Merenungi makna dibalik dzikir keluar rumah

Dzikir ini adalah dzikir yang mungkin telah banyak kita ketahui, telah sering kita amalkan… Ya, dzikir itu adalah dzikir keluar rumah. Namun apakah kita telah memahami kandungan yang sangat agung dibaliknya?

Perhatikanlah perkataan ibnul qayyim berikut:

“Dzikir yang paling utama dan PALING BERMANFA’AT bagi seorang hamba adalah dzkir yang serasi dan selaras antara HATI dan LISANnya. IA TAHU BENAR bahwa dzikir-dzikir tersebut termasuk yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, lalu ia MENGHADIRKAN MAKNA-MAKNA dari maksud dzikir tersebut dalam hatinya”

(Fiqhul Ad’iyyati wal adzkaar, 282; dinukil dari: Doa dan Dzikir pustaka ibn umar)

Dan juga perkataan Syaikh Abdurrazzaaq berikut:

“Merupakan kelaziman bagi setiap muslim (dalam berdzikir kepada Allah) untuk memahami maksud dan makna kalimat dzikir yang dibacanya, agar dzikirnya kepada Allah berdiri di atas dasar ilmu dan pemahaman tentang maksud kalimat dzikir yang diucapkannya.

Adapun jika seorang muslim sekedar mengulang-ngulang bacaan yang tidak dipahami maknanya, atau lafaz yang tidak diketahui maksudnya, maka ini tidak akan berbekas di hati dan faidah yang diperoleh pun lemah.

Oleh karena itu, setiap muslim harus mengilmui (makna) kalimat ini (demikian juga dengan kalimat dzikir lain yang diucapkannya), karena dengan itu, dzikir akan memberikan buahnya, faidahnya akan terwujud, yang berdzikir pun akan meraih faidahnya.”

[Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar:1/ 280; dinukil dari bulletin alhujjah]

Dzikir keluar rumah

dari Anas bin Malik, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ

“Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

‘BISMILLAH, TAWAKKALTU ‘ALALLÅH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

(Dengan nama Allah; aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah).

Beliau melanjutkan:

قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ

“Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya,

هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ

‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan’,

فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ

Hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata,

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan.”

(HR. Abu Dawud (4/325), no. 5094, dan at Tirmidziy (5/490), no. 3427; Shahiih at Tirmidziy karya Syaikh al-Albaaniy (3/151))

Dari Ummu Salamah, beliau berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar dari rumahku kecuali beliau menghadapkan pandangannya ke langit, lalu beliau membaca dzikir:

“اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ

Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udhilla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain]”

(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Misykatul Mashobih; sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2372-agar-terlindung-dari-gangguan-setan-ketika-keluar-rumah.html)

Syarah Hadits

Disyarah oleh Syaikh Majdi dalam syarah hisnul muslim,

Sabda beliau:

بِسْمِ اللَّهِ

Dengan menyebut Nama Allah

Disyarhkan oleh Syaikh Madji: dengan kata lain, dengan nama Allah aku berangkat.

(Syarah Hisnul Muslim; edisi indonesia; hlm. 106)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata tentang tafsir basmallah:

“Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.”

(Shifatush Shalah, hal. 64; http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html)

Sabda beliau:

تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ

Tawakaltu ‘alallåh

Aku bertawakkal kepada Allah

Disyarahkan oleh Syaikh Majdi, “Dengan kata lain, kuserahkan semua urusanku kepadaNya”

Kalimat yang singkat ini, memiliki arti yang luas…

Imam Al-Ghazali, beliau berkata :

“Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata”.

[Ihya’ Ulumid Din, 4/259]

Al-Allamah Al-Manawi berkata :

“Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali”

[Faidhul Qadir, 5/311]

Al-Mulla Ali Al-Qari berkata :

“Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah”.

[Murqatul Mafatih, 9/156]

Sehingga ketika kita keluar rumah: kita sandarkan hati kita kepada Allah, kita mengakui kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam melakukan apapun, yang mana seluruh kekuatan kita kembali kepada pertolonganNya, seluruh manfaat yang kita peroleh dan seluruh mudharat yang terhindarkan dari kita adalah karuniaNya.

Ia mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memberi manfa’at melainkan atas seizinNya, ia pun mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memberi mudharat melainkan atas seizinNya, maka ia bertawakkal kepadaNya.

