesuatu yang bukan KEAHLIANNYA, maka ini TAKALLUF mas.. DILARANG DALAM ISLAAM…

      Allaah berfirman:

      قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

      Katakanlah (wahai Nabi): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk mutakallifiin (orang-orang yang TAKALLUF)”.

      (Shaad: 86)

      Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallaam bersabda:

      إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ.

      “Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah dipelajarinya ilmu dari al-ashaaghir.”

      [HR. Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (no. 52), Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ (I/612, no. 1051 dan 1052), ath-Thabrani dalam al-Kabiir (XXII/908), dari Abu Umayyah al-Jumahi radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 695); kutip dari almanhaj.or.id]

      al Ashaaghir, maknanya dua:

      – Yaitu orang yang sedikit ilmunya (BUKAN ULAMA)
      – Yaitu Ahlul bid’ah (ini penafsiran ibnul mubaarak, lihat az zuhd)

      dari Abu Hurairah Radadhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

      ‘Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,’ dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, ‘Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!’”

      [HR Bukhaariy]

      Maka orang yang mengambil hak AHLI ILMU (ulamaa), maka ia adalah PENGKHIANAT ILMU. Demikian pula, seorang yang BUKAN/BELUM kapabel dalam kedokteran, dan menampakkan sebagai dokter, maka ia PENGKHINAT.

      Bedakan dengan seseorang menasehati SESAMA MUSLIM, yang mana ia berbagi ilmu yang dimilikinya… Maka ini haq setiap muslim.

      Ini TIDAK SAMA dengan “berceramah keliling”, “ceramah di masjid (untuk orang umum)”, “mengisi khutbah”, dll. Karena ini adalah tugas AHLI ILMU (ulama/ustadz), BUKAN SEMBARANG ORANG.

      Hendaknya kita bertaqwa kepada Allaah, fokus dengan kewajiban-kewajiban kita, dan tidak TAKALLUF.

      Adapun PENETAPAN dan PENGKHUSUSAN 3 hari, 40 hari, dll. Maka ini TIDAK ADA DALILNYA dari Allaah dan RasulNya.

      Darimana angka-angka itu? adakah Allaah dan RasulNya menetapkan angka tersebut, sebagaimana Allaah menetapkan angka-angka dalam jumlah raka’at dalam shalat?!

      Jika TIDAK ADA, maka mengapa kita sangat berani mengada-adadakan sesuatu, dengan MENETAPKAN dan MENGKHUSUSKAN angka tertentu? yang mana hal tersebut TIDAK ADA DALIL SAMA SEKALI, yang TIDAK PERNAH ditetapkan dan dikhususkan Allaah dan RasulNya ?!

      أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

      Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

      (asy Syuura: 21)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s