Inginkah anda menjadi orang mulia? inginkah anda menjadi orang yang paling tinggi kedudukannya diantara orang-orang mulia?!

Ketahuilah! bahwa orang yang paling mulia dimuka bumi ini adalah orang yang paling baik aqidahnya (takwanya). Dan orang yang paling tinggi kedudukannya diantara orang-orang yang mulia tersebut adalah orang yang paling baik akhlaknya!

Ketahuilah dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam terkumpul padanya kedua hal tersebut; beliau merupakan orang yang paling teguh dalam memegang keimanannya, dan beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya.

Allah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.

(Faatir: 10)

Maka tidaklah seseorang akan mendapatkan kemulian, terkecuali jika mencarinya disisi Allah! Dengan apakah ia mendapatkannya? Tidak lain dengan BERIBADAH KEPADANYA, MENTAUHIDKAN-NYA dan BERTAKWA KEPADANYA!!

al Imam Ibnu katsir menafsirkan ayat diatas:

“Maka barangsiapa yang ingin menjadi orang mulia di dunia dan akhirat, maka TAATLAH KEPADA ALLAH dengan teguh! Niscaya ia akan mencapai tujuannya, karena sesungguhnya Allah pemilik dunia dan akhirat!”

(Tafsir Ibnu Katsir; http://books.google.com/books?id=k-17U8Ec7G4C&pg=PA955)

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu

(Al-Hujuraat: 13)

Menggapai kemuliaan dengan takwa

Dari Thariq bin Syihab, beliau berkata: “ ‘Umar bin al-Khattab keluar menuju Syam dan bersama kami Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, kemudian mereka datang pada air yang dangkal dan ‘Umar berada di atas untanya kemudian beliau turun dan melepas kedua khufnya dan meletakkannya di atas pundaknya dan memegang tali kekang untanya kemudian menyeberang air yang dangkal tersebut.

Maka Abu ‘Ubaidah berkata:

”Wahai amir al-mukminin! Engkau melakukan ini? Engkau melepas kedua khufmu dan meletakkannya di atas pundakmu? dan Engkau memegang tali kekang untamu? dan Engkau menyeberang air yang dangkal ini? Sungguh akan membahagiakan diriku kalau penduduk negeri memuliakanmu!”

Maka ‘Umar berkata:

“Awih! Tidak ada yang berkata demikian kecuali Engkau wahai Abu ‘Ubaidah! Engkau menjadikannya pelajaran bagi ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita dahulu adalah kaum yang paling hina kemudian ALLAH memuliakan kita dengan Islam, maka apabila kita mencari kemuliaan dengan selain apa yang dengannya ALLAH memuliakan kita (Islam) niscaya ALLAH akan menghinakan kita!”

(diriwayatkan oleh Imam Hakim)[1. Apakah penyebab keteguhan dari ‘Umar bin Khaththab ini?

Ketahuilah dahulu ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun.

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis

Hingga mengundang tanya beliau

مَا يُبْكِيْكَ؟

“Apa yang membuatmu menangis?”

Aku menjawab,

“Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah.”

===

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 3675) disebutkan ucapan ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

“Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih mulia daripada mereka, –pent.) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.”

===

Beliau menjawab,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟

“Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?”

(HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabinya:

“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata,

أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik-baik) mereka di dalam kehidupan dunia?”

(HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)]

Maka bagiamanakah sekiranya ‘Umar ibnul khaththab radhiyallahu ‘anhu melihat keadaan kaum muslimin sekarang yang mencari kemuliaan dengan dunia?! Wallahul musta’aan!

Dan Rasululllah shallallahu ‘alayhi wa sallam merupakan orang yang paling baik ibadahnya, yang paling murni tauhidnya dan paling tinggi ketakwaannya, oleh sebab itu beliaulah orang yang paling mulia; dan ini ditegaskan dalam firmanNya:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang MULIA.

(al Haaqqa: 40)

Rasulullah ketika membantah orang-orang yang mengada-ngadakan ibadah yang tidak sesuai syari’atnya; beliau bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu terhadap Allah dan paling bertakwa di antara kalian.”

[HR. Al-Bukhari (no. 5063) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1401) kitab an-Nikaah, an-Nasa-i (no. 3217) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 13122)

Allah berfirman:

لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?

(Al-Anbiyaa: 10)

Allah berfirman:

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.

(Az-Zukhruf: 44)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun mendapatkan kemuliaan tersebut; karena beliau mengamalkan apa yang diturunkan padanya, bahkan disebutkan akhlak beliau adalah akhlak al qur-aan:

dari Sa’ad bin Hisyam bin Amir, dia berkata;

saya mendatangi ‘Aisyah seraya berkata;

“Wahai Ummul Mukminin! Kabarkanlah kepadaku mengenai akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam!”