Ia mengetahui bahwa Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana dalam menetapkan taqdir, ia mengetahui bahwa Allah Maha Teliti lagi Maha Bijaksana dalam mengurusi seluruh urusanNya, ia mengetahui bahwa kepadaNyalah kembali urusan rezeki dari seluruh makhlukNya, maka ia bertawakkal kepadaNya dalam segala urusan.

Disisi lain, bukan berarti kita bertawakkal kepada Allah, lantas berpangku tangan kepadaNya dan tidak berbuat apa-apa, yang demikian dinamakan tawakkal palsu. Tawakkal yang sebenar-benar tawakkal adalah kita MENGERAHKAN KEMAMPUAN kita untuk menggapai tujuan kita, lantas kemudian kita bertawakkal keapda Allah dalam pelaksanannya dan menyerahkan segala urusan yang akan/sedang/nanti kita hadapi kepadaNya.

Dengan demikian, adalah BERDUSTA seseorang jika ia mengatakan dirinya meminta keselamatan kepada Allah agar ia sampai ke tempat tujuannya dan ia mengaku-ngaku bertawakkal kepada Allah dengan permintaannya tersebut, lantas yang ia lakukan adalah ngebut-ngebutan dijalan. Sebagaimana BERDUSTA orang yang meminta rizki kepada Allah (dan mengaku-ngaku bertawakkal kepada Allah), tapi setelah keluarnya ia dari rumahnya ia tidak berbuat apa-apa.

Yang demikian bukanlah tawakkal yang benar. Berikut teladan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tentang tawakkal yang benar.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

‎وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui tombakku”

(HR. Ahmad, dishahiihkan Ahmad Syaakir dan Al-Albaaniy)

Bukanlah tawakkal beliau dengan tidak mengerjakan apa-apa, kemudian menyerahkan semua urusannya kepada ar-Razzaaq (Maha Pemberi Rezeki). Padahal jika beliau mau, beliau tinggal mengadahkan tangannya ke langit kemudian memintakan rezeki. Dan adalah beliau seorang Nabi dan Rasul yang diijabahkan doanya, akan tetapi beliau tidaklah meminta agar rezeki turun dari langit tanpa ada usaha dalam menggapainya, bahkan beliau menempuh sebab-sebab datangnya rezeki.

Rasulullah juga bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Artinya : Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”

(HR. Ahmad, at Tirmidziy, Ibn Maajah, Ibn Hibban, al-Hakim; dishahiihkan imam at-tirmidziy, imama al-hakim, imam al-baghawiy, syaikh ahmad syaakir, syaikh al-albaaniy)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta ‘ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

BEKERJALAH dengan sungguh-sungguh dengan apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah.

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا

Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’.

وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Tetapi katakanlah; ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.'”

[HR Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda:

‎لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Seandainya ada seseorang di antara kalian mencari seonggok kayu bakar lalu dipanggul (ke pasar untuk dijual), lebih baik daripada meminta kepada seseorang, terkadang diberi dan terkadang tidak”.

[Muttafaqun ‘alayh]

Said bin Musayyib berkata: “Barangsiapa berdiam di masjid dan meninggalkan pekerjaan, lalu menerima pemberian yang datang kepadanya, maka (ia) termasuk mengharap sesuatu dengan cara meminta-minta”.

[Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 300]

Abu Qasim Al Khatli bertanya kepada Imam Ahmad: “Apa pendapat anda terhadap orang yang hanya berdiam di rumah atau di sebuah masjid, lalu berkata ‘aku tidak perlu bekerja karena rezekiku tidak akan lari dan pasti datang’?” Maka beliau menjawab: “Orang tersebut bodoh terhadap ilmu. Apakah (ia) tidak mendengarkan sabda Rasulullah : “Allah menjadikan rezekiku di bawah kilatan pedang (jihad)’ ”

[Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 302]

Sahl bin Abdullah At Tustari berkata,”Barangsiapa yang merusak tawakkal, berarti telah merusak pilar keimanan. Dan barangsiapa yang merusak pekerjaan, berarti telah membuat kerusakan dalam Sunnah.”

[Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299]

Untuk lebih lengkapnya tentang tawakkal silahkan disimak artikel: “Sembahlah Allah dan Bertawakkallah kepadaNya! (bagian 1) – (bagian 2)”

Sabda beliau:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Laa hawla wa laa quwwata illa billaah

Kalimat al-Hawqolah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, mengandung konsekuensi makna; “isti’aanah (memohon pertolongan) hanya kepada Allah.”

