Jangan tertipu dengan amalmu!

Allah berfirman:

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَن تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.

(al Baqarah: 266)

Umar radhiyallahu ‘anhu menanyakan kepada para shahabat tentang tafsir ayat diatas…

Ibnu Abbas menjawabnya:

“yakni perumpamaan orang yang RAJIN beramal dengan ketaatan kepada Allah, lalu Allah mengirimkan syaithan padanya, lalu dia banyak bermaksiat sehingga amal-amalnya terhapus”

[lihat: Fathul Baari (VII/49); al-Bukhariy (4538)]

Ibn Katsir menafsirkan ayat diatas:

Hadits diatas sudah cukup menafsirkan ayat ini, yakni menjelaskan perumpamaan orang yang melakukan sebaik-baik amal pada permulaan hidupnya, kemudian setelah itu jalan hidupnya berbalik, dia mengganti kebaikan dengan berbagai keburukan – semoga Allah memberikan kepada kita perlindungan darinya – sehingga terhapuslah amal perbuatannya yang dahulu ia lakukan berupa amal shalih oleh perbuatan kedua…

[dinukil dari shahiih tafsir ibn katsiir (II/41)]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan…

Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!

Beliau bersabda,

أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya

(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No,505)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَانَ الطَّوِيلَ بِأَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ يَخْتِمُ اللَّهُ لَهُ بِأَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ فَيَجْعَلُهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Sesungguhnya Seorang lelaki beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian Allah menutupnya dengan amalan penghuni neraka, dan akhirnya Allah pun menjadikannya sebagai penghuni neraka.

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَانَ الطَّوِيلَ بِأَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ يَخْتِمُ اللَّهُ لَهُ عَمَلَهُ بِأَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَجْعَلُهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ

Dan sesungguhnya Seorang lelaki beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, kemudian Allah menutupnya dengan amalan penghuni surga, dn akhirnya Allah pun menjadikannya sebagai penghuni kesurga.

(Ahmad)

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ عُمُرِهِ بِالْعَمَلِ الَّذِي لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ فَإِذَا كَانَ قَبْلَ مَوْتِهِ تَحَوَّلَ فَعَمِلَ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ

“ada seseorang yang beramal dengan sekejap saja dengan amalan yang seandainya dia mati saat itu maka dia akan masuk surga; namun sebelum kematiannya dia berubah, lalu melakukan amalan penduduk neraka lalu mati, lalu dia masuk neraka.

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ عُمُرِهِ بِالْعَمَلِ الَّذِي لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ فَإِذَا كَانَ قَبْلَ مَوْتِهِ تَحَوَّلَ فَعَمِلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمَاتَ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ

ada seseorang yang beramal dengan sekejap saja dengan amalan yang seandainya dia mati saat itu maka dia akan masuk neraka; namun sebelum kematiannya dia berubah, lalu melakukan amalan penduduk surga lalu mati, lalu dia masuk surga.”

(HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلْجَنَّةِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلَهُ بِهِ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

وَإِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلنَّارِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ فَيُدْخِلَهُ بِهِ النَّارَ

Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka.”

(HR. Abu Dawud)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka…

وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga..

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh amalan itu tergantung dengan penutupannya.”

(HR. Bukhariy)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ

“Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya,

فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا

sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ia berubah dan beramal dengan amal keburukan.

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا

Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan.

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ

Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, ”

para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?”

beliau bersabda:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Ia mewafatkannya.”

(HR. Ahmad, haitsamiy berkata “shahiih”)

Said bin Jabir berkata :

“Sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan kebaikan lalu perbuatan baiknya itu menyebabkan ia masuk neraka, dan sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan buruk lalu perbuatan buruknya itu menyebabkan dia masuk syurga, hal itu kerana perbuatan baiknya itu menjadikan dia bangga pada dirinya sendiri sementara perbuatan buruknya menjadikan ia memohon ampun serta bertaubat kepada Allah kerana perbuatan buruknya itu”.

