Siapakah yang disebut orang-orang yang berakal?

Senantiasa Mengingat Allah adalah ciri-ciri orang yang berakal

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

(‘Aali ‘Imraan: 190-191)

al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firmanNya:

لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“…terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”

Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.

Allah berfirman tentang mereka:

وَكَأَيِّن مِّنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ ‪.‬ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).

(Yusuf 105-106)

Kemudian Allah menyebutkan sifat Ulul Albaab (orang-orang yang berakal) dengan firmanNya:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring

Maksudnya, mereka tidak putus-putusnya mengingat Rabb mereka dalam segala situasi dan kondisi, baik hati atau dengan lisan mereka.

(Tafsir Ibnu Katsir)

Allah berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ . وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

(adz Dzaariyaat 20-21)

Qatadah berkata:

“Barangsiapa yang memikirkan penciptaan dirinya sendiri, tahulah dia bahwa dirinya itu hanyalah diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk melakukan peribadatan (kepada Allah)”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Tujuh ciri utama orang-orang berakal

Dalam ayat lain, Allah kembali memberikan penjelasan tentang ciri-ciri orang berakal, dengan ciri-ciri yang lebih jelas dari sebelumnya.

Allah berfirman:

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ

(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ

dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan

وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya

وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ

mendirikan shalat

وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً

dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan

وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ

serta menolak kejahatan dengan kebaikan;

. أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ .‬ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ . سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),; (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

(ar Ra’d 19-24)

Berkata al Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat diatas:

Tidaklah sama

antara

manusia yang mengetahui bahwasanya apa yang “diturunkan kepadamu” wahai Muhammad, “dari Rabbmu” merupakan kebenaran yang tidak diragukan dan tidak diperselisihkan lagi, justru semuanya merupakan kebenaran, sebagiannya membenarkan sebagian yang lain.Dan aneka perintah dan larangannya adalah adil

dengan

orang buta, tidak mendapat petunjuk untuk menuju kebenaran, dan tidak memahami kebenaran itu. Jika ia memahaminya, maka dia tidak mengikutinya, tidak membenarkannya dan tidak menaatinya (tidak mengamalkannya).

Penggalan ini sama seperti firman Allah:

‎لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.

(al Hasyr: 20)

Yakni, tidak sama antara ini dan itu.

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Yaitu, yang dapat mengambil nasehat dan memahaminya hanyalah kaum pemilik akal yang sehat dan waras. Semoga Allah menjadikan kita dari kalangan mereka (aamiin).

Kemudian, Allah memberitahukan orang-orang yang memiliki sifat-sifat terpuji bahwasanya kesudahan bagi mereka adalah pertolongan Allah di dunia dan Akhirat.

(Pertama)

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ

(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian

Mereka tidak seperti orang-orang munafiq yang apabila berjanji selalu ingkar, apabila bertikai selalu jahat, apabila berbicara.

–tambahan abu zuhriy–

Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا

“Empat perkara, barangsiapa yang ada pada dirinya keempat perkara tersebut maka ia munafik tulen.

وَإِنْ كَانَتْ خَصْلةٌ مِنْهُنَّ فِيهِ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا:

Jika ada padanya satu di antara perangai tersebut berarti ada pada dirinya satu perangai kemunafikan sampai meninggalkannya

مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

Yaitu seseorang jika bicara berdusta

وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ

jika membuat janji tidak menepatinya

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

jika berselisih melampui batas

وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ

dan jika melakukan perjanjian mengkhianatinya.”

(HR. Bukhariy, Muslim, dll.)

–selesai tambahan abu zuhriy–

(Kedua)

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ

dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan

Seperti mempererat ikatan silaturrahim, berbuat baik kepada kerabat/keluarga, menyantuni orang-orang fakir dan yang membutuhkan uluran tangan, serta selalu memberikan bantuan.

(Ketiga)

وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

Yakni, baik ketika mereka melakukan perbuataan taat maupun ketika meninggalkan maksiat. Mereka selalu merasa diawasi Allah (muraqabatullah) dan takut kepada hisab yang buruk diakhirat nanti.

Oleh karena itu, mereka diperintahkan untuk selalu berada diatas jalan yang lurus dan benar (istiqamah) dalaam setiap gerak dan diam, dan di setiap keadaan mereka, baik dalam urusan pribadi maupun yang berhubungan dengan orang lain.

(Keempat)

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya

Yakni, sabar dari semua larangan agama dan perbuatan dosa; yakni mereka berhenti/menahan dirinya karena Allah dengan mengharapkan wajahNya dan limpahan pahala dariNya.

(Kelima)

وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ

mendirikan shalat

Yakni (mendirikan shalat) dengan aturan, waktu, ruku’ dan sujud, serta kekhusyu’an SESUAI CARA yang dibenarkan oleh SYARA’.