Karena kalimat ini berisi ikrar hamba, bahwasanya ia sedikitpun tidak memiliki daya dan kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan dan menghindar dari apa yang dibencinya, kecuali dengan daya dan kekuatan (pertolongan) dari al-Maula, yaitu Allah semata.

Sungguh para Salaf begitu mendalam pemahamannya tentang rahasia makna kalimat ini. Renungkanlah bagaimana Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu menafsirkan makna al-Hawqolah (Laa hawla walaa quwwata illaa billaah) dengan ucapannya:

لاَ حَوْلَ بِنَا عَلَى الْعَمَلِ بِالطَّـاعَةِ إلاَّ بِاللهِ، وَلاَ قُوَّةَ لَنَا عَلَى تَرْكِ الْمَعْصِيَةِ إلاَّ بِاللهِ

“Tidak ada kemampuan bagi kami dalam melakukan amalan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak ada kekuatan bagi kami untuk meninggalkan maksiat kecuali dengan pertolongan dari Allah (pula).”

Demikian pula Zuhair bin Muhammad pernah ditanya tentang makna “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah”, lalu beliau menjawab:

لاَ تَأْخُذُ مَا تُحِبُّ إِلاِّ بِاللهِ، وَلاَ تَمْتَنِعُ مِمَّا تَكْرَهُ إِلاَّ بِعَوْنِ اللهِ

“Engkau tidak akan mampu meraih apa-apa yang engkau sukai kecuali dengan pertolongan Allah, dan engkau tidak akan mampu menghindar dari apa-apa yang engkau benci kecuali dengan pertolongan Allah pula.”

Kedua tafsiran tersebut diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur: 5/393-394

[dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/282]

Hubungan kalimat ini dengan tawakkal

Para ulama mengatakan: Sebagaimana kalimat Tauhid “Laa ilaaha illallaah” tidak akan ada faidahnya kecuali dengan mengikhlaskan segenap ibadah hanya bagi Allah semata, maka demikian pula kalimat al-Hawqolah “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah” tidak akan berarti apa-apa kecuali dengan mengikhlaskan isti’anah (permohonan pertolongan) hanya kepada Allah semata. Sungguh Allah telah menghimpun “rahasia” kedua makna tersebut pada satu ayat dalam Surat al-Qur-aan yang paling agung, al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Kalimat pertama (إيَّاكَ نَعْبُدُ) menyiratkan ikrar perlepasan diri hamba dari kesyirikan, dan kalimat kedua (وإياك نستعين) mengandung ikrar ketidakmampuan dan ketidakberdayaan hamba dalam mewujudkan segala hal yang diinginkannya kecuali dengan pertolongan Allah semata.

Tidak heran jika Ibnul Qayyim menukil ucapan gurunya (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

“Aku meneliti dan merenungkan (kandungan) do’a yang paling bermanfaat (bagi hamba), maka aku menemukannya pada do’a yang mengandung permintaan tolong hamba kepada Allah untuk meraih keridhaan-Nya, dan aku melihat (kandungan do’a tersebut) ada di al-Fatihah (إياك نعبد وإياك نستعين)…”

[Madaarijus Saalikiin: 1/78, dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/284]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil sebuah atsar yang indah dan sarat makna, ketika menjelaskan hakikat ini:

مَنْ سَرَّهُ أنْ يَكُوْنَ أَقْوَى النَّاسِ فَلْيَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ، وَمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُوْنَ أَغْنَى النَّاسِ فَلْيَكُنْ بِمَا فِيْ يَدِ اللهِ أَوْثَقُ مِنْهُ بِمَا فِيْ يَدِهِ

“Barangsiapa senang menjadi manusia yang paling kuat, maka hendaklah ia bertawakkal kepada Allah. Dan barangsiapa yang senang menjadi manusia yang paling kaya, maka hendaklah apa-apa yang ada di tangan Allah lebih pasti baginya dibandingkan dengan apa-apa yang telah ada dalam genggaman tangannya (sekalipun).”

[Majmu’ Fatawa: 13/321-322, dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/283]

Dan ketahuilah, keduanya merupakan hasil dari seseorang yang mengamalkan tawakkal dengan kalimat ini sebaik-baiknya.