(Majmu ‘Al-Fatawa 10/277)

Seringnya riya’ dan ujub disandingkan. Perlu diketahui bahwa riya’ berarti menyekutukan atau menyandingkan dengan makhluk. Sedangkan ujub berarti menyandingkan dengan jiwa yang lemah. Ujub ini adalah keadaan orang-orang yang sombong. Orang yang berbuat riya’ tidak merealisasikan firman Allah Ta’ala,

إيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah.”

Sedangkan orang yang merasa ujub pada diri sendiri tidak merealisasikan firman Allah Ta’ala,

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.”

Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah,

إيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah”, maka ia akan terlepas dari riya’ (karena ia akan beribadah pada Allah semata).

Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah,

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan”, ia akan terlepas dari sifat ujub (takjub pada diri sendiri).

Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ :

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan:

شُحٌّ مُطَاعٌ

(1) tamak lagi kikir,

وَهَوًى مُتَّبَعٌ

(2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan),

وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

(3) dan ujub (takjub/kagum/berbangga pada diri sendiri).”

(Hadits ini disebutkan oleh Al-Mundziry dalam kitab At-Targhib wa Tarhib 1/162, Abdurrazzaq 11/304; yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi serta dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ 3039; lihat pula shahiih targhiib wat tarhiib)

[Majmu Al-Fatawa 10/277]

Oleh karena itulah Ibnul Qayyim berkata :

“Sesungguhnya hati manusia dihadapi oleh dua macam penyakit yang amat besar jika orang itu tidak menyadari adanya kedua penyakit itu akan melemparkan dirinya kedalam kehancuran dan itu adalah pasti, kedua penyakit itu adalah riya dan takabur, maka obat dari pada riya adalah : (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dan obat dari penyakit takabur adalah : (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)”.

[Madarijus Salikin 1/54]

Sumber

http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3330-beda-riya-dan-ujub.html
http://www.almanhaj.or.id/content/278/slash/0

Fawaid

– Janganlah engkau tertipu dengan amalmu

Karena engkau TIDAK MENGETAHUI apakah amalmu telah diterimaNya, dan karena engkau TIDAK MENGETAHUI akhir kesudahan hidupmu!

– Tidak ada alasan untuk ujub dengan amalanmu

Kalau engkau TIDAK MENGETAHUI apakah amalmu telah diterimaNya, dan engkau TIDAK MENGETAHUI akhir kesudahan hidupmu; maka tidak ada alasan bagimu untuk UJUB dengan amal-amalmu! dan ingatlah tidaklah engkau mampu beramal, melainkan dengan pertolongan Allah.

Ujub merupakan perkara yang sangat dicela Allah disebabkan seseorang melupakan Allah Yang Memberinya Pertolongan dalam segala sesuatu, bahkan ia membanggakan dirinya dan menyombongkan dirinya padahal dirinya berada diatas kefakiran dan kelemahan.

Maka dari itu hendaknya kita sering-sering mengucapkan kalimat al-hawqalah untuk mengakui KELEMAHAN dan KETIDAKMAMPUAN ktia, serta mengakui Kekuatan yang diberikan Allah kepada kita; juga mengakui PertolonganNya.

Kalimat Hawqalah tersebut adalah:

‎‫وَلاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ‬

‫wa laa hawla wa laa quwwata illa bilaah‬

‫Ibnu ‘Abbas menafsirkan perkataan diatas:‬

‫Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu menafsirkan makna al-Hawqolah (Laa hawla walaa quwwata illaa billaah) dengan ucapannya:‬

‎‫لاَ حَوْلَ بِنَا عَلَى الْعَمَلِ بِالطَّـاعَةِ إلاَّ بِاللهِ، وَلاَ قُوَّةَ لَنَا عَلَى تَرْكِ الْمَعْصِيَةِ إلاَّ بِاللهِ‬

