Ketika kyai/ustadz/ulama/syaikh/imam DIJADIKAN SESEMBAHAN SELAIN ALLAH

Oleh Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahullahu ta’ala

Tasyri’ (mensyari’atkan sesuatu) adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Yang dimaksud dengan tasyri’ adalah apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hambaNya berupa manhaj (jalan) yang harus mereka lalui dalam bidang aqidah, muamalat dan sebagainya.

Termasuk di dalamnya masalah penghalalan dan pengharaman. Tidak seorang pun berwenang menghalalkan kecuali apa yang sudah dihalalkan Allah, juga tidak boleh mengharamkan kecuali apa yang sudah diharamkan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Artinya : Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan dusta terhadap Allah.”

[An-Nahl : 116]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

“Artinya : Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal’. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”

[Yunus : 59]

Allah telah melarang penghalalan dan pengharaman tanpa dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan Dia menyatakan bahwa hal itu adalah dusta atas nama Allah. Sebagaimana Dia telah memberitahukan bahwa siapa yang mewajibkan atau mengharamkan sesuatu tanpa dalil maka ia telah menjadikan dirinya sebagai sekutu Allah dalam hal tasyri’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

“Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”

[Asy-Syura: 21]

Siapa yang menta’ati musyarri’ (yang membuat syari’at) selain Allah maka ia telah menyekutukan Allah.

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Artinya : … dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

[Al-An’am: 121]

Maksudnya adalah orang-orang yang menghalalkan bangkai-bangkai yang sudah diharamkan Allah. Maka siapa yang menta’ati mereka, maka dia adalah musyrik[1. Syaikh al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa keadaan orang yang menaati ulama dalam mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram terbagi menjadi tiga keadaan:

Pertama: Mengikuti mereka dengan perasaan ridha terhadap pendapat mereka, lebih mendahulukannya serta membenci hukum Allah. Maka orang semacam ini hukumnya kafir.

Karena dia membenci wahyu yang diturunkan Allah sehingga menyebabkan Allah menghapuskan amal-amalnya. Dan amal tidaklah menjadi terhapus kecuali dengan sebab kekufuran. Oleh karena itu setiap orang yang membenci ajaran/hukum yang diturunkan Allah maka dia adalah kafir.

Kedua: Mengikuti mereka dalam hal itu dengan masih menyimpan keridhaan terhadap hukum Allah dan menyadari bahwasanya hukum Allah lebih utama dan lebih baik untuk kemaslahatan orang dan negara. Akan tetapi karena dorongan hawa nafsunya maka dia pun memilih pendapat tersebut, seperti misalnya karena menginginkan pekerjaan. Maka yang seperti ini tidak dikafirkan. Akan tetapi dia adalah fasik (pelaku dosa besar) dan berlaku baginya hukuman terhadap para pelaku maksiat.

Ketiga: Mengikuti mereka karena kebodohannya. Sehingga dia menyangka bahwa itulah hukum Allah. Orang seperti ini terbagi dalam dua golongan.

Yang pertama, apabila dia termasuk orang yang memungkinkan bagi dirinya untuk mengetahui sendiri kebenaran, maka orang seperti ini termasuk orang yang melalaikan kewajiban dan berdosa. Karena Allah telah memerintahkan supaya bertanya kepada ahli ilmu ketika tidak mengetahui.

Yang kedua, apabila orang ini adalah orang yang tidak bisa mengetahuinya dan tidak memungkinkan untuk menelaah ilmu sehingga terpaksa mengikuti mereka karena taklid dengan persangkaan kuat bahwa pendapat itu adalah yang haq, maka yang semacam ini tidak mengapa. Karena dia sudah menunaikan perintah yang ditujukan kepadanya. Dengan sebab itu dia juga diberi udzur (toleransi atas kesalahannya).

Oleh sebab itulah terdapat sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang diberi fatwa tanpa ilmu maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberikan fatwa.”

(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan dinilai hasan Al Albani di dalam Shahihul Jaami’, 6068-6069, lihat Al Qaul Al Mufid, II/68, silakan baca juga Ibthaalut Tandiid bi ikhtishaari Syarhi Kitaabit Tauhid, hal. 209-210; sumber: –muslim.or.id-]. Sebagaimana Allah memberitahukan bahwa siapa yang menta’ati para ulama dan rahib-rahib dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka ia telah menjadikan mereka sebagai rabb-rabb selain Allah. [2. Karena itu, menjadi keharusan bagi kita untuk mengetahui perkara-perkara yang halal dan yang haram di atas ilmu. Semoga Allah merahmati orang yang berkata:

الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قـــــــَالَ رَسُــوْلُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ

لَيْسَ بِاالتَّمْوِيْهِ

مَا الْعِلْمُ نَصْبَكَ لِلْخِلاَفِ سَفَاهَةً

بَيْنَ الرَّسُوْلِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيْهِ

Ilmu adalah perkataan Allah dan perkataan Rasul-Nya dan perkataan shahabat

(Ilmu itu) bukanlah sesuatu yang bias

Ilmu itu bukanlah engkau menggeluti masalah yang diperselisihkan

dengan bersikap bodoh, membandingkan perkataan Rasul dan faqīh.

Penting untuk dipahami, bahwa pendapat ulama yang merupakan hasil ijtihād tidak dapat dikatakan bahwa pendapat tersebut mengharamkan apa yang Allah halalkan atau menghalalkan apa yang Allah haramkan. Bahkan, pemilik pendapat tersebut akan mendapatkan ganjaran berdasarkan benar atau salahnya pendapat itu, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits muttafaq ‘alaih:

إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِنْ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim ber-ijtihād lalu dia benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan jika dia salah, maka mendapatkan satu pahala.”