Demikianlah rahasia di balik keagungan al-Hawqolah. Tentunya setelah memahami makna kalimat ini, kita bisa mengamalkannya dalam do’a dengan hati yang lebih khusyu’, penuh harapan dan rasa ketundukan pada Allah ‘azza wa jalla, terutama pada 2 kondisi yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

Petama; saat memohon pertolongan Allah.

dan kedua; ketika bertawakkal, menanti keputusan Allah setelah melakukan ikhtiar.

[Disusun oleh Redaksi al-Hujjah (semoga Allah mengampuni dan meninggikan derajatnya) Muroja’ah oleh: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc; Lebih lanjut silahkan baca: “Makna agung dibalik al-hawqalah“]

Sabda beliau

قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ

“Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya…”

Disyarah oleh Syaikh Majdi, bisa saja yang berkata adalah Allah; bisa juga salah satu dari malaa-ikat.

Sabda beliau

هُدِيتَ

engkau telah diberi petunjuk

Disyarah oleh Syaikh Majdi, menuju ke jalan yang haq, dan menuju kepada kebenaran, dengan engkau diberi taufik untuk mengutamakan dzikir kepada Allah dan engaku masih saja mendapat petunjuk dalam semua amal, perkataan, (perbuatan), dan keadaanmu.

Sabda beliau

وَكُفِيتَ

engkau telah dicukupkan

Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, telah dijauhkan keburukan darimu.

Sabda beliau

وَوُقِيتَ

engkau telah dijaga

Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, engkau telah dijaga dari segaa sesuatu yang tersembunyi darimu berupa sesuatu yang menyakitkan dan keburukan.

Sabda beliau

فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ

Hingga setan-setan menjauh darinya.

Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, syaithan menjauhkan diri darinya. Maka diaktakan kepada syaithan lain yang mencoba untuk menyakitinya atau mengganggunya:

Sabda beliau

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan.”

Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, tidak tersisa lagi jalan untukmu mendatangi orang yang telah diberi petunjuk untuk selalu berdzikir kepada Allah, dipalingkan dari syirikan, dan dijaga dari tipu-daya dan jebakanmu.

Sabda beliau

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ

allahumma inniy a’uudzubika an adhilla…

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu jangan sampai aku sesat

Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, aku sesat dalam diriku sendiri. Kesesatan merupakan kebalikan dari petunjuk. Asalnya, “sesuatu sesat” adalah jika sesuatu tersebut hilan atau sesat dari jalan jika ia bingung.

Sabda beliau

أَوْ أُضَلَّ،

au u-dhill

atau aku disesatkan

Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, orang lain menyesatkanku.

Sabda beliau:

أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ

aw azilla aw uzalla

atau berbuat kesalahan atau disalahi

Disyarah oleh Syaikh Majdi, kedua-duanya dari akar kata “الزلة”, dengan kata lain, kesalahan. Mkna yang pertama, “Aku melakukan kesalahan karena diriku sendiri atau aku menjerumuskan orang lain kedalam kesalahan itu. Sedangkan makna kedua, orang lain menjerumuskan diriku ke dalam kesalahan itu.

sabda beliau

أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

aw azhlima aw uzhlam

atau menganiaya atau dianiya

Disyarah oleh Syaikh Majdi, kedua-duanya dari akar kata “الظلم” yang artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Makna pertama, aku menganiaya orang lain dan/atau diriku sendiri; sedangkan makna yang kedua adalah orang lain yang menganiaya diriku.

Sabda beliau

أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ

aw ajhala aw yujhala ‘alayya

atau aku berbuat bodoh atau dibodohi.

Disyarah oleh Syaikh Majdi, makna pertama: aku melakukan perbuatan orang-orang bodoh atau menyibukkan diri dalam hal-hal yang tidak bermanfaat untukku; sedangkan makna yang kedua; orang lain membodohi diriku dengan menerimaku sebagaimana penerimaan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh; seperti perdebata … dan sejenisnya.

Selanjutnya Syaikh Majdi berkata:

“Dalam hal ini, ajaran bagi umat beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam, penjelasan tentang bagaimana memperlindungkan mereka ketika mereka berangkat dari rumah-rumah mereka.”

Wallahu a’lam

[Sumber utama: Syarah Hishnul Muslim, karya Syaikh Majdi bin ‘Abdil Wahhab; dan juga penambahan dari beberapa artikel pendukung yang telah disebutkan diatas, pada akhir penukilan]

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Aqidah, Dzikir, Hadits, Ibadah, Syarah Hadits, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s