(‘Aa-isyah) Berkata;

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al Qur-aan”

Bukankah engkau telah membaca Al Quran pada firman Allah Azzawajalla,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

(Sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung.).”

(Atsar riwayat Ahmad)

Maka lengkaplah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang paling mulia diantara seluruh makhluk Allah, dan orang yang paling tinggi kedudukannya diantara orang-orang mulia.

Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau dan keluarganya.

Menggapai ketinggian kedudukan dengan akhlak

Ketahuilah! IMAN dan AKHLAK adalah dua hal ayng tidak bisa dipisahkan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْتِي إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari api neraka, dan ingin dimasukkan ke dalam surga maka hendaklah ia menemui kematiannya dalam keadaan BERIMAN KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIR, serta memberikan kepada manusia sesuatu yang ingin diberikannya kepadanya.”

(Shåhiih, HR. Ahmad; dishahiihkan oleh Syaikh Ahmad Syaakir)

Maka untuk SELAMAT DARI API NERAKA, seseorang membutuhkan dua syarat; BERIMAN KEPADA ALLAH dan HARI AKHIR (yang mana ini merupakan aspek AQIDAH), serta MEMBERIKAN KEPADA MANUSIA sesuatu yang ingin diberikan kepada kita (yang ini merupakan aspek AKHLAK).

Maka dari itu Allah memuliakan nabi dan rasulNya dengan kedua hal ini:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.

(QS. 38:45)

PERBUATAN-PERBUATAN BESAR adalah kemuliaan akhlak yang dimiliki mereka. sedangkan ILMU-ILMU YANG TINGGI adalah keteguhan/keyakinan aqidah yang mereka miliki

(sebagaimana disebutkan syaikhul islam ibnul qayyim dalam membahas penanggulangan fitnah syubuhat dan syahwat).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

(QS. 32:24)

Dijelaskan imam ibnul qayyim:

“Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan akan dapat diraih kepemimpinan dalam agama!

Alloh juga menggabungkan dua hal itu di dalam firmanNya:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Dan mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.

(QS. 103:3)

[Kitab: Mawaridul Amaan, hal: 414-415]

Saling-menasehati untuk mentaati kebenaran, adalah bentuk upaya untuk tetap berpegang teguh diatas agamanya, sementara saling-menasehati untuk menetapi kesabaran, adalah salah satu bentuk upaya seseorang untuk tetap berada diatas keagungan akhlak.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ

“Kaum MUKMININ* yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya.”

(Shahiih, HR. Ahmad)

*Lihatlah!! ini berarti ia telah beriman dengan iman YANG BENAR; barulah kemudian imannya tersebut menjadi sempurna dengan kebaikan akhlak yang dimilikinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian* dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya.”

(HR. Tirmidzi, ia berkata ‘hadits ini hasan gharib’. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi)

*Hadits ini menunjukkan kecintaan Allah dan RasulNya bisa kita dapatkan dengan mengikuti KEIMANAN PARA SHAHABAT. Rasulullah bersabda “DIANTARA KALIAN” kepada siapakah beliau bersabda demikian? jawab: “tidak lain, kepada PARA SHAHABATnya” dan tidaklah beliau mencintai, melainkan disebabkan karena KEIMANAN yang MEREKA MILIKI. dan diantara orang-orang yang beliau cintai tersebut, orang yang paling beliau cintai dan paling dekat kedudukannya dihari kiamat bersama beliau adalah orang yang PALING BAIK AKHLAKnya.

Contoh terbaik dalam masalah ini, maka kita tanyakan “SIAPAKAH TABI’IN TERBAIK?”

Jika engkau menjawab SA’ID BIN MUSAYYIB maka engkau SALAH. Jawabannya adalah UWAYS AL-QARNIY

mana dalilnya?

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda;

إِنَّ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ أُوَيْسًا الْقَرَنِيَّ

Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in (generasi setelah para shahabat) adalah UWAYS AL QARNIY

(HR. Ahmad, dan sanadnya jayyid seperti dikatakan syaikh asy syawkaaniy)

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya;

‘Hai Uwais, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ فَاسْتَغْفِرْ لِي فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

‘Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orang-orang Yaman yang berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar uang dirham. Ibunya masih hidup dan ia selalu BERBAKTI KEPADANYA. Kalau ia bersumpah atas nama Allah maka akan dikabulkan sumpahnya itu, maka jika kamu dapat memohon agar dia memohonkan ampunan untuk kalian, lakukanlah! ‘