(Keenam)

وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً

dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan

Yakni orang-orang yang WAJIB dinafkahi seperti isteri, saudari perempuan, dan orang-orang selain mereka; seperti fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan. secara sembunyi atau terang-terangan; yang tidak terhalang oleh waktu dan tempat.

(ketujuh)

وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ

serta menolak kejahatan dengan kebaikan;

Yakni, apabila disakiti, mereka membalasnya dengan perbuatan baik, sabar dan suka memberi maaf. Sebagaimana firman Allah (QS Fushshilat 34-35).

Allah mengabarkan tentang orang-orang yang selamat, yang memiliki (tujuh) ciri tersebut, bahwa merkalah yang mendapat tempat kesudahan yang baik.

Kemudian Allah menjelaskan tempat kesudahan yang baik itu dengan firmanNya

جَنَّاتُ عَدْنٍ

al ‘Adn artinya tempat tinggal. Jadi, Surga ‘Adn adalah tempat tinggal abadi

Di surga tersebut mereka berkumpul bersama orang-orang yang dicintai seperti orang tua, isteri dan anak cucu yang memang termasuk orang beriman yang pantas masuk surga. Supaya mereka merasa bahagia, bahkan sesungguhnya derajat yang rendah akan diangkat, sebagai karunia dan kebaikan Allah, tanpa sedikitpun mengurangi derajat orang yang diatas.

Sebagaimana firmanNya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

‪(At-Thuur: 21)‬

Kemudian, malaikat masuk dari segala pintu untuk mengucapkan selamat kepada mereka yang telah masuk surga. Maka ketika mereka masuk surga, para malaikat berdatangan untuk memberikan salam dan mengucapkan selamat atas karunia dan nikmat yang telah mereka dapatkan dari Alah, serta tempat tinggal di negeri kedamaian berdampingan dengan orang-orang shiddiq (benar dan jujur), serta para Nabi dan Rasul yang mulia.

dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhumaa dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda:

هَلْ تَدْرُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ

“Tahukah kalian diantara makhluk Allah yang paling pertama masuk surga?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda:

أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ الْفُقَرَاءُ

“Diantara makhluk Allah yang paling pertama kali masuk surga adalah golongan orang-orang fakir

وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ تُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى بِهِمْ الْمَكَارِهُ

dan orang-orang yang berhijrah untuk mengisi tapal-tapal perbatasan antara kaum muslimin dan kafir, yang dengan perantara mereka malapetaka dapat dihindarkan,

وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ لَهَا قَضَاءً

dan salah seorang diantara mereka wafat sedang keinginan yang masih berada di dadanya tidak dapat terlaksana

فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ مَلَائِكَتِهِ

Maka Allah berkata kepada salah satu dari malaikat yang dikehendakiNya:

ائْتُوهُمْ فَحَيُّوهُمْ

‘Datangilah mereka dan ucapkanlah selamat kepada mereka! ‘

فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ نَحْنُ سُكَّانُ سَمَائِكَ وَخِيرَتُكَ مِنْ خَلْقِكَ أَفَتَأْمُرُنَا أَنْ نَأْتِيَ هَؤُلَاءِ فَنُسَلِّمَ عَلَيْهِمْ

Maka malaikat itu berkata: ‘Kami adalah para penghuni langit dan semulia-mulianya makhlukMu, kenapa Engkau menyuruh kami untuk mendatangi mereka dan memberi salam kepada mereka? ‘

قَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا عِبَادًا يَعْبُدُونِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَتُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى بِهِمْ الْمَكَارِهُ وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ لَهَا قَضَاءً

Allah berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah para hamba yang beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan yang lain, mereka menjaga tapal batas antara kaum muslimin dan orang kafir, dan dengan mereka pula dapat dihindarkan malapetaka, ada salah seorang dari mereka yang mati sedang dalam dadanya masih keinginannya yang tidak bisa ia penuhi.'”

Rasulullah melanjutkan:

فَتَأْتِيهِمُ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ ذَلِكَ فَيَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

“Maka para malaikat itupun mendatangi mereka dan masuk dari setiap pintu yang ada (seraya mengucapkan),

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ

Keselamatan atas kalian oleh karena kesabaran kalian

فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

(HR. Ahmad, dikatakan Syaikh al Arnauth “sanadnya jayyid”)

[Shahiih Tafsir Ibnu Katsir IV/744-747]

Semoga kita digolongkan Allah sebagai orang-orang yang berakal dan semoga kita digolongkan Allah sebagai penghuni surga ‘adn bersama keluarga dan anak cucu kita, aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, al-Quran, Dzikir, Ibadah, Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s