(muttafaqun ‘alayh)

Abu Faris an Nuri

Bahkan para ulama (seperti madzhab yang empat) telah mewasiati agar tidaklah seseorang mengambil pendapat mereka, melainkan seseorang MENGETAHUI DALIL yang mereka bawa. bahkan mereka berkata, apabila hadits itu shahiih, maka itulah madzhabnya (sebagaimana dikatakan Imam Abu Haniifah dan Imam asy Syafi’iy rahimahumallah)

Semoga Allah meridhai Ibnu ‘Abbas, yang beliau berkata:

وَيْلٌ لِلأَتْبَاعِ مِنْ زَلَّةِ الْعَالِمِ، يَقُوْلُ الْعَالِمِ الشَيْءَ بِرَأْيِهِ, فَيَلْقَى مَنْ هُوَ أَعْلَمُ بِرَسُوْلِ اللهِ مِنْهُ, فَيُخْبِرُهُ وَيَرْجِعُ وَيَقْضِي الأَتْبَاعُ بِمَا حَكَمَ

“Celakalah orang-orang yang mengikuti kesalahan seorang alim. Si alim berpendapat dengan ro’yinya (akalnya) lalu dia bertemu dengan orang yang lebih alim darinya tentang Rosulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, kemudian orang tersebut memberitahukannya (pendapat yang benar) maka si alim tersebut mengikuti pendapat yang benar dan meninggalkan pendapatnya yang salah dan para pengikutnya (tetap) berhukum dengan pendapat si alim yang salah tersebut”

(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam al-madkhol dan Ibnu Abdilbar (2/122) dengan sanad yang hasan; dari Ustadz Firanda)–]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menyembah) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

[At-Taubah: 31]

dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar beliau membaca dalam surat Al Baraa`ah:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah.”

(At Taubah: 31)

Beliau bersabda:

‎أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ

“Ingat, sesungguhnya mereka tidak menyembah mereka, tapi bila rahib-rahib mereka menghalalkan sesuatu, maka mereka menghalalkannya, dan bila mengharamkan sesuatu, mereka mengharamkannya (dan itulah bentuk penyembahan mereka terhadap rahib-rahib tersebut).”

(HR. at Tirmidziy, diHASANkan oleh Syaikh al Albaaniy dalam shahiih at-tirmidziy)

dalam riwayat lain:

‎بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمُ الْحَلاَلَ، وَأَحَلُّوْا لَهُمُ الْحَرَامَ فَاتَّبَعُوْهُمْ، فَبِذلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ

Bahkan [mereka (nashara) menyembahnya] !!, sesungguhnya rahib-rahib tersebut mengharamkan bagi mereka sesuatu yang sebenarnya halal; dan menghalalkan bagi mereka sesuatu yang sebenarnya haram. dan mereka (nashara) pun mengikutinya. maka itulah PERIBADATAN mereka terhadap rahib-rahib tersebut.

(dihasankan syaikh al-albaaniy dalam ghaayah al-maram)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata,

“Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa menta’ati ulama dan pendeta dalam hal maksiat kepada Allah berarti beribadah kepada mereka dari selain Allah, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena akhir ayat tersebut berbunyi:

‎وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Artinya : … padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Ma-haesa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Ma-hasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

[At-Taubah : 31]

Senada dengan itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

‎وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Artinya : Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

[Al-An’am: 121]

Hal ini banyak menimpa orang-orang yang bertaklid kepada ulama mereka. Karena mereka tidak melihat dalil lagi, meskipun ulama yang diikutinya itu telah menyalahi dalil[3. Demikianlah yang terjadi saat ini, bagi mereka, “yang penting TERJADI KHILAF”. Sehingga sebagian mereka mengatakan kembalikan kepada masing-masing pihak untuk memilih pendapatnya (padahal yang benar, mengembalikan kepada Allah dan RasulNya). Sebagian mereka menjadikan “pendapat ulama” sebagai hujjah, padahal YANG MENJADI HUJJAH adalah DALIL yang DIBAWA ULAMA tersebut, pada umumnya perkataan ini timbul dari fanatikus madzhab, yang para imamnya tidak boleh diselisihi. apakah mereka tetap berlaku demikian walaupun Allah dan RasulNya yang menyelisihinya?!

Imam asy Syathibiy berkata:

“Allah ta’ala berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى الله وَ الرَّسُوْلِ

Dan jika kalian berselisih tentang sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rosul (An-Nisa 59)

Maka tidak boleh khilaf yang ada di antara para ulama, kita kembalikan kepada hawa nafsu, tetapi kita kembalikan kepada syari’at”.

(Al-Muwafaqot 4/145; dari Ustadz Firanda)] Dan ia termasuk jenis syirik ini. Maka menta’ati dan konsisten terhadap syari’at Allah serta meninggalkan syari’at-syari’at lainnya adalah salah satu keharusan dan konsekuensi dari laa ilaaha illallah. Dan hanya Allah-lah tempat kita memohon pertolongan.

[dari almanhaj.or.id; disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan]

4 Komentar

Filed under Al-Bid'ah, Aqidah, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh, Tauhid Uluhiyyah, Ushul Ahlul-Bid'ah

4 responses to “Ketika kyai/ustadz/ulama/syaikh/imam DIJADIKAN SESEMBAHAN SELAIN ALLAH

  1. Ping-balik: Aku Hanyalah seorang Penuntut Ilmu. « Islam and english'blog

  2. semuga penulis abu shalih alfauzan dalam mengsikapi sesama muslim dalam menjalankan syariatnya,bukan menjadi pemicu dan bom waktu bg kita untuk saling mengkafirkan/memusrikkan,Hanya ALLAH yg mengetauhi kadar keislaman mahluknya.bibir kita hanya kulit belaka.

  3. Eko Prasetya

    ijin share ustadz, jazakumullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s