‫“Tidak ada kemampuan bagi kami dalam melakukan amalan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak ada kekuatan bagi kami untuk meninggalkan maksiat kecuali dengan pertolongan dari Allah (pula).”‬

‫(diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur: 5/393-394 [dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/282])‬

‫Sumber: http://www.alhujjah.com/index.php/component/content/article/24-tauhid/56-menyingkap-rahasia-di-balik-fadhilah-al-hawqolah‬

– Sesungguhnya orang yang beramal baik, maka Allah Yang Maha Mensyukuri kebaikan

Allah berfirman:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

(Ar-Rahmaan: 60)

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat balasanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

(Al-Baqara: 110)

وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

(Al-Baqara: 158)

وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

(Asy-Syura: 23)

– Balasan Allah bisa disegerakan didunia dan disempurnakan diakhirat; bisa pula disemprunakan seluruhnya di Akhirat

Allah dalam membalas amalan hambaNya ada yang disegerakan, ada pula yang diberi tangguh yang nantinya akan disempurnakan di akhirat. Sebagaimana firmanNya:

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Karena itu Allah memberikan kepada mereka balasan di dunia dan balasan yang lebih baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

(Aali Imraan: 148)

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, di dunia ini (mereka akan) mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa

(An-Nahl: 30)

Demikian pula dengan amalan-amalan buruk:

Sebagaimana firmanNya:

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.

(Al-Qasas: 84)

dari Abu Bakrah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada suatu dosa yang lebih layak dipercepat hukumannya didunia oleh Allah kepada pelakunya di samping (adzab) yang disimpan baginya di akhirat daripada zina dan memutus silaturrahim.”

Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.

(HR. at Tirmidziy, dll.)

– Dan kita mengetahui, kebaikan amal itu tidak hanya pada bagusnya amalan anggota tubuhnya, tapi juga bagusnya amalan hatinya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada HATI dan AMAL kalian”.

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat rupa dan harta kekayaan kalian. Allah hanya akan melihat kepada hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim no. 2564)

– Dan kita mengetahui, bahwa Allah TIDAK ZHALIM terhadap hamba-hambaNya, yang tidak mungkin Ia akan membalas keburukan kepada orang yang berbuat kebaikan.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.

(Yunus: 44)

وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (balasan)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.

(Al-Anbiyaa: 47)

Sebagaimana Allah memfirmankan nasehat luqman kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

(Luqman: 16)

Maka dari itu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ

“Sesungguhnya Kebaikan (yang hakiki) itu, tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan, (dan) bukanlah kebaikan itu (yang menipu)”

(HR Muslim, Lihat Syarah Muslim dalam menjelaskan hadits ini (1742)]

sebagaimana perkataan para salaf:

إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةَ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ بَعْدَهَا

“Sesungguhnya di antara balasan amalan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Dan di antara balasan dari amalan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir pada tafsir surat Al Lail)

sebagaimana juga kaedah yang ditetapkan oleh para ulama:

“الجزاء من جنس العمل”

(Balasan/ganjaran yang diperolehi bergantung dari jenis amal yang kita kerjakan).

Maka hendaknya kita memperhatikan dua hal dalam amalan kita, baik secara lahir maupun baathin. kita senantiasa mengoreksi amalan lahiriah kita berdasarkan kesesuaiannya dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan berusaha menjauhkan dari amalan-amalan YANG TIDAK DISYARI’ATKAN atua YANG MENYELISIHI sunnah beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam (baca: bid’ah); dan berusaha mengoreksi amalan bathiniyyah kita berdasarkan KADAR KEIKHLASHAN dan KETUNDUKAN kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan berusaha menjaganya dari noda-noda riya’, sum’ah dan ujub.

Semoga bermanfa’at

Iklan

1 Komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah

One response to “Jangan tertipu dengan amalmu!

  1. Ben amri

    Ya Allah, jg condongkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk pada kami… Smg kita bukan bagian dari orang2 yg berpaling dari petunjuk-NYA… aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s