(HR. Muslim)

Mengapa bukan sa’id bin musayyib, yang mana disaksikan oleh para tabi’in sebagai orang yang paling alim diantara mereka!? Ternyata yang lebih tinggi kedudukannya dari beliau adalah UWAYS AL QARNIY berdasarkan WAHYU DARI LANGIT! Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah ketinggian akhlak beliau!! sebagaimana disebutkan diatas, yakni BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA. Ketahuilah! itulah sebaik-baiknya akhlak! sebagaimana Allah menyandingkan perintah untuk BERIBADAH KEPADANYA dan MentauhidkanNya dengan berbakti kepada orang tua:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Rabbmu telah MENETAPKAN supaya kamu jangan menyembah, kecuali hanya kepadaNya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

(al isra: 23)

Apakah benar pernyataan “Seseorang yang tidak shalat (rusak aqidahnya), tapi “baik” akhlaknya?!”

Pernyataan yang disebutkan diatas, (“akhlaknya baik”, tapi ia meninggalkan shalat atau aqidahnya rusak) maka ini BATHIL.

Karena yang PERTAMA KALI dilihat dalam diri seseorang adalah AQIDAHnya, baru kemudian akhlaknya. sedangkan meninggalkan shalat itu merupakan KEKUFURAN AKBAR! (baca: “melalaikan shalat” tidaklah sama dengan “meninggalkan shalat”). Ketahuilah, pembicaraan akhlak itu baru ada, setelah selesai membicarakan masalah aqidah!

dari Salamah bin Yazid Al Ju’fi berkata; Saya dan saudaraku pergi menemui Rasulullah Shallallahu’alahiwasallam lalu kami berkata;

“Wahai Rasulullah, Sesungguhnya ibu kami, Mulaikah, adalah orang yang menyambung silaturahmi dan memuliakan tamu, dan banyak berbuat kebaikan namun dia meninggal dalam keadaan Jahiliyah, lalu apakah hal itu bermanfaat baginya?”

(Rasulullah Shallallahu’alahiwasallam) bersabda:

لَا

” Tidak”.

(HR. Ahmad, dishahiihkan oleh Syaikh Muqbil)

dari ‘Aa-isyah radhiyallahu ‘anhaa dia berkata,

“Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an (kerabatnya) pada masa jahiliyyah selalu bersilaturrahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu memberikan manfaat untuknya? ‘

Beliau menjawab:

لَا يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

‘Tidak. Itu tidak memberinya manfaat, karena dia belum mengucapkan, ‘Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.”

(HR. Muslim)

maka orang-orang yang JELEK AQIDAHnya, maka JELEKlah dirinya; meskipun orang-orang memandangnya “baik”.

Bagaimana dengan pernyataan “Aqidahnya sih baik, tapi akhlaknya rusak!”

Maka ini berbeda dengan yang sebelumnya. Meskipun hal ini dikatakan “masih mending” tetap saja orang ini adalah diantara orang yang PALING RENDAH KEDUDUKANNYA ditengah-tengah kaum muslimiin. Bukti JELEK-nya aqidah seseorang adalah dengan BURUK-nya akhlaqnya. Karena TIDAK MUNGKIN seseorang yang baik aqidahnya akan jelek akhlaknya (sebagaimana telah panjang lebar disebutkan diatas)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

’Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.”

[(Shahih) Lihat Ash Shahihah (190)]

Ditanyakan kepada Abu Sa’id Al Khudri;

“Di antara kami ada beberapa orang yang paham dengan Al Qur`an, banyak melakukan shalat, lebih dalam menyambung tali silaturrahim dan lebih banyak berpuasa dari kami, namun mereka keluar dengan menghunuskan pedang kepada kami?”

maka Abu Sa’id pun berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Akan keluar suatu kaum yang membaca Al Qur`an tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka, mereka meluncur dari agama sebagaimana meluncurnya panah dari busurnya.”

(HR. Ahmad)

Maka hendaknya kita memperbaiki AQIDAH dan KETAKWAAN kita, serta memperbaiki AKHLAK kita.. sehingga kita termasuk orang-orang yang dimuliakan Allah serta termasuk orang-orang yang ditinggikan kedudukannya diantara orang-orang yang mulia..

Maka semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk MEMPERBAIKI KEIMANAN KITA sehingga kita termasuk diantara orang-orang yang dimuliakanNya; dan semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk MEMPERBAIKI AKHLAK KITA sehingga kita termasuk orang-orang yang tinggi kedudukannya diantara orang-orang mulia.

Semoga bermanfaat..

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Manhaj, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Tauhid Uluhiyyah, Ushul Ahlus